Lelaki Buta

Cerpen Bomanto Deas

“Beri nilai sembilan di raporku,” nada suaranya tidak mengisyaratkan permintaan tetapi lebih menyatakan sebuah pemaksaan yang berbau ancaman. Saya tidak mendengar suara itu, atau melihat seseorang mengucapkan kalimat itu sekarang, tetapi suara itu terngiang dengan sangat jelas di benak saya. Ujung belati yang runcing juga terasa di perut saya, melekat ketat, meskipun sekarang ini saya sadari benar bahwa tidak ada seorang pun yang menempel dengan tubuh saya.
“Aku tidak segan-segan membunuhmu. Di sekolah engkau guruku tapi di luar, di tempat sepi seperti ini, kau sanderaku, tawananku. Kau dengar? Ganti nilai merah di rapotku dengan angka sembilan atau kau tak dapat menjumpai anak-istrimu.”

Lelaki gagah yang beberapa menit tadi nyaris tertabrak mikrolet angkutan pedesaan tampak masih duduk di trotoar sambil ngoceh-ngoceh sendirian. Kata-katanya tidak dapat saya dengar dengan jelas di antara suara orang lalu-lalang dan deru mesin kendaraan. Tetapi dari ekspresi wajahnya terbaca jelas bahwa dia sedang kesal. Saya kira dia kesal kepada pria baik hati yang tadi membantunya ke pinggir jalan, yang kemudian segera meninggalkannya karena tampaknya sedang banyak urusan.
Ternyata lelaki ganteng berkumis tipis dan berkulit kecoklatan itu buta, sehingga saya sungguh-sungguh menyesali sikap saya sendiri yang menganggapnya bodoh, tadi. Sungguh menyentuh hati kedua matanya yang terpejam itu, yang menyeret saya pada suatu perasaan yang sukar saya jabarkan.
“Sudah biasa berjalan sendirian, Mas?” tanya saya hati-hati sambil memegang bahu kanannya. Saat ini seharusnya saya berlomba dengan waktu yang tersisa sedikit untuk sampai ke tempat tugas saya tetapi entah mengapa saya justru mendekati lelaki itu dan tak mempedulikan atasan saya yang selalu disiplin.
“Ya,” katanya perlahan. “Tapi aku tidak mengenal daerah ini. Aku tak pernah sendirian selain di rumah.”
“Sekarang kau sendirian dan kulihat beberapa kali kau tersandung batu dan hampir terjatuh. Ini kota besar, Mas, meski tak sebesar kota Jakarta. Jarang orang mau memperdulikan keadaan kita dalam kehidupan sesibuk ini.”
“Aku melarikan diri.”
“Kau disandera?”
“Aku dipenjara dan dikarantina. Aku tak betah lagi dihimpit kesendirian. Aku ingin bebas dari hidupku yang sama sekali tak menyenangkan. Aku bosan dicaci, dimaki dan selalu mengharapkan belas kasihan. Di ruamah orang tuaku sendiri aku sama sekali tak berguna dan hanya bisa menyusahkan saja dari hari ke hari, apalagi di tempat orang lain? Oh, aku tak punya arti selain untuk dipergunjingkan dan dicaci-maki, selain diomeli.”
“Kurasa itu hanya perasaanmu.”
“Ini sunguh menyakitkan. Sebab itu aku melarikan diri dari rumah, juga dari jalan hidup orang lain. Aku ingin sekali menjalani hidupku sendiri meskipun harus meraba-raba. Aku mungkin bahagia kalau bisa berbuat begitu, merasa punya arti dan harga diri.”
“Mengagumkan.”
“Bukankah tiap orang juga begitu? Setiap orang ingin dianggap berarti dan mampu berjalan sendiri.”
“Tampaknya Anda tak bisa melihat jalan dengan baik. Padahal jalan tidak selalu mulus dan lurus. Jelas perlu kesabaran yang luarbiasa untuk dapat melintasi jalan yang berliku serta berbatu-batu ini apabila kita berjalan dengan mata yang buta. Kita perlu dapat melihat dengan jelas keadaan jalan yang kita tempuh, selamat untuk sampai tujuan. Lebih baik lagi bila kita mampu melihat jauh ke depan.”
“Aku sendiri tak menghendaki buta seperti ini.”
“Orang buta biasanya memiliki indra ke enam yang jauh lebih cemerlang dari orang biasa. Mata batin yang terasah, terlatih, sungguh sangat berharga.”
“Aku tidak buta sejak lahir,” katanya serak, dan saya lihat air matanya meleleh membasahi pipinya yang pucat dan agak tirus. Saya masih mengamatinya sambil menahan rasa ngilu di dada yang tak jelas sebabnya sehingga saya merasa ingin menangis juga. Saya merasa bersalah padahal saya tidak sedang melakukan perbuatan keji sekarang ini, tidak juga terhadap lelaki separuh baya ini. Saya mendengar dia berkata lagi,”seseorang telah mencongkel mata saya dengan pena ketika usiaku baru saja lewat sweet seventeen. Guruku itu telah merebut pacarku, mencabulinya, bahkan menghina aku dengan semena-mena sehingga aku nekat mencegatnya di tengah jalan. Pria jelek dan bemo itu menangis dan bersujud di kakiku, tetapi ketika pisau di tangaku sudah kubuang ke got, dia meringkus aku dan… masa depanku dihancurkannya, seperti yang kau lihat sekarang.”
