Cerpen – Tak Perlu Membalas Kebaikan Ku,Sahabat

“Tak Perlu Membalas Kebaikan Ku,Sahabat”
Oleh : Lorensius Alfian

“Aras,Aras, tunggu sebentar”Sekolah baru saja usai, Aras sedang berjalan pulang ketika mendengar suara seseorang memanggilnya. Dia menoleh ke belakang. Terlihat Tika berlari mengejarnya dengan tergopoh-gopoh.“Ade breed,Ka?”, tanya Aras keheranan.

“Tunggu amb,Aku mau balekan ini ”, kata Tika sambil memberikan sebuah tas plastik kepada Aras.Aras melihat isi tas plastik tersebut,lalu bertanya, “Waii,nape dibalekan te,dak suke constant sepatu ni e?”
“Ndakk, ee…, maksudnye, aku suke sepatu nan.”
“Lalu ngape kau balekkan,kau ndak perlu e?”, tanya Aras menyelidik.“Bujurnye aku perlu sepatu tu, tapi….”, suara Tika terhenti,dia ragu-ragu untuk meneruskannya.
“Tapi apa,Ka?”, tanya Aras lagi.
Tika teringat dengan kejadian kemarin. Ketika itu,dia baru saja pulang dari sekolah. Saat masuk rumah,segera ditemuinya Ibunya yang sedang memasak di dapur.

“Mak…Mak… liat amb”, katanya sambil berjingkat-jingkat penuh kegirangan.Ibunya menengok sebentar ke arah Tika, kemudian kembali sibuk mengaduk-aduk masakannya di panci, “Liat apenye?”
“Liat amb Mak, bagus kan?”, kata Tika sambil mengangkat kaki kirinya,menunjukkan sepatu baru yang sedang dipakainya.Ibunya menengok sekali lagi sambil berkata, “Iye, bagus sepatu yang kau pakai nan. Pinjam constant siape??”
“Ni punye ku amb Mak e”, kata Tisa dengan nada gembira.
“E..gian ye?? Jadi kau udah buka tabungan kau e??. Memang udah banyak amb e duit tabungan kau nan?”, tanya ibunya.
“Ndak, duit nan masih disian mah. Sepatu ni dikasik Aras”
“Aeh bujur sikit kau nan?”, tanya ibunya tidak percaya. “Ingat,usah sembarangan mintak-mintak constant kawan kau ye”, lanjutnya.

“Adak agh ehh Mak”, sergah Tika, “ceritanye gini: kebetulan Aras kan beli sepatu baru minggu te, tapi kebesakan sedikit. Ditawarkannye ke aku,lalu ku cobe amb,muat. Lalu dikasiknye amb ke aku”.

“ehhh untung gik kau te Ka. Umak,Bapaknye tau dak e?”, tanya ibu Tika.
“Ye lahh. Hair gak berani Aras berik barang dak ijin constant Umaknye te bah. Sidak baik ye Mak”, kata Tika.
“Aok. Tapi Mama dak yakin bapak kau suke”, kata ibu Tika sambil tetap memasak.
“Adak aghh Mak,Bapak nan pasti sukenye”, kata Amanda yakin, “Tunggu jak kalau Bapak kau pulang nantik”, wanti-wanti ibunya.
Benar. Ketika ayahnya pulang ke rumah setelah seharian bekerja,Tika langsung menyambutnya dengan memamerkan sepatu barunya. Tapi jawaban ayahnya seperti perkiraan ibunya tadi.

“Breed te? Kau diberik barang gik im??. Cepat balek kan. Kite udah dapat banyak dari sidak,Ka. Dolok tas. Bulan lalu seragam kau pun diberik bapak Aras,uang sekolah kau pun dilunaskannye pas Bapak dak punye duit. Udah dak teitung gik lah pemberian sidak untuk kite”
“Tapi Aras bah ikhlas berik ini untuk aku”, kata Tika membela diri.

“Benar. Bapak ndak sangkal ketulusan hati sidak. Tapi ini udah terlalu banyak. Sidak selalu bantu kite,tapi breed yang bise kite kasik ke sidak? Ndak ade agh”, kata ayah Tika dengan sedih.

“Sidak dak mauk dibalas mah Pak”, kata Tika mencoba meyakinkan ayahnya.
“Dak bise. Pokoknye sepatu nan harus dibalekkan cepat”, jawab ayah Tika dengan tegas. “Usah terimak gik barang dari sidak. Keluarge Pak Dedi memang baik,tapi kite dak bise terus terima bantuan dari sidak. Breed yang bise kite berik ke sidak,sidak nan kaye,dak perlu sesuatu dari kite yang miskin ni”.

