Pesut Mahakam

Pada jaman dahulu kala di rantau Mahakam, terdapat sebuah dusun yang didiami oleh beberapa keluarga. Mata pencaharian mereka kebanyakan adalah sebagai petani maupun nelayan. Setiap tahun setelah musim panen, penduduk dusun tersebut biasanya mengadakan pesta adat yang diisi dengan beraneka macam pertunjukan ketangkasan dan kesenian.Ditengah masyarakat yang tinggal di dusun tersebut, terdapat suatu keluarga yang hidup rukun dan damai dalam sebuah pondok yang sederhana. Mereka terdiri dari sepasang suami-istri dan dua orang putra dan putri. Kebutuhan hidup mereka tidak terlalu sukar untuk dipenuhi karena mereka memiliki kebun yang ditanami berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran. Begitu pula segala macam kesulitan dapat diatasi dengan cara yang bijaksana, sehingga mereka hidup dengan bahagia selama bertahun-tahun.Pada suatu ketika, sang ibu terserang oleh suatu penyakit. Walau telah diobati oleh beberapa orang tabib, namun sakit sang ibu tak kunjung sembuh pula hingga akhirnya ia meninggal dunia. Sepeninggal sang ibu, kehidupan keluarga ini mulai tak terurus lagi. Mereka larut dalam kesedihan yang mendalam karena kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Sang ayah menjadi pendiam dan pemurung, sementara kedua anaknya selalu diliputi rasa bingung, tak tahu apa yang mesti dilakukan. Keadaan rumah dan kebun mereka kini sudah tak terawat lagi. Beberapa sesepuh desa telah mencoba menasehati sang ayah agar tidak larut dalam kesedihan, namun nasehat-nasehat mereka tak dapat memberikan perubahan padanya. Keadaan ini berlangsung cukup lama.Suatu hari di dusun tersebut kembali diadakan pesta adat panen. Berbagai pertunjukan dan hiburan kembali digelar. Dalam suatu pertunjukan ketangkasan, terdapatlah seorang gadis yang cantik dan mempesona sehingga selalu mendapat sambutan pemuda-pemuda dusun tersebut bila ia beraksi. Mendengar berita yang demikian itu, tergugah juga hati sang ayah untuk turut menyaksikan bagaimana kehebatan pertunjukan yang begitu dipuji-puji penduduk dusun hingga banyak pemuda yang tergila-gila dibuatnya.Malam itu adalah malam ketujuh dari acara keramaian yang dilangsungkan. Perlahan-lahan sang ayah berjalan mendekati tempat pertunjukan dimana gadis itu akan bermain. Sengaja ia berdiri di depan agar dapat dengan jelas menyaksikan permainan serta wajah sang gadis. Akhirnya pertunjukan pun dimulai. Berbeda dengan penonton lainnya, sang ayah tidak banyak tertawa geli atau memuji-muji penampilan sang gadis. Walau demikian sekali-sekali ada juga sang ayah tersenyum kecil. Sang gadis melemparkan senyum manisnya kepada para penonton yang memujinya maupun yang menggodanya. Suatu saat, akhirnya bertemu jua pandangan antara si gadis dan sang ayah tadi. Kejadian ini berulang beberapa kali, dan tidak lah diperkirakan sama sekali kiranya bahwa terjalin rasa cinta antara sang gadis dengan sang ayah dari dua orang anak tersebut.Demikianlah keadaannya, atas persetujuan kedua belah pihak dan restu dari para sesepuh maka dilangsungkanlah pernikahan antara mereka setelah pesta adat di dusun tersebut usai. Dan berakhir pula lah kemuraman keluarga tersebut, kini mulailah mereka menyusun hidup baru. Mereka mulai mengerjakan kegiatan-kegiatan yang dahulunya tidak mereka usahakan lagi. Sang ayah kembali rajin berladang dengan dibantu kedua anaknya, sementara sang ibu tiri tinggal di rumah menyiapkan makanan bagi mereka sekeluarga. Begitulah seterusnya sampai berbulan-bulan lamanya hingga kehidupan mereka cerah kembali.Dalam keadaan yang demikian, tidak lah diduga sama sekali ternyata sang ibu baru tersebut lama kelamaan memiliki sifat yang kurang baik terhadap kedua anak tirinya. Kedua anak itu baru diberi makan setelah ada sisa makanan dari ayahnya. Sang ayah hanya dapat memaklumi perbuatan istrinya itu, tak dapat berbuat apa-apa karena dia sangat mencintainya. Akhirnya, seluruh rumah tangga diatur dan berada ditangan sang istri muda yang serakah tersebut. Kedua orang anak tirinya disuruh bekerja keras setiap hari tanpa mengenal lelah dan bahkan disuruh mengerjakan hal-hal yang diluar kemampuan mereka.Pada suatu ketika, sang ibu tiri telah membuat suatu rencana jahat. Ia menyuruh kedua anak tirinya untuk mencari kayu bakar di hutan.
“Kalian berdua hari ini harus mencari kayu bakar lagi!” perintah sang ibu, “Jumlahnya harus tiga kali lebih banyak dari yang kalian peroleh kemarin. Dan ingat! Jangan pulang sebelum kayunya banyak dikumpulkan. Mengerti?!”
“Tapi, Bu…” jawab anak lelakinya, “Untuk apa kayu sebanyak itu…? Kayu yang ada saja masih cukup banyak. Nanti kalau sudah hampir habis, barulah kami mencarinya lagi…”
“Apa?! Kalian sudah berani membantah ya?! Nanti kulaporkan ke ayahmu bahwa kalian pemalas! Ayo, berangkat sekarang juga!!” kata si ibu tiri dengan marahnya.Anak tirinya yang perempuan kemudian menarik tangan kakaknya untuk segera pergi. Ia tahu bahwa ayahnya telah dipengaruhi sang ibu tiri, jadi sia-sia saja untuk membantah karena tetap akan dipersalahkan jua. Setelah membawa beberapa perlengkapan, berangkatlah mereka menuju hutan. Hingga senja menjelang, kayu yang dikumpulkan belum mencukupi seperti yang diminta ibu tiri mereka. Terpaksa lah mereka harus bermalam di hutan dalam sebuah bekas pondok seseorang agar dapat meneruskan pekerjaan mereka esok harinya. Hampir tengah malam barulah mereka dapat terlelap walau rasa lapar masih membelit perut mereka.Esok paginya, mereka pun mulai mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya. Menjelang tengah hari, rasa lapar pun tak tertahankan lagi, akhirnya mereka tergeletak di tanah selama beberapa saat. Dan tanpa mereka ketahui, seorang kakek tua datang menghampiri mereka.
“Apa yang kalian lakukan disini, anak-anak?!” tanya kakek itu kepada mereka.
Kedua anak yang malang tersebut lalu menceritakan semuanya, termasuk tingkah ibu tiri mereka dan keadaan mereka yang belum makan nasi sejak kemarin hingga rasanya tak sanggup lagi untuk meneruskan pekerjaan.
“Kalau begitu…, pergilah kalian ke arah sana.” kata si kakek sambil menunjuk ke arah rimbunan belukar, “Disitu banyak terdapat pohon buah-buahan. Makanlah sepuas-puasnya sampai kenyang. Tapi ingat, janganlah dicari lagi esok harinya karena akan sia-sia saja. Pergilah sekarang juga!”Sambil mengucapkan terima kasih, kedua kakak beradik tersebut bergegas menuju ke tempat yang dimaksud. Ternyata benar apa yang diucapkan kakek tadi, disana banyak terdapat beraneka macam pohon buah-buahan. Buah durian, nangka, cempedak, wanyi, mangga dan pepaya yang telah masak tampak berserakan di tanah. Buah-buahan lain seperti pisang, rambutan dan kelapa gading nampak bergantungan di pohonnya. Mereka kemudian memakan buah-buahan tersebut hingga kenyang dan badan terasa segar kembali. Setelah beristirahat beberapa saat, mereka dapat kembali melanjutkan pekerjaan mengumpulkan kayu hingga sesuai dengan yang diminta sang ibu tiri.Menjelang sore, sedikit demi sedikit kayu yang jumlahnya banyak itu berhasil diangsur semuanya ke rumah. Mereka kemudian menyusun