Romo Gatu dan Penduduk Desa yang Mendadak Berkecukupan

Saat Romo Gatu datang di desa
Kebon Agung, kebanyakan masyarakat di sana masih merasa dirinya miskin dan
terbelakang dibanding orang-orang kota. Mereka juga minder kepada orang-orang
desa yang merantau ke kota. Banyak juga pemuda Kebon Agung yang merantau ke
kota menjadi

Incoming search terms:

  • cerita pendek tentang seorang nenek
  • cerpen kisah seorang penjual koran
  • unsur intrinsik cerpen Kisah Seorang Penjual Koran
  • unsur intristik cerpen kisah seorang penjual koran

Original source : Romo Gatu dan Penduduk Desa yang Mendadak Berkecukupan

Cerpen – Tak Perlu Membalas Kebaikan Ku,Sahabat

“Tak Perlu Membalas Kebaikan Ku,Sahabat”
Oleh : Lorensius Alfian

“Aras,Aras, tunggu sebentar”Sekolah baru saja usai, Aras sedang berjalan pulang ketika mendengar suara seseorang memanggilnya. Dia menoleh ke belakang. Terlihat Tika berlari mengejarnya dengan tergopoh-gopoh.“Ade breed,Ka?”, tanya Aras keheranan.

“Tunggu amb,Aku mau balekan ini ”, kata Tika sambil memberikan sebuah tas plastik kepada Aras.Aras melihat isi tas plastik tersebut,lalu bertanya, “Waii,nape dibalekan te,dak suke constant sepatu ni e?”
“Ndakk, ee…, maksudnye, aku suke sepatu nan.”
“Lalu ngape kau balekkan,kau ndak perlu e?”, tanya Aras menyelidik.“Bujurnye aku perlu sepatu tu, tapi….”, suara Tika terhenti,dia ragu-ragu untuk meneruskannya.
“Tapi apa,Ka?”, tanya Aras lagi.
Tika teringat dengan kejadian kemarin. Ketika itu,dia baru saja pulang dari sekolah. Saat masuk rumah,segera ditemuinya Ibunya yang sedang memasak di dapur.

“Mak…Mak… liat amb”, katanya sambil berjingkat-jingkat penuh kegirangan.Ibunya menengok sebentar ke arah Tika, kemudian kembali sibuk mengaduk-aduk masakannya di panci, “Liat apenye?”
“Liat amb Mak, bagus kan?”, kata Tika sambil mengangkat kaki kirinya,menunjukkan sepatu baru yang sedang dipakainya.Ibunya menengok sekali lagi sambil berkata, “Iye, bagus sepatu yang kau pakai nan. Pinjam constant siape??”
“Ni punye ku amb Mak e”, kata Tisa dengan nada gembira.
“E..gian ye?? Jadi kau udah buka tabungan kau e??. Memang udah banyak amb e duit tabungan kau nan?”, tanya ibunya.
“Ndak, duit nan masih disian mah. Sepatu ni dikasik Aras”
“Aeh bujur sikit kau nan?”, tanya ibunya tidak percaya. “Ingat,usah sembarangan mintak-mintak constant kawan kau ye”, lanjutnya.

“Adak agh ehh Mak”, sergah Tika, “ceritanye gini: kebetulan Aras kan beli sepatu baru minggu te, tapi kebesakan sedikit. Ditawarkannye ke aku,lalu ku cobe amb,muat. Lalu dikasiknye amb ke aku”.

“ehhh untung gik kau te Ka. Umak,Bapaknye tau dak e?”, tanya ibu Tika.
“Ye lahh. Hair gak berani Aras berik barang dak ijin constant Umaknye te bah. Sidak baik ye Mak”, kata Tika.
“Aok. Tapi Mama dak yakin bapak kau suke”, kata ibu Tika sambil tetap memasak.
“Adak aghh Mak,Bapak nan pasti sukenye”, kata Amanda yakin, “Tunggu jak kalau Bapak kau pulang nantik”, wanti-wanti ibunya.
Benar. Ketika ayahnya pulang ke rumah setelah seharian bekerja,Tika langsung menyambutnya dengan memamerkan sepatu barunya. Tapi jawaban ayahnya seperti perkiraan ibunya tadi.

“Breed te? Kau diberik barang gik im??. Cepat balek kan. Kite udah dapat banyak dari sidak,Ka. Dolok tas. Bulan lalu seragam kau pun diberik bapak Aras,uang sekolah kau pun dilunaskannye pas Bapak dak punye duit. Udah dak teitung gik lah pemberian sidak untuk kite”
“Tapi Aras bah ikhlas berik ini untuk aku”, kata Tika membela diri.