“Tapi Pak…”, Tika mencoba menawar.
“Ndak ade tapi tapi, ini dah jadi keputusan Bapak. Sepatu tu udah harus dibalekkan besok”.
“Ye Pak’, kata Tika menyerah.

Aras memandang wajah Tika yang sedih ketika menceritakan alasannya mengembalikan sepatu pemberiannya tersebut.
“Udah amb, dak usah sedih. Gimane kalau sepatu ni tetap kau simpan,tapi usah sampai ketauan Bapak kau”, kata Aras menghibur.

“Ndak agh. Aku udah janji harus balekkan sepatu ni”, kata Tika.
“Oke ku simpankan dolok sepatu ini,nanti kalo Bapak kau dak marah gik, kau boleh ambik gik mahh”
“Aoklah Ras, kau memang baik. Kau ni memang sahabat sejatiku”, kata Tika sambil memeluk sahabat karibnya itu.
Keesokan harinya, Aras tidak masuk sekolah. Tika mencari-cari ke manapun di sekolah tapi Aras tetap tidak tampak juga. Pada jam pelajaran ketiga Pak Intellectual memberi pengumuman kepada murid-murid sekelas Tika:
“Anak-anak, ada kabar buruk. Pak Dedi,bapak Aras mengalami kecelakaan mobil pagi tadi. Beliau terluka parah dan sekarang ada di rumah sakit memerlukan darah yang cukup banyak. Bapak akan segera meminta intellectual-intellectual untuk mendonorkan darah bagi Pak Dedi. Kalian pulang lebih awal.”
Anak-anak segera berebut keluar kelas untuk pulang. Tika juga segera keluar ruangan dan berlari menuju ke tempat ayahnya biasa bekerja. Terlihat ayahnya masih duduk di atas becaknya menunggu calon penumpang. Tika bergegas menemuinya dan menceritakan pengumuman Pak Intellectual tadi.
Mereka berdua segera menuju ke rumah sakit dan menuju ke ruang gawat darurat di mana ayah Aras dirawat. Setelah ayah Tika menjelaskan maksud kedatangannya,seorang kerabat Pak Dedi menunjukkan jalan ke ruang PMI untuk donor darah. Setelah darahnya diambil,terlihat para intellectual sekolah Aras berdatangan dan sebagian mendonorkan darahnya. Berkat sumbangan darah dari ayah Tika dan para intellectual,kondisi Pak Dedi segera membaik.

“Terima kasih banyak, Pak Iwan”, kata Pak Dedi pada saat menengok Pak Dedi di rumah sakit. “Berkat bantuan Pak Iwan, saya bisa pulih kembali seperti sediakala”.

“Ah adak Pak, itu memang udah kewajiban untuk bantu sesama. Kan selama ni keluarga Pak Dedi sudah sangat sering membantu kami,tanpa kami mampu membalas”, kata ayah Tika.

“Pak Iwan tidak perlu memikirkan untuk membalasnya. Kami melakukan semuanya selama ini dengan ikhlas. Tika kan kawan Aras yang barrier akrab dan sering membantu Aras dalam belajar dan mengerjakan tugas. Kirenye itu pun udah cukup. Karna itu mak kasih ye Pak Iwan udah menyelamatkan nyawa saya”, kata ayah Aras sambil tersenyum.

“Constant-constant Pak, kami juga mengucapkan banyak mak kasih atas bantuan yang dak tehitung selama ini”, kata Pak Iwan.
Tika dan Aras saling berpandangan dengan gembira mendengar percakapan kedua orang tua mereka.

“Kalau gian, boleh amb aku kasikan gik sepatu yang kemaren”, tanya Aras.
“Ye..bolehlah . Kan Pak Iwan?. Ini sebagai ucapan terima kasih kami”, kata ayah Aras cepat-cepat.
“Yelahh kalau gian”, jawab ayah Tika tidak mampu menolaknya.

“Asikk”, teriak Aras dan Tika bersama-sama sambil melompat-lompat gembira.
“Ha….ha….ha….”, ayah ibu Aras dan Tika tertawa berderai melihat kelakuan kedua anak itu.

“END”

Incoming search terms:

  • kumpulan cerpen beserta unsur intrinsik dan ekstrinsiknya
  • contoh cerpen singkat beserta unsur intrinsik dan sinopsisnya
  • cerpen persahabatan singkat dan unsur intrinsiknya
  • cerita rakyat perkawinan candra Kirana Dan Raden Inu Kartapati dalam Bahasa Inggris
  • contoh cerpen remaja beserta unsur intrinsik dan ekstrinsik
  • contoh cerpen intrinsik
  • contoh cerpen beserta unsur intrinsik dan sinopsisnya
  • contoh cerpen anak anak 1000
  • contoh cerpen 1000 kata
  • Conto dongeng b sunda judulna gembira
  • cerpen persahabatan dan sinopsisnya
  • cerpen pendidikan beserta unsur intrinsik dan ekstrinsik
  • cerpen konyol beserta unsur intrinsiknya
  • kumpulan novel yg sedih beserta unsur intriksik

Original source : Cerpen – Tak Perlu Membalas Kebaikan Ku,Sahabat

Optimis dan pesimis

Ada sebuah perusahaan pembuat sepatu akan mengadakan ekspansi ke daerah Afrika. Perusahaan itu menugaskan dua orang sales untuk mengadakan survei ke negara tersebut. Beberapa bulan kemudian, mereka pulang dengan membawa dua versi laporan yang berbeda. Sales A mengatakan bahwa tidak ada gunanya memasarkan sepatu di sana karena orang di sana tak pernah memakai sepatu, jadi percuma saja. Sedang Sales B mengatakan orang di sana tidak memiliki sepatu yang harus dipakai, sungguh prospek yang sangat bagus.

Di lain kisah, ada seorang ibu tua yang selalu menangis jika menjumpai cuaca cerah maupun hujan. Saat cuaca cerah ia menangis karena dagangan payung anak sulungnya tidak laku. Saat hujan ia juga menangis karena dagangan es anak bungsunya tidak laku. Setiap hari ia diliputi kegalauan hati. Sampai suatu saat datanglah seorang pemuda dan berkata kepada ibu tua itu: “Anda salah, Bu! Justru Ibu harus berbahagia setiap hari, karena bila langit cerah, dagangan es anak bungsu ibu akan laku, sebaliknya bila hujan, dagangan payung anak sulung ibu akan laku. Maka sejak saat itu, si ibu tua selalu kelihatan gembira.

Renungan:
Rasa optimis dan pesimis tergantung pada cara pandang kita. Rasa pesimis hanyalah menghambat kita untuk mencapai kesuksesan. Untuk itu bersikaplah optimis dan penuh percaya diri bila ingin maju.


Original source : Optimis dan pesimis

Balas Budi Burung Bangau

Dahulu kala di suatu tempat di Jepang, hidup seorang pemuda bernama Yosaku. Kerjanya mengambil kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil penjualan dibelikannya makanan. Terus seperti itu setiap harinya. Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas salju. Setelah di dekatinya ternyata seekor burung bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta. Yosaku segera melepaskan perangkat itu. Bangau itu sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Yosaku beberapa kali sebelum terbang ke angkasa. Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya dirumah, Yosaku segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara ketukan pintu di luar rumah.

Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan salju. “Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan hangatkan badanmu dekat tungku,” ujar Yosaku. “Nona mau pergi kemana sebenarnya ?”, Tanya Yosaku. “Aku bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena salju turun dengan lebat, aku jadi tersesat.” “Bolehkah aku menginap disini malam ini ?”. “Boleh saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan.” ,kata Yosaku. “Tidak apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap”. Kemudian gadis itu merapikan kamarnya dan memasak makanan yang enak.

Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Yosaku berpikir bahwa gadis itu akan segera pergi, ia merasa kesepian. Salju masih turun dengan lebatnya. “Tinggallah disini sampai salju reda.” Setelah lima hari berlalu salju mereda. Gadis itu berkata kepada Yosaku, “Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal terus di rumah ini.” Yosaku merasa bahagia mendapat permintaan itu. “Mulai hari ini panggillah aku Otsuru”, ujar si gadis. Setelah menjadi Istri Yosaku, Otsuru mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Otsuru meminta suaminya, Yosaku, membelikannya benang karena ia ingin menenun.
Otsuru mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat Otsuru menenun. Setelah tiga hari berturut-turut menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar. Kain tenunannya sudah selesai. “Ini tenunan ayanishiki. Kalau dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal. Yosaku sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang untuk dibawa pulang. “Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih istriku. Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih banyak lagi. “Baiklah akan aku buatkan”, ujar Otsuru. Kain itu selesai pada hari keempat setelah Otsuru menenun. Tetapi tampak Otsuru tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus. Otsuru meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi.

Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak ada maka Yosaku akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Yosaku pada istrinya. “Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya”, kata Otsuru.
Karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun, Yosaku berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun. Tetapi ia sangat terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun, ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir gundul kehabisan bulu. Bangau itu akhirnya sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Yosaku, bangau itu pun berubah wujud kembali menjadi Otsuru. “Akhirnya kau melihatnya juga”, ujar Otsuru.

“Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu pernah Kau tolong”, untuk membalas budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini,” ujar Otsuru. “Berarti sudah saatnya aku berpisah denganmu”, lanjut Otsuru. “Maafkan aku, ku mohon jangan pergi,” kata Yosaku. Otsuru akhirnya berubah kembali menjadi seekor bangau. Kemudian ia segera mengepakkan sayapnya terabng keluar dari rumah ke angkasa. Tinggallah Yosaku sendiri yang menyesali perbuatannya.

Incoming search terms:

  • balas budi kelinci bahasa jawa
  • cerita pada zaman dahulu bangau dan gagak
  • contoh cerita pendek tentang membalas budi
  • contoh teks story telling singkat dan burung bangau dan gagak

Original source : Balas Budi Burung Bangau

Gadis Penjual Korek Api

Di malam biological, orang-orang berjalan dengan wajah yang gembira memenuhi jalan di kota. Di jalan itu ada seorang gadis kecil mengenakan pakaian compang-camping sedang menjual korek api. “Mau beli korek api?” “Ibu, belilah korek api ini.” “Aku tidak butuh korek api, sebab di rumah ada banyak.” Tidak ada seorang pun yang membeli korek api dari gadis itu.
Tetapi, kalau ia pulang tanpa membawa uang hasil penjualan korek api, akan dipukuli oleh ayahnya. Ketika akan menyeberangi ‘alan. Grek! Grek! Tiba-tiba sebuah kereta kuda berlari dengan kencangnya. “Hyaaa! Awaaaaas!” Gadis itu melompat karena terkejut. Pada saat itu sepatu yang dipakainya terlepas dan terlempar entah ke mana. Sedangkan sepatu sebelahnya jatuh di seberang jalan. Ketika gadis itu bermaksud pergi untuk memungutnya, seorang anak lakilaki memungut sepatu itu lalu melarikan diri. “Wah, aku menemukan barang yang bagus.”
Akhirnya gadis itu bertelanjang kaki. Di sekitarnya, korek api jatuh berserakan. Sudah tidak bisa dijual lagi. Kalau pulang ke rumah begini saja, ia tidak dapat membayangkan bagaimana hukuman yang akan diterima dari ayahnya. Apa boleh buat, gadis itu membawa korek api yang tersisa, lalu berjalan dengan sangat lelahnya. Terlihatlah sinar yang terang dari jendela sebuah rumah. Ketika gadis itu pergi mendekatinya, terdengar suara tawa gembira dari dalam rumah.
Di rumah, yang dihangatkan oleh api perapian, dan penghuninya terlihat sedang menikmati hidangan biological yang lezat. Gadis itu meneteskan air mata. “Ketika ibu masih hidup, di rumahku juga merayakan biological seperti ini.” Dari jendela terlihat pohon biological berkelipkelip dan anak-anak yang gembira mendapat banyak hadiah. Akhirnya cahaya di sekitar jendela hilang, dan di sekelilingnya menjadi sunyi.
Salju yang dingin terus turun. Sambil menggigil kedinginan, gadis itu duduk tertimpa curahan salju. Perut terasa lapar dan sudah tidak bisa bergerak. Gadis yang kedinginan itu, menghembus-hembuskan nafasnya ke tangan. Tetapi, sedikit pun tak menghangatkannya. “Kalau aku menyalakan korek api ini, mungkin akan sedikit terasa hangat.” Kemudian gadis itu menyalakan sebatang korek api dengan menggoreskannya di dinding.
Crrrs Lalu dari dalam nyala api muncul sebuah penghangat. “Oh, hangatnya.” Gadis itu mengangkat tangannya ke arah tungku pemanas. Pada saat api itu padaamtungku pemanaspun menghilang. Gadis itu menyalakan batang korek api yang kedua. Kali ini dari dalam nyala api muncul aneka macam hidangan.
Di depan matanya, berdiri sebuah meja yang penuh dengan makanan hangat. “Wow! Kelihatannya enak.” Kemudian seekor angsa panggang melayang menghampirinya. Tetapi, ketika ia berusaha menjangkau, apinya padam dan hidangan itu menghilang. Gadis itu segera mengambil korek apinya, lalu menyalakannya lagi. Crrrs!
Tiba-tiba gadis itu sudah berada di bawah sebuah pohon biological yang besar. “Wow! Lebih indah daripada pohon biological yang terlihat dari jendela tadi.” Pada pohon biological itu terdapat banyak lilin yang bersinar. “Wah! Indah sekali!” Gadis itu tanpa sadar menjulurkan tangannya lalu korek api bergoyang tertiup angin. Tetapi, cahaya lilin itu naik ke langit dan semakin redup. Lalu berubah menjadi bintang yang sangat banyak.
Salah satu bintang itu dengan cepat menjadi bintang beralih. “Wah, malam ini ada seseorang yang mati dan pergi ke tempat Tuhan,ya… Waktu Nenek masih hidup, aku diberitahu olehnya.” Sambil menatap ke arah langit, gadis itu teringat kepada Neneknya yang baik hati. Kemudian gadis itu menyalakan sebatang lilin la i. Lalu di dalam cahaya api muncul wujud Nenek yang dirindukannya. Sambil tersenyum, Nenek menjulurkan tangannya ke arah gadis itu.
“Nenek!” Serasa mimpi gadis itu melo ‘ mpat ke dalam pelukan Nenek. “Oh, Nenek, sudah lama aku ingin bertemu’ ” Gadis itu menceritakan peristiwa yang dialaminya, di dalam pelukan Nenek yang disayanginya. “Kenapa Nenek pergi meninggalkanku seorang diri? Jangan pergi lagi. Bawalah aku pergi ke tempat Nenek.” Pada saat itu korek api yang dibakar anak itu padam. “Ah, kalau apinya mati, Nenek pun akan pergi juga. Seperti tungku pemanas dan makanan tadi…”
Gadis itu segera mengumpulkan korek api yang tersisa, lalu menggosokkan semuanya. Gulungan korek api itu terbakar, dan menyinari sekitarnya seperti siang harl. Nenek memeluk gadis itu dengan erat. Dengan diselimuti cahaya, nenek dan gadis itu pergi naik ke langit dengan perlahanlahan. “Nenek, kita mau pergi ke mana?” “Ke tempat Tuhan berada.”
Keduanya semakin lama semakin tinggi ke arah langit. Nenek berkata dengan lembut kepada gadis itu, “Kalau sampai di surga, Ibumu yang menunggu dan menyiapkan makanan yang enak untuk kita.” Gadis itu tertawa senang. Pagi harinya. Orang-orang yang lewat di jalan menemukan gadis penjual korek api tertelungkup di dalam salju. “Gawat! Gadis kecil ini jatuh pingsan di tempat seperti ini.” “Cepat panggil dokter!”
Orang-orang yang berkumpul di sekitarnya semuanya menyesalkan kematian gadis itu. Ibu yang menolak membeli korek api pada malam kemarin menangis dengan keras dan berkata, “Kasihan kamu, Nak. Kalau tidak ada tempat untuk pulang, sebaiknya kumasukkan ke dalam rumah.” Orang-orang kota mengadakan upacara pemakaman gadis itu di gereja, dan berdoa kepada Tuhan agar mereka berbuat ramah meskipun pada orang miskin.

