S e r a g a m

Cerpen AK Basuki
Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.
Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.
Dia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu.

”Jadi, apa yang membawamu kemari?”
”Kenangan.”
”Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini.”
Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin.
Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya.
Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya bathe bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya. Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Saat-saat seperti itu ditambah percakapan-percakapan apa saja yang mungkin berlaku di antara kami hampir setiap malam saya nikmati. Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan kesahajaan hidup keluarganya.
Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Sering memang saya mendengar anak-anak beramai- ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk mencari jangkrik. Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nantinya dapat dijual atau hanya sebagai koleksi, ditempatkan di sebuah kotak, lalu sesekali digelitik dengan lidi atau sehelai ijuk agar berderik lantang. Dari apa yang saya dengar itu, proses mencarinya sangat mengasyikkan. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu toh saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak.
”Tidak ganti baju?” tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat. Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Saya tahu, dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasanya sangat-sangat tidak elok.
”Tanggung,” jawabnya.
Sambil menggerutu tidak senang, saya mengambil alih obor dari tangannya. Kami lalu berjalan sepanjang galengan besar di areal persawahan beberapa puluh meter setelah melewati kebun dan kolam gurami di belakang rumahnya. Di kejauhan, terlihat beberapa titik cahaya obor milik para pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang. Musim kemarau, tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal terbuka memang memberikan sensasi aneh. Saya merasa tidak akan berani berada di sana sendirian.
Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke barat. Hanya dalam beberapa menit, dua ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam bumbung yang terikat tali rafia di pinggang sahabat saya itu. Saya mengikuti dengan antusias, tapi sendal jepit menyulitkan saya karena tanah kering membuatnya berkali-kali terlepas, tersangkut, atau bahkan terjepit masuk di antara retakan-retakannya. Tunggak batang-batang padi yang tersisa pun bisa menelusup dan menyakiti telapak kaki. Tapi melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak memakai alas kaki, saya tak mengeluh karena gengsi.
Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Lidah api bergoyang menjilat wajah saya yang tengah merunduk. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya!
”Berguling! Berguling!” terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coklatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Saya menurut dalam kepanikan. Tidak saya rasakan kerasnya tanah persawahan atau tunggak-tunggak batang padi yang menusuk-nusuk tubuh dan wajah saat bergulingan. Pikiran saya hanya terfokus pada api dan tak sempat untuk berpikir bahwa saat itu saya akan bisa mendapat luka yang lebih banyak karena gerakan itu. Sulit dilukiskan rasa takut yang saya rasakan. Malam yang saya pikir akan menyenangkan justru berubah menjadi teror yang mencekam!
Ketika akhirnya api padam, saya rasakan pedih yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya, sementara sebagian kainnya yang gosong menyatu dengan kulit. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan. Lalu dengan suara bergetar, dia mencoba membuat isyarat dengan mulutnya. Sayang, tidak ada seorang pun yang mendekat dan dia sendiri kemudian mengakui bahwa kami telah terlalu jauh berjalan. Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya di atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat. Sayang, sesampai di rumah bukan lain yang didapatnya kecuali caci maki Ayah dan Ibu. Pipinya sempat pula kena tampar Ayah yang murka.
Saya langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan. Seragam coklat Pramuka yang melingkupi tubuh saya disingkirkan entah ke mana oleh mantri. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meminta kepada Ayah agar menggantinya setelah itu. Dari yang saya dengar selama hampir sebulan tidak masuk sekolah, beberapa kali dia terpaksa membolos di hari Jumat dan Sabtu karena belum mampu membeli gantinya.
”Salahmu sendiri, tidak minta ganti,” kata saya selesai kami mengingat kejadian itu.
”Mengajakmu saja sudah sebuah kesalahan. Aku takut ayahmu bertambah marah nantinya. Ayahku tidak mau mempermasalahkan tamparan ayahmu, apalagi seragam itu. Dia lebih memilih membelikan yang baru walaupun harus menunggu beberapa minggu.”
Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.
Dia lalu mengajak saya ke halaman belakang di mana kami pernah bersama-sama membuat kolam gurami. Kolam itu sudah tiada, diuruk sejak lama berganti menjadi sebuah gudang tempatnya kini berkreasi membuat kerajinan dari bambu. Hasil dari tangan terampilnya itu ditambah pembagian keuntungan sawah garapan milik orang lainlah yang menghidupi istri dan dua anaknya hingga kini.
Ayah dan ibunya sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orangtua justru tergadaikan.
”Kakakku itu, masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. Hanya kini, semakin tua dia semakin tidak tahu diri.”
”Ulahnya?” Dia mengangguk.
”Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami barrier berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.” Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya.
”Kami akan bertahan,” katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Ada kesungguhan dalam suaranya.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu. Saya malu. Sebagai sahabat, saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus.
Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di sandaran jok belakang. Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam coklat Pramuka. Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya.

