Tag Archives: Kediri

Arca Begadung

Arca Begadung
Sang Buddha Amitabha Tersembunyi Di Ladang Tebu
Hm, jika berjalan – jalan di Simpang Lima Gumul Kediri, coba tanyalah kepada warga sekitar mengenai tempat wisata yang berada tak jauh dari sana. Biasanya mereka akan menjawab Gumul Paradise Island Waterpark, Arca Totok Kerot ataupun Pamenang. Biasanya, saat akhir pekan atau liburan, banyak warga mengunjungi Arca Totok Kerot sambil membawa anak – anak mareka. Ternyata, tanpa banyak orang yang tahu, tak jauh dari Arca Totok Kerot terdapat beberapa situs bersejarah, salah satunya Arca Begadung yang terletak di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.
Menuju Arca Begadung
 >   Dari Kota Kediri maupun dari Pare, arahkan kendaraan ke Simpang Lima Gumul, lalu belok ke arah Pamenang. Selepas dari Arca Totok Kerot, terdapat perempatan kecil, belok kanan dan lajukan kendaraan sejauh 300 meter. Sebelum pertigaan pertama yang mengarah ke Sumber Gundhi, di sebelah kanan terdapat jalan tanah kecil di antara ladang tebu. Beloklah ke sana untuk melihat Arca Begadung. Jalan ini hanya bisa dilewati oleh sepeda motor, mobil parkir di tepi jalan raya dan melanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 50 meter. Jika tersesat, tanyalah warga sekitar, apalagi jika tanaman tebu sedang tinggi – tingginya, Arca Begadung sulit terlihat dari jalan raya.

 > Jika menggunakan kendaraan umum, dari Kota Kediri maupun Pare naiklah angkot jurusan Pare atau Bis Puspa Indah jurusan Malang dan turun di Simpang Lima Gumul. Dari sini bisa naik ojek atau becak menuju lokasi.

Pos Kampling Ladang Tebu
Awalnya, saya tak tahu adanya situs purbakala lain di dekat Arca Totok Kerot, sampai warga sekitar bercerita panjang lebar mengenai struktur candi dari bata kuno yang dibongkar, adanya sumber air yang sering dijadikan tempat menepi sampai adanya sebuah arca di antara ladang tebu. Berdasarkan keterangan warga inilah yang menjadi panduan mencari Arca Begadung.

 
Pos Kampling Tempat Arca Begadung Berada
Letaknya memang tak jauh dari Arca Totok Kerot, hanya dipisahkan oleh sebuah sungai, tapi karena letaknya yang berada di tengah ladang tebu selalu membuatnya sukar dicari, apalagi saat tanaman tebu sedang meninggi, duh.
Arca Begadung sendiri berada di sebuah bangunan kecil mirip pos kampling. Dari jalan raya, biasanya akan terlihat genteng pos kampling ini. Begitu terlihat, jangan ragu berbelok kesana. Jika tersasar, jangan sungkan bertanya ke warga sekitar, daripada kesasar lagi dan pulang tanpa hasil.
Buddha Yang Terpenggal
Arca Begadung merupakan Arca Buddha, berdiri sendirian di tengah ladang. Kepalanya sendiri telah hilang sejak dahulu, kemungkinan dipotong dan di buang ke sungai atau dimaling orang tak bertanggung jawab. Tangan kanan arca ini juga rusak, terlihat sekali bekas dipotong oleh benda tajam seperti pedang atau cangkul. Bekas tebasan pedang juga terlihat jelas di Arca Totok Kerot. 
Tangan Terputus
Arca Begadung terbuat dari batu andesit. Warga sekitar juga menyebutnya sebagai Mbah Gadung atau Mbah Begadung. Kurang jelas mengapa warga sekitar menyebutnya Begadung. Beberapa warga yang sudah sepuhmengatakan bahwa arca tersebut memang sudah lama berada di sana dan memang sejak dari dulu disebut Begadung.
Arca Begadung sebenarnya merupakan Arca Buddha, lebih tepatnya Dhyani Buddha Amitabhadengan posisi tangan Dhyana mudra yang melambangkan semedi atau meditasi. Yap, saat pertama kali saya melihat arca ini langsung terkenang akan arca – arca luar biasa di Candi Borobudur !! Arca Begadung juga tak sembarangan membuatnya, pahatannya begitu halus. Ditubuh Arca Begadung dililit oleh hiasan selendang tipis. Pada bagian atas padmasana atau lapik arca terdapat hiasan lingkaran.
Posisi Tangan Dhyana mudra
Arca Begadung memiliki tinggi 80 cm, kira – kira setengah dari Arca Borobudur. Padmasana Arca yang terlihat, menonjol di antara lantai semennya sekitar 5 cm. Jika Arca Begadung disandingkan dengan Borobudur, berarti Arca Begadung menandakan arah barat. Kemungkinan besar masih terdapat arca – arca lainnya yang telah raib kemana atau terkubur di dalam tanah, juga struktur suatu Candi atau Wihara kuno yang menunggu untuk diketemukan.
Hindu – Buddha
Salah satu yang unik dari situs ini adalah, jika Arca Totok Kerotmerupakan arca Hindu Bhairawa, maka kemungkinan Candi di belakang Arca Totok Kerot (atau mungkin juga sebuah Keraton) juga berciri khas Hindu. Sementara di seberang sungainya terdapat Arca Begadung yang merupakan arca Buddha. Ini menandakan kedua agama ini telah hidup berdampingan dengan penuh rasa toleransi. Tak jauh berbeda dengan Candi Prambanan (Hindu) dan juga Candi Sewu (Buddha) yang letaknya juga berdampingan.
Arca Buddha Begadung
Sayangnya, Arca Begadung ini dalam kondisi menyedihkan, selain sendirian dan termutilasi, beberapa bagian arca ini menghitam akibat terkena asap dari dupa maupun kemenyan. Bukan hanya itu saja, Arca Begadung yang sudah disemen dengan erat ini ternyata hampir digondol maling pada bulan November 2013 lalu. Untungnya, usaha ini berhasil digagalkan masyarakat sekitar. Duh, kalau berhasil dimaling, satu lagi benda bersejarah, bukti akan majunya cita rasa seni leluhur kita akan hilang selamanya. Semoga Arca Begadung tetap berada di tempatnya, mendapatkan perawatan lebih baik sebagai jejak kejayaan dan keagungan Indonesia masa lampau, terutama di daerah Kediri Raya.
Panjalu Jayati, ndha !!

