Cerita Kancil dan Buaya

Alkisah pada suatu pagi di tepi sebuah parit yang membatasi hutan dengan tanah pertanian telah ramai oleh binatang hutan maupun hewan-hewan piaraan Pak Tani yang sengaja datang ke tempat itu. Menjangan, trewelu, trenggiling, tapir, luwak, bracan, garangan, hamster, landak bercampur dengan puluhan wedhus gembel piaraan Pak Tani, berkerumun di sisi kiri dan kanan parit yang ditumbuhi rerumputan yang hijau subur. Tak terkecuali Sang Kancil yang sengaja datang ke tempat itu setelah mendengar kabar hilangnya beberapa ekor menjangan tiga bulan terakhir ini.
Ada sebuah batang kayu besar yang melintang di tengah parit. Batang kayu itu yang dipergunakan oleh hewan-hewan untuk menyeberang dari satu sisi ke sisi lain dari parit. Berkat keberadaan batang kayu tersebut hewan-hewan itu tak perlu mengambil jalan memutar untuk pergi ke hutan ataupun ke tanah pertanian di seberangnya. Puluhan wedhus gembel milik Pak Tani nampak berbaris menyeberang ke hutan melalui batang kayu itu. Daun-daun gelombang cinta yang tumbuh di tepi hutan adalah makanan favorit para wedhus gembel, yang membuat mereka sering menyeberangi parit.  duniashinichi.blogspot.com
Setelah puluhan wedhus gembel selesai menyeberang, Sang Kancil mendekati batang kayu besar lalu melompat ke atasnya, seraya berkata:
“Tuan! Anda bukan saja batang kayu barrier cerdik yang pernah saya temui. Anda juga barrier sabar menahan diri dari menuruti nafsu memakan hewan-hewan yang berada di punggung Tuan!”

“Sang Kancil, akhirnya Tuan datang juga. Salam hormat dari hamba Tuan Kancil. Tuan adalah binatang yang barrier hamba kagumi. Sudah sepuluh tahun hamba mencari makan di parit ini, nampaknya akan berakhir hari ini. Tekstur kulit hamba yang berbeda dengan tekstur kayu, tentu dengan mudah dikenali oleh mata cendekiawan kutu buku seperti Sang Kancil” jawab batang kayu yang ternyata adalah seekor buaya besar.
“Anda benar Tuan Buaya. Pengetahuan tekstur kulit buaya pasti dikuasai semua kutu buku di hutan ini. Namun jujur saya katakan saya juga sangat mengagumi kesabaran Tuan. Tuan bisa berperan sebagai batang kayu dalam waktu lama tanpa disadari oleh para binatang ataupun Pak Tani yang sering datang ke tempat ini. Tentu bukanlah kekuatan tetapi kesabaran yang membuat Tuan mampu bertahan lama di tempat ini”
“Benar Sang Kancil. Ada dua belas saudara hamba yang telah mati dibunuh Pak Tani.  Mereka tidak mau mendengar petunjuk-petunjuk hamba. Mereka tidak sabar menghadapi godaan di depan mata”
“Tentu saudara-saudara Tuan Buaya telah sembrono memakan wedhus gembel milik Pak Tani” kata Kancil
“Benar Tuan. Tentu anda pernah membaca sifat-sifat buruk buaya pada buku-buku yang Tuan baca. Saudara-saudaraku kurang sabar. Mereka tidak tahan ingin merasakan gurihnya daging wedhus gembel Pak Tani. Akibatnya Pak Tani datang dan memburu mereka semua hingga nasib mereka berakhir di ujung senapan” jawab Buaya
“Bagaimana Tuan Buaya sanggup menahan diri tidak memakan wedhus gembel Pak Tani selama sepuluh tahun ini?”
“Hamba yakin tanpa kesabaran, hamba akan tersingkir dari parit ini. Bukan kekuatan atau kecerdikan yang membuat hamba bertahan selama sepuluh tahun. Namun kesabaran untuk tidak menyentuh wedhus gembel Pak Tani yang membuat hamba bertahan. Hamba juga berdisiplin hanya memangsa hewan yang datang sendirian ke tempat ini. Hamba sadar jika ada hewan lain yang memergoki hamba memakan temannya, maka tak akan ada hewan lagi yang datang ke parit ini. Itu artinya hamba tidak dapat makan. Jadi selapar apapun perut, hamba menahan diri untuk tidak memangsa seekor hewan selama ada hewan lain di tempat ini”

“Hmmm.. Tuan Buaya, anda benar-benar penyabar. Tuan juga telah menikmati ganjaran kesabaran itu dengan leluasa mendapatkan makanan selama sepuluh tahun. Namun maafkan aku Tuan. Kini adalah saatnya Tuan menyingkir dari tempat ini” tegas Sang Kancil
“Benar kata Sang Kancil. Hamba sebaiknya segera pergi dari tempat ini. Tapi hamba hendak mengajukan permintaan kepada Tuan. Kiranya sudi menuliskan pada sebuah buku, kisah tentang kesabaran hamba. Biarlah para binatang hutan mengambil pelajaran darinya. Biar mereka sadar bahwa siapa yang sabar yang akan meraih kemenangan, bukan siapa yang kuat. Tulislah bahwa saudara-saudara hamba semuanya lebih kuat dari hamba, tetapi mereka tidak sabar sehingga tidak sanggup bertahan lama”
“Baiklah Tuan Buaya. Tentu dengan senang hati aku akan menuliskan kisahmu pada sebuah buku. Biarlah buku itu bercerita tentang kemenangan makhluk yang sabar menghadapi godaan dan kesulitan” kata Kancil seraya melompat ke tepi parit seiring kepergian buaya yang perlahan-lahan menyelam dan menghilang dari pandangan.
Sang Kancil menepati janjinya dengan menuliskan kisah kesabaran Si Buaya dalam sebuah buku dari daun lontar. Buku tersebut kemudian menjadi manuskrip klasik yang selama beratus-ratus tahun masih bertahan menjadi bacaan favorit di hutan raya dan menjadi bahan cerita para induk binatang untuk menasehati anak-anaknya (Undil Feb-13).

Incoming search terms:

  • Cerita Kancil
  • cerita kancil dan buaya
  • cerita kancil sama org peladang
  • cerita gambar si kancil dan buaya
  • unsur unsur intrinsik kancil dan buaya

Original source : Cerita Kancil dan Buaya