Incoming search terms:

  • cerpen bhs inggris tema pramuka
  • cerita ank bhs inggris tema pramuka
  • cerita pendek tentang pramuka bhs inggris
  • sejarah telapak kaki jonggrang kalapitung
  • upin dan ipin digelitik

Original source : S e r a g a m

Cerpen – Ku Temukan Cinta Di Twitter

“Ku Temukan Cinta Di Chirrup”Oleh : Lorensius Alfian
Pagi hari Bobby duduk di depan ruang kelasnya sendirian. Dia sibuk menatap layar HPnya dan senyum-senyum sendiri tak karuan. Beberapa orang yang lewat tidak heran dengan sikap Bobby yang seperti itu. Seperti biasanya, Bobby pasti sedang berchating ria. Bobby adalah seorang maniak chating dan internet. Sudah beberapa kali dia dikeluarkan dari kelas, gara-gara ketahuan sedang chating saat pelajaran berlangsung. Namun, dia tidak pernah jera. Saat dikeluarkan dari kelas, dia memilih pergi ke kantin dan melanjutkan ritualnya yaitu chating.Pagi itu saat sedang asik-asiknya chating, tiba-tiba seorang cowok menghampirinya.
“Woy dip, chating lagi loe.” Kata Andre sambil menepuk pundak Bobby, sehingga membuat Bobby kaget.“Astaga Tuhan” Kata Bobby kaget. “Ngapain sih loe, ngagetin gue aja.” Lanjutnya.“Wretched lad. Btw, loe chating apaan sih, gue lihat loe makin hari makin kayak orang gila tao nggak? Nggak jera loe ya, hampir tiap hari loe dikeluarin mulu dari kelas.” Komentar Andre“Seperti remaja pada umumnya, hal itu biasa saja dan sering terjadi di kota-kota besar. Hehe.. Nge-twitt di Chirrup. Seru nih, loe kudu nyoba.” Ucap Bobby“Apa serunya sih chating kayak begituan. Buang-buang waktu aja.”“Seru tao. Di sini loe bisa cari temen di daerah mana aja. Kalau ada yang cocok, bisa dapat jodoh. Hehehe.. Penggunanya kan banyak banget.”“Halah.. Loe kayak sales panci aja, promosi chating kayak gituan. Dasar MAON..!!!!!”“Apaan tuh maon? Bahasa earth jangan loe bawa-bawa kemari, gue ngggak ngerti.”“Manusia Online.” Teriak Andre di telinga Bobby“Kira-kira donk loe, kayak gue budek aja.” Ucap Bobby“Wretched lad. Hehehe..” Kata Andre cengengesan
Seperti biasanya, Bobby bermention ria dengan teman-temannya di dunia maya. Tiba-tiba muncul tanda bring up di layar hapenya. Tanpa buang-buang waktu, Bobby segera melihatnya.

“Hai @BobbySaputra10.. Boleh kenalan?” Sapa Orang tersebut. Dia memiliki nick @Ingus_97. Unik menurut Bobby, segera Boby membalasnya“Boleh.. Nama gue Bobby, loe??” Balas Bobby“Gue Ida Bagus Oeka tapi panggil aja Ida. Loe sekolah di mana?”“Gue sekolah di Smansa, loe?”“Oya? Gue juga sekolah di situ. Kelas berapa loe?”
“XII IPS 1 , loe?”“Gue kelas XI IPS 5.”