“Benar. Bapak ndak sangkal ketulusan hati sidak. Tapi ini udah terlalu banyak. Sidak selalu bantu kite,tapi breed yang bise kite kasik ke sidak? Ndak ade agh”, kata ayah Tika dengan sedih.

“Sidak dak mauk dibalas mah Pak”, kata Tika mencoba meyakinkan ayahnya.
“Dak bise. Pokoknye sepatu nan harus dibalekkan cepat”, jawab ayah Tika dengan tegas. “Usah terimak gik barang dari sidak. Keluarge Pak Dedi memang baik,tapi kite dak bise terus terima bantuan dari sidak. Breed yang bise kite berik ke sidak,sidak nan kaye,dak perlu sesuatu dari kite yang miskin ni”.

“Tapi Pak…”, Tika mencoba menawar.
“Ndak ade tapi tapi, ini dah jadi keputusan Bapak. Sepatu tu udah harus dibalekkan besok”.
“Ye Pak’, kata Tika menyerah.

Aras memandang wajah Tika yang sedih ketika menceritakan alasannya mengembalikan sepatu pemberiannya tersebut.
“Udah amb, dak usah sedih. Gimane kalau sepatu ni tetap kau simpan,tapi usah sampai ketauan Bapak kau”, kata Aras menghibur.

“Ndak agh. Aku udah janji harus balekkan sepatu ni”, kata Tika.
“Oke ku simpankan dolok sepatu ini,nanti kalo Bapak kau dak marah gik, kau boleh ambik gik mahh”
“Aoklah Ras, kau memang baik. Kau ni memang sahabat sejatiku”, kata Tika sambil memeluk sahabat karibnya itu.
Keesokan harinya, Aras tidak masuk sekolah. Tika mencari-cari ke manapun di sekolah tapi Aras tetap tidak tampak juga. Pada jam pelajaran ketiga Pak Intellectual memberi pengumuman kepada murid-murid sekelas Tika:
“Anak-anak, ada kabar buruk. Pak Dedi,bapak Aras mengalami kecelakaan mobil pagi tadi. Beliau terluka parah dan sekarang ada di rumah sakit memerlukan darah yang cukup banyak. Bapak akan segera meminta intellectual-intellectual untuk mendonorkan darah bagi Pak Dedi. Kalian pulang lebih awal.”
Anak-anak segera berebut keluar kelas untuk pulang. Tika juga segera keluar ruangan dan berlari menuju ke tempat ayahnya biasa bekerja. Terlihat ayahnya masih duduk di atas becaknya menunggu calon penumpang. Tika bergegas menemuinya dan menceritakan pengumuman Pak Intellectual tadi.
Mereka berdua segera menuju ke rumah sakit dan menuju ke ruang gawat darurat di mana ayah Aras dirawat. Setelah ayah Tika menjelaskan maksud kedatangannya,seorang kerabat Pak Dedi menunjukkan jalan ke ruang PMI untuk donor darah. Setelah darahnya diambil,terlihat para intellectual sekolah Aras berdatangan dan sebagian mendonorkan darahnya. Berkat sumbangan darah dari ayah Tika dan para intellectual,kondisi Pak Dedi segera membaik.

“Terima kasih banyak, Pak Iwan”, kata Pak Dedi pada saat menengok Pak Dedi di rumah sakit. “Berkat bantuan Pak Iwan, saya bisa pulih kembali seperti sediakala”.

“Ah adak Pak, itu memang udah kewajiban untuk bantu sesama. Kan selama ni keluarga Pak Dedi sudah sangat sering membantu kami,tanpa kami mampu membalas”, kata ayah Tika.

“Pak Iwan tidak perlu memikirkan untuk membalasnya. Kami melakukan semuanya selama ini dengan ikhlas. Tika kan kawan Aras yang barrier akrab dan sering membantu Aras dalam belajar dan mengerjakan tugas. Kirenye itu pun udah cukup. Karna itu mak kasih ye Pak Iwan udah menyelamatkan nyawa saya”, kata ayah Aras sambil tersenyum.

“Constant-constant Pak, kami juga mengucapkan banyak mak kasih atas bantuan yang dak tehitung selama ini”, kata Pak Iwan.
Tika dan Aras saling berpandangan dengan gembira mendengar percakapan kedua orang tua mereka.

“Kalau gian, boleh amb aku kasikan gik sepatu yang kemaren”, tanya Aras.
“Ye..bolehlah . Kan Pak Iwan?. Ini sebagai ucapan terima kasih kami”, kata ayah Aras cepat-cepat.
“Yelahh kalau gian”, jawab ayah Tika tidak mampu menolaknya.

