Parade Puisi Juni: Cinta Biarkan Burung Pipitmu Terbang

Dan makan malam itu
tanpa diduga
telah membangkitkan kenangan lama
ditambah lagi pernak-pernik baru
yang sebelumnya kau tak pernah tahu
menggigit jiwamu bak sayatan sembilu
Oh Sudahlah
biarkan burung pipitmu terbang
dari sangkar kenangan
toh yang pernah mengisinya
bukan hanya dia seorang



Original source : Parade Puisi Juni: Cinta Biarkan Burung Pipitmu Terbang

Puding Cokelat untuk Mara

Pagi itu Mara sangat terburu-buru sekali, ia telat berangkat kerja dikarenakan kesiangan. Ibunya menawarkan dia untuk sarapan dulu sebelum berangkat namun ia pun menolaknya, bahkan ia pun membuang sarapan yang sudah dibuat oleh ibunya tersebut. Ia pun langsung berlari keluar rumah dan menghidupkan mobil. Ibunya hanya bisa terkejut sambil meneteskan air mata melihat tingkah laku anaknya, ia hanya bisa bersabar.

Sesampainya Mara di kantor ia pun diberi teguran oleh atasannya karena terlambat. Ia pun mendapat konsekuensi atasannya tersebut apabila ia terlambat lagi. Mara pun bekerja seperti biasanya. Hingga sore hari ia pun bersiap untuk pulang ke rumah.

Karena perjalanan yang sangat jauh, ia pun sampai di rumah pada malam hari. Ibunya langsung bergegas membuka pintu rumah untuk menyambut Mara sambil menawarkannya untuk makan malam bersama. Namun, Mara tidak menghiraukan percakapan ibunya. Ia langsung membuang tasnya ke lantai dan menyuruh ibunya mengambil dan meletakkan dikamarnya. Dan Mara pun bergegas untuk tidur tanpa menghiraukan ajakan ibunya tersebut. Dan lagi ibunya hanya bisa bersabar. Ibunya heran melihat tingkah laku Mara.

Keesokan harinya, ibunya menanyakan kepada Mara kenapa ia tidak mau ikut makan malam bersama. Mara menjawab “Gara-gara ibu aku telat ke kantor dan dimarahi oleh atasanku. Hampir saja aku dipecat, sudahlah bu aku mau berangkat ke kantor. Aku malas berdiskusi hal yang tidak penting ke ibu”, jawab Mara dengan nada tinggi. Ibunya hanya bisa menangis dengan penuh rasa kecewa. Ibunya pun berpikir akan membuatkan sesuatu untuk Mara atas permintaan maafnya. Ia tahu Mara sangat menyukai puding cokelat dan ia pun akan membuat puding tersebut.

Setelah selesai membuat puding cokelat, tiba-tiba ibu Mara merasakan sakit di kepalanya. Ia pun pergi beristirahat dan langsung mengabarkan Mara bahwa ia sakit dan meminta Mara untuk pulang merawatnya. Namun, tidak seperti yang diharapkan Mara mematikan telepon ibunya. Ia sibuk dengan pekerjaan dan dunianya tanpa memikirkan orangtuanya.

Di malam hari seperti biasa Mara sudah sampai dirumah, ia tidak melihat ibunya. Dan ia pun berteriak memanggil ibunya untuk meletakkan tasnya kekamar. Dengan wajah yang sangat pucat ibunya pun keluar dari kamar dan mengikuti perintah Mara. Setelah itu ia pun menyiapkan makan malam dan menyuruh Mara untuk makan. Tetapi, Mara tetap tidak mau makan bersama ibunya. Ibunya pun pergi untuk beristirahat kembali.

Di pagi hari Mara pun pergi ke kantor tanpa berpamitan dan melihat keadaan ibunya. Ia tidak menyadari bahwa ibunya sedang terbaring lemas dikamar. Ia hanya sibuk dengan dunia dan pekerjaannya. Begitulah tingkah laku Mara setiap harinya.Ibu Mara hanya bersabar, Mara itu hanyalah anak satu-satunya yang ia miliki. Suaminya sudah lama meninggal dunia.

Karena sudah tidak tahan lagi dengan sakitnya, ibu Mara pun menghubungi Mara untuk pulang kerumah dan membawa ibunya ke dokter. Namun, Mara tidak menghiraukannya. Ibunya pun meminta bantuan tetangga untuk membawanya ke dokter, tetapi saat baru saja di depan rumah. Ia pun pingsan dan para tetangga sekitar pun berbondong-bondong membantunya. Salah satu dari tetangga pun menelpon Mara untuk pulang ke rumah. Dengan berat hati Mara pun pulang kerumah.

Sampainya di rumah Mara terkejut melihat ibunya sudah terbaring lemas di tempat tidur. Ibunya pun berkata “Mara, maafkan ibu tidak bisa membuat kamu bahagia. Ibu sangat menyesal, maafkan ibu nak. Itu ada puding cokelat kesukaanmu ibu buat untuk permintaan maaf ibu. Jangan lupa dihabiskan ya nak pudingnya”, “Ibu,maafkan Mara karena selama ini selalu menghiraukan ibu, tidak peduli dengan ibu. Mara minta maaf bu, Mara sangat sayang kepada ibu”, kata Mara sambil menangis. “Ibu sudah lama memaafkanmu nak, ibu sangat sayang kepadamu nak”,kata ibunya. Tiba-tiba ibunya pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan ibu Mara pun pergi untuk selama-lamanya. Mara pun sangat menyesal dan menangis sambil memeluk ibunya. Ia pun melihat puding cokelat buatan ibunya, sungguh dia tidak bisa menahan tangisnya. Namun, semuanya sudah terjadi dan Mara pun hanya bisa menyesali perlakuan ia kepada ibunya.


Original source : Puding Cokelat untuk Mara