kayu-kayu tersebut tanpa memperhatikan keadaan rumah. Setelah tuntas, barulah mereka naik ke rumah untuk melapor kepada sang ibu tiri, namun alangkah terkejutnya mereka ketika melihat isi rumah yang telah kosong melompong. Ternyata ayah dan ibu tiri mereka telah pergi meninggalkan rumah itu. Seluruh harta benda didalam rumah tersebut telah habis dibawa serta, ini berarti mereka pergi dan tak akan kembali lagi ke rumah itu. Kedua kakak beradik yang malang itu kemudian menangis sejadi-jadinya. Mendengar tangisan keduanya, berdatanganlah tetangga sekitarnya untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi. Mereka terkejut setelah mengetahui bahwa kedua ayah dan ibu tiri anak-anak tersebut telah pindah secara diam-diam. Esok harinya, kedua anak tersebut bersikeras untuk mencari orangtuanya. Mereka memberitahukan rencana tersebut kepada tetangga terdekat. Beberapa tetangga yang iba kemudian menukar kayu bakar dengan bekal bahan makanan bagi perjalanan kedua anak itu. Menjelang tengah hari, berangkatlah keduanya mencari ayah dan ibu tiri mereka.Telah dua hari mereka berjalan namun orangtua mereka belum juga dijumpai, sementara perbekalan makanan sudah habis. Pada hari yang ketiga, sampailah mereka di suatu daerah yang berbukit dan tampaklah oleh mereka asap api mengepul di kejauhan. Mereka segera menuju ke arah tempat itu sekedar bertanya kepada penghuninya barangkali mengetahui atau melihat kedua orangtua mereka.Mereka akhirnya menjumpai sebuah pondok yang sudah reot. Tampak seorang kakek tua sedang duduk-duduk didepan pondok tersebut. Kedua kakak beradik itu lalu memberi hormat kepada sang kakek tua dan memberi salam.
“Dari mana kalian ini? Apa maksud kalian hingga datang ke tempat saya yang jauh terpencil ini?” tanya sang kakek sambil sesekali terbatuk-batuk kecil.
“Maaf, Tok.” kata si anak lelaki, “Kami ini sedang mencari kedua urangtuha kami. Apakah Datok pernah melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan yang masih muda lewat disini?”
Sang kakek terdiam sebentar sambil mengernyitkan keningnya, tampaknya ia sedang berusaha keras untuk mengingat-ingat sesuatu.
“Hmmm…, beberapa hari yang lalu memang ada sepasang suami-istri yang datang kesini.” kata si kakek kemudian, “Mereka banyak sekali membawa barang. Apakah mereka itu yang kalian cari?”
“Tak salah lagi, Tok.” kata anak lelaki itu dengan gembira, “Mereka pasti urangtuha kami! Ke arah mana mereka pergi, Tok?”
“Waktu itu mereka meminjam perahuku untuk menyeberangi sungai. Mereka bilang, mereka ingin menetap diseberang sana dan hendak membuat sebuah pondok dan perkebunan baru. Cobalah kalian cari di seberang sana.”
“Terima kasih, Tok…” kata si anak sulung tersebut, “Tapi…, bisakah Datok mengantarkan kami ke seberang sungai?”
“Datok ni dah tuha… mana kuat lagi untuk mendayung perahu!” kata si kakek sambil terkekeh, “Kalau kalian ingin menyusul mereka, pakai sajalah perahuku yang ada ditepi sungai itu.”Kakak beradik itu pun memberanikan diri untuk membawa perahu si kakek. Mereka berjanji akan mengembalikan perahu tersebut jika telah berhasil menemukan kedua orangtua mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka lalu menaiki perahu dan mendayungnya menuju ke seberang. Keduanya lupa akan rasa lapar yang membelit perut mereka karena rasa gembira setelah mengetahui keberadaan orangtua mereka. Akhirnya mereka sampai di seberang dan menambatkan perahu tersebut dalam sebuah anak sungai. Setelah dua hari lamanya berjalan dengan perut kosong, barulah mereka menemui ujung sebuah dusun yang jarang sekali penduduknya.Tampaklah oleh mereka sebuah pondok yang kelihatannya baru dibangun. Perlahan-lahan mereka mendekati pondok itu. Dengan perasaan cemas dan ragu si kakak menaiki tangga dan memanggil-manggil penghuninya, sementara si adik berjalan mengitari pondok hingga ia menemukan jemuran pakaian yang ada di belakang pondok. Ia pun teringat pada baju ayahnya yang pernah dijahitnya karena sobek sehubunganmisi duri, setelah didekatinya maka yakinlah ia bahwa itu memang baju ayahnya. Segera ia berlari menghampiri kakaknya sambil menunjukkan baju sang ayah yang ditemukannya di belakang. Tanpa pikir panjang lagi mereka pun memasuki pondok dan ternyata pondok tersebut memang berisi barang-barang milik ayah mereka.Rupanya orangtua mereka terburu-buru pergi, sehingga di dapur masih ada periuk yang diletakkan diatas api yang masih menyala. Didalam periuk tersebut ada nasi yang telah menjadi bubur. Karena lapar, si kakak akhirnya melahap nasi bubur yang masih panas tersebut sepuas-puasnya. Adiknya yang baru menyusul ke dapur menjadi terkejut melihat apa yang sedang dikerjakan kakaknya, segera ia menyambar periuk yang isinya tinggal sedikit itu. Karena takut tidak kebagian, ia langsung melahap nasi bubur tersebut sekaligus dengan periuknya. Karena bubur yang dimakan tersebut masih panas maka suhu badan mereka pun menjadi naik tak terhingga. Dalam keadaan tak karuan demikian, keduanya berlari kesana kemari hendak mencari sungai. Setiap pohon pisang yang mereka temui di kiri-kanan jalan menuju sungai, secara bergantian mereka peluk sehingga pohon pisang tersebut menjadi layu. Begitu mereka tiba di tepi sungai, segeralah mereka terjun ke dalamnya. Hampir bersamaan dengan itu, penghuni pondok yang memang benar adalah orangtua kedua anak yang malang itu terheran-heran ketika melihat banyak pohon pisang di sekitar pondok mereka menjadi layu dan hangus. Namun mereka sangat terkejut ketika masuk kedalam pondok dan mejumpai sebuah bungkusan dan dua buah mandau kepunyaan kedua anaknya. Sang istri terus memeriksa isi pondok hingga ke dapur, dan dia tak menemukan lagi periuk yang tadi ditinggalkannya. Ia kemudian melaporkan hal itu kepada suaminya. Mereka kemudian bergegas turun dari pondok dan mengikuti jalan menuju sungai yang di kiri-kanannya banyak terdapat pohon pisang yang telah layu dan hangus.Sesampainya di tepi sungai, terlihatlah oleh mereka dua makhluk yang bergerak kesana kemari didalam air sambil menyemburkan air dari kepalanya. Pikiran sang suami teringat pada rentetan kejadian yang mungkin sekali ada hubungannya dengan keluarga. Ia terperanjat karena tiba-tiba istrinya sudah tidak ada disampingnya. Rupanya ia menghilang secara gaib. Kini sadarlah sang suami bahwa istrinya bukanlah keturunan manusia biasa. Semenjak perkawinan mereka, sang istri memang tidak pernah mau menceritakan asal usulnya.Tak lama berselang, penduduk desa datang berbondong-bondong ke tepi sungai untuk menyaksikan keanehan yang baru saja terjadi. Dua ekor ikan yang kepalanya mirip dengan kepala manusia sedang bergerak kesana kemari ditengah sungai sambil sekali-sekali muncul di permukaan dan menyemburkan air dari kepalanya. Masyarakat yang berada di tempat itu memperkirakan bahwa air semburan kedua makhluk tersebut panas sehingga dapat menyebabkan ikan-ikan kecil mati jika terkena semburannya.Oleh masyarakat Kutai, ikan yang menyembur-nyemburkan air itu dinamakan ikan Pasut atau Pesut. Sementara masyarakat di pedalaman Mahakam menamakannya ikan Bawoi.