“Asikk”, teriak Aras dan Tika bersama-sama sambil melompat-lompat gembira.
“Ha….ha….ha….”, ayah ibu Aras dan Tika tertawa berderai melihat kelakuan kedua anak itu.

“END”

Incoming search terms:

  • arti dari cerpen kabut ibu malang 11 11 11
  • cerpen 1000 kata
  • cerpen gembira
  • cerpen persahabatan sedih
  • contoh cerpen tentang persahabatan 1000 kata
  • kumpulan cerita bahasa inggris dengan tema memasak
  • kumpulan cerpen memasak didapur dengan mak su
  • narrative text tentang dua saudara satu kaya satu miskin yg menemukan lobak yg besar bahasa indonesia inggris

Original source : Cerpen – Tak Perlu Membalas Kebaikan Ku,Sahabat

Kejutan Upacara Bendera

Sebulan setelah ditunjuk jadi manajer SDM, Rowisky
mendapat tugas menangani upacara bendera yang rutin diselenggarakan kantor pada
saat tanggal 17 Agustus. Berdasar pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Rowisky
merasa bahwa karyawan tidak begitu tertarik mengikuti upacara bendera, banyak
diantara mereka yang datang sekedar untuk menggugurkan tugas.

Tahun ini Rowisky ingin membuat upacara bendera lebih
menarik, dan bukan sekedar seremonial yang datar-datar saja tanpa greget di
mata karyawan. Makanya Rowisky sengaja menyewa assemble marching band untuk
menyanyikan lagu-lagu perjuangan maupun lagu-lagu insert untuk memeriahkan upacara.
Namun Rowisky merasa belum cukup. Dia merasa ada hal yang lebih nendang lagi
yang perlu dilakukan.

Setelah berhari-hari berpikir keras dan mencari masukan
sana-sini akhirnya Rowisky menemukan cara jitu untuk menarik perhatian para
karyawan terhadap upacara. Ide “gila” Rowisky adalah menjadikan para kepala
divisi sebagai petugas upacara. Kepala Divisi adalah jabatan karir tertinggi bagi
karyawan di perusahaan, hanya setingkat di bawah direksi.

Tiga orang Kepala Divisi Produksi akan bertindak sebagai
petugas pengibar bendera. Kepala Divisi QC sebagai pembaca teks Pancasila.
Kepala Divisi QA sebagai pembaca pembukaan UUD 45. Kepala Divisi Bengkel sebagai
komandan upacara. Kepala Divisi Keuangan sebagai pembaca doa. Kepala Divisi Perencanaan
sebagai

Incoming search terms:

  • cerita lucu tentang penjual koran di medan
  • cerita takabur
  • contoh percakapan saat mendapatkan kejutan
  • tema cerpen kisah seorang penjual koran
  • unsur intrinsik dan ektinsik dari Kisah seorang penjual koran

Original source : Kejutan Upacara Bendera

Sumur di Belakang Rumah Nenek

Hampir semua cucu-cucu yang datang ke rumah nenek
menanyakan nasib sumur itu. Apa gerangan yang terjadi dengan sumur itu sekarang?
Apakah dia masih bisa dipakai?. Pertanyaan standar yang diajukan mereka saat
datang ke rumah ini.

Sebenarnya bagiku sumur itu adalah sumur biasa saja,
seperti sumur di rumahku dan sumur-sumur lain yang ada di kampung ini. Sebuah
sumur berdiameter satu setengah meter, dengan dinding setinggi satu meter dari
permukaan tanah, tidak dilengkapi atap dan kedalaman sumur kurang dari delapan
meter.

Incoming search terms:

  • Ceritamaksiatnenektua
  • cerita maksiat nenek dan cucu
  • cerita maksiat nyata
  • Dongeng maksiat nyata persetubuhan nikmat
  • kisah nyata persetubuhan cucu dan nenek

Original source : Sumur di Belakang Rumah Nenek

S e r a g a m

Cerpen AK Basuki
Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.
Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.
Dia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu.

