Mahluk Gaib dan suara Kodok ( No pict)

Salam kenal, dan langsung aja ya. Saya Deddy, ada cerita mistis yang menurut saya ganjil.

Begini, beberapa waktu lalu saya mendapat tugas pam, di sebuah gedung besar yang bersengketa, tepat nya di malam Sabtu legi, pukul 00:25 WIB. Tiba-tiba saya mendengar seperti suara kodok yang berasal dari atap pos jaga yang sudah usang. Bunyi tersebut terdengar sampai 3 x, dan tiba-tiba badan saya menggigil. Kemudian saya memakai jaket, tapi aneh nya sewaktu sudah menggunakan jaket, badan saya tetap menggigil, dan lagi yang terasa dingin adalah tulang sumsum nya.

Saya berdiri di depan pos jaga yang ada pohon besar nya. Tiba-tiba suasana menjadi tenang dan hening, muncul segumpal asap. Dan tak lama kemudian terlihat bayangan aneh, muncul sesosok mahluk seperti kera besar, memiliki bulu lebat, bertaring, bertanduk kecil, dan mata menyala merah sebesar kepalan tangan. Bayangan tersebut muncul sekitar 20 detik di hadapan saya. Hati dan fikiran seperti terkunci, dan tiba-tiba mahluk tersebut hilang dan diiringi suara seperti kodok lagi, dan setelah itu baru lah saya dapat bergerak lagi.

Besok nya saya sakit, tulang sumsum dingin sekali. Tapi setelah di obati seorang ustadz saya kembali sehat lagi.

beri

bagi NOOOO

Incoming search terms:

  • istriku di kongkek anjing

Original source : Mahluk Gaib dan suara Kodok ( No pict)

Karang Bolong

Beberapa abad yang lalu tersebutlah Kesultanan Kartasura. Kesultanan sedang dilanda kesedihan yang mendalam karena permaisuri tercinta sedang sakit keras. Pangeran sudah berkali-kali memanggil tabib untuk mengobati sang permaisuri, tapi tak satupun yang dapat mengobati penyakitnya. Sehingga hari demi hari, tubuh sang permaisuri menjadi kurus kering seperti tulang terbalutkan kulit. Kecemasan melanda rakyat kesultanan Kartasura. Roda pemerintahan menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya.