Incoming search terms:

  • cerita biji biji burung gereja
  • cerita buah buahhan tentang durian dalam binggrris dan terjemahnya

Original source : Pesut Mahakam

[Permainan Baru] Anak2: ”Saya Densus 88, Kamu Teroris Ya!”

Sabtu, 08 September 2012 | 16:13 WIB
”Saya Densus 88, Kamu Teroris Ya”


TEMPO.CO, Jakarta – Penyerbuan anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian RI untuk meringkus seorang terduga teroris bukan cuma menyisakan kaca jendela yang pecah ataupun lubang-lubang peluru di satu rumah di lingkungan Perumahan Taman Anyelir 2, Kalimulya, Cilodong, Depok.

Pengintaian dan pengepungan yang dilakukan hingga naik ke atap rumah itu ternyata meninggalkan kesan yang dalam di benak bocah-bocah di sana. Keren, ya, kemarin itu, kata Egan Putrawan, 9 tahun, Jumat, 7 September 2012.

Hari itu, Rhythm mendapati Egan dan teman-temannya sedang asik membahas kejadian Rabu pagi buta, 5 September 2012. Densus 88 dan teroris jadi trending theme buat mereka. Sambil sesekali saling menembak dengan aneka senjata mainan, mereka berteriak, Kamu teroris, ya.

Anak-anak itu bermain sekitar 200 meter dari lokasi penangkapan Firman, seorang pemuda yang baru datang ke rumah keluarga tantenya, Mpong Saodah, di kompleks perumahan itu pada Selasa malam. Polisi menduganya sehubunganmisi dengan teroris yang menembaki dan menyerang polisi di Solo, Jawa Tengah.

Firman disergap anggota Densus 88 di rumah Mpong di Blok E 1 Nomor 1 RT 02/10. “Seperti dalam coat, banyak polisi pegang senjata besar,” kata Egan.

Kejadian penangkapan itu membuat Egan semakin ingin menjadi polisi saat besar nanti. Rekannya, Azar Wijaya, 7 tahun, juga mengagumi para aparat yang datang ke kampungnya itu. Sambil menenteng senjata replika AK 47 dari plastik, bocah itu mengatakan, Saya mau jadi TNI AL.

Setelah peristiwa penggerebekan itu, kompleks Perumahan Taman Anyelir 2 masih dijaga polisi. Ada lebih dari 50 anggota dari kepolisian setempat yang hilir mudik di antara sudut-sudut rumah yang digerebek. Beberapa menenteng senjata laras panjang, yang membuat Egan, Azar, dan yang lainnya semakin heboh.

SUMBER

Anak2 terinspirasi densus 88 nih.

Incoming search terms:

  • kata-kata romantis untuk bla september dalam bahasa inggris

Original source : [Permainan Baru] Anak2: ”Saya Densus 88, Kamu Teroris Ya!”

Balas Budi Burung Bangau

Dahulu kala di suatu tempat di Jepang, hidup seorang pemuda bernama Yosaku. Kerjanya mengambil kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil penjualan dibelikannya makanan. Terus seperti itu setiap harinya. Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas salju. Setelah di dekatinya ternyata seekor burung bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta. Yosaku segera melepaskan perangkat itu. Bangau itu sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Yosaku beberapa kali sebelum terbang ke angkasa. Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya dirumah, Yosaku segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara ketukan pintu di luar rumah.

Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan salju. “Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan hangatkan badanmu dekat tungku,” ujar Yosaku. “Nona mau pergi kemana sebenarnya ?”, Tanya Yosaku. “Aku bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena salju turun dengan lebat, aku jadi tersesat.” “Bolehkah aku menginap disini malam ini ?”. “Boleh saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan.” ,kata Yosaku. “Tidak apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap”. Kemudian gadis itu merapikan kamarnya dan memasak makanan yang enak.

Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Yosaku berpikir bahwa gadis itu akan segera pergi, ia merasa kesepian. Salju masih turun dengan lebatnya. “Tinggallah disini sampai salju reda.” Setelah lima hari berlalu salju mereda. Gadis itu berkata kepada Yosaku, “Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal terus di rumah ini.” Yosaku merasa bahagia mendapat permintaan itu. “Mulai hari ini panggillah aku Otsuru”, ujar si gadis. Setelah menjadi Istri Yosaku, Otsuru mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Otsuru meminta suaminya, Yosaku, membelikannya benang karena ia ingin menenun.
Otsuru mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat Otsuru menenun. Setelah tiga hari berturut-turut menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar. Kain tenunannya sudah selesai. “Ini tenunan ayanishiki. Kalau dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal. Yosaku sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang untuk dibawa pulang. “Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih istriku. Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih banyak lagi. “Baiklah akan aku buatkan”, ujar Otsuru. Kain itu selesai pada hari keempat setelah Otsuru menenun. Tetapi tampak Otsuru tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus. Otsuru meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi.

Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak ada maka Yosaku akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Yosaku pada istrinya. “Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya”, kata Otsuru.
Karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun, Yosaku berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun. Tetapi ia sangat terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun, ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir gundul kehabisan bulu. Bangau itu akhirnya sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Yosaku, bangau itu pun berubah wujud kembali menjadi Otsuru. “Akhirnya kau melihatnya juga”, ujar Otsuru.

“Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu pernah Kau tolong”, untuk membalas budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini,” ujar Otsuru. “Berarti sudah saatnya aku berpisah denganmu”, lanjut Otsuru. “Maafkan aku, ku mohon jangan pergi,” kata Yosaku. Otsuru akhirnya berubah kembali menjadi seekor bangau. Kemudian ia segera mengepakkan sayapnya terabng keluar dari rumah ke angkasa. Tinggallah Yosaku sendiri yang menyesali perbuatannya.

Incoming search terms:

  • #############################################
  • cerita dongeng sikancil yg ada unsur intrinsik&ekstrinsik serta alasannya
  • unsur instrinsik cerpen ali baba

Original source : Balas Budi Burung Bangau

Telaga Bidadari

Dahulu kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia bernama Awang Sukma. Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan pohon yang sangat besar. Kehidupan di hutan rukun dan damai. Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan bergelar Datu. Sebulan sekali, Awang Sukma berkeliling daerah kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang jernih dan bening. Telaga tersebut terletak di bawah pohon yg rindang dengan buah-buahan yang banyak. Berbagai jenis burung dan serangga hidup dengan riangnya. “Hmm, alangkah indahnya telaga ini. Ternyata hutan ini menyimpan keindahan yang luar biasa,” gumam Datu Awang Sukma.

Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma sedang meniup serulingnya, ia mendengar suara riuh rendah di telaga. Di sela-sela tumpukan batu yang bercelah, Datu Awang Sukma mengintip ke arah telaga. Betapa terkejutnya Awang Sukma ketika melihat ada 7 orang gadis cantik sedang bermain air. “Mungkinkah mereka itu para bidadari?” pikir Awang Sukma. Tujuh gadis cantik itu tidak sadar jika mereka sedang diperhatikan dan tidak menghiraukan selendang mereka yang digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga. Salah satu selendang tersebut terletak di dekat Awang Sukma. “Wah, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan selendang di pohon itu,” gumam Datu Awang Sukma.

Mendengar suara dedaunan, para putri terkejut dan segera mengambil selendang masing-masing. Ketika ketujuh putri tersebut ingin terbang, ternyata ada salah seorang putri yang tidak menemukan pakaiannya. Ia telah ditinggal oleh keenam kakaknya. Saat itu, Datu Awang Sukma segera keluar dari persembunyiannya. “Jangan takut tuan putri, hamba akan menolong asalkan tuan putri sudi tinggal bersama hamba,” bujuk Datu Awang Sukma. Putri Bungsu masih ragu mendapat uluran tangan Datu Awang Sukma. Namun karena tidak ada orang lain maka tidak ada jalan lain untuk Putri Bungsu kecuali mendapat pertolongan Awang Sukma.

Datu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah perkasa. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu Awang Sukma sangat bahagia.

Namun, pada suatu hari seekor ayam hitam naik ke atas lumbung dan mengais padi di atas permukaan lumbung. Putri Bungsu berusaha mengusir ayam tersebut. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah bumbung bambu yang tergeletak di bekas kaisan ayam. “Apa kira-kira isinya ya?” pikir Putri Bungsu. Ketika bumbung dibuka, Putri Bungsu terkejut dan berteriak gembira. “Ini selendangku!, seru Putri Bungsu. Selendang itu pun didekapnya erat-erat. Perasaan kesal dan jengkel tertuju pada suaminya. Tetapi ia pun sangat sayang pada suaminya.

Akhirnya Putri Bungsu membulatkan tekadnya untuk kembali ke kahyangan. “Kini saatnya aku harus kembali!,” katanya dalam hati. Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya sambil menggendong bayinya. Datu Awang Sukma terpana melihat kejadian itu. Ia langsung mendekat dan minta maaf atas tindakan yang tidak terpuji yaitu menyembunyikan selendang Putri Bungsu. Datu Awang Sukma menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dielakkan. “Kanda, dinda mohon peliharalah Kumalasari dengan baik,” kata Putri Bungsu kepada Datu Awang Sukma.” Pandangan Datu Awang Sukma menerawang kosong ke angkasa. “Jika anak kita merindukan dinda, ambillah tujuh biji kemiri, dan masukkan ke dalam bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan lantunan seruling. Pasti dinda akan segera datang menemuinya,” ujar Putri Bungsu.

Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya dan seketika terbang ke kahyangan. Datu Awang Sukma menap sedih dan bersumpah untuk melarang anak keturunannya memelihara ayam hitam yang dia anggap membawa malapetaka.

Pesan moral : Jika kita menginginkan sesuatu sebaiknya dengan cara yang baik dan halal. Kita tidak boleh mencuri atau mengambil barang/harta milik orang lain karena suatu saat kita akan mendapatkan hukuman.