”Jadi, apa yang membawamu kemari?”
”Kenangan.”
”Palsu! Kalau ini hanya soal kenangan, tidak perlu menunggu 10 tahun setelah keluargamu kembali dan menetap 30 kilometer saja dari sini.”
Saya tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan meluncur seperti peluru-peluru yang berebutan keluar dari magasin.
Bertemu dengannya, mau tidak mau mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya.
Malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Teplok yang menjadi penerang ruangan diletakkan di atas meja, hampir mendekat sama sekali dengan wajahnya jika dia menunduk untuk menulis. Di atas amben, ayahnya santai merokok. Sesekali menyalakan pemantik jika bara rokok lintingannya bathe bertemu potongan besar cengkeh atau kemenyan yang tidak lembut diirisnya. Ibunya, seorang perempuan yang banyak tertawa, berada di sudut sembari bekerja memilin sabut-sabut kelapa menjadi tambang. Saat-saat seperti itu ditambah percakapan-percakapan apa saja yang mungkin berlaku di antara kami hampir setiap malam saya nikmati. Itu yang membuat perasaan saya semakin dekat dengan kesahajaan hidup keluarganya.
Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Sering memang saya mendengar anak-anak beramai- ramai berangkat ke sawah selepas isya untuk mencari jangkrik. Jangkrik-jangkrik yang diperoleh nantinya dapat dijual atau hanya sebagai koleksi, ditempatkan di sebuah kotak, lalu sesekali digelitik dengan lidi atau sehelai ijuk agar berderik lantang. Dari apa yang saya dengar itu, proses mencarinya sangat mengasyikkan. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu toh saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak.
”Tidak ganti baju?” tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat. Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Saya tahu, dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasanya sangat-sangat tidak elok.
”Tanggung,” jawabnya.
Sambil menggerutu tidak senang, saya mengambil alih obor dari tangannya. Kami lalu berjalan sepanjang galengan besar di areal persawahan beberapa puluh meter setelah melewati kebun dan kolam gurami di belakang rumahnya. Di kejauhan, terlihat beberapa titik cahaya obor milik para pencari jangkrik selain kami. Rasa hati jadi tenang. Musim kemarau, tanah persawahan yang pecah-pecah, gelap yang nyata ditambah angin bersiuran di areal terbuka memang memberikan sensasi aneh. Saya merasa tidak akan berani berada di sana sendirian.
Kami turun menyusuri petak-petak sawah hingga jauh ke barat. Hanya dalam beberapa menit, dua ekor jangkrik telah didapat dan dimasukkan ke dalam bumbung yang terikat tali rafia di pinggang sahabat saya itu. Saya mengikuti dengan antusias, tapi sendal jepit menyulitkan saya karena tanah kering membuatnya berkali-kali terlepas, tersangkut, atau bahkan terjepit masuk di antara retakan-retakannya. Tunggak batang-batang padi yang tersisa pun bisa menelusup dan menyakiti telapak kaki. Tapi melihat dia tenang-tenang saja walaupun tak memakai alas kaki, saya tak mengeluh karena gengsi.
Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Lidah api bergoyang menjilat wajah saya yang tengah merunduk. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya!
”Berguling! Berguling!” terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coklatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Saya menurut dalam kepanikan. Tidak saya rasakan kerasnya tanah persawahan atau tunggak-tunggak batang padi yang menusuk-nusuk tubuh dan wajah saat bergulingan. Pikiran saya hanya terfokus pada api dan tak sempat untuk berpikir bahwa saat itu saya akan bisa mendapat luka yang lebih banyak karena gerakan itu. Sulit dilukiskan rasa takut yang saya rasakan. Malam yang saya pikir akan menyenangkan justru berubah menjadi teror yang mencekam!
Ketika akhirnya api padam, saya rasakan pedih yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke leher. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya, sementara sebagian kainnya yang gosong menyatu dengan kulit. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan. Lalu dengan suara bergetar, dia mencoba membuat isyarat dengan mulutnya. Sayang, tidak ada seorang pun yang mendekat dan dia sendiri kemudian mengakui bahwa kami telah terlalu jauh berjalan. Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya di atas punggungnya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat. Sayang, sesampai di rumah bukan lain yang didapatnya kecuali caci maki Ayah dan Ibu. Pipinya sempat pula kena tampar Ayah yang murka.
Saya langsung dilarikan ke puskesmas kecamatan. Seragam coklat Pramuka yang melingkupi tubuh saya disingkirkan entah ke mana oleh mantri. Tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk meminta kepada Ayah agar menggantinya setelah itu. Dari yang saya dengar selama hampir sebulan tidak masuk sekolah, beberapa kali dia terpaksa membolos di hari Jumat dan Sabtu karena belum mampu membeli gantinya.
”Salahmu sendiri, tidak minta ganti,” kata saya selesai kami mengingat kejadian itu.
”Mengajakmu saja sudah sebuah kesalahan. Aku takut ayahmu bertambah marah nantinya. Ayahku tidak mau mempermasalahkan tamparan ayahmu, apalagi seragam itu. Dia lebih memilih membelikan yang baru walaupun harus menunggu beberapa minggu.”
Kami tertawa. Tertawa dan tertawa seakan-akan seluruh rentetan kejadian yang akhirnya menjadi pengingat abadi persahabatan kami itu bukanlah sebuah kejadian meloloskan diri dari maut karena waktu telah menghapus semua kengeriannya.
Dia lalu mengajak saya ke halaman belakang di mana kami pernah bersama-sama membuat kolam gurami. Kolam itu sudah tiada, diuruk sejak lama berganti menjadi sebuah gudang tempatnya kini berkreasi membuat kerajinan dari bambu. Hasil dari tangan terampilnya itu ditambah pembagian keuntungan sawah garapan milik orang lainlah yang menghidupi istri dan dua anaknya hingga kini.
Ayah dan ibunya sudah meninggal, tapi sebuah masalah berat kini menjeratnya. Dia bercerita, sertifikat rumah dan tanah peninggalan orangtua justru tergadaikan.
”Kakakku itu, masih sama sifatnya seperti kau mengenalnya dulu. Hanya kini, semakin tua dia semakin tidak tahu diri.”
”Ulahnya?” Dia mengangguk.
”Kau tahu, rumah dan tanah yang tidak seberapa luas ini adalah milik kami barrier berharga. Tapi aku tidak kuasa untuk menolak kemauannya mencari pinjaman modal usaha dengan mengagunkan semuanya. Aku percaya padanya, peduli padanya. Tapi, dia tidak memiliki rasa yang sama terhadapku. Dia mengkhianati kepercayaanku. Usahanya kandas dan kini beban berat ada di pundakku.” Terbayang sosok kakaknya dahulu, seorang remaja putus sekolah yang selalu menyusahkan orangtua dengan kenakalan-kenakalannya. Kini setelah beranjak tua, masih pula dia menyusahkan adik satu-satunya.
”Kami akan bertahan,” katanya tersenyum saat melepas saya setelah hari beranjak sore. Ada kesungguhan dalam suaranya.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya tidak pernah lepas dari sahabat saya yang baik itu. Saya malu. Sebagai sahabat, saya merasa belum pernah berbuat baik padanya. Tidak pula yakin akan mampu melakukan seperti yang dilakukannya untuk menolong saya di malam itu. Dia telah membuktikan bahwa keberanian dan rasa tanggung jawab yang besar bisa timbul dari sebuah persahabatan yang tulus.
Mata saya kemudian melirik seragam dinas yang tersampir di sandaran jok belakang. Sebagai jaksa yang baru saja menangani satu kasus perdata, seragam itu belum bisa membuat saya bangga. Nilainya jelas jauh lebih kecil dibanding nilai persahabatan yang saya dapatkan dari sebuah seragam coklat Pramuka. Tapi dia tidak tahu, dengan seragam dinas itu, sayalah yang akan mengeksekusi pengosongan tanah dan rumahnya.