 “Hamba sarankan agar Tuanku mencari tempat yang sepi untuk memohon kepada Sang Maha Agung agar mendapat petunjuk guna kesembuhan permaisuri,” kata penasehat istana.
Tidak berapa lama, Pangeran Kartasura melaksanakan tapanya. Godaan-godaan yang dialaminya dapat dilaluinya. Hingga pada suatu malam terdengar suara gaib. “Hentikanlah semedimu. Ambillah bunga karang di Pantai Selatan, dengan bunga karang itulah, permaisuri akan sembuh.” Kemudian, Pangeran Kartasura segera pulang ke istana dan menanyakan hal suara gaib tersebut pada penasehatnya. “Pantai selatan itu sangat luas. Namun hamba yakin tempat yang dimaksud suara gaib itu adalah wilayah Karang Bolong, di sana banyak terdapat gua karang yang di dalamnya tumbuh bunga karang,” kata penasehat istana dengan yakin.
Keesokannya, Pangeran Kartasura menugaskan Adipati Surti untuk mengambil bunga karang tersebut. Adipati Surti memilih dua orang pengiring setianya yang bernama Sanglar dan Sanglur. Setelah beberapa hari berjalan, akhirnya mereka tiba di karang bolong. Di dalamnya terdapat sebuah gua. Adipati Surti segera melakukan tapanya di dalam gua tersebut. Setelah beberapa hari, Adipati Surti mendengar suara seseorang. “Hentikan semedimu. Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi harus kau penuhi dahulu persyaratanku.” Adipati Surti membuka matanya, dan melihat seorang gadis cantik seperti Dewi dari kahyangan di hadapannya. Sang gadis cantik tersebut bernama Suryawati. Ia adalah abdi Nyi Loro Kidul yang menguasai Laut Selatan.
Syarat yang diajukan Suryawati, Adipati harus bersedia menetap di Pantai Selatan bersama Suryawati. Setelah lama berpikir, Adipati Surti menyanggupi syarat Suryawati. Tak lama setelah itu, Suryawati mengulurkan tangannya, mengajak Adipati Surti untuk menunjukkan tempat bunga karang. Ketika mendapat uluran tangan Suryawati, Adipati Surti merasa raga halusnya saja yang terbang mengikuti Suryawati, sedang raga kasarnya tetap pada posisinya bersemedi. “Itulah bunga karang yang dapat menyembuhkan Permaisuri,” kata Suryawati seraya menunjuk pada sarang burung walet. Jika diolah, akan menjadi ramuan yang luar biasa khasiatnya. Adipati Surti segera mengambil sarang burung walet cukup banyak. Setelah itu, ia kembali ke tempat bersemedi. Raga halusnya kembali masuk ke raga kasarnya.
Setelah mendapatkan bunga karang, Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya kembali ke Kartasura. Pangeran Kartasura sangat gembira atas keberhasilan Adipati Surti. “Cepat buatkan ramuan obatnya,” perintah Pangeran Kartasura pada pada abdinya. Ternyata, setelah beberapa hari meminum ramuan sarang burung walet, Permaisuri menjadi sehat dan segar seperti sedia kala. Suasana Kesultanan Kartasura menjadi ceria kembali. Di tengah kegembiraan tersebut, Adipati Surti teringat janjinya pada Suryawati. Ia tidak mau mengingkari janji. Ia pun mohon diri pada Pangeran Kartasura dengan alasan untuk menjaga dan mendiami karang bolong yang di dalamnya banyak sarang burung walet. Kepergian Adipati Surti diiringi isak tangis para abdi istana, karena Adipati Surti adalah seorang yang baik dan rendah hati.
Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya untuk pergi bersamanya. Setelah berpikir beberapa saat, Sanglar dan Sanglur memutuskan untuk ikut bersama Adipati Surti. Setibanya di Karang Bolong, mereka membuat sebuah rumah sederhana. Setelah selesai, Adipati Surti bersemedi. Tidak berapa lama, ia memisahkan raga halus dari raga kasarnya. “Aku kembali untuk memenuhi janjiku,” kata Adipati Surti, setelah melihat Suryawati berada di hadapannya. Kemudian, Adipati Surti dan Suryawati melangsungkan pernikahan mereka. Mereka hidup bahagia di Karang Bolong. Di sana mereka mendapatkan penghasilan yang tinggi dari hasil sarang burung walet yang semakin hari semakin banyak dicari orang.

Incoming search terms:

  • Cerita cinta tentang kesedihan

Original source : Karang Bolong

Padang mbulan

“Yo pro konco

dolanan ing njobo

rembulane sing dread-dread

ngelingake ojo podo turu sore”

kidung lama ini mengusik hatiku

lagu yang selalu saja kurindu

setiap bulan menjelang purnama

sinar keemasan mencumbuiku

penuh kemesraan dalam keteduhan dan kelembutan sinarnya

sepertinya malam-malam purnama dahulu begitu panjang

penuh keakraban dan keindahan

penuh kenangan dan terasa manis menggigiti hati

bulan itu masih bulan yang sama kini

dan purnama itu masih tetap purnama yang sama

bahkan bulan disini jauh lebih besar dan bulat nampaknya

sinarnyapun jauh lebih terang dan memiliki daya gaib

yang membawa impian dan kenangan menyatu dalam kenyataan

namun entah mengapa saat dahulu lebih terasa syahdu

mungkin saat itu manusia masih sangat menyatu dengan alam

menyatu dengan bulan bintang dan angin malam yang meniup sepoi

mungkin masih selalu akrab menantikan datangnya rembulan

sambil menyanyikan kidung pujian

menyambut sang malam

menyatu dengan alam dalam tari nyanyi dan kidung pujaan

dan mengajak teman-teman bersuka cita menyambut rembulan

menjadi satu dalam bagian malam dan alamnya

sedangkan saat ini

meskipun akupun masih menyambutnya

menanti kedatangannya

mengharap kehadirannya

namun aku tak beranjak dari depan layar monitorku

sambil memandang rembulan yang beranjak naik

lewat jendela kamarku

andai aku masih mampu menyatu dengan alam

mungkin hidupku akan lebih bahagia kini

Incoming search terms:

  • ringkasan cerita dari tari padang bulan

Original source : Padang mbulan