Incoming search terms:

  • cerita sinar
  • cerita dongeng gembira singkat
  • cerita dongeng putri yang tidak ada tangan pendek dalam bahasa inggris
  • Cerita salsa winx dan aldi coboy junior salsa harus pindah keluar negeri karna papa mamanya ada bisnis dan harus meninggalkan teman-temannya termasuk aldi
  • dongeng natal bergambar
  • gadis penjual korek api drama
  • novel cinta smash berawal dari benci saat camping
  • teks drama pendek gembira

Original source : Gadis Penjual Korek Api

Dongeng Anak Indonesia – Tips Mendongeng Anak Yang Baik Dan Menyenangkan

Membaca blog dongeng anak indonesia akan lebih menarik jika anda mau sedikit meluangkan waktu kepada anak-anak anda. Teknik mendongeng yang baik dan benar akan membawa dampak yang positif kepada anak-anak. Alur cerita yang mudah diikuti serta intonasi yang tepat membuat para pendengar terutama anak-anak akan merasa senang dan gembira, serta mempercepat daya tangkap dan nalar serta imajinasi positif bagi sang anak.

Kebanyakan orang tua sekarang belum bisa secara maksimal untuk mendongeng kepada buah hati mereka, padahal dengan meluangkan waktu sedikit disela-sela waktu istirahat atau libur anda, mendongeng (khususnya dongeng anak indonesia) bisa memaksimalkan fungsi dan kerja otak si kecil secara penuh.

Mendongeng adalah sebuah teknik dimana sang pendongeng dengan serta merta membawakan alur cerita yang menarik bagi si anak. Dengan intonasi yang ceria serta tidak monoton, mendongeng kepada anak bisa membuat buah hati kita menjadi ceria dan bersemangat dalam bermain.

