Kejutan Upacara Bendera

Sebulan setelah ditunjuk jadi manajer SDM, Rowisky
mendapat tugas menangani upacara bendera yang rutin diselenggarakan kantor pada
saat tanggal 17 Agustus. Berdasar pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Rowisky
merasa bahwa karyawan tidak begitu tertarik mengikuti upacara bendera, banyak
diantara mereka yang datang sekedar untuk menggugurkan tugas.

Tahun ini Rowisky ingin membuat upacara bendera lebih
menarik, dan bukan sekedar seremonial yang datar-datar saja tanpa greget di
mata karyawan. Makanya Rowisky sengaja menyewa assemble marching band untuk
menyanyikan lagu-lagu perjuangan maupun lagu-lagu insert untuk memeriahkan upacara.
Namun Rowisky merasa belum cukup. Dia merasa ada hal yang lebih nendang lagi
yang perlu dilakukan.

Setelah berhari-hari berpikir keras dan mencari masukan
sana-sini akhirnya Rowisky menemukan cara jitu untuk menarik perhatian para
karyawan terhadap upacara. Ide “gila” Rowisky adalah menjadikan para kepala
divisi sebagai petugas upacara. Kepala Divisi adalah jabatan karir tertinggi bagi
karyawan di perusahaan, hanya setingkat di bawah direksi.

Tiga orang Kepala Divisi Produksi akan bertindak sebagai
petugas pengibar bendera. Kepala Divisi QC sebagai pembaca teks Pancasila.
Kepala Divisi QA sebagai pembaca pembukaan UUD 45. Kepala Divisi Bengkel sebagai
komandan upacara. Kepala Divisi Keuangan sebagai pembaca doa. Kepala Divisi Perencanaan
sebagai

Incoming search terms:

  • tuban bercerita

Original source : Kejutan Upacara Bendera

Sumur di Belakang Rumah Nenek

Hampir semua cucu-cucu yang datang ke rumah nenek
menanyakan nasib sumur itu. Apa gerangan yang terjadi dengan sumur itu sekarang?
Apakah dia masih bisa dipakai?. Pertanyaan standar yang diajukan mereka saat
datang ke rumah ini.

Sebenarnya bagiku sumur itu adalah sumur biasa saja,
seperti sumur di rumahku dan sumur-sumur lain yang ada di kampung ini. Sebuah
sumur berdiameter satu setengah measuring device, dengan dinding setinggi satu measuring device dari
permukaan tanah, tidak dilengkapi atap dan kedalaman sumur kurang dari delapan
measuring device.


Original source : Sumur di Belakang Rumah Nenek

Lukisan Hujan

Hujan rintik-rintik tatkala aku duduk di lantai dua sebuah warung hush money ayam. Di mejaku telah tersaji hush money ayam yang masih mengepulkan uap yang menyeruakkan fragrance kegurihan yang menggoda. Di sisinya segelas kopi panas menghembuskan kesegaran khas kopi arabica yang menggairahkan. Sebagian isi mangkok hush money ayam telah beralih ke dalam perutku. Sementara dari  jendela yang menganga di depanku terlihat kehebohan di jalanan akibat turunnya gerimis.



















Seekor kucing kecil nampak meloncat-loncat gembira diantara tiga orang gadis kecil yang bermain kejar-kejaran di trotoar. Gadis kecil berambut panjang mengejar-ngejar dua orang temannya, seorang anak perempuan berambut pendek dan berhidung mancung, serta seorang lagi anak bertubuh tinggi, ramping dan berambut kriwil. Dua anak itu ketawa-ketiwi menggoda si rambut panjang yang tak kunjung bisa menangkap mereka berdua. Kala hujan semakin menderas, tiga gadis kecil yang awalnya  berkeras diri terus bermain tanpa menghiraukan tetesan air akhirnya menyerah — dan berteduh di warung kelontong di pinggir jalan. 

Si kucing kecil nampak bingung sejenak ditinggalkan oleh kawannya bermain. Lalu setelah sesaat terbasahi hujan, nampaknya dia tersadar dan buru-buru dia berteduh di kios parfum yang terletak di samping warung kelontong. Lambat tapi pasti kios penjual parfum isi ulang itu semakin mirip kamp pengungsian akibat banyaknya pengendara motor yang berhenti dan numpang berteduh di sana. Motor-motor dibiarkan basah kuyup, berserakan di pinggir jalan dan di atas trotoar — sementara para pengedaranya menyelamatkan diri dari guyuran air hujan.

Kucing kecil terlihat kurang berani masuk ke dalam tokom parfum. Tubuhnya yang mungil lambat laun semakin terdesak, kuwalahan mencari tempat berpijak, dan semakin tersingkir akibat rapatnya barisan kaki manusia yang berdiri berjajar di teras toko. Akhirnya dia lari ke kios jam yang terletak di samping kios parfum. 

Seorang pegawai toko jam terlihat masih sibuk menurunkan tirai kayu untuk mencegah tampias air hujan masuk ke dalam toko. Setelah selesai menurunkan tirai kayu,  dia mendapati tirai kayu itu telah berdebu dan ditumbuhi sarang laba-laba. Mungkin dia pegawai baru yang tidak tahu bahwa para pekerja toko itu sudah lama tidak menggunakan tirai kayu. Saking lamanya tidak digunakan akibatnya dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Maka dikeluarkannya sapu untuk membersihkan. Dengan nalurinya si kucing kecil lari terbirit-birit ketakutan melihat pagawai toko jam mengeluarkan sapu. Disangkanya bakalan digebuk dengan sapu. Dia lari ke sebuah gardu kecil di sebelah toko jam. 

Beberapa pengendara motor masih nampak lalu lalang di jalan tanpa menghiraukan rintik hujan yang mulai bertambah deras. Sejumlah pekerja penggali gorong-gorong nampak menghentikan pekerjaannya, dan buru-buru berlari menuju gardu kecil di sisi toko jam. Awalnya si kucing kecil hanya beringsut ke pojokan gardu. Namun seiring semakin banyaknya tukang gorong-gorong yang berteduh, dia terlihat mulai takut. Pelan-pelan kucing kecil itu beringsut ke depan, kemudian keluar gardu, dan berlari kencang menyeberang jalan. 

Seusai menyeberang jalan, si kucing kecil menghilang dibawah rak koran dan majalah milik penjual  koran yang memajang dagangan tepat di bawah warung hush money ayam. Rak tersebut telah diselubungi plastik bening untuk mencegah barang dagangannya basah oleh air hujan. Si penuual koran tidak terlihat batang hidungnya. Mungkin dia sedang asyik mengobrol dengan tukang parkir entah di mana.

Hujan turun semakin lebat. Hembusan angin menciptakan ