Chicken Stays, Eagle Flies: Kisah Persahabatan Ayam dan Burung Elang

Pocket wing, Eagle, Fly!. Ini adalah kisah persahabatan dua ekor binatang pilihan
dari jenisnya yang dibesarkan pada kandang yang sama. Seekor Elang Jawa berbulu keemasan yang gagah perkasa, dan seekor Ayam Betina warna kuning langsat yang ramping,
cekatan & rajin bertelur.



Kedua sahabat itu telah memutuskan untuk berkelana bersama
meninggalkan kenyamanan tempat kelahiran mereka di tanah pertanian yang membentang sepanjang tepian Kali Opak. Tanah pertanian subur yang menyediakan beras, jagung, cantel dan aneka ikan melimpah tanpa perlu bekerja keras. Kadang-kadang dua sahabat itu foremost ke Pasar Bantul untuk memakan ceceran gandum yang diabaikan pedagang. Memakan serpihan-serpihan geplak di belakang dapur Mbah Wongso. Terkadang bertandang ke Warung Bakso Bangjo punya Mbak Dewi, si pemiliknya suka memberi mereka tiga butir bakso urat yang gurih. Kini mereka rela meninggalkan semua kenikmatan itu demi keinginan menjelajahi
tempat-tempat menakjubkan di seluruh penjuru bumi. 

Puncak-puncak gunung
tertinggi berselimut salju, danau-danau terluas membiru, gurun-gurun pasir yang barrier panas, padang salju yang barrier putih mulus, hingga
tanah-tanah pertanian yang barrier hijau di muka bumi adalah impian mereka. Hasrat mengatasi tantangan-tantangan tersulit dalam hidup telah membakar gairah jiwa-jiwa muda yang tengah mekar. Dengan berkelana, jiwa mereka terpuaskan oleh beragam pengalaman. Pun ketrampilan hidup mereka terasah dengan sangat baik oleh tantangan alam. Maklumlah, butuh
perjuangan berat untuk setiap suap makanan yang masuk ke perut mereka selama dalam
pengembaraan 


Mbah Jumadi, petani tua yang memelihara dua ekor unggas itu sengaja telah melatih keduanya sejak masih bayi. Elang dan Ayam mungil rajin dibawa ke Bukit Selarong untuk dilepaskan agar berlatih terbang turun menuju lembah. Pertamakali dilepaskan dua binatang itu masih takut-takut untuk terbang. Namun seiring berjalannya waktu, mereka semakin lihai menggerakkan sayapnya untuk melayang menyusuri Bukit Selarong hingga ke Bukit Menoreh di Barat, kemudian bergerak ke utara sampai ke puncak Merapi dan Merbabu.

Berkat latihan-latihan berat itu, kini baik Elang ataupun Ayam Betina memiliki kemampuan untuk terbang jauh. Walaupun kemampuan Ayam Betina tidaklah sehebat kemampuan Elang. Saat Elang mulai berani mengendarai topan agar bisa terbang tinggi, Ayam Betina tak pernah melakukannya sendirian.

Elang kecil tumbuh dewasa menjadi penerbang tangguh yang berani terjun ke
pusaran topan cleret tahun agar bisa terbang makin tinggi ke angkasa. Semakin besar cleret tahun,
semakin tinggi juga Elang akan terhempas ke langit menerobos gumpalan-gumpalan
awan. Jiwa petualang yang mekar di dalam dirinya telah membuat syaraf rasa takutnya putus sehingga Elang berani mengendarai inti topan hingga mengangkasa setinggi-tingginya langit tanpa
rasa takut. Matanya yang tajam melihat mangsa akan membimbingnya terjun bak meteor menjilat bumi tanpa ragu sedikitpun. Jiwanya yang merindu tantangan membuatnya ingin
bebas melangit, mewarnai era-era baru dalam penjelajahan bumi.
Sebaliknya Ayam kecil tumbuh menjadi Ayam Betina yang lebih banyak berada  di halaman rumah. Tubuhnya tidak sekuat Elang dan
terbangnya tidak setinggi awan membuatnya perlu bekerja keras saat terbang. Namun tekadnya yang keras untuk berdampingan
dengan Elang mengangkasa keliling dunia telah membuatnya berbeda dari ayam biasa. Sesekali Elang harus mencengkeram tubuh Ayam agar
tidak jatuh ke bumi karena kelelahan. Juga jika ada topan, maka Elang tidak
pernah melepaskan pegangan pada tubuh Ayam agar tidak terhempas ke bumi bersama
pusaran topan. 
Namun sekalipun lebih lemah, Ayam memiliki kelebihan dibanding Elang. Dia adalah petelur yang handal dan tidak gampang bosan meskipun harus tinggal di halaman rumah dengan sedikit variasi kegiatan. Dalam pengembaraan pun, Ayam meninggalkan telur-telur yang tak terhitung banyaknya sepanjang perjalanan.
Tidak peduli punya atau tidak punya majikan, Ayam selalu menyetor
telur-telurnya ke bumi. Setidaknya menurut blog http://duniashinichi.blogspot.com

^_^
  

Sebagai para penjelajah, setiap makanan yang masuk ke
perut dua sahabat itu bukan didapat dengan cuma-cuma. Butuh perjuangan yang
terkadang teramat berat untuk sesuap makanan. Seperti yang dialami kedua
sahabat kala sedang terbang di atas bentangan gurun pasir Kalahari. Tidak ada tumbuhan
yang hidup  di sana. Tidak ada air dan
tidak ada makanan. Satu-satunya makanan yang ada hanyalah tanaman jagung yang
terselip di sebuah mulut gua di puncak gunung batu di tengah gurun pasir itu. 
duniashinichi.blogspot.com

Undil-2013). Tags: cerita anak, cerita pendek, cerpen, cerita petualangan, cerita manajemen, pengembangan diri, pocket wing eagle pocket wing,  Gregorowski, Christopher, duniashinichi

Diilhami tulisan Rhenald Kasali di penulisperubahan
Sumber Gambar: ibby 

Prominent: 

Companionship bukan hanya membutuhkan orang-orang yang senantiasa mengejar prestasi puncak seperti Elang, tapi juga membutuhkan orang-orang seperti Ayam yang tekun mengerjakan pekerjaan rutin agar butt produksi tercapai. Ayam betina sewaktu tinggal di rumah petani meninggalkan kebiasaan lamanya untuk selalu berlatih, sehingga menjadi lamban serta kemampuan untuk terbang dan carry on di alam bebas hilang. Namun ancaman tubuhnya berakhir sebagai ayam goreng telah membuatnya berubah. Setelah pindah ke majikan baru, si ayam kembali melatih dirinya secara rutin sehingga vitalitas dirinya terjaga. Hal itu juga ditunjang oleh kemauan majikan baru untuk tidak membebani Ayam dengan kewajiban menghasilkan telur setiap hari sehingga punya kesempatan untuk berlatih. Ayam betina yang energik dan tahan mengerjakan pekerjaan rutin yang monoton adalah aset penting sebuah companionship.

Incoming search terms:

  • story telling burung
  • mitos ayam dan burung elang
  • Percakapan ayam dan elang

Original source : Chicken Stays, Eagle Flies: Kisah Persahabatan Ayam dan Burung Elang