Kisruh PSSI, Deadline AFC, dan Profesionalme Klub Kita

Panggung sepakbola di Indonesia memang lebih kental dengan kisruh, mulai dari kisruh di lapangan hijau, sampai kisruh di tingkat pengurus sepakbola itu sendiri. Seolah terlena dengan kekisruhan ini, Indonesia sampai lupa dengan deadline AFC (Konfederasi Sepakbola Asia) mengenai syarat sebuah liga dan klub profesional.

Sejak 2008 silam, AFC memang mendengungkan agar kompetisi di seluruh negaranya ditangani secara profesional. Tak hanya pengelolanya, peserta kompetisi, yakni klub, juga sudah harus profesional pula. AFC pun menelurkan lima kriteria untuk menjadi sebuah klub profesional, yakni officially authorized, finansial, infrastruktur, youth enhancement dan organisasi.

Meski sudah didengungkan mulai 2008 silam, namun hingga empat tahun berselang, tak ada satu pun klub di Indonesia yang benar-benar profesional. “Dari tahun 2008 Indonesia sudah ada ikhtiar, tapi belum optimal. Jadi skornya di AFC masih kecil,” kata chief executive PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS), Widjajanto.

Toh begitu, bukannya malah berupaya agar menjadi profesional, klub serta pengurus bola di Indonesia terlelap oleh kisruh yang ada. Polemik terbaru adalah kepindahan dua tim Indonesian Premier League (IPL), Semen Padang dan Persijap, ke kompetisi Indonesia Super League (ISL).

Sehubunganmisi masalah baru ini, Widja, sapaan akrabnya, enggan memberikan jawaban panjang lebar. Ia mengaku sudah bertemu dengan petinggi kedua tim, dan hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari kedua klub sehubunganmisi kepindahan ke ISL.

“Soal klub yang ke kanan dan ke kiri, kita pulangkan ke exco. Karena format pararelnya harus disahkan lebih dulu oleh exco. Setelah disahkan, akan ketahuan jumlah klub ISL berapa dan siapa saja serta jumlah IPL berapa dan siapa saja,” lanjutnya.

Arek Perak, Surabaya ini lebih tertarik membahas masalah deadline AFC kepada Indonesia mengenai kompetisi dan klub profesional. Menurut Widja, tahun 2013 mendatang adalah deadline AFC pada Indonesia untuk menciptakan sebuah liga profesional, dengan pesertanya klub-klub yang sudah mandiri dan memenuhi syarat yang sudah ditentukan.

“Keduanya (ISL dan IPL) boleh berjalan selama 2012, dan dianggap fase prakualifiksi sebelum berjalan tahun 2013,” imbuh Widja.

Lepas 2013, Indonesia sudah harus memiliki kompetisi yang benar-benar profesional. Rencananya, 23 Oktober nanti, AFC akan datang ke Indonesia untuk menjelaskan kriteria dan ordinary baru sebuah klub profesional. Menurut Widja, untuk menjadi profesional, sebuah klub harus memenuhi lima aspek dan harus lolos dengan skor nominal 600 poin.

“Memang berat. Saya takut Indonesia belum sampai pada angka itu. Jadi jangan hanya tenggelam dalam polemik kepindangan klub, pikir juga lisensinya. Lisensi itu ibarat SIM. Kalau tidak penuhi lisensi itu, boro-boro main di Asia, di domestik pun bisa dicoret,” papar mantan wartawan salah satu majalah ternama di Indonesia ini.

Sehubunganmisi persyaratan menjadi liga dan klub profesional, lanjut Widja, Indonesia sudah berulang kali mendapat teguran dari AFC. Bahlan, dari 46 anggota AFC, hanya Indonesia yang belum memenuhi persyaratan itu. Oleh sebab itu, selama kompetisi 2013 nanti, Widja berharap seluruh komponen kompetisi, termasuk penyelenggara liga dan klub, harus mempersiapkan diri.

“Penuhi dulu scoring lisensinya, baru bicara Asia. Sebab peserta AFC Champions League yang lain juga harus memenuhi scoring yang sudah ditentukan oleh AFC,” pungkas Widja.