Continue reading

Posted in CERITA | Tagged , | Comments Off

Kirab dan Bersih Desa Doko

Kirab dan Bersih Desa Doko
Dari Prabu Anom sampai Prabu Dhoho
            Hm, memasuki Bulan Syuro yang dimulai pada tanggal 5 November 2013, sepertinya di tlatah Jawa ini dipenuhi berbagai macam acara, mulai dari Grebeg Syuro, ruwatan, jamasan pusaka, pagelaran wayang kulit hingga acara bersih desa. Kali ini pada Selasa Kliwon, 12 November 2013 saya diajak menyaksikan kirab dan Bersih Desa Doko yang dipusatkan di Situs Pangeran Prabu Anom, Ki Ageng Dhoko dan Ki Ageng Dhoho. Tempat tersebut mudah dijangkau kendaraan umum maupun kendaraan pribadi, tepatnya terletak di Desa Doko, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.
Menuju ke Situs Prabu Anom
            Dari arah Kota Kediri, Nganjuk, maupun Surabaya, arahkan kendaraan ke Katang (arah menuju ke Pare). Dari pertigaan Katang (Kantor Bupati Kediri), lurus saja sekitar 200 meter. Di tepi jalan dekat bengkel Prima AC terdapat jalan kecil ke kanan. 