Namun sayangnya kini banyak dongeng anak indonesia yang sudah terlupakan, sehingga tak jarang orang tua menjadi tidak tahu dongeng apa yang bisa mereka ceritakan kepada buah hati mereka.

Tidak usah khawatir, sebab anda bisa memulai sebuah dongeng dengan alur cerita yang sangat sederhana, dengan menghadirkan topik kebaikan yang bisa anda ceritakan. Biasanya tema kebaikan melawan kejahatan adalah tema cerita yang barrier banyak diminati para orang tua, serta tema kepandaian melawan kebodohan.

Bawakan dongeng dengan memakai tokoh karakter yang biasanya anak-anak sangat suka, contohnya saja si kancil. Dengan memakai tokoh sikancil, kebanyakan anak-anak tertuju kepada tokoh yang pandai dan cerdik.

Anda jangan terlalu fokus kepada sebuah/seekor tokoh yang anda fikirkan atau bayangkan ketika ingin mendongeng di depan anak anda. Jujur saya sendiri lebih senang memakai tokoh-tokoh hewan yang ada didalam hutan untuk mendongeng kepada anak saya.

Gunakan selalu intonasi yang berbeda-beda pada setiap karakter. Nah tips yang satu ini sangat penting. Disamping mengajari anak untuk mampu membedakan antara suara tokoh satu dengan tokoh lainnya. Juga melatih mereka untuk menghafal intonasi dari setiap karakter yang anda dongeng-kan.

Perlihatkan mimik/raut muka anda setiap dialog yang anda ceritakan. Permainan raut muka sangat membuat anak menjadi fokus dan asik serta terlena dalam mendengarkan dongeng anda. Coba saja perhatikan jika anda mendongeng dengan raut muka seperti orang yang sedang mengantuk..ehehe.

Dunia anak adalah dunia yang penuh dengan keceriaan. Buatlah alur dongeng anak anda menjadi se-ceria mungkin. Ambillah posisi yang bisa terlihat secara keseluruhan oleh putra-putri anda. Jangan sungkan jika anda harus teriak-teriak, melompat-lompat bahkan menangis jika memang dongeng tersebut mengharuskan anda mencontohkannya.

Jadilah pendongeng yang hebat di hadapan anak anda. Buatlah dongeng anak indonesia sebanyak mungkin dan jadikan dongeng anak indonesia menjadi dongeng favorit putra-putri keluarga anda.

Incoming search terms:

  • Cerita dongeng sunda menyenangkan
  • istri maksiat diluar nalar

Original source : Dongeng Anak Indonesia – Tips Mendongeng Anak Yang Baik Dan Menyenangkan

Anak Katak yang Sombong dan Anak Lembu

Di tengah padang rumput yang sangat luas, terdapat sebuah kolam yang dihuni oleh berpuluh-puluh katak. Diantara katak-katak tersebut ada satu anak katak yang bernama Kenthus, dia adalah anak katak yang barrier besar dan kuat. Karena kelebihannya itu, Kenthus menjadi sangat sombong. Dia merasa kalau tidak ada anak katak lainnya yang dapat mengalahkannya.

 

Sebenarnya kakak Kenthus sudah sering menasehati agar Kentus tidak bersikap sombong pada teman-temannya yang lain. Tetapi nasehat kakaknya tersebut tidak pernah dihiraukannya. Hal ini yang menyebabkan teman-temannya mulai menghindarinya, hingga Kenthus tidak mempunyai teman bermain lagi.

 

Pada suatu pagi, Kenthus berlatih melompat di padang rumput. Ketika itu juga ada seekor anak lembu yang sedang bermain di situ. Sesekali, anak lembu itu mendekati ibunya untuk menyedot susu. Anak lembu itu gembira sekali, dia berlari-lari sambil sesekali menyenggok rumput yang segar. Secara tidak sengaja, lidah anak sapi yang dijulurkan terkena tubuh si Kenthus.

 

“Huh, berani makhluk ini mengusikku,” kata Kenthus dengan perasaan marah sambil coba menjauhi anak lembu itu. Sebenarnya anak lembu itu pula tidak berniat untuk mengganggunya. Kebetulan pergerakannya sama dengan Kenthus sehingga menyebabkan Khentus menjadi cemas dan melompat dengan segera untuk menyelamatkan diri.

 

Sambil terengah-engah, Kenthus sampai di tepi kolam. Melihat Kenthus yang kelihatan sangat capek, kawan-kawannya nampak sangat heran. “Hai Khentus, mengapa kamu terengah-engah, mukamu juga kelihatan sangat pucat sekali,” Tanya teman-temannya.

