Cerita Lucu Basa Jawa: Mbah Darmo Tuku Susu

Wayah wengi udan gerimis, Mbah Darmo kademen, pengen ngombe susu supaya large awake rada anget. Sarene kentekan susu, Mbah Darmo menyang pasar golek susu bubuk. Tekan ngarep salah suwijining kios kelontong, Mbah Darmo mlebu karo clingak-clinguk nggoleki susu, ngantek diparani sing jaga
Penjaga: 
Badhe mundhut punapa Mbah?
Mbah Darmo kaget diundang simbah karo penjaga toko. Bocah kuwi pantese dadi anake, dudu putune.
Mbah Darmo:
Menawi Susu Bubuk wonten mboten Mbokdhe?
Sing jaga kaget banget diundang Mbokdhe. Ngantek rambute njengat kabeh!. Banjur protes keras marang Mbah Darmo
Penjaga: http://duniashinichi.blogspot.com
Loh kok diundang Mbokdhe tho? Kulo niki taksih enom loh Mbah! Kok sakpenake dhewe diundang Mbokdhe. Umurku lagi selikur Mbah! Isih kinyis-kinyis! Selikuuuuuur!
Mbah Darmo:
Lha sampeyan ngapa kok ngundang kulo simbah? Umurku lagi seket je, kok diundang simbah?
Penjaga:
Loh, Romo kulo umure inggih seket siji sampun kagungan putu. Adhi kulo nikah umur pitulas, sakmenika anake sampun kaleh! Panjenengan sampun pantes diundang simbah, dadi aja protes rumangsa enom terus!
Mbah Darmo:
Yaaaaaaaah…. sampeyan injih mboten pareng protes diundang Mbokdhe! Wong rayi sampeyan sampun kagungan putra kaleh! Injih Mboten???

Kanca-kancane Penjaga Toko ngguyu kemekelen weruh bocah kuwi ora iso njawab pitakone Mbah Darmo.  Kepeksa Si Penjaga Toko ora sido ngundang simbah marang Mbah Darmo. Diganti ngundang “Om” wae amarga luwih enom setahun tinimbang Romone (Undil-2013)


tags: cerkak bahasa jawa

 

Incoming search terms:

  • cerita lucu ngapak
  • humor lucu bahasa jawa
  • cerita bahasa jawa lucu pendek
  • cerita humor bahasa jawa
  • cerita ngapak
  • cerito lucu bahasa jawa

Original source : Cerita Lucu Basa Jawa: Mbah Darmo Tuku Susu

Undangan ke Pesta

Lukas 14:7, 10-11

Karena Yesus melihat bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Akan tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang barrier rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan mendapat hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab, barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”

Suatu hari, Yesus dan para murid-Nya mendapat undangan dari kepala daerah setempat yang sedang memiliki hajat untuk menikahkan putri semata wayangnya dengan seorang putra bangsawan dari tanah seberang. Ketika mendapat undangan itu, para murid terutama Petrus girang bukan main. Berbeda dengan Yesus yang nyaris tak berkomentar apa-apa tatkala undangan itu sampai di tangan-Nya. Akan ada perbaikan gizi rupanya. Para murid sudah bosan dengan ikan asin yang menjadi menu hariannya. Apalagi, pada saat-saat tertentu, Yesus mengajak para murid-Nya untuk berpuasa.

Tiga hari menjelang hari pesta nikah itu tiba, para murid sudah mulai kelihatan sibuk mempersiapkan segalanya. Petrus mulai kebingungan dengan pakaian apa yang akan dia kenakan esok. Petrus bingung bukan karena banyaknya koleksi pakaian yang hendak dipilihnya, melainkan bingung karena jubahnya yang hanya berjumlah dua helai itu sudah begitu lusuh dan penuh dengan tambalan di sana-sini. Andreas, sang adik yang menyaksikan kegundahan hati sang kakak mulai tanggap. Jubah baru berwarna biru tua pemberian dari neneknya, dia pinjamkan kepada Petrus. Betapa girang hati Petrus mendapat pinjaman jubah itu meskipun ukurannya agak terlalu kecil sih dan tidak pas dengan ukuran tubuhnya yang mulai membesar di tempat-tempat tertentu. Berbeda lagi dengan dua saudara ini, Yakobus dan Yohanes sibuk membungkus sekeranjang anggur yang akan dijadikan sebagai kado untuk sang pengantin.

Hari pesta nikah yang sangat dinanti-nantikan itu akhirnya datang juga. Yesus dan para murid memutuskan untuk berjalan kaki saja seperti yang biasa dilakukan setiap kali berpergian. Akhirnya, setelah menempuh waktu sekitar tiga seperempat jam, sampailah mereka di rumah sang kepala daerah. Sambutan ramah dari tuan rumah kepada Yesus dan para murid menjadi awal yang menyenangkan. Yesus dan para murid kemudian dipersilakan untuk masuk dan duduk di tempat terhormat di urutan kursi barrier depan. Kecuali Petrus, murid yang sok revolutif ini, bertindak berbeda dengan Yesus dan para murid yang lain. Petrus malahan memilih tempat duduk yang barrier belakang dan terendah dalam rumah itu dengan harapan tuan rumah akan memintanya untuk duduk di tempat yang terhormat.