Incoming search terms:

  • cerpen smash telah ku temukan dia
  • contoh teks drama budeg bahasa jawa

Original source : Cerpen – Ku Temukan Cinta Di Twitter

Seragam

Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.

Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.

Dia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu.

”Jadi, apa yang membawamu kemari?”

”Kenangan.”

”Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini.”

Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin.

Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya.

Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya bathe bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya. Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Saat-saat seperti itu ditambah percakapan-percakapan apa saja yang mungkin berlaku di antara kami hampir setiap malam saya nikmati. Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan kesahajaan hidup keluarganya.

Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Sering memang saya mendengar anak-anak beramai- ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk mencari jangkrik. Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nantinya dapat dijual atau hanya sebagai koleksi, ditempatkan di sebuah kotak, lalu sesekali digelitik dengan lidi atau sehelai ijuk agar berderik lantang. Dari apa yang saya dengar itu, proses mencarinya sangat mengasyikkan. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu toh saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak.

”Tidak ganti baju?” tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat. Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Saya tahu, dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasanya sangat-sangat tidak elok.

”Tanggung,” jawabnya.

Sambil menggerutu tidak senang, saya mengambil alih obor dari tangannya. Kami lalu berjalan sepanjang galengan besar di areal persawahan beberapa puluh meter setelah melewati kebun dan kolam gurami di belakang rumahnya. Di kejauhan, terlihat beberapa titik cahaya obor milik para pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang. Musim kemarau, tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal terbuka memang memberikan sensasi aneh. Saya merasa tidak akan berani berada di sana sendirian.

Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke barat. Hanya dalam beberapa menit, dua ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam bumbung yang terikat tali rafia di pinggang sahabat saya itu. Saya mengikuti dengan antusias, tapi sendal jepit menyulitkan saya karena tanah kering membuatnya berkali-kali terlepas, tersangkut, atau bahkan terjepit masuk di antara retakan-retakannya. Tunggak batang-batang padi yang tersisa pun bisa menelusup dan menyakiti telapak kaki. Tapi melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak memakai alas kaki, saya tak mengeluh karena gengsi.

Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Lidah api bergoyang menjilat wajah saya yang tengah merunduk. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya!

”Berguling! Berguling!” terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coklatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Saya menurut dalam kepanikan. Tidak saya rasakan kerasnya tanah persawahan atau tunggak-tunggak batang padi yang menusuk-nusuk tubuh dan wajah saat bergulingan. Pikiran saya hanya terfokus pada api dan tak sempat untuk berpikir bahwa saat itu saya akan bisa mendapat luka yang lebih banyak karena gerakan itu. Sulit dilukiskan rasa takut yang saya rasakan. Malam yang saya pikir akan menyenangkan justru berubah menjadi teror yang mencekam!

Ketika akhirnya api padam, saya rasakan pedih yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya, sementara sebagian kainnya yang gosong menyatu dengan kulit. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan. Lalu dengan suara bergetar, dia mencoba membuat isyarat dengan mulutnya. Sayang, tidak ada seorang pun yang mendekat dan dia sendiri kemudian mengakui bahwa kami telah terlalu jauh berjalan. Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya di atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat. Sayang, sesampai di rumah bukan lain yang didapatnya kecuali caci maki Ayah dan Ibu. Pipinya sempat pula kena tampar Ayah yang murka.

Saya langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan. Seragam coklat Pramuka yang melingkupi tubuh saya disingkirkan entah ke mana oleh mantri. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meminta kepada Ayah agar menggantinya setelah itu. Dari yang saya dengar selama hampir sebulan tidak masuk sekolah, beberapa kali dia terpaksa membolos di hari Jumat dan Sabtu karena belum mampu membeli gantinya.

”Salahmu sendiri, tidak minta ganti,” kata saya selesai kami mengingat kejadian itu.

”Mengajakmu saja sudah sebuah kesalahan. Aku takut ayahmu bertambah marah nantinya. Ayahku tidak mau mempermasalahkan tamparan ayahmu, apalagi seragam itu. Dia lebih memilih membelikan yang baru walaupun harus menunggu beberapa minggu.”

Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.