Incoming search terms:

  • cerita pendek tentang pramuka bhs inggris
  • cerpen bhs inggris tema pramuka
  • sejarah telapak kaki jonggrang kalapitung

Original source : S e r a g a m

Cerpen – Pangeran Kecebong dan Putri Kodok

PANGERAN KECEBONG DAN PUTRI KODOKOleh : Lorensius Alfian
“Hai, Putri Kodok! Gimana kabarmu hari ini?!” Lagi-lagi ada sepucuk surat di dalam tasku. Hampir setiap hari ada surat di dalam tasku yang mengatasnamakan dirinya ‘Pangeran Kecebong’. Huh, gila aja. Siapa sih yang usil kayak gini?! Pikirku dalam hati.
Aku sama sekali tidak pernah membalas pesan itu. Apa gunanya?! Tapi semakin lama aku semakin penasaran. Apa mungkin ini ulah Ririn,sahabatku?! Ah, pasti dia. Siapa lagi yang tau kalau aku tidak suka kodok.
***

“Hai, Rin! Aku mau ngomong sesuatu sama kamu”. Aku langsung duduk di sebelah sahabatku.
“Mau ngomong apa sih, ? Serius banget…” jawab Ririn. “Aku pengen tanya masalah surat misterius itu. Jangan-jangan, itu ulah kamu ya?!” Aku memandang Ririn serius.
“Huft,, mentang-mentang aku deket sama kamu, masak kamu nuduh aku sih. Penggemar rahasia kali…” Ririn sedikit mengodaku.
Memang sih, aku dan sahabatku sudah berteman lama. Mana mungkin dia melakukan teror semacam ini?! Ah, lalu siapa sih?! Aku bertanya-tanya dalam hati.
Bel panjang menandakan jam sekolah telah berakhir. Hari ini aku tidak ada acara. Barrier aku akan menyibukkan diri di rumah. Baru saja aku selesai ganti baju, HP-ku berbunyi. Nomor tak dikenal. Siapa ya?! Pikirku.
“Hai, Putri Kodok! Pasti baru mau istirahat ya… Jangan lupa, besok ada tugas matematika-Pangeran Kecebong-.”
Aku terkejut. Bagaimana mungkin dia tau nomor HP-ku?! Baru saja ingin ku balas, sudah ada pesan lagi.
“Aku ingin suatu saat kita bisa berteman. Oya, kenapa sih kamu tidak pernah membalas pesanku?”
Benar-benar aneh. Bagaimana aku bisa menjadikannya teman jika aku tak mengenalnya?! Siapa sih dia?! Aku semakin penasaran pada Pangeran Kecebong ini. Pasti dia orang yang dekat denganku. Kalau tidak, mana mungkin dia tau kalau besok ada tugas matematika?! Aku menggaruk-garuk kepala. Tanpa ragu aku langsung membalas pesan itu.“Bagaimana aku bisa menjadikanmu teman?! Aku saja tidak mengenalmu.” Ku tekan tombol Hurl.Beberapa menit kemudian, satu SMS masuk . . .
“Mmm. . . Besok kamu datang saja ke taman bunga belakang sekolah… Aku tunggu kamu di sana. Oke! Sekarang cepat tidur! Tidak baik kodok tidur malam-malam.” Ia mengakhiri percakapan ini.
“Huft… Oke! Besok aku akan segera tau siapa sebenarnya si Pangeran Kecebong ini.” Aku segera memejamkan mata. Tidak sabar ingin melihat si Pangeran Kecebong. Apa benar dia ingin menjadi temanku?! Hahh. . .
***
Keesokan harinya, aku semakin penasaran dengan Pangeran Kecebong. Aku menceritakan SMS yang dikirim Pangeran Kecebong semalam pada Ririn. Bukannya membantuku, eh malah menggodaku.
“Temui saja lah… Daripada penasaran terus…” Ririn mulai memberikan solusi.
“Oke lah… Nanti aku akan menemuinya pulang sekolah.” Aku mengiyakan usulan Ririn. Toh,, setelah aku mengenalnya, siapa tau dia adalah anak yang baik. Kalau dapat banyak teman kan lebih baik, pikirku.
Bel panjang mengakhiri pelajaran hari ini. Jantungku berdegup kencang. Aku semakin berpikir macam-macam. Apa dia orang jahat?! Jangan-jangan dia ingin mencelakaiku?! Ah, tidak!Dengan langkah pelan, aku memberanikan diri melangkah menuju taman belakang sekolah. Suasananya sepi. Hanya suara daun kering yang terseret angin kesana-kemari. Ada seseorang duduk di sebuah bangku yang ada di taman. Aku melangkah mendekatinya. Sepertinya,, aku pernah melihatnya…
“Hai, apa kamu Pangeran Kecebong?” Aku bertanya dengan gugup. “Eh, hai… kamu sudah datang…” Dia membalikkan wajahnya padaku. Aku terkejut bukan main. Andre?! Apa benar dia?! “Kok bengong sih… Putri Kodok!!” Tanya lelaki itu.
“Eh, maaf. Kamu?! Kamu Pangeran Kecebong itu, kan?!” Aku masih tidak percaya. Parahnya, aku masih asyik dengan tampang polosku yang bikin dia ketawa habis-habisan.
“Iya, Lauraaa. . . Udah dong, jangan pasang tampang polos gitu! Bikin perut sakit aja… Hahaha. . .” Tawanya makin menjadi-jadi.
“Oke, to the top aja. . . Apa maksud kamu kirimin pesan-pesan itu ke aku?!” Aku bertanya dengan ketus abis.
“Maaf deh,,, aku kan udah bilang kalau aku pengen jadi temen kamu.”
“Emang apa alasan kamu pengen jadi temen aku?! Dan kenapa kamu pakai nama Pangeran Kecebong dan manggil aku Putri Kodok…”
Aku memandangnya serius.
“Sebenarnya,, aku udah lama pengen jadi teman kamu. Apa kamu ingat, waktu MOS dulu kamu pernah marah-marah gara-gara kodok yang aku tangkap lepas ke kamu?!” dia tertawa memandangku.
“Jadi, kamu si Andre yang culun itu?! Gila,, sekarang kamu udah beda ya. . .”
“Hehe… Iya dong… Sejak saat itu, aku penasaran sama kamu. Aku pengen kenal sama kamu dan jadi temen kamu. Jadi gimana?!”
“Gimana apanya?!”
“Ya. . . kamu mau gak, jadi temen aku…..”
“Oke… Sekarang kita temen… Supporter Unendingly Pangeran Kecebong…”
aku mengulurkan jari kelingkingku padanya yang langsung disambutnya.
“Makasih Putri Kodok…”
Kami sama-sama tertawa. Kami sekarang resmi berteman. So, sekarang Pangeran Kecebong n Putri Kodok adalah teman… Untuk sekarang dan selamanya…

