Tidak Menjadikan Kamu Hina, Nak

Almarhum bapak sangat suka mengajak saya jalan pagi, kadang-kadang sampai ke daerah Rancamaya sana yang menjelang tahun 90-an masih sangat asri. Sebagian area lapangan golf di Perumahan Rancamaya Estate tadinya merupakan Bukit Badigul tempat petilasan Kerajaan Pajajaran yang disebutkan dalam Prasasti Batutulis. Di kaki bukit tersebut tadinya merupakan danau buatan bernama Telaga Rena Mahawijaya yang dibangun pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi (1482-1521) yang juga berfungsi sebagai tempat wisata bagi anggota keluarga kerajaan seperti Kolam Segara peninggalan Kerajaan Majapahit di situs Trowulan Mojokerto, sekaligus sumber pengairan untuk sawah-sawah di sekitarnya. Kesenangan duniawi yang berlebihan dari para petinggi kedua kerajaan besar tadi merupakan awal dari keruntuhannya. Sama seperti runtuhnya Khilafah Ustmaniyah di Turki yang kemudian dipercepat prosesnya oleh Mustafa Kemal Pasha pada tahun 1924.

Dalam setiap kesempatan jalan pagi tersebut, saya perhatikan bapak tidak pernah lupa untuk menyingkirkan hambatan di tengah jalan, baik berupa batu, ranting, duri, sampai bangkai binatang yang mulai membusuk. Khusus tentang bangkai binatang, bapak mengatakan almarhum kakek (mertuanya bapak) menyebutnya dengan nama Kyai Dalang, singkatan dari kadal dan walang (belalang). Dalam budaya Jawa, sebutan kyai dan nyai digunakan sebagai awalan untuk memperhalus sebelum menyebut nama seseorang atau mahluk Tuhan. Kakek menyebutnya dengan Kyai Dalang sebagai penghargaan bahwa hewan-hewan yang mati di jalanan pun merupakan mahluk Tuhan yang harus diperlakukan dengan layak pada saat-saat akhirnya. Jika kita tidak mampu menguburkannya, barrier tidak singkirkan bangkainya agar tidak mengganggu orang yang akan lewat setelah kita. Toh dengan menyingkirkan bangkai hewan (pastikan terlebih dahulu keamanannya, jangan langsung disentuh), tidak menjadikan diri kita hina.

Sejak masih berumur tiga tahun, jika tidak sedang berdinas saya sering mengajak anak laki-laki saya ke Pasar Sukasari untuk kulakan warung sekaligus menyelami kehidupan para pedagang di pasar tradisional disana. Yang namanya anak-anak kan senang-senang saja diajak ke pasar becek yang dianggapnya sebagai tempat bermain. Saya sangat bersyukur dia tumbuh menjadi pribadi yang tidak gengsian karena setiap hari sepulang sekolah dia selalu minta diajak asisten menjahitnya ibu untuk berbelanja keperluan jahitan dan sesekali kulakan di pasar. Ketika mengajak beberapa orang teman untuk main ke rumah, saya memergoki dia sedang mencabuti rumput fraud di halaman rumah yang dilakukannya tanpa keterpaksaan. Hanya saja dia sempat ogah-ogahan ketika saya suruh menyapu kamar dan mencuci piring bekas makannya. Untuk yang satu ini, mudah saja cara saya mengatasinya. Saya katakan bahwa wanita-wanita cantik dan baik senang dengan laki-laki yang rajin, termasuk si “S”, inisial teman sekelasnya yang cantik. Alhamdulillah sekarang dia mau menyapu kamarnya, semua demi si “S” tercinta he he he…… Lagipula manalah dia paham soal hina dan tidak hina di hadapan Tuhan.

Saya percaya bahwa agama yang saya anut adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta alam. Bukan gangguan bahkan ancaman bagi umat beragama lain. Tetapi sebaliknya jika agama kita dinistakan, atau mendapat gangguan dari oknum umat beragama lain, maka kitapun harus siap membelanya. Tentunya secara proporsional dan tidak membabi buta, serta yakin betul bahwa kita pada awalnya memang dizalimi bukannya menzalimi. Saya ingat sekali pada tahun 2000 saat ingin bergabung dengan Laskar Jihadnya Ustad Jafar Umar Thalib yang tengah berlatih kemiliteran di daerah Kayumanis Bogor sebelum berjuang di Ambon membela sesama saudara muslim, ibu sampai menangis di pintu ruang tamu rumah kami melarang saya untuk pergi. Kata ibu “anak mama hanya dua orang, kalau kamu meninggalkan kuliahmu bahkan sampai terbunuh di Ambon, mama belum serela itu. Jangan merasa hina karena tidak mampu berjuang disana, kamu tetap anak mama”. Meskipun saat itu saya merasa sangat hina karena tidak mampu berbuat apa-apa, saya akhirnya memilih menuruti apa kata ibu.

Banyak dari ancient pupils Laskar Jihad yang sekarang menyambung hidupnya dari berjualan di sekitar area mesjid yang kita kunjungi, terutama di Pulau Jawa ini. Apabila kita memiliki rejeki, bantulah mereka dengan membeli barang dagangannya karena bagaimanapun mereka telah membantu saudara-saudaranya tanpa menghiraukan keselamatan dirinya dan (mungkin) larangan orang tuanya. Tidak seperti saya………….