Dia lalu mengajak saya ke halaman belakang di mana kami pernah bersama-sama membuat kolam gurami. Kolam itu sudah tiada, diuruk sejak lama berganti menjadi sebuah gudang tempatnya kini berkreasi membuat kerajinan dari bambu. Hasil dari tangan terampilnya itu ditambah pembagian keuntungan sawah garapan milik orang lainlah yang menghidupi istri dan dua anaknya hingga kini.

Ayah dan ibunya sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orangtua justru tergadaikan.

”Kakakku itu, masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. Hanya kini, semakin tua dia semakin tidak tahu diri.”

”Ulahnya?” Dia mengangguk.

”Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami barrier berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.” Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya.

”Kami akan bertahan,” katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Ada kesungguhan dalam suaranya.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu. Saya malu. Sebagai sahabat, saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus.

Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di sandaran jok belakang. Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam coklat Pramuka. Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya.

Incoming search terms:

  • gudang novel remaja percintaan dan unsur intrinsik-intrinsiknya

Original source : Seragam

Artikel Dari Masa Lalu: Sulitnya Meremajakan Nona

SULITNYA MEREMAJAKAN NONA LIBERTY

UNTUK MERAYAKAN ULANG TAHUNNYA YANG KE-100 PADA TANGGAL 4 JULI YANG LALU, FLONA LIBERTY YANG TERMASHYUR ITU MENJALANI FACE-LIFT. WAJAHNYA YANG TERBUAT DARI TEMBAGA DIREMAJAKAN. BEGITU PULA SELURUH TUBUHNYA, MULAI DARI UJUNG JEMPOL KAKINYA YANG PANJANGNYA KIRA-KIRA 1,20 M ITU SAMPAI DURI-DURI DI MAHKOTANYA. BAHKAN ISI PERUTNYA PUN DIGANTI. BARANGKALI ANDA SUDAH MELIHAT HASILNYA LEWAT TVRI PADA AWAL JULI YANG LALU. TERNYATA MEMUGAR WANITA BERUMUR SEABAD JAUH LEBIH SULIT DARIPADA MEMUGAR GEDUNG BERTINGKAT DUA PULUH.

MENGAPA orang Amerika begitu cinta pada Nona Liberty? Patung setinggi 45,5 m yang terletak di atas mimbar setinggi lebih dari 50 m itu, bukan hanya karya seni yang mencirikan Pelabuhan Extra York, tetapi juga melambangkan harapan bagi banyak imigran yang datang ke Dunia Baru, karena tertindas atau hidup miskin di tempat asalnya.
Nona Liberty, yang mengacungkan obor di sebuah pulau dekat Pintu Emas, menjanjikan kebebasan, martabat dan juga kemakmuran bagi orang-orang yang datang dengan tekad bekerja keras di Amerika Serikat.

Pemugarannya makan waktu tiga tahun dan biayanya $ 66 juta (sekitar 75 milyar rupiah). Ketua panitia perayaan 100 tahun patung itu tidak lain dari Lee Iacocca, si Dewa Penyelamat di Zaman Resesi

Mimbarnya tahan angin
Sejak bulan Oktober 1983, Nona Liberty yang biasanya dikunjungi jutaan turis setiap tahun itu tidak mendapat tamu. Sebuah perusahaan manajemen konstruksi, Lehrer-McGovern Inc. terpilih untuk mengawasi dua puluh kontraktor besar dan sejumlah kontraktor kecil mendandani wanita termashyur itu.

Patung Liberty yang garis tengahnya 33 m itu, harus dikerangkeng dengan mimbar-mimbar tempat pekerja bisa bertengger, tetapi bagaimana caranya supaya kulitnya yang peka itu tidak rusak tergesek? Maklum, patung itu bisa doyong ke sana-kemari sampai 10 cm kalau tertiup angin keras.
Dibuatlah kerangka khusus dari aluminium yang tingginya dua puluh tingkat dan harganya $ 2 juta (sekitar hampir 2,5 milyar rupiah). Kerangka itu dibawa ke pulau tempat Nona Liberty tinggal, dalam bentuk potonganpotongan sebanyak 6.000 buah. Tidak sebilah pun aluminium itu boleh dipasang lebih dekat dari 45 cm dari kulit tembaga Nona Liberty.