***PROFIL PENULISNama : Lorensius Alfian
TTL : 11Agustus 1996
Facebook : http://www.facebook.com/LorenzoAlfianSyaraiTwitter : http://www.chirrup.com/bilaalfian

Incoming search terms:

  • Cerpen yg diubah jadi naskah drama
  • Conteh cerpen yang di ubah menjadi naskah drama dengan 6 pemain
  • contoh cerpen yang diubah menjadi naskah drama
  • contoh cerpen yang diubah menjadi teks drama
  • contoh cerpen yang sudah diubah menjadi dialog
  • dialog bahasa indonesia 5 orang tentang persahabatan putri
  • dialog bahasa inggris ungkapan cinta seorang pangeran kepada putri
  • DIcintai teman gara2 laqodjaakum
  • drama basa jawa tentang pangeran kodok

Original source : Cerpen – Pangeran Kecebong dan Putri Kodok

Lamaran Kerja Anda Ditolak? Mungkin Ini Penyebabnya!

Sweetie Supporter,

[Image: reject.jpg]
Lamaran Kerja Anda Ditolak? Mungkin Ini Penyebabnya!

Di samping mencari lowongan pekerjaan yang semakin susah, kompetisi lamaran kerja pun semakin tinggi dan saat Anda berhasil sampai ke tahap interview, pasti Anda akan senang karena merasa telah berhasil menyisihkan banyak orang berkat gelar atau prestasi yang dimiliki. Tapi, bagaimana jika sampai sekarang Anda masih belum mendapatkan pekerjaan, padahal Anda kira telah berhasil menarik perusahaan saat proses interview? Mungkin salah satu hal ini adalah penyebabnya!


Meminta Gaji Terlalu Tinggi

Banyak penelitian menunjukkan bahwa sejumlah perusahaan saat ini berusaha menekan anggaran dengan cara mengurangi gaji pegawai. Faktanya banyak sekali para pencari kerja yang akhirnya ditolak perusahaan impian karena gaji yang diminta dinilai terlalu tinggi.


Ada yang Lebih Hebat

Kompetisi pekerjaan memang sangat tinggi dan semakin banyak pula orang berkualitas yang mengincar pekerjaan serupa dengan Anda. Jadi, alasan Anda tidak mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang dilamar mungkin saja karena adanya orang lain yang dinilai lebih hebat dibanding Anda.


Penampilan Buruk

Kesan pertama yang dilihat pewawancara merupakan penentu diterima atau tidaknya Anda di perusahaan tersebut. Jika Anda mendatangi tempat wawancara dengan pakaian yang tidak rapi, riasan yang berlebihan, atau rambut yang tidak tertata dengan baik pasti perusahaan akan berpikir ulang untuk merekrut Anda.


Datang Terlambat

Ketika memenuhi panggilan interview dan Anda datang terlambat, hal itu akan menggambarkan bagaimana diri Anda dan antusiasme Anda dalam bekerja nantinya. So, datanglah 30 menit sebelum waktu wawancara dimulai dan ketahui terlebih dulu kondisi lalu lintas yang akan dilewati ketika menuju tempat wawancara agar berhasil sampai tepat waktu.


Kepribadian Kurang Baik

Ketika wawancara berlangsung, tidak hanya jawaban Anda yang akan dinilai, kepribadian pun menjadi faktor penting sebagai penentu diterima kerja. Jika Anda memiliki sifat menyebalkan atau mudah marah tentu perusahaan tidak akan mendapat Anda meskipun Anda dapat bekerja dengan sangat baik.


Kualifikasi Terlalu Tinggi

Hal ini sangat memungkinkan terjadi karena secara realistis perusahaan akan menolak karyawan baru yang memiliki kualifikasi yang terlalu tinggi. Hal ini disebabkan karena Anda memiliki pengalaman kerja yang lama dibandingkan dengan atasan atau keterampilan kerja Anda yang terlalu baik.

Apakah alasan di atas salah satunya ada pada diri Anda? Jika ya, sekarang saatnya Anda merubah persepsi dan menjadikannya sebagai pengalaman agar nantinya proses pencarian lowongan kerja terbaru dapat berjalan dengan lebih baik lagi.

Salam,

Sources:

vemale.com/link/karier/20215-5-alasan-anda-belum-juga-diterima-kerja.html, diakses pada 18 September 2014.

bisnis.liputan6.com/scan/821024/6-penyebab-ditolak-saat-melamar-kerja, diakses pada 18 September 2014.

merdeka.com/gaya/6-alasan-utama-gagal-diterima-kerja.html, diakses pada 18 September 2014.