Sumber: beritajatim.com


Original source : Kisruh PSSI, Deadline AFC, dan Profesionalme Klub Kita

Hair Dryer Treatment Julukan Opa Fergie…

13550341851769591020

Sir Alex Ferguson, nama yang tidak asing terdengar oleh penikmat sepak bola dunia. Prestasinya tidak usah diragukan  di dunia olahraga khususnya sepak bola. Tidak ada yang bisa menyamakan prestasi opa di dunia kepelatihan salah satunya dalam konteks lamanya masa melatih. Dari tahun 1986, opa sudah melatih Manchester United, tim kebanggan kota Manchester. Sebelum saya lahir, beliau sudah melatih MU sampai saat saya sudah menjadi fans MU dan sudah mengerti mana yang baik dan mana yang buruk, beliau masih melatih MU.

Dalam literatur kepemimpinan disebutkan beberapa develop dan gaya kepemimpinan, masing-masing dengan keunggulannya dan kelemahannya. Sir Alex Ferguson – pelatih klub sepakbola Manchester United yang selama 24 tahun melatih MU telah  berhasil membawa timnya antara lain menjadi juara 12 kali English Premier League, 10 kali  memenangkan Piala Union Shields, 5 kali menjuarai Piala FA, dan 2 kali memboyong Piala Champions  – memiliki gaya tersendiri yang dikenal dengan istilah hair-dryer behavior.

Istilah hair-dryer behavior pertama kali mencuat di era penyerang MU Mark Hughes pada tahun 1988 – 1995. Dalam suatu kesempatannya bertanding, setelah menunjukkan kinerja yang relatif buruk di sebuah pertandingan, Fergie (panggilan akrab Ferguson), “memarahi” Mark Hughes. Hughes memang bukan orang pertama yang “didamprat” oleh Fergie, beberapa pemain MU sebelumnya juga sudah biasa didamprat oleh Fergie.

Pemain bintang MU saat ini yaitu Rooney pernah merasakan Hair Dry Behavior. Dalam kesempatannya menjawab pertanya’an wawancara, “Tak ada yang lebih buruk daripada mendapatkan ‘hairdryer’ dari Sir Alex. Ketika itu terjadi, dia biasanya berdiri di tengah ruangan dan meluapkan kemarahan padaku. Dia mendekat ke depan mukaku dan berteriak,” ujar Wazza. “Rasanya seperti menaruh kepalaku di depan BaByliss Turbo Potential 2200 (merek hairdryer). Itu mengerikan.” Dari peryata’an tersebut secara tersirat opa Fergie tidak memandang bulu jika pemainnya di luar ekspektasi pelatih dalam bertanding.

13550342581549212961

Itu lah salah satu kelebihan Opa Fergie dalam menunjukan jiwa kepemimpinan dalam culture dan mentoring. Hair-dryer behavior yang biasa dilakukan oleh Alex Ferguson kepada anak buahnya dapat disebut sebagai bentuk pembinaan culture dan mentoring. Seorang manajer yang juga menjabat sebagai pelatih kepala dalam sebuah klub sepakbola memang tidak banyak berhubungan dengan urusan teknis seorang pemain. Untuk urusan teknis masing-masing pemain pasti memiliki pelatih khusus antara lain; ada pelatih kiper untuk kiper dan lain-lain.

Meskipun cara-cara dan gaya pembinaan yang dilakukan oleh Ferguson kadang-kadang “menyakitkan”, tetapi harus diakui bahwa Ferguson berhasil membesarkan beberapa pesepakbola early vitality to hero. Legenda MU seperti Beckham dan Christiano Ronaldo adalah contoh pesepakbola yang bersinar melalui “tangan dingin” Ferguson. Bahkan Ferguson berhasil “menjinakkan” pesepakbola yang terkenal inborn seperti Eric Cantona dan Roy Keane sehingga keduanya mencapai puncak prestasi mereka semasa membela MU.

135503433799267927

Semoga derby Manchester tar malam dimenangkan oleh Manchester United. Manchester Subdue RED .. :)

135503440284094012


Original source : Hair Dryer Treatment Julukan Opa Fergie…