Mimbar aluminium itu dirancang bisa menahan angin berkekuatan sekitar 160 km for every jam dan ternyata memang bisa bertahan dari Cyclone Gloria yang berkekuatan 112 km for every jam pada bulan September 1985 yang lalu, sehingga dimasukkan ke Guinness Tome of Planet Records tahun 1985.
Sebenarnya, secara keseluruhan kulit Nona Liberty masih baik, tetapi di sana-sini ada lubang yang garis tengahnya sampai kira-kira 12,5 cm, umpamanya saja di ikal rambutnya, di cuping hidungnya dan di mata kanannya. Lubang-lubang kecil lain terbentuk di tempat paku-paku yang menempelkan kulit Nona Liberty ke kerangka bajanya. Kulit itu seluruhnya ada 300 lembar.

Susah mencari tukang ketok
Yang barrier parah keadaannya ialah obor yang diacungkan oleh Nona Liberty untuk menerangi para pendatang yang menuju ke Pintu Emas. Obor itu diputuskan untuk dimasukkan ke museum yang ada di bawah kaki Nona Liberty saja dan sebagai gantinya dibuatkan yang baru. Dari jauh, obor itu kelihatan kecil, tetapi di museum, besarnya mengesankan sekali.

Obor yang orisinal, yang dipamerkan pertama kali di Philadelphia tahun 1876 dan kemudian di Extra York, kemungkinan besar berupa obor logam berlapis emas. Tetapi tak lama setelah diresmikan, dibuatlah sembilan lubang di obor itu supaya Nona Liberty bisa bertindak sebagai mercu suar juga. Orang Amerika memang sering berpikiran praktis. Ternyata lampu mercu suar itu cuma seperti cahaya kunang-kunang. Dibuatlah lebih banyak lubang lagi selain jendela loteng bersegi delapan.
Tahun 1916, sebagian besar dari logamnya diganti dengan daun jendela kaca bersegi delapan, supaya obornya lebih mirip api. Ternyata cahayanya malah lebih lemah, sehingga supaya kelihatan terang, obor itu harus disenter dari luar.

Obor baru yang kini dipegang oleh Nona Liberty yang sudah muda lagi itu, dibuat seperti yang orisinal. Rupanya susah sekali mencari tukang ketok logam yang ahli, sebab keahlian itu sudah menjadi langka. Dicarilah ahli-ahli ketok logam di AS, Jerman Barat dan Prancis. Kontrak akhirnya diberikan kepada sepuluh tukang ketok dari Reims, Prancis.

Setahun lamanya mereka bekerja di Liberty Island dan ternyata tiga orang memutuskan untuk menetap di Amerika Serikat. Alasannya, karena Amerika lebih mau mendapat gagasan pembaharuan daripada Prancis.

Obor baru dilapisi lempengan tipis emas 24 karat. Pelapisan itu dikerjakan dengan tangan. Tanggal 25 November 1985 hasil kerja tukang ketok dari Reims itu dikerek naik.

Hampir diisi pasir
Dahulu, Frederic-Auguste Bertholdi, si pencipta patung, mengira patungnya cuma akan dikagumi dari kejauhan. Jadi di perut Nona Liberty dan juga di mimbar tempatnya berpijak cuma disediakan tangga-tangga panjat untuk para pekerja. Kemudian tangga-tangga panjang harus diganti dengan tangga spiral dan diperlukan pula 25 jendela untuk ventilasi, karena banyak tamu ingin masuk ke dalam patung. Sesuai dengan tuntutan zaman, diperlukan void.
Kini void-nya dua tingkat supaya bisa mengangkut lebih banyak orang dan dibuat dari kaca. Void itu dijalankan dengan tenaga hidraulis.
Tangga-tangganya kini dilengkapi mimbar-mimbar untuk istirahat, yang ventilasinya lebih baik sehingga tamu tidak kepanasan.