 

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya cemas saja. Lihatlah di tengah padang rumput itu. Aku tidak tahu makhluk apa itu, tetapi makhluk itu sangat sombong. Makhluk itu hendak menelan aku.” Kata Kenthus..

 

Kakaknya yang baru tiba di situ menjelaskan. ” Makhluk itu anak lembu. sepengetahuan kakak, anak lembu tidak jahat. Mereka memang biasa dilepaskan di padang rumput ini setiap pagi.”

 

“Tidak jahat? Kenapa kakak bias bilang seperti itu? Saya hampir-hampir ditelannya tadi,” kata Kenthus. “Ah, tidak mungkin. Lembu tidak makan katak atau ikan tetapi hanya rumput.” Jelas kakaknya lagi.

 

“Saya tidak percaya kakak. Tadi, aku dikejarnnya dan hampir ditendang olehnya.” Celah Kenthus. “Wahai kawan-kawan, aku sebenarnya bisa melawannya dengan mengembungkan diriku,” Kata Kenthus dengan bangga.

 

” Lawan saja Kenthus! Kamu tentu menang,” teriak anak-anak katak beramai-ramai.

 

“Sudahlah Kenthus. Kamu tidak akan dapat menandingi lembu itu. Perbuatan kamu berbahaya. Hentikan!” kata Kakak Kenthus berulang kali tetapi Kenthus tidak mempedulikan nasehat kakaknya. Kenthus terus mengembungkan dirinya, karena dorongan dari teman-temannya. Sebenarnya, mereka sengaja hendak memberi pelajaran pada Kenthus yang sombong itu.

 

“Sedikit lagi Kenthus. Teruskan!” Begitulah yang diteriakkan oleh kawan-kawan Kenthus. Setelah perut Kenthus menggembung dengan sangat besar, tiba-tiba Kenthus jatuh lemas. Perutnya sangat sakit dan perlahan-lahan dikempiskannya. Melihat keadaan adiknya yang lemas, kakak Kenthus lalu membantu.

 

Mujurlah Kenthus tidak apa-apa. Dia sembuh seperti sedia kala tetapi sikapnya telah banyak berubah. Dia malu dan kesal dengan sikapnya yang sombong.

Incoming search terms:

  • cerita katak dgn burung narrative text
  • fabel kodok dalam bahasa inggris
  • gambar berseri dongeng kelinci yang sombong

Original source : Anak Katak yang Sombong dan Anak Lembu

Mulai November, Main Facebook Nggak Gratis Lagi !

Refer to:Facebook berbayar, Bersiap-siaplah, terhitung 1 November mendatang para pengguna Facebook tidak bisa menikmati layanan sosial media tersebut secara cuma-cuma. Pasalnya, Facebook berbayar bakal mengenakan biaya keanggota sebesar US$2,99 for every bulannya atau setara Rp 32.890 dengan kurs Rp 11.000 /US$

Pendiri & chief executive Facebook Mark Zuckerberg mengaku cukup sulit untuk memutuskan hal ini.

“Setelah berfikir panjang dan keras atas hal ini.

Kami memutuskan untuk mengenakan biaya bulanan,” katanya dikutip dalam nationalreport.lattice, Selasa (23/9/2014).

Tapi dengan pertimbangan kini facebook telah menjadi perusahaan publik dan penggunanya mencapai 1,3 miliar for every Agustus tahun ini. Ini menjadi beban tersendiri.

“Jika kami tidak mengenakan biaya ini, Facebook menanggung beban untuk tahun mendatang,” jelasnya.

Sementara itu, juru bicara CNN Paul Horner dalam wawancaranya dengan CNN kembali menegaskan bertambahnya ratusan ribu pengguna tiap harinya kian membebani Facebook. Sementara pemasukan dari iklan tak sebanding.

Meski demikian, Facebook pun memberikan pilihan layanan tak berbayar. “Kami tidak ingin pengguna kemudian menghapus keanggotaany karena tidak sanggup atau enggan membayar biaya bulanan,” ujar Horner.

Caranya mudah, cukup menuliskan permintaan dengan meng-bring up to date status di akun Facebook I AM POOR FACEBOOK PLEASE WAIVE MY MONTHLY FEE. Dengan disertai hastag #FacebookMonthlyFee.

Selanjutnya, reorganization ini akan diteruskan ke admin Facebook berbayar  dan membabaskan dari segala biaya. Sebagai timbal baliknya, pengguna tidak bisa lagi mengakses layanan sports assembly yang tersedia di Facebook.