Incoming search terms:

  • teks eksemplum merak yan angkuh

Original source : Telaga Bidadari

Lelaki Ketiga

Lelaki pertama dan lelaki kedua tidak mengherankan. Shinichi Kudo tahu persis mengapa mereka dipilih menjadi pemimpin oleh anak-anak muda itu. Tapi justru Ihsan ini yang Shinichi nggak tahu mengapa beliau bisa-bisanya dipilih menjadi ketua umum pemuda, dengan suara aklamasi lagi!

Rasyid si wakil ketua itu pastinya dipilih karena kemampuan komandonya. Rasyid dengan cekatan memimpin anak-anak muda untuk mempersiapkan tempat-tempat berlangsungnya acara porseni antar remaja masjid yang akan digelar para anak muda itu. Dari mulai mempersiapkan lapangan hingga tenda-tenda untuk acara pembukaan, semuanya  dengan cepat dan tuntas diselesaikan Rasyid. Pantaslah dia dipilih menjadi pemimpin. 

Binsar dengan kemampuan persuasifnya yang luar biasa juga layak menjadi pemimpin karena dialah yang menghubungkan panitia porseni dengan para calon peserta, sponsor dan sesepuh masjid di kota ini. Berkat kepandaian Binsar dan timnya lah peserta acara porseni remaja masjid membludak hingga ribuan orang. Arus dana dari sponsor yang berasal dari toko-toko kelontong milik para Haji yang mendominasi Pasar Makmur, nama pasar terbesar di kota itu juga tak terhitung lagi jumlahnya. Sesepuh masjid juga sangat mendukung berkat kepandaian persuasi Binsar. Layaklah dia menjadi pemimpin.
Tapi Ihsan jauh dari kesan seorang yang persuasif ataupun pandai memimpin pekerjaan lapangan. Kemampuannya dalam mengutarakan pendapat biasa saja. Dalam kerjaan lapangan pun dia tidak banyak memberi komando. Rasyidlah yang melakukan. Soal urusan sponsor, Ihsan juga hanya mengurusi sebagian kecil saja. Hanya beberapa toko besar saja yang disambangi Ihsan. Sebagian besar toko lainnya dihubungi oleh Binsar. Demikian juga dengan masjid-masjid yang diundang untuk mengirimkan remajanya berkompetisi dalam porseni. Ihsan tak banyak turun  ke lapangan untuk mengajak mereka bergabung.
Saat Shinichi menanyakan hal itu pada Binsar, anak muda itu tertawa. Dia hanya mengatakan dari dulu juga begitu. Tiga tahun lalu saat kepengurusan organisasi diregenerasi, polanya selalu begitu. Jika ada acara, plotnya Ihsan itu  ketua, kemudian Rasyid urusan lapangan dan Binsar urusan hubungan masyarakat. Gak pernah berubah dan acara yang mereka gelar rata-rata berhasil.
Kemudian Shinichi mencoba bertanya pada Rasyid. Barangkali dia tahu penyebabnya. Sama halnya dengan Binsar, anak muda itu menanggapi dengan tertawa. Dikatakannya pertanyaan yang meragukan kontribusi Ihsan itu bukan diajukan Shinichi saja. Tapi banyak oleh para orang-orang tua. Rata-rata mereka heran bagaimana cara Ihsan memimpin anak-anak muda itu. 
Namun kemudian Rasyid mulai buka kartu. Dia menyebutkan salah satu kelebihan Ihsan dibanding dirinya dan Binsar. Ihsan itu orangnya sangat determinatif. Dia determinasinya sangat tinggi. Begitu tujuan dicanangkan maka dia akan ngotot memperjuangkan hingga berhasil. Akibat semangat yang menyala-nyala itu, para pemuda lain jadi ikut bersemangat memperjuangkannya. Mereka melihat halangan-rintangan sebagai hal yang biasa saja, karena terpengaruh oleh Ihsan yang tidak ragu sedikitpun akan keberhasilan curriculum yang telah dipilih.
Ihsan itu sangat percaya diri atas keputusan yang kita ambil bersama. Dia tidak mengenal menyerah walaupun banyak orang yang meragukan keberhasilan tujuan yang hendak diraih. Jadinya semua anggota tim tidak punya peluang untuk ragu, lalu menetapkan tujuan lain yang lebih mudah dicapai. Biasanya selalu ada saja jalan untuk mencapai tujuan. Selalu ada saja jalan ketiga yang tidak disangka-sangka. Begitulah Rasyid menggambarkan diri Ihsan.
Contoh kuatnya determinasi Ihsan terlihat pada proyek membuat rumah kaca di ara-ara Lohduwur. Itu adalah nama sebuah padang yang cukup luas yang terletak di sebelah selatan kampung. Sebelum ada rumah kaca, tempat itu hanyalah padang yang kering dengan tanah tidak rata, penuh rerumputan bercampur dengan batu-batuan dan sampah yang dibuang orang. 
Kini di tempat itu berdiri deret-deret rumah kaca dengan peruntukan masing-masing. Sebagian ditanami anggrek, sebagian yang lain sayur-sayuran dan sebagian lainnya lagi tanaman hias. Ara-ara Lohduwur pun kini lebih mirip tempat wisata dan kuliner, dibanding tempat pembiakan tanaman, karena lebih banyak orang datang ke sana untuk menikmati keindahan anggrek sambil makan aneka hidangan sayur-sayuran dibanding untuk membeli tanaman.
Dulu saat Ihsan mengusulkan membangun rumah kaca untuk menjadi tempat kegiatan para pemuda, tak banyak yang mendukung. Hanya karena kemauan yang kuat dari Ihsan saja usulannya tetap dijalankan oleh para pemuda walaupun banyak gerutuan sana-sini. Namun dengan bantuan kepintaran Binsar menjelaskan pada para warga, maka terdapat sekelompok warga yang berkecukupan yang tergerak untuk mendanai pembangunan rumah kaca pertama untuk menanam anggrek.

artquotes


Original source : Lelaki Ketiga

MIDUN SI GURU SIPIRITUAL

Syahdan, disebuah perkampungan kumuh tinggallah seorang pemuda yang bernama Midun. Midun adalah seorang pemuda pengangguran yang boleh dibilang minus pendidikan alias buta huruf. Sehari-hari Midun kerjanya cuma nongkrong dan berhalunasi, walau tampangnya pas-pasan bahkan boleh dikata cukup sangar untuk ukuran orang-orang di kampung itu.