Incoming search terms:

  • Cerita romantis-mengesankan wattpad

Original source : Artikel Dari Masa Lalu: Sulitnya Meremajakan Nona

Air Terjun Pacet

Air Terjun Pacet
            Hm, jika kalian pernah ke Batu lewat Pacet melalui Taman Hutan Rakyat R. Soerjo (baca: Suryo) maka sebelum gerbang Tahura di Pacet, kita bisa menemukan sebuah air terjun kecil di tepi jalan, tepatnya di Desa Sendi, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Menuju ke Air Terjun Pacet
            Untuk kemari, sayangnya tak ada kendaraan umum. Dari Mojokerto bisa langsung mengarahkan kendaraan ke Pacet dan tinggal mengikuti papan petunjuk ke arah Batu. Bagi wisatawan yang tak membawa kendaraan sendiri, dari Mortal Pacet bisa naik ojek dengan biaya Rp 20.000 – Rp 30.000 harga yang lumayan mahal. Kondisi jalan dari Pacet ke Sendi penuh dengan tanjakan, pastikan kendaraan dalam kondisi prima.
            Jika dari arah Malang, arahkan kendaraan ke arah Cangar, dari sini jalanan penuh tanjakan dan turunan, tapi tidak

Air Terjun hingga Jungle Footstep. Kawasan ini juga terkenal dengan warung – warung lesehan di tepi jalannya. Tempat ini juga bisa untuk melepas penat dan mengisi perut yang keroncongan saat di perjalanan. Apalagi jika pesan makanan dan minuman hangat di tengah udara gunung yang dingin. 

 
Air Terjunya berada di belakang tulisan ini !!

          Warung – warung disini menyediakan aneka macam makanan, seperti rawon, cah kangkung, mie instan hingga quench ayam maupun kelinci. Kalau minuman ada wedang jahe yang bisa menghangatkan badan. Jika warungnya sedang ramai, maka mau tak mau kita harus menunggu cukup lama sampai pesanan kita tersedia.

Air Terjun Di Tepi Jalan
            Secara resmi, air terjun ini tak memiliki nama. Masyarakat sekitar hanya menyebutnya “Grojogan”. Sebenarnya air terjun ini merupakan sebuah sungai kecil yang mengalir di tepi jalan Sendi – Cangar.
            Semua kendaraan roda dua maupun roda empat bisa menjangkau tempat ini. Dengan suasana yang hijau dan sejuk, kawasan ini memang menjadi wisata alternatif bagi mereka yang ingin sejenak meninggalkan penatnya dan ramainya daerah Kota, apalagi tempat parkir di kawasan wisata ini cukup luas.
            Daerah Sendi ini memang berada di pertemuan tiga gunung, Gunung Anjasmoro, Gunung Welirang dan Gunung Arjuno, udara disini benar – benar dingin dan sejuk dengan pemandangan hijau dimana – mana.

            Dulu, air terjun disini bisa langsung terlihat dari jalan raya. Tapi, sejak tahun 2010, warga dilarang menebang tanaman disini, karena masuk ke dalam area Tahura. Jadinya, pohon bambu tumbuh subur disekitar air terjun dan menutupinya dari pandangan mata.
Air Terjun Pacet

          Secara keseluruhan, air terjun disini memang tidak besar, apalagi tidak bisa dibuat mandi, namanya juga dari sungai kecil di atasnya. Tapi, sejauh ini, Air Terjun Pacet ini merupakan air terjun yang barrier mudah dijangkau, artinya, kita tidak perlu berjalan jauh untuk melihat dan menikmati air terjunnya (hanya dua – tiga langkah dari jalan raya). Jika luang, yuk main kemari, tempatnya sejuk, hijau dan banyak dijadikan sebagai tempat pacaran muda – mudi yang kasmaran.

Incoming search terms:

  • penampakkan di lokasi wisata pacet
  • legenda pacet
  • legenda desa pacet
  • diare tentang liburan ke pacet b inggris
  • contoh cerita tempat wisata bahasa jawa
  • cerita rakyat dari mojokerto dengan bahasa inggris
  • cerita penampakan air terjun pacet
  • cerita pariwisata menggunakan bahasa jawa
  • cerita liburan ke pacet
  • Cerita bhs jawa tentang wisata
  • Asal usul kota pacet
  • asal mula pacet

Original source : Air Terjun Pacet