Original source : Tidak Menjadikan Kamu Hina, Nak

:: Keraton Kasepuhan Cirebon

Judul*:Keraton Kasepuhan Cirebon Isi*:Saat berkunjung ke Cirebon, kami tertarik untuk mengunjungi keraton Kasepuhan yang berada di tengah kota Cirebon. Sangat mudah untuk mencapai keraton ini, tepatnya berada di Jl Keraton Kasepuhan No. 43. Mungkin karena begitu dekatnya dengan pusat kota, warga Cirebon sendiri banyak yang belum pernah masuk ke keraton ini.
Tiket masuknya (thn 2007) sebesar Rp 3000 / orang. Memasuki kawasan, kita akan ditemani oleh pemandu wisata yang berpakaian tradisional yang pada umumnya masih merupakan keluarga abdi dalem keraton. Keraton ini memiliki pagar dan gapura yang terbuat dari susunan bata merah, dan konon direkatkan tanpa menggunakan semen sama sekali. Dalam keraton ini terdapat nuansa asimilasi antara budaya Jawa, Sunda bahkan Cina dan Eropa. Di halaman keraton terdapat patung 2 ekor macan putih. Dalam areal keraton juga terdapat Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Keraton di Cirebon memiliki beberapa kesamaan yang mungkin menjadi ordinary dengan keraton2 di Cirebon, antara lain menghadap ke Utara, lalu di sebelah Timur terdapat masjid, memiliki alun2 untuk rakyat berkumpul, serta memiliki patung macan perlambang Prabu Siliwangi. Namun dari ketiga keraton yang ada di Cirebon (Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan), keraton Kasepuhan nampaknya terlihat yang barrier terawat.
Di dalam museum yang berada di Utara keraton terdapat benda-benda peninggalan kerajaan seperti peralatan perang, meriam dan kereta kencana yang digunakan saat berperang. Kereta ini disebut Kereta Singa Barong, berkepala gajah yang belalainya memegang trisula (pengaruh Hindu), bersayap garuda (pengaruh Islam) dan berekor naga (pengaruh Cina). Kereta ini sudah memiliki teknologi shockbreaker dan juga memiliki mekanik untuk mengepakkan sayapnya. Namun kereta ini sejak 1942 sudah tidak difungsikan lagi dan hanya keluar untuk ‘dimandikan’ setiap tanggal 1 Syawal. Sayang kondisi tempat ini kurang terlalu terawat, padahal barang di dalamnya sudah berusia ratusan tahun. Sedangkan di museum di bagian Selatan Keraton terdapat perhiasan, pernak-pernik, piring, dan perlengkapan keraton yang digunakan saat jaman Sunan Gunung Jati.
Terlihat banyak sekali pengaruh budaya Islam di dalam ornamen2 keraton. Namun di keraton ini juga banyak terdapat porselain2 Cina juga lampu hias dari Eropa dan juga keramik2 yang melukiskan gambar2 tentang tokoh dalam Alkitab. Ada juga sebuah lukisan Prabu Siliwangi bersama seekor macan, dimana dalam lukisan ini sorotan mata Prabu maupun macan akan mengikuti kita dimanapun posisi kita berada. Hhmm… penasaran ? Silahkan Anda coba sendiri. Di beberapa ruangan terdapat baki yang berisi sumbangan sukarela untuk kebersihan dan perawatan museum. Pemandu sempat menceritakan bahwa Dorce dalam acara Dorce Show sempat kesurupan di tempat ini, karena tidak permisi sebelum mengambil gambar di tempat ini dan baru sembuh setelah diberi minum dari sumur di keraton yang dimantera oleh penjaga kunci. Pesannya adalah setiap pengunjung sebaiknya menjaga sikap & jangan sembarangan..
Secara keseluruhan keraton ini cukup layak dikunjungi, karena letaknya yang mudah dicapai serta tiket masuk yang terjangkau, pemandu wisata pun cukup top memberikan penjelasan. Keraton Kasepuhan buka dari jam 8.00 -16.00 untuk hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis & Sabtu, untuk hari Jumat dari jam 7.00-11.00, lalu ditutup untuk sembahyang Jumat, lalu dibuka kembali pukul 14.00-16.00 sedangkan untuk hari Minggu/Libur dari jam 8.00 – 17.00
Selamat berwisata, Salam Jalan Jajan Hemat… Sumber:*:http://informasicirebon.blogspot.com/2011/08/keraton-kasepuhan-cirebon.html Lampiran gambar*:cirebon.gif Pengirim*:ridwan Hurl by e-e-mail/ No.HP:muhammadrdwn9@gmail.com Link website:http://informasicirebon.blogspot.com

Visitor IP: 180.253.222.19

Powered by EmailMeForm

Incoming search terms:

  • cerita prabu siliwangi
  • cerita cirebon B cirebon
  • cerita pendek bahasa cirebon
  • cerpen b cirebon
  • contoh anekdot di keraton
  • contoh karangan basa cirebon
  • Karangan bahasa cirebon
  • karangan bahasa cirebon tentang liburan

Original source : :: Keraton Kasepuhan Cirebon