Belok kanan melewati Balai Desa Sukorejo, lurus saja mengikuti petunjuk yang ada hingga mentok. Situs terdapat di kiri jalan. Jarak dari situs dengan jalan raya hanya terpaut 200 meter.
            Jika menggunakan kendaraan umum, bisa naik bis kecil jurusan Malang atau naik angkot ke Pare dan minta turun di Prabu Anom atau Balai Desa Sukorejo. Setelah itu dilanjutkan berjalan kaki selama 5 – 10 menit.
Kirab dan Bersih Desa Prabu Anom
(KLIK FOTO UNTUK PERBESAR)
            Ritual Bersih Desa Doko merupakan acara tahunan yang digelar cukup meriah. Acara dimulai pagi harinya di Situs Prabu Anom,masyarakat Desa Doko tak peduli beragama apa, maupun dari ras mana, mereka semua dengan penuh semangat beramai – ramai datang ke Situs Prabu Anom membawa kotak nasi maupun besek yang terbuat dari pelepah batang pisang. Tak ketinggalan pula, warga Desa Doko wajib membawa badek (hasil fermentasi air tape) dan bunga setaman yang biasanya dipakai menabur bunga di pemakaman. Kotak nasi ini kemudian ditata berjejer di meja di tepi makam, sementara bunganya ditumpuk dalam wadah khusus.
Foto – Foto Situs Bersejarah di Kediri
Dalam acara Bersih Desa ini juga terdapat kirab yang di ikuti berbagai elemen masyarakat mulai dari warga desa setempat, anggota Majapahitan sampai dari Padepokan Garuda Mukha Kota Kediri. Kirab ini dimulai jam delapan pagi dengan titik pemberangkatan dari rumah juru kunci dan berakhir di Situs Prabu Anom. Jaraknya memang tak begitu jauh, tapi antusias masyarakat benar – benar ramai. Jalanan desa dipadati warga mulai dari orang tua sampai anak kecil yang bergerombol di tepi jalan untuk menyaksikan acara kirab ini. Tak ketinggalan pula para wartawan berjubel meliput prosesi acara ini mulai dari awal sampai akhir. Selain itu masih ada pameran foto situs – situs bersejarah yang ada di seantero daerah Kediri. Hm, bisa jadi referensi blusukan selanjutnya :D
Pada bagian depan rombongan kirab terdapat para gadis desa yang membawa sesajen. Beberapa gadis di belakangnya berjalan dengan berlenggak – lenggok penuh gemulai. Tak ketinggalan pula sebuah Gunungan yang berisikan aneka sayuran serta buah – buahan. Dalam perjalanan ini, dupa – dupa terus dinyalakan, kemudian ditancapkan di makam Prabu Anom. 
Kirab Menuju Makam Prabu Anom
Setelah sampai di Situs Prabu Anom, para gadis yang berlenggak – lenggok tadi mulai menyebar menaburkan bunga yang dibawa masyarakat ke makam – makam yang ada di situs ini. Makam di Situs Prabu Anom ada puluhan dan entah itu makam asli ato bata kuno yang dibentuk menyerupai makam. Makam utama seperti makam Prabu Anom terletak di Cepuri yang letaknya di depan pendopo situs, dikelilingi pagar bata. Beberapa orang yang mengikuti kirab mulai “sungkem” di Cepuri, dimulai dari juru kunci situs beserta tiga orang pesinden desa.

Saat prosesi ini berlangsung, pembawa acara menceritakan sejarah Prabu Anom, Prabu Dhoko beserta Prabu Dhoho dengan bahasa jawa kromo inggil. Kemudian ketiga sinden desa kembali sungkem di karpet merah kemudian menari dengan lemah gemulai. Masyarakat sudah mulai bergerombol di tepi makam, bersiap memperebutkan nasi kotak serta gunungan sayur dan buah yang dibawa saat prosesi kirab. 
Prosesi Di Makam Prabu Anom
Acara bersih desa disini cukup unik, jika ditempat lain setelah berdoa bersama, nasi kotak maupun besek yang mereka bawa akan ditukarkan dengan milik warga lain, maka disini warga harus saling berebut, mereka boleh membawa dua sampai tiga nasi kotak. Pokoknya siapa yang paling gesit, dia bisa membawa pulang banyak nasi. Kali ini saya ikut berbut Gunungan, dapat satu ikat sayur bayam yang sudah layu. Lumayan, setelah selama ini bisa ikut berebut Gunungan. Niatnya sih bayamnya mau dikasih makan ke kambing, tapi kaga nemu kambing dalam perjalanan ini, weww…
Berebut Nasi Selametan, Setelah itu warga membubarkan diri
Acara Bersih Desa Doko memang selalu ramai, banyak sponsor ikut dalam acara ini. Saking ramainya, acara ini dijaga polisi dan TNI, serta masuk agenda wisata budaya Kabupaten Kediri bersanding dengan acara Syuroan di Petilasan Prabu Joyoboyo Pamenang. Setelah acara berebut gunungan dan nasi kotak selesai, masyarakat mulai membubarkan diri, termasuk saya, sebelum akhirnya teman saya berkata, “Acaranya masih belum selesai, masih ada acara lainnya lagi, tapi beda tempat.”
Dari Prabu Anom Ke Prabu Dhoho
Ternyata terdapat dua acara bersih desa disini, satunya di Situs Prabu Anom dan satunya lagi di Makam Prabu Dhoho. Jarak dari Prabu Anom ke Prabu Dhoho tak begitu jauh, kali ini makam Prabu Dhoho terletak di tengah pemakaman Desa Doko. Warga masyarakat kembali berduyun – duyun membawa nasi kotak, bunga dan juga badek dalam wadah botol kecil. Setelah prosesi membakar menyan dan berdoa selesai, kemudian dilanjutkan dengan berebut nasi kotak dan tabur bunga sampai memenuhi makam Prabu Dhoho yang tersusun dari bata kuno dengan ukuran besar.

