Hedonisme Penyubur Benih Korupsi

Korupsi merupakan anak kandung dari sifat kebohongan dan ketidakjujuran. Sifat korup melekat dalam jiwa manusia, bahkan semenjak masa manusia pertama diturunkan di muka bumi. Mentalitas korup menjadi penyakit jiwa yang bersifat kronis, sehingga menjadi bahaya laten bagi keberlangsungan tatanan kehidupan karena sifat ini melakukan destruksi terhadap kebudayaan dan peradaban manusia. Korupsi sejatinya adalah musuh setiap generasi. Dan perang terhadap korupsi harus selalu dikumandangkan secara tegas, nyata dan konsisten dilakukan dalam tindakan nyata yang tidak sekedar terhenti pada jargon dan retorika.

Secara kodrat, manusia memang memiliki rasa cinta kepada harta dan benda duniawi. Nenek moyang bangsa Nusantara bahkan telah memberikan gambaran betapa hasrat manusia tidak akan jauh dari tiga ta, harta, tahta, dan wanita. Ketiga ta tersebut seolah menjadi ukuran, bahkan standar, “kesuksesan” hidup seseorang dan menjadi simbol perhiasan dunia. Seseorang yang memiliki harta berlimpah, pangkat dan kedudukan yang tinggi, dan tentu saja istri ataupun “istri-istri” yang cantik, dikatakan sebagai seseorang yang telah meraih puncak kesuksesan hidup di dunia. Apakah hal ini salah?

Persoalan benar atau salah sebenarnya tidak bisa terlepas dari konteks ruang dan waktu yang membingkai sebuah peristiwa. Harta yang melimpah, pangkat atau jabatan yang tinggi, serta istri yang memikat bagi seseorang, asalkan didapatkan melalui jalan yang sehat dan wajar, penuh kerja keras, serta dedikasi yang tinggi, melalui cara-cara yang telah dintuntunkan Tuhan dan tidak melanggarkan aturan maupun norma kehidupan, sudah pasti merupakan nikmat kehidupan yang sangat luar biasa. Terlebih jika kemudian segala kepemilikan harta, tahta, dan wanita itu tidak hanya berfungsi secara private, namun memiliki dimensi sosial yang memiliki kemanfaatan yang lebih luas terhadap masyarakat, bangsa, dan negara, tentu akan membawa kepada kebaikan tatanan kehidupan dunia.

Dalam posisi harta benda keduniaan sebatas menjadi sarana atau cara untuk membangun kebersamaan kehidupan yang lebih baik, pastinya tidak ada pihak-pihak yang dirugikan. Harta benda dan segala simbol kesuksesan dunia yang lain tidak semestinya menjadi tujuan dari segala tujuan hidup. Semua itu tidak boleh menjadi satu-satunya orientasi seseorang dalam berpikir, berucap dan bertindak, bahkan sampai menggantikan posisi Tuhan. Tujuan hidup sejatinya adalah untuk menggapai keberkahan dan kedekatan kepada-Nya.

Persoalan muncul tatkala dunia menjadi tujuan akhir dari kehidupan manusia. Dunia dikejar mati-matian, siang malam kerja keras banting tulang, peras keringat dan dibelaain jungkir-balik, sehingga kemudian secara tidak sadar semua itu diposisikan menjadi tuhan-tuhan baru bagi manusia. Jika hal ini yang terjadi, maka manusia tidak akan segan-segan lagi menanggalkan segala keutamaan sifat hidup. Kejujuran, kesederhaan, ketaatan aturan, kedisiplinan, kerja keras ditinggalkan karena segala cara menjadi tidak terlalu penting dibandingkan tujuan hidup untuk memperkaya diri dan meraih dunia. Segala hal dihalalkan asal segala keinginan dapat dituruti. Baginya dunia adalah segala-galanya! Dalam kondisi ini manusia sudah kehilangan rasionalitas dan orientasi kehidupannya.