Di kampung yang sama tinggal pula seorang janda yang sudah cukup umuran namanya  Syahrini ( yang pasti ini bukan Syahrini penyanyi  tea). Syahrini berprofesi sebagai saudagar alias pedagang barang kelontong yang menjajahkan dagangannya keliling antar kampung. Dalam kesendiriannya yang sudah sejak lama ditinggal pergi suaminya, maka Syahrini sering berkhayal andaikan masih ada lelaki yang mau menikahinya untuk dijadikan teman di rumah maupun saat berkeliling  antar kampung  untuk berdagang.

Suatu pagi yang cerah saat Syahrini berkeliling kampung untuk berdagang, dia bertemu Midun yang sedang asyik nongkrong sambil bengong di pojok kampung dan entah kesambet apa Syahrini melihat sosok Midun bagaikan seorang pangeran yang dikirim dari pelanet lain yang cocok akan mendampingi sekaligus jadi tukang pukulnya (mungkin hal ini disebabkan sosok tubuh Midun yang sangar dan besar serta hidungnya yang besar juga melengkung).

Singkat kisah pertemuan tersebut dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya dan akhirnya Syahrini dan Midun menikah, Syahrini begitu mencintai Midun dan melihat latar belakang sang suami yang minus pendidikan maka Syahrini meminta agar Midun pergi berguru dan membekalinya dengan fulus yang cukup melimpah. Dasar Midun lelaki dablek bukannya pergi berguru ke lembaga pendidikan eh malah dia pergi berguru mencari ilmu kelenik ketempat-tempat keramat. Tak lama berselang Midun kembali ke istrinya dan mengatakan bahwa dia telah mendapat wangsit dari sang Gusti. Walau Syahrini tak sepenunya percaya akan wangsit yang diterima suaminya maka sebagai istri yang sangat mencintai suaminya maka Syahrini tetap mendukung suaminya tersebut.

Sungguh luar biasa, walaupun Midun tak pernah bisa membaca tapi semua kata-katanya seolah berasal dari apa yang tertulis dalam kitab suci tapi sebenarnya apa yang diucapkannya bila dicermati dengan pikiran yang waras maka sesunguhnya apa yang diucapkannya sama sekali justru berlawanan dengan ajaran kebenaran. Setelah pengikutnya jumlahnya lebih dari hitungan jari, maka Midun sudah berani mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Sang Intellectual Sepiritual. Dari informasi mulut ke mulut maka Sang Intellectual Sepiritual semakin santer dan dikenal banyak orang dan jumlah pengikutnya mulai bejibun. Melihat pengikutnya cukup banyak maka Sang Intellectual Sepiritual bertambah narsis dan mulai menunjukkan sifat-sifat serakah dan birahinya yang luar biasa.

Bagaimana kelanjutan kisah sang intellectual sipiritual Midun . . .


Original source : MIDUN SI GURU SIPIRITUAL

Dongeng Pak Wangsa dan Angsa Bertelur Emas

Alkisah dua tahun lalu Pak Wangsa mendapat hadiah anak angsa dari seseorang yang tidak dikenal. Belakangan setelah si angsa dewasa ternyata setiap hari mengeluarkan sebutir telur emas. Mulanya Pak Wangsa tidak yakin akan keberadaan telur emas itu. Namun setelah ditanyakan pada Tukang Kemasan di pasar, tahulah dia bahwa angsanya benar-benar mengeluarkan butiran telur emas.

Bukan main gembiranya hati Pak Wangsa. Sejak lama dia memendam cita-cita memajukan kampungnya yang rata-rata penduduknya miskin dan buta huruf. Sebagian besar tanah di kampungnya berupa padang gersang nan tandus. Kebanyakan penduduk berprofesi sebagai petani dan peternak. Umumnya miskin karena hanya lahan-lahan yang berada di kanan-kiri aliran sungai yang bisa ditanami. Pak Wangsa terhitung sebagai peternak dengan tanah yang luas, tetapi tidak semua tanahnya bisa dimanfaatkan karena tak ada pasokan air.

Selama ini penghasilan dari peternakan sapi perahnya hanya cukup untuk kebutuhan keluarganya. Dari 100 hektar tanahnya hanya sepertiga yang bisa ditanami, itupun hanya rumput-rumputan untuk makanan sapi. Biaya untuk membayar orang untuk menyiram rumput-rumputnya tak berselisih jauh dengan hasil penjualan susu. Makanya impian untuk memajukan kampung belum berhasil diwujudkannya.

Dengan adanya angsa bertelur emas, kini Pak Wangsa bisa mengumpulkan biaya untuk membangun saluran irigasi yang dipergunakan mengairi daerah-derah yang kering. Dia tak segan menyingsingkan lengan untuk merancang dan sekaligus membiayai berbagai pekerjaan sehubunganmisi usaha menghidupkan tanah-tanah gersang. Dibangunnya parit-parit baru untuk menghidupkan ladang-ladang di timur desa yang sudah puluhan tahun ditinggalkan pemiliknya karena kekurangan air.

Dipekerjakannya para pemuda yang selama ini suka nongkrong di warung-warung penjual lavender — sambil mabuk-mabukan — dengan bayaran yang bagus. Perlahan-lahan jumlah pedagang anggur merah maupun anggur putih menyusut drastis, karena setelah sibuk bekerja para pemuda tak lagi tertarik untuk mabuk-mabukan seperti pada saat mereka masih menganggur.

Seiring perbaikan irigasi, lambat laun tanah-tanah gersang mulai bisa ditanami. Ladang-ladang baru muncul dan hasil pertanian yang bisa dijual ke kota meningkat. Penduduk sangat senang dengan usaha-usaha Pak Wangsa. Tak ada lagi pemuda-pemuda mabuk begajulan yang nongkrong di warung lavender. Kesejahteraan orang-orang kampung juga meningkat. Sejauh ini tak ada yang tahu kalau uang Pak Wangsa dari telur angsa. Setahu mereka Pak Wangsa rajin berderma setelah majunya perdagangan istrinya yang setiap hari berjualan kain di kota.

^_^

Masih ada satu cita-cita Pak Wangsa yang belum kesampaian, yaitu membuat waduk besar di selatan desa yang dikelilingi bukit-bukit. Waduk itu akan mengubah padang gersang dan tandus di wilayah ini menjadi tanah pertanian yang subur dan makmur. Jika hanya membuat parit-parit irigasi maka masih ribuan hektar tanah yang tidak akan tersentuh air sampai puluhan tahun yang akan datang.

Namun untuk mewujudkan itu Pak Wangsa membutuhkan uang tak kurang dari 10.000 keping dinar emas. Jumlah yang tidak sedikit dan membutuhkan 1000 butir telur emas untuk mendapatkannya. Artinya Pak Wangsa harus menunggu 1000 hari lagi karena angsanya hanya bertelur satu butir sehari.