Tabur Bunga Makam Prabu Dhoho
Lagi – lagi terjadi peristiwa unik disini, masyarakat sekitar mulai merangsek ke makam demi mencari sebuah bunga kantil yang masih kuncup. Masyarakat percaya bahwa bunga kantil yang masih kuncup ini akan membawa berkah bagi mereka. Istilahnya, rejeki akan “kintil” atau selalu mengikuti mereka. Saya tertarik juga berebut bunga kantil, karena saya kenal sama penabur bunganya, tinggal teriak, “mas minta kantilnya… !” dikasih deh. Dan masyarakat juga ikut berteriak minta bunga kantil ke teman saya ini.
Pencari Bunga Kantil
Setelah makam dipenuhi bunga, warga sekitar mulai berebut badek yang ditaruh di sekitar makam. Saya sendiri tidak ikut berebut, karena tidak suka badek. Berebut nasi kotak juga jelas – jelas tidak saya lakukan karena tidak ikut sumbangsih nasi kotaknya, weeww…
Sekali lagi, berebut nasi disini…
Acara puncak sekaligus acara terakhir disini yaitu memperebutkan nasi tumpeng yang diletakkan dalam peti kotak. Peti berisi nasi ini juga ikut dikirab dan diletakkan di dalam Cepuri Prabu Anom sebelum akhirnya dibawa ke makam Prabu Dhoho. Kebanyakan yang berebut sejak di Prabu Anom dan Prabu Dhoho merupakan ibu – ibu. Mereka benar – benar tangkas dalam hal ini. Ciat… Ciat… Pokoknya main sikat dan dapat apa yang mereka inginkan. Ngomong – ngomong, Ibu – Ibu disini baik hati lho, saat ada yang tidak kebagian nasi tumpengnya, mereka dengan senang hati membiarkan orang lain turut mengicipi nasi yang mereka dapatkan. Rasanya, hmmm, benar – benar enak karena tumpengnya dari nasi gurih dan dimasak dengan santan yang banyak.
Seperangkat Gamelan, siap dimainkan di rumah jupel situs
Acara bersih desa di Kabupaten Kediri merupakan acara yang langka dan unik. Berbeda dengan Kota Kediri yang di setiap Kelurahan memiliki Punden dan selalu melakukan acara bersih desa setiap tahun, tak semua Desa di Kabupaten memiliki punden. Boro – boro memiliki punden, bersih desa ajah hanya terjadi di desa – desa tertentu saja. Acara Bersih Desa seperti ini memang patut dilestarikan, selain melestarikan budaya, acara ini juga memiliki makna untuk mempererat persaudaraan antara sesama warga apapun latar belakang mereka juga mengucap syukur ke Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rejeki dan keselamatan yang diberikanNya.

Continue reading

Posted in CERITA | Tagged , , , , | Comments Off

Situs Watu Gajah

Situs Watu Gajah
Induk dan Anak Gajah Dalam Hutan Sengon
            Hm, tak jauh dari Candi Dorokternyata masih terdapat satu situs bersejarah lagi yang unik, yaitu Situs Watu Gajah. Situs ini berada di hutan sengon dan secara administratif berada di Desa Sumberbage, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Menuju ke Situs Watu Gajah
            Tak ada kendaraan umum menuju ke situs ini. Dari Kota Kediri arahkan kendaraan ke Pare. Dari perempatan Tugu Garuda belok kanan sampe mentok ke arah Tamrin atau Alun – Alun Pare (terdapat Situs Ringin Budho disini). Dari sini belok kanan ke arah Pasar Sapi. Dari Pertigaan Pasar Sapi atau Pertigaan Tretek belok kanan ke arah Kepung. Ikuti Jalan besar tersebut, sekitar 3 – 4 Km terdapat pertigaan dengan papan petunjuk ke arah SMP 2 Puncu. Ikuti papan petunjuk tersebut.

Pada perempatan Lapangan Desa Dorok, belok kanan, memasuki jalan Watu Gajah dengan patung gajah kecil di kanan – kiri jalan. Lurus saja mengikuti jalan, setelah mentok, belok kiri, lalu belok kanan lagi, terus saja melewati pertigaan jalan pertama dan di pertigaan jalan kedua (mulai memasuki hutan sengon), belok kanan dan terus saja karena jalannya langsung mengarah ke Situs Watu Gajah. Jangan takut kesasar, banyak warga desa yang dengan senang hati menunjukkan jalan. Jarak dari Perempatan lapangan menuju Situs sekitar 2 Km. Situs berada dalam naungan pepohonan yang tampak berbeda dari pohon sengon yang ada di sekitarnya. Mobil bisa masuk, tapi harus siap – siap off road. Lebih jelas, cek peta situs via wikimapia.