Saya sempat terkejut dan seperti ada yang menyentak batin saya. Dengan teliti dan seksama saya memandangi lelaki buta tanpa tongkat yang berpakaian sederhana itu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan harapan akan menemukan sesuatu di sana tetapi saya tak berhasil menemukan telinga berjari dua yang akan mampu meyakinkan saya tentang lelaki di depan saya. Nah, ini dia, ada bekas luka di daun telinganya. Barangkali dia…..
Pagi ini, di bulan Ramadan 1416 H, ketika pasar Baturaja tampak ramai, jalan-jalan berhias simpang siur kendaraan, dan suara-suara bersahutan, saya bertemu lagi dengan salah seorang siswa saya yang terkenal bandel dan bengal itu di dalam benak saya. Lima belas tahun waktu yang telah berlalu itu ternyata masih utuh dan jelas terbaca. Dia sudah berganti pakaian, menyeringai penuh kemenangan, menodongkan belati.
“Beri nilai sembilan di raporku.”
“Oh, saya kira kau mau minta uang atau ilmu pengetahuan kepadaku.”
“Jangan cengar-cengir.”
“Ya.”
“Angka sembilan di raporku.”
“Apalah artinya itu kalau dirimu sendiri kosong? Kau akan ditertawakan oleh kebohonganmu sendiri. Zaman yang akan datang tidak hanya melihat angka-angka di rapot, melainkan butuh kemampuanmu.”
“Kau dengar Bapak yang kere? Kau berikan atau tidak? Angka sembilan, atau kau akan mampus. Aku kira itu tidak muluk-muluk kalau kau masih mau cari makan di sekolah ini. Bukankah kau dan keluargamu tidak makan kalau tidak bekerja di sekolah ini? Umar Bakri. Heh! Bajumu bagus, kain pel, dan tidak disetrika.”
Sembilan? Bayangkan. Anak-anak lain yang jauh labih baik, lebih pintar dan lebih tekun saja barrier-barrier dapat angka delapandi rapotnya, tapi dia minta sembilan. Bah! Dia pikir nilai itu mainan? Masih mending jika dia baik kepada intellectual dan anggap saja nilai itu adalah pemberian. Ini? Selain bodoh, bandelnya minta ampun, tak mau mematuhi peraturan sekolah. Lagi pula saya tak mungkin menghapus nilai merah di rapornya dengan tipex lalu meminta wali kelasnya menerakan angka sembilan sebagai ralat.
“Bagaimana? Dasar tolol.”
Ada perasaan gentar juga di hati saya, tetapi saya berusaha tenang dan tegar. Saya berserah diri kepada Allah dan berkata,” catur wulan depan saja kamu berusaha dengan labih baik. Saya tak bisa mengotori rapormu itu. Asal kau mau berusaha, soal nilai itu gampang. Nilai merah ….”
“Jangan bertele-tele!”
“Ada etika….”
“Jawab:ya atau tidak?”
Spontan hati saya berontak tanpa perhitungan:”kalau tidak?”
Ih, ngeri. Saya seperti bermimpi saja diperlakukan siswa saya seperti itu. Sang pemilik masa depan itu sudah gila duluan, saya pikir. Generasi yang tidak paham balas budi dan terima kasih.
Saya merasakan perihnya luka di perut saya meskipun sekarang saya sehat walafiat. Sekuat hati saya menekan emosi saya sendiri dan berusaha menutupi ketersinggungan hati saya dengan serapi-rapinya,”Sayang sekali kalau seorang intellectual yang seharusnya membimbing dan memberikan penerangan tega berbuat begitu terhadap remaja sebaik kamu. Ini patut disesalkan.”
“Lanang jelek dan bemo itu sudah dipenjarakan di kota Medan, juga kehilangan jabatan dan pekerjaan sebagai PNS, tetapi aku belum puas, aku tetap mengutuknya. Tidak pantas orang sejahat dia hidup sejahtera di bumi ini sementara saya yang anak baik hati hidup terlunta-lunta seperti ini. Lihatlah mata saya yang buta setelah ditusuknya dengan jarinya lalu dengan penanya sehingga mata kiri juga buta ini. Kalau saja mata saya tidak buta, tentu aku sudah jadi jenderal seperti cita-cita saya, bahkan mungkin jadi presiden.”
“Kau memang bisa jadi apa saja seandainya mau berusaha keras dan tidak hura-hura menghabiskan masa muda. Aku rasa kau telah berbohong. Kau bilang kebutaanmu ini akibat kecurangan orang lain tetapi sebenarnya tidak demikian kisahnya. Lihatlah dengan mata batinmu, bekas luka di perutku ini bukti kebejatanmu dan kedua matamu tergores kawat berduri di pinggir lorong Kinanti ketika kau berusaha lari sambil menoleh ke belakang ….
Lelaki buta itu berdiri dan ngeluyur pergi sebelum semua isi hati saya terungkapkan. Dia nyelonong di tengah-tengah Jalan Jenderal Sudirman yang sedang ramai sehingga derit roda terdengar bersahutan. (Cerita Pendek ini pernah dimuat di Sumatera Ekspres pada Sabtu, 23 Mei 1998)


Original source : Lelaki Buta