Bermacam-macam cara telah dipikirkan Pak Wangsa dan keluarganya. Termasuk istrinya yang mengusulkan agar si angsa disembelih saja agar telur-telur dapat diperoleh lebih cepat. Tentu saja Pak Wangsa tidak setuju. Dia tahu persis jika si angsa disembelih tentu di dalam perutnya tidak akan ada satu butir telurpun, bahkan hal itu akan menyebabkan dirinya kehilangan sumber emas.

Usulan dari anaknya lain lagi. Si anak mengusulkan Pak Wangsa mengajak warga untuk bersama-sama membikin waduk. Mereka diminta merelakan tanahnya untuk dibangun waduk agar tanah-tanah tandus di sekeliling desa bisa dirubah menjadi lahan subur bagi semua orang. Telur emas akan dipergunakan untuk membiayai makan dan minum selama mereka bekerja. Dengan cara ini diharapkan waduk dapat diselesaikan walaupun perlahan-lahan.

Pak Wangsa mengesampingkan usulan anaknya itu. Dari pengalamannya sangat sulit mengajak penduduk kampungnya untuk merelakan tanah demi pembuatan fasilitas umum. Untuk pembuatan jalan desa saja perlu waktu bertahun-tahun untuk meyakinkan mereka agar melepaskan tanah untuk membangun jalan. Itu-pun dengan imbalan uang yang cukup menguras keuangan kampung.

Incoming search terms:

  • cerita fabel bahasa jawa
  • drama angsa bertelur emas
  • koleksi cerita rakyat ayam bertelur emas

Original source : Dongeng Pak Wangsa dan Angsa Bertelur Emas

Petualangan Sinbad

Dahulu, di daerah Baghdad, timur tengah, ada seorang pemuda bernama Sinbad yang kerjanya memanggul barang-barang yang berat dengan upah yang sedikit, sehingga hidupnya tergolong miskin. Suatu hari, Sinbad beristirahat di depan pintu rumah saudagar kaya karena sangat lelah dan kepanasan. Sambil istirahat, ia menyanyikan lagu. “Namaku Sinbad, hidupku sangat malang, berapapun aku bekerja dengan memanggul beban di punggung tetaplah penderitaan yang kurasakan.” Tak berapa lama muncul pelayan rumah itu, menyuruh Sinbad masuk karena dipanggil tuannya.

“Apakah namamu Sinbad ?”, “Benar Tuan”. “Namaku juga Sinbad”, kata sang saudagar. Ia pun mulai bercerita, “Dulu aku seorang pelaut. Ketika mendengar nyanyianmu, aku sangat sedih karena kau berpikir hanya kamu sendiri yang bernasib buruk, dulu nasibku juga buruk, orangtua ku meninggalkan banyak warisan, tetapi aku hanya bermain dan menghabiskan harta saja. Setelah jatuh miskin aku bertekad menjadi seorang pelaut. Aku menjual rumah dan semua perabotannya untuk membeli kapal dan seisinya. Karena sudah lama tidak menemui daratan, ketika ada daratan yang terlihat kami segera merapatkan kapal. Para awak kapal segera mempersiapkan makan siang. Mereka membakar daging dan ikan. Tiba-tiba , permukaan tanah bergoyang. Pulau itu bergerak ke atas, para pelaut berjatuhan ke laut. Begitu jatuh ke laut, aku sempat melihat ke pulau itu, ternyata pulau tersebut, berada di atas badan ikan paus. Karena ikan paus itu sudah lama tak bergerak, tubuhnya ditumbuhi pohon dan rumput, mirip seperti pulau. Mungkin karena panas dari api unggun, ia mulai bergerak fraud.
Mereka yang terjatuh ke laut di libas ekor ikan paus sehingga tenggelam. Aku berusaha menyelamatkan diri dengan memeluk sebuah gentong, hingga aku pun terapung-apung di laut. Beberapa hari kemudian, aku berhasil sampai ke daratan. Aku haus, disana ada pohon kelapa. Kemudian aku memanjatnya dan mengambil buah dan meminum airnya. Tiba-tiba aku melihat ada sebutir telur yang sangat besar. Ketika turun, dan mendekati telur itu, tiba-tiba dari arah langit, terdengar suara yang menakutkan disertai suara kepakan saya yang mengerikan. Ternyata, seekor burung naga yang amat besar.

Setelah sampai disarangnya, burung naga itu tertidur sambil mengerami telurnya. Sinbad menyelinap dikaki burung itu, dan mengikat erat badannya di kaki burung naga dengan kainnya. “Kalau ia bangun, pasti ia langsung terbang dan pergi ke tempat di mana manusia tinggal.” Benar, esoknya burung naga terbang mencari makanan. Ia terbang melewati pegunungan dan akhirnya tampak sebuah daratan. Burung naga turun di sebuah tempat yang dalam di ujung jurang. Sinbad segera melepas ikatan kainnya di kaki burung dan bersembunyi di balik batu. Sekarang Sinbad berada di dasar jurang. Sinbad tertegun, melihat disekelilingnya banyak berlian.

Pada saat itu, “Bruk” ada sesuatu yang jatuh. Ternyata gundukan daging yang besar. Di gundukan daging itu menempel banyak berlian yang bersinar-sinar. Untuk mengambil berlian, manusia sengaja menjatuhkan daging ke jurang yang nantinya akan diambil oleh burung naga dengan berlian yang sudah menempel didaging itu. Sinbad mempunyai ide. Ia segera mengikatkan dirinya ke gundukan daging. Tak berapa lama burung naga datang dan mengambil gundukan daging, lalu terbang dari dasar jurang. Tiba-tiba, “Klang! Klang! Terdengar suara gong dan suling yang bergema. Burung naga yang terkejut menjatuhkan gundukan daging dan cepat-cepat terbang tinggi. Orang-orang yang datang untuk mengambil berlian, terkejut ketika melihat Sinbad.

Sinbad menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Kemudian orang-orang pengambil berlian mengantarkan Sinbad ke pelabuhan untuk kembali ke negaranya. Sinbad menjual berlian yang didapatnya dan membeli sebuah kapal yang besar dengan awak kapal yang banyak. Ia berangkat berlayar sambil melakukan perdagangan. Suatu hari, kapal Sinbad dirampok oleh para perompak. Kemudian Sinbad dijadikan budak yang akhirnya dijual kepada seorang pemburu gajah. “Apakah kau bisa memanah?” Tanya pemburu gajah. Sang pemburu memberi Sinbad busur dan anak panah dan diajaknya ke padang rumput luas. “Ini adalah jalan gajah. Naiklah ke atas pohon, tunggu mereka datang lalu bunuh gajah itu”. “Baik tuan,” jawab Sinbad ketakutan.