Owh… rupanya Petrus masih ingat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Yesus beberapa saat yang lalu. Saat itu Yesus pernah mengatakan, “Apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang barrier rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu; sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan mendapat hormat di depan mata semua tamu yang lain.”

Petrus heran, mengapa Yesus begitu mudahnya melupakan apa yang telah diajarkan-Nya kepada orang lain. Kali ini, keheranan Petrus mulai memuncak dan bercampur dengan rasa kesal yang tak dapat dibendung lagi. Pasalnya, di kursi depan, Yesus dan para murid yang lain mendapatkan pelayanan yang baik serta makanan yang enak-enak. Sedangkan di tempat barrier belakang, Petrus hanya mendapatkan sisanya saja dan pelayanannya pun tidak sebaik bagi para tamu yang duduk di kursi depan.

Karena merasa sudah tidak tahan dengan keadaan yang kurang mengenakkan ini, akhirnya Petrus bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Yesus. Di depan Gurunya, Petrus dengan nada jengkel berkata, “Intellectual, kenapa apa yang Engkau katakan rhythm hari tidak terbukti kebenarannya?” Yesus yang sudah paham dengan sikap Petrus ini hanya mengurai senyum dan menyerahkan kepada Petrus sebuah undangan pesta nikah itu. Dalam undangan itu tertulis dengan jelas: “celebrity (Extremely Vital Nature).” Karuan saja Petrus malu bukan main dan mulai beringsut kemudian duduk di samping Thomas.

“Makanya, kalau bertindak tuh motivasinya harus jernih dan tulus!”, celutuk Thomas meledek Petrus yang wajahya sudah menjadi merah padam seperti habis dipukuli orang.


Original source : Undangan ke Pesta

Cerita Lucu: Mbah Darmo Cari Susu

Pada suatu hari hujan gerimis yang dingin, Mbah Darmo pengen banget minum susu untuk menghangatkan tubuhnya. Makanya dia pergi ke toko untuk cari susu. Setelah sampai ke dalam toko, Mbah Darmo clingak-clinguk cari tempat memajang susu, hingga dihampiri seorang penjaga toko.
Penjaga:
Cari apa Mbah?
Mbah Darmo kaget dipanggil Mbah oleh penjaga itu. Ditilik dari raut wajahnya, gadis itu lebih pantas menjadi anaknya, bukan cucunya. Makanya Mbah Darmo sedikit jengkel.
Mbah Darmo:
Lagi nyari susu kaleng Budhe!
Penjaga toko kaget banget dipanggil Budhe oleh Mbah Darmo. Rambutnya langsung berdiri semua saking kagetnya!. Pada bayangannya, Budhe itu panggilan untuk kakaknya Ibu yang sudah agak sepuh. Dia sama sekali nggak rela dipanggil Budhe dan buru-buru protes keras pada Mbah Darmo.   
Penjaga:
Loh kok manggil Budhe tho Mbah? Aku ini masih muda loh, kok seenaknya dipanggil Budhe! Umurku baru dua puluh satu tahun Mbah! Lahir tahun sembilan puluh dua! Enak aja dipanggil Budhe!
Mbah Darmo:
Loh kamu juga manggil aku Embah! Umur baru lima puluh tahun kok dipanggil Embah??
Penjaga:
Eeee….Ayah saya umurnya juga baru lima puluh satu tahun udah punya cucu. Adikku nikah umur tujuh belas tahun, sekarang anaknya udah dua! Jadi Embah ini sudah pantas dipanggil Embah!. Embah… jangan protes karena merasa muda terus Mbaaaaaah!! 
Mbah Darmo:
Yaaaaaaaaaah…… Adikmu udah punya anak dua? Mereka harusnya manggil kamu Budhe! Jadi ngapain kamu protes dipanggil Budhe??
Teman-teman penjaga toko tertawa geli melihat Si Penjaga terdiam lamaaaaaaa….sekali karena tidak bisa menjawab pertanyaan terakhir Mbah Darmo. Akhirnya anak itu terpaksa berhenti memanggil Embah pada Darmo. Sebagai gantinya dia memanggil Om, karena umur Mbah Darmo setahun lebih muda dari Ayahnya (Undil-2013).

budhe (Ibu gedhe) : panggilan untuk kakak perempuan dari ayah/ibu

Incoming search terms:

  • CERITA TUJUH BELAS TAHUN

Original source : Cerita Lucu: Mbah Darmo Cari Susu