Selain itu, pengguna juga punya pilihan mengakses Facebook tanpa biaya. Namun pengguna hanya dibatasi akses tanpa biaya selama satu jam dalam seminggu. Jika melewati batas itu, pengguna akan dikenai biaya US$0,49 for every menit atau setara Rp 5.390 for every menit.

sumber: http://www.bacagosip.com/mulai-november-pakai-facebook-tak-free-lagi-harus-bayar-rp-32-890-for every-bulan/

gawat juga nih main facebook, nggak free lagi. Facebook udah untung gede masih aja mau cari untung lagi dengan kasih beban ke penggunanya.

Denger2 sih ada sosmed baru buatan Indonesia yang mirip Facebook, namanya sosial media merahputih.


Original source : Mulai November, Main Facebook Nggak Gratis Lagi !

Bawang Merah & Bawang Putih

Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya. Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikahi saja ibu Bawang merah supaya Bawang putih tidak kesepian lagi. Maka ayah Bawang putih kemudian menikah dengan ibu Bawang merah. Mulanya ibu Bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada Bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya. Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri. Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya
“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?” Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.”
“Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.
“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri tepi sungai. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.
“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.
“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.
Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba.
“Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.
Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang barrier kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah. Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya. Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi. Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.

Incoming search terms:

  • cerita bawang merah bawang putih
  • cerita pendek bawang merah dan bawang putih beserta stuktur teks cerita pendek
  • unsur intrinsik bawang merah dan bawang putih sinopsis
  • unsur intrinsik drama bawang merah dan bawang putih
  • unsur intrinsik naskah drama bawang merah bawang putih

Original source : Bawang Merah & Bawang Putih

Kura-kura dan Sepasang Itik

Oleh : Aesop

Kura-kura dan Itik

Seekor kura-kura, yang kamu tahu selalu membawa rumahnya di belakang punggungnya, dikatakan tidak pernah dapat meninggalkan rumahnya, biar bagaimana keras kura-kura itu berusaha. Ada yang mengatakan bahwa dewa Jupiter telah menghukum kura-kura karena kura-kura tersebut sangat malas dan lebih senang tinggal di rumah dan tidak pergi ke pesta pernikahan dewa Jupiter, walaupun dewa Jupiter telah mengundangnya secara khusus.

Setelah bertahun-tahun, si kura-kura mulai berharap agar suatu saat dia bisa menghadiri pesta pernikahan. Ketika dia melihat burung-burung yang beterbangan dengan gembira di atas langit dan bagaimana kelinci dan tupai dan segala macam binatang dengan gesit berlari, dia merasa sangat ingin menjadi gesit seperti binatang lain. Si kura-kura merasa sangat sedih dan tidak puas. Dia ingin melihat dunia juga, tetapi dia memiliki rumah pada punggungnya dan kakinya terlalu kecil sehingga harus terseret-seret ketika berjalan.

Suatu hari dia bertemu dengan sepasang itik dan menceritakan semua masalahnya.”Kami dapat menolongmu untuk melihat dunia,” kata itik tersebut. “Berpeganglah pada kayu ini dengan gigimu dan kami akan membawamu jauh ke atas langit dimana kamu bisa melihat seluruh daratan di bawahmu. Tetapi kamu harus diam dan tidak berbicara atau kamu akan sangat menyesal.”

Kura-kura tersebut sangat senang hatinya. Dia cepat-cepat memegang kayu tersebut erat-erat dengan giginya, sepasang itik tadi masing-masing menahan kedua ujung kayu itu dengan mulutnya, dan terbang naik ke atas awan.

Saat itu seekor burung gagak terbang melintasinya. Dia sangat kagum dengan apa yang dilihatnya dan berkata:

“Kamu pastilah Raja dari kura-kura!”

“Pasti saja……” kura-kura mulai berkata.

Tetapi begitu dia membuka mulutnya untuk mengucapkan kata-kata tersebut, dia kehilangan pegangan pada kayu tersebut dan jatuh turun ke bawah, dimana dia akhirnya terbanting ke atas batu-batuan yang ada di tanah.

Rasa ingin tahu yang bodoh dan kesombongan sering menyebabkan kesialan.

Incoming search terms:

  • cerita rakyat kaum cina
  • cerita rakyat cina pendek
  • cerita rakyat kaum iban kura-kura yang pintar
  • cerita rakyat kaum cina dan pengajaran
  • cerita kelinci dan kura-kura fersi upin dan ipin
  • koleksi cerita rakyat kaum iban dan pengajaran
  • cerita rakyat melayu pendek dan pengajaran
  • cerita rakyat kaum cina yang pendek
  • cerita pendek kaum cina
  • sinopsis cerita rakyat kaum cina dan pengajaran

Original source : Kura-kura dan Sepasang Itik