Esok pagi, datang gerombolan gajah. Saat itu pemimpin gajah melihat Sinbad dan langsung menyerang pohon yang dinaiki Sinbad. Sinbad jatuh tepat di depan gajah. Gajah itu kemudian menggulung Sinbad dengan belalainya yang panjang. Sinbad mengira ia pasti akan dibunuh atau di banting ke tanah. Ternyata, gajah itu membawa Sinbad dengan kelompok mereka ke sebuah gunung batu. Akhirnya terlihat sebuah air terjun besar. Dengan membawa Sinbad, gajah itu masuk ke dalam air terjun menuju ke sebuah gua. “Ku..kuburan gajah!” Sinbad terperanjat. Di gua yang luas bertumpuk tulang dan gading gajah. Pemimpin gajah berkata,”kalau kau ingin gading ambillah seperlunya. Sebagai gantinya, berhentilah membunuh kami.” Sinbad berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Ia pulang dengan memanggul gading gajah dan menyerahkan ke tuannya dengan syarat tuannya tidak akan membunuh gajah lagi. Tuannya berjanji dan kemudian memberikan Sinbad uang.

“Sampai disini dulu ceritaku”, ujar Sinbad yang sudah menjadi saudagar kaya. “Aku bisa menjadi orang kaya, karena kerja keras dengan uang itu. Jangan putus asa, sampai kapanpun, apalagi jika kita masih muda,” lanjut sang saudagar.


Original source : Petualangan Sinbad

Iklan Visit Jawa Barat 2013, Ngiklanin Jabar Apa Sule?

siapa yang sudah melihat iklan Visiting the attractions Enter Visit Jawa Barat 2013 di tv? biasanya di tvOne, kalau belum, nih saya embed videonya.

atau kalau enggak nongol, sok boleh dilihat disini.

Record yang di perankan oleh 2 orang terkenal di Jawa Barat, Sule dan Bpk. Gubernur Aher ini pertama kali lihat saya sampe heran, ini iklan visiting the attractions atau mau ngiklanin sule? coba dihitung, banyakan mana, keindahan alam jawa barat atau sule yang di ekspos?

dan pemilihan sule juga udah jadi agak kurang sreg, kenapa? sule sendiri sekarang aktif dan bisa dibilang sangat aktif di Jakarta, walau dia lahir di jawa barat, tapi saya yakin, lebih banyak orang yang taunya Sule Sukses di JAKARTA bukan di Jawa Barat, gak salah kok, cuma kan lebih baik kalau pemuda pemuda jawa barat yang ganteng nan putih itu yang mengiklankan Provinsinya sendiri.. atau malah lebih simpler lagi kalo dikasih vista anak anak kecil yang lagi ketawa sambil main permainan tradisional jawa barat, menggambarkan kalo Jabar dan Isinya itu FUN.

atau mau yang lebih elit? ada Saung Angklung Udjo dan Angklungnya, prestasinya bahkan lebih membanggakan buat jawa barat di banding si sule.

kepikiran skenarionya di awal, ada anak anak dari saung udjo memainkan angklungnya dengan alunan nada indah dan backgroundnya nanti keindahan jawa barat secara perlahan. wow!

mungkin ada contoh sederhana, ada iklan visit Jakarta, itu iklan bener bener menggambarkan Jakarta is Capital of Bussines. karena emang Jakarta ya capital of bussines, kalo liburan aja orang orangnya ngungsi ke Jawa Barat haha.

kalo begini kan orang pasti mikir, ini iklan asal buat, apa memang menjelang pilgub jabar? in personnel?

btw, iklannya mirip record clip lagu anak tahun 90an, apalagi waktu Joshua nyanyi “cancorang”.

Concord

Incoming search terms:

  • cerita liburan

Original source : Iklan Visit Jawa Barat 2013, Ngiklanin Jabar Apa Sule?

Cerpen – Aku Yang Tersakiti

“Aku Yang Tersakiti”
Oleh : Lorensius Alfian
Kisah ini bermula ketika seorang pemuda yang bernama Dito mulai mencari jati diri,mulai menginjak masa – masa yang berat karena semua masalah sudah mulai mendera hidupnya,terutama masalah “cinta”. Kisah ini bermula ketika Dito mulai kuliah dan bertemu dengan seorang wanita cantik dengan rambut panjang dan kacamata hitam bernama Anggun. Awalnya semua biasa saja tapi setelah beberapa lama berkenalan semuanya mulai berubah,hal-hal seperti rasa suka mulai mendera di dalam hati pemuda ini.
Sebenarnya Dito hanya ingin menyimpan rasa cinta itu sendiri,tapi akhirnya karena sudah tak tertahan lagi,dia bercerita kepada temannya yang bernama Tony. Tony menyarankan agar Dito mengungkapkan perasaannya kepada Anggun.
Dengan berani dan didukung secara moral oleh Tony,akhirnya rasa itu diungkapkan Dito kepada Anggun. Dia mengajak Anggun ke sebuah taman pada malam minggu. Sungguh di luar pikiran akhirnya Dito mengungkapkan perasaannya pada malam itu. Dia sangat serius mengatakannya dan di campur dengan rasa gugup tapi Anggun menanggapi keseriusan itu dengan tertawa..
Terjadilah sebuah percakapan,semua rasa pun dicurahkan oleh Dito.
“Ehh…kamu udah punya cowok.?” Tanya Dito seriusSambil tersenyum Anggun yang cantik itu menjawab “hehe.. belum knapa.?”“Loe tau gak kalau gue suka sama loe” tegas Dito lagi”hah..? sejak kapan” Tanya Anggun kaget ”Sebenarnya udah lama sih,e…loe mau gak jadi pacar gue” Dito menyampaikan hasratnya“Wretched,gue belum bisa mutusin iya atau ngakk” jawab Anggun“Lho..kenapa?” Tanya Dito bingung“Karna sekarang gue bingung kalau mau terima atau ngaa”“Lho kok harus bingung, kan tinggal jawab iya atau tidak..!!”

Incoming search terms:

  • cerpen perjodohan melayu
  • Cerita cinta perjodohan lelaki yg tersakiti
  • cerita novel sedih
  • cerpen remaja sedih dan romantis
  • kumpulan cerpen yang mengharukan anak kuliah
  • kumpulan novel remaja sedih

Original source : Cerpen – Aku Yang Tersakiti