Incoming search terms:

  • unsur intristik cerita rakyat teluknaga
  • contoh cerita rakyat teluk naga tentang patih naga dan sembilan gadis tionghoa

Original source : Lamaran Kerja Anda Ditolak? Mungkin Ini Penyebabnya!

Ternyata Start Van Gaal tidak lebih baik dari David Moyes

Dokter Tipster – Manchester United belum juga menemukan performa terbaiknya. Hingga lima pertandingan Liga Inggris, Setan Merah justru terpuruk ke posisi 12 papan klasemen sementara.

Pelatih anyar Louis Van Gaal yang digadang mampu mengembalikan lagi kejayaan United justru seakan menjadi pesakitan dan mulai dipertanyakan kemampuannya.

Ada fakta menarik jika membandingkan Louis van Gaal dan David Moyes saat menangani Manchester United. Setelah lima pertandingan pertama English Premier League, ternyata initiation Louis van Gaal lebih buruk dari David Moyes dalam menakhodai Manchester United.

Berikut catatan David Moyes dibandingkan dengan Louis Van Gaal.

1. Poin dengan Jumlah Laga yang Sama

Setelah melewati lima pertandingan Premier League musim lalu di bawah kepelatihan David Moyes, United berhasil mengumpulkan tujuh poin, sementara untuk musim ini dengan jumlah pertandingan yang sama, mereka hanya mengoleksi lima poin. Jelas ini adalah mimpi buruk bagi United, yang berharap adanya perbaikan. Secara historis, Van Gaal mencatatkan awal terburuk bagi United di Premier league.

2. Jumlah Uang yang Dihabiskan

Van Gaal menghabiskan hampir 160 juta beat untuk mendatangkan enam wajah baru pada musim panas ini. pada bursa conveying yang sama musim lalu, sebelum mendatangkan Juan Mata dengan harga 39 juta beat pada bulan Januari, Moyes menghabiskan 28 juta beat, dan hanya membawa satu pemain: Marouane Fellaini.

3. Pemain Muda yang Dibawa

Moyes membawa pemain sayap Belgia Adnan Januzaj, di mana musim ini ia belum pernah menjadi starter. Sementara itu, Van Gaal membawa Tyler Blackett. Sayangnya kontribusi barrier besar Blackett sejauh ini adalah kartu merah yang ia dapat pada pertandingan melawan Leicester Capital.

4. Jumlah Kebobolan

Tiga atau empat pemain di lini belakang, pertahanan United selalu saja menjadi sorotan. Dalam semua kompetisi musim ini mereka telah kebobolan 11 gol. Di bawah arahan Moyes sebelum tanggal 22 September, United hanya kemasukkan empat gol.

5. Pengalaman

Untuk poin yang satu ini mungkin hanya sekadar intermezo. Setidaknya meski minim pengalaman, Moyes mendapat kepercayaan dari Sir Alex Ferguson untuk menggantikan dirinya. Prestasi terbaiknya adalah sekali masuk ke babak mess about-bitter Liga Champions dan finis di urutan keempat. Semnatar itu Van Gaal berhasil meraih delapan kali gelar juara liga di empat negara berbeda dan Liga Champions bersama Ajax pada musim 1994/1995.
(Sumber: iberita)


Original source : Ternyata Start Van Gaal tidak lebih baik dari David Moyes

Ada yang tau Gan?

Assalamualaikum Agan & Aganwati

Ini first placement ane Gan.. sebelumnya ane udah form a junction with KasKus agak lama cuman ane jarang mainin karena ane bingung gimana memainkannya.. tapi setelah mencoba belajar ini semua secara otodidak Akhirnya ane ngerti dikit Gan… btw bukan ini yang pengen Ane bicarakan sebenarnya…. Ane pengen curhat cuman bingung mau sama siapa…? akhirnya ane coba memberanikan diri untuk berbicara didunia KasKus ini…

ohh iya Gan ane Malik, baru lulus SMA ane lagi baru masuk kuliah nih… ane mau tanya soal hal-hal yang harus dilakukan ketika harus kuliah… ane masih bingung dan galau sekali ketika memasuki tahap ini… ane nggak tau harus gimana soalnya ane sebenarnya anak yang agak tertutup jadi susah untuk bergaul.. kira2 ada yang bisa kasih saran? apa yang harus ane lakukan agar bisa hilang nih penyakit anti sosial ane?? maaf Gan kalau agak aneh Thread ane.. masih pemula tolong jangan di ataupun ini kalau bisa dikasih ini ajah Gan btw thankfulness before pro the scan


Original source : Ada yang tau Gan?