Kemudikan Waktu

Waktu bagaikan kompas dalam kehidupan kita. Waktu selalu mengingatkan kita akan aktivitas kita sehari-hari. Waktu juga sebagai pengontrol kehidupan kita. Waktu terus berjalan tanpa henti bahkan tak akan pernah berulang. Tiada yang bisa menghambat lajunya waktu. Kita hanya perlu menjalin komunikasi yang baik dengan waktu, tetapi bukan berarti kita harus tunduk kepadanya. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi two-cleft antara diri kita dengannya. Dalam komunikasi itu, kita tidak boleh dirugikan sebab waktu akan terus bergerak bebas dan tidak peduli apakah kita sudah terlindas atau belum. Artinya, kita secara implisit harus dapat mengaturnya.

Begitu juga dengan keberadaanku hari ini. waktulah yang membawaku sampai pada detik ini. Aku tak menyangka bahwa waktu akan terus mengikuti perjalanan kehidupanku sampai membawaku pada usia 26 tahun ini. Sungguh tak kuduga waktu ternyata setia melakukan tugasnya. Sayang sekali aku tidak mengingat betul kebersamaanku dengannya. Barangkali banyak sikapku yang menyianyiakannya, tidak peduli padanya, dan bahkan menelantarkannya. Namun, yang kurasakan sampai hari ini, dia tetap tidak berpaling dariku. Dia memperlakukanku sama seperti sebelum berusia 26 tahun saat ini.

Jikalau dihitung kembali, berapa kali dan berapa lama waktu itu sudah saya abaikan. Sebaliknya, jika dihitung, berapa kali dan berapa lama waktu itu sudah saya pergunakan dengan baik. Jawabannya adalah lupa. Aku tidak mengingat berapa kali dan berapa lama aku pergunakan waktu dengan baik. Akan tetapi, seingatku lebih banyak menyia-nyiakan waktu yang telah di sediakan Tuhan kepadaku.

Akankah dengan pertolongan Tuhan aku dapat memperbaiki penggunaan waktu itu? Tentu jawabannya ya. Tuhanlah yang memberikan waktu itu kepada kita manusia. Tuhan pulalah yang melahirkan waktu itu apakah akan menjadi waktu yang baik atau menjadi waktu yang buruk dalam kehidupan kita. Ada waktu untuk tersenyum, ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk menang, ada waktu untuk kalah, ada waktu untuk bertemu, ada waktu untuk berpisah, ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk melepas, ada waktu lahir, dan ada waktu untuk mati. Semua itu, sadar tidak sadar, suka tidak suka, kita tidak akan bisa berpaling dari waktu.

Memang setiap manusia pernah merasakan waktu yang baik bahkan tidak jarang pula Tuhan memberikan waktu yang terburuk untuk kita. Ketika waktu itu datang dengan membawa senyuman, pada umumnya kita lagsung mengucap syukur kepada Tuhan. Namun, jikalau Tuhan memberikan waktu terburuk maka sebagian besar kita bukannya bersyukur. Lebih parahnya lagi kita tak segan-segan menghujat Tuhan itu atas pemberian waktu itu yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Dalam hal ini, termasuk juga saya.

Untuk itu, di usiaku yang ke-26 tahun ini semoga Tuhanlah yang selalu mengingatkanku untuk menggunakan waktu yang diberikan-Nya dengan baik. Dengan pertambahan usia ini, harapanku semakin dewasa menjalani hari-hariku dengan baik. Menjalani segala kehidupanku dengan menggunakan waktu dengan sunguh-sungguh.

Tuhan, terima kasih buat waktu yang Engkau berikan bagiku. Waktu yang boleh kunikmati di hari kelahiranku. Terima kasih juga buat waktu bangsa kami Indonesia yang boleh memperingati hari Kesaktian Pancasila sebagai lambang negara kami. Hari Kesaktian Pancasila yang menjadi dasar sekaligus falsah kehidupan bangsa kami. Tanpa waktu yang baik saat itu tentu ideologi bangsa kami bukanlah mengacu pada Pancasila, melainkan ideologi yang membawa negara kami ke arah yang tidak Engkau kehendaki, yakni komunis.

Terima kasih buat waktu yang manis sehingga para pahlawan revolusi kami tidak sia-sia gugur di medan perang dalam mempertahankan ideologi bangsa kami. Mungkin dengan waktu peringatan 1 Oktober ini menjadi kenangan manis bagi mereka yang telah gugur. Bimbinglah seluruh pemimpin bangsa-Mu ini agar kami tidak melupakan waktu untuk mengisi dan mempertahankan ideologi bangsa kami.

Pereratlah kasih di antara kami yang berbeda bahasa, suku, etnis, wilayah berbeda adat istidat bahkan agama. Jangan biarkan kami mengalami perpecahan sebagaimana harapan dari sang waktu yang buruk. Berilah kepada kami rasa memiliki satu dengan yang lain. Rasa memahami satu insan dengan yang lain sehingga akan terlihat oleh-Mu bahwa kami benar-benar sudah memanfaatkan waktu yang telah Engkau berikan kepada kami.

Waktu, engkau memang penunjuk keberadaan bagi kami. Selama ini engkau lebih banyak mengambil alih hidup kami. Kini giliran kami yang akan mengambil alih kedudukanmu. Kami yang akan mengarahkanmu sesuai dengan kebermanfaatanmu dalam hidup kami. Dengan kata lain, kamilah yang akan mengaturmu dalam roda kehidupan kami. Kamilah yang akan mengemudikanmu. Bersiaplah waktu.


Original source : Kemudikan Waktu