Jer basuki mawa bea, segala sesuatu membutuhkan biaya atau pengorbanan. Kelimpahan harta benda, pangkat dan jabatan yang tinggi, serta (mohon maaf) wanita, tentu saja harus diperoleh dengan pengorbanan. Tidak ada hal yang free di dunia ini. Segala kemewahan, kesenangan, kenikmatan, dan gaya hidup tidak lepas dari ongkos yang tidak murah. Semua memerlukan ongkos, semua perlu uang!

Sesungguhnya manusia memiliki pilihan untuk mengukur, menakar, menimbang, dan memproposionalkan seberapa takaran kebutuhan hidupnya. Seseorang yang lebih mengutamakan kecukupan hidup diukur dengan indikator rasa dan jiwanya, maka ia akan lebih mengedepankan sikap mensyukuri setiap pemberian Tuhan yang diperoleh dengan segala dedikasi dan kerja keras yang dilandasi dengan sifat kejujuran dan ketaatan terhadap semua perintah Tuhannya. Baginya menuruti hawa nafsu dan “jor-joran” untuk selalu merasa kurang, kurang dan terus kurang terhadap dunia tidak akan pernah ada habisnya. Ia memilih jalan untuk mengambil bagian dunianya hanya sebatas kebutuhan dan keperluan hidupnya. Dengan pilihan sikap seperti ini, ia merasa akan lebih menemukan ketentraman dan kedamaian hidup dalam limpahan keberkahan serta kasih sayang Tuhan.

Sebaliknya, ada manusia yang memilih jalan untuk mengejar dunia sebagai tujuan hidupnya. Segala kemampuan, pikiran, daya dan upaya dikerahkan semuanya untuk menumpuk harta, kekayaan, dan sudah tentu uang! Semua keinginan yang bisa ia pikirnya sedapat mungkin harus diturutkan dan menjadi kenyataan hidup. Rasionalitas dan logika otak diperas sedemikian rupa untuk membangun trik dan strategi dalam mengumpulkan uang. Ukuran kebahagiaan yang ada di pikirannya adalah segala hal yang dapat dilihat, dirasa, dan dinikmati secara jasmaniah dan tidak perlu menunggu-nunggu terlalu lama. Emas picis rajabrana dan uang adalah ukuran kesuksesan. Baginya madhep mantep kudu dadi wong sugih, harus menjadi orang kaya! Dengan itu semua ia dapat membeli dunia dan menuntaskan semua jenis kenikmatan hidup. Hedonisme menjadi paham hidup yang sekaligus menggantikan peran dan posisi agama.

Hedonisme tidak hanya akan terhenti kepada mengejar-ngejar kenikmatan hidup. Jika dalam proses pencapaian kekayaan untuk mengongkosi segala kemewahan ternyata kapasitas dan kemampuannya “lebih besar pasak daripada tiang”, maka seringkali sifat korup menjadi senjata untuk menguras uang darimanapun sumbernya. Gaji pas-pasan namun ingin tinggal di rumah megah, dengan mobil mewah dan segala fasiltas serba wah, serta gaya hidup kelas wahid. Jika semua keinginan itu harus dituruti, jalan pintas korupsi sering menjadi pilihan. Hedonisme kemudian menjadi pendorong seseorang melakukan tindakan korupsi. Celakanya setiap tindakan kejahatan mengharuskan penggabungan kejahatan-kejahatan yang lain untuk melanggengkan kejahatannya itu sendiri. Sifat korup membutuhkan seperangkat kebohongan, ketidakdisiplinan, kecurangan, keculasan, kelicikan, tipu muslihat, dan pelanggaran-pelanggaran hukum yang tidak sederhana.

Jika demikan yang terjadi, apakah tidak sebaiknya kita mengukur kembali tentang batasan kesukesan di dunia dan meletakkannya secara proporsional dalam konteks ruang dan waktu yang tepat, demi menegakkan perikehidupan dan perdaban yang lebih baik untuk kita dan generasi anak cucu kita kelak di kemudian hari.

Gambar diambil dari sini dan sini.


Original source : Hedonisme Penyubur Benih Korupsi