Dalam Hutan Sengon
            Karena letaknya memang tak jauh dari Candi Dorok, biasanya wisatawan akan menyempatkan diri mengunjungi Situs Watu Gajah yang berada di dalam hutan sengon. Saya sendiri baru dua kali mengunjungi situs ini, pertama kali bersama mbah Deni dari Blitar di saat musim panas pada tahun 2011 lalu. Saat kesana, kami lewat belakang Candi Dorok, berharap mendapat jalan pintas, kami malah kesasar ! Karena berada dalam Hutan Sengon, kami benar – benar tak tahu arah. Walau namanya hutan Sengon, tapi isinya tak melulu hutan sengon, malah lebih banyak kebun nanasnya ! Dalam siang yang terik itu, kami bertemu banyak warga yang beraktifitas di ladang. Dengan senang hati mereka menunjukkan jalan ke Situs Watu Gajah.

Arca Situs Watu Gajah Tampak Depan dan Belakang

           Saat ketiga kalinya saya kemari, kali ini benar – benar di musim panas dengan djeng Maria (Rabu, 9 Oktober 2013), perjalanan bisa dibilang jauh lebih mudah. Kali ini, Situs Watu Gajah telah berbenah, disekeliling situs telah dibuatkan pagar ala kadarnya dari batang pohon dan pihak perhutani telah menambahkan papan keterangan situs. Di lain pihak (atau mungkin menyambut bulan Suro), Arca Gajah diselimuti kain yang menutupi bekas tabrak lari cikar.
Korban Tabrak Lari Cikar dan Satu – Satunya Arca di Indonesia
            Situs Watu Gajah terdiri dari sebuah Arca yang berada dalam sebuah cungkup. Situs ini termasuk unik, sebuah arca gajah dipahatkan pada batu andesit besar. Tingginya saja hampir 2 meter !! Selain itu di salah satu sisinya terpahatkan anak gajah yang belalainya saling menempel dengan belalai induk gajah. Sementara di salah satu sisinya terdapat pahatan dua buah orang, dimana orang yang dibagian depan (di bawah belalai) tampak memegang tali kekang gajah. Sejauh ini saya belum pernah melihat arca gajah sebesar ini, apalagi ada anaknya pula. Arca unik dan langka seperti Situs Watu Gajah sejauh ini hanya saya ditemukan di tempat ini.

Retak, Bekas Korban Tabrak Lari Cikar
           Walau besar, sayangnya arca ini masih kasar, pertanda bahwa Arca Gajah ini masih belum jadi. Kemungkinan saat meletusnya Gunung Kelud, arca ini ditinggalkan begitu saja dan terkubur, terlupakan hingga hanya nampak bagian atasnya. Sekitar tahun 1960, arca ini jadi korban tabrak lari cikar. Hal ini karena Arca Gajah hanya terlihat bagian punggung gajah dan nampak sebagai batu alam biasa di tepi jalan desa. Nah, berdasar cerita juru kuncinya, karena banyaknya cikar yang terguling karena menabrak “batu” ini, maka warga desa berinisiatif untuk memindahkan “batu” ini. Saat digali inilah warga desa kaget karena “batu” tersebut berbentuk gajah !! Karena sering ditabrak cikar, bagian atas (punggung) arca rusak dan bekasnya masih bisa terlihat sampai sekarang.

Arca Situs Watu Gajah Tampak Samping
           Situs Watu Gajah, walau terletak di hutan sengon, situs ini terawat dengan baik. Warga Desa Sumberbage masih menggunakannya untuk acara bersih desa. Dengan segala keunikan yang dimilikinya, Watu Gajah merupakan satu – satunya arca di Indonesia berbetuk gajah berukuran besar dengan pahatan anak gajah di salah satu sisinya. Kalau kebetulan berada di wilayah Kediri, atau bertandang di Pare dengan kampong Inggrisnya, luangkan sedikit waktu kalian untuk menengok salah satu peninggalan nenek moyang nan berharga  dan tiada duanya ini…

Continue reading

Posted in CERITA | Tagged , | Comments Off

Candi Adan – Adan

CandiAdan – AdanHm, lokasi Candi Adan – Adan atau yang oleh masyarakat sekitar dikenal sebagai Candi Gempur terletak di Dusun Candi, Desa Adan – Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.Menuju Candi Adan – Adan     &g… Continue reading

Posted in CERITA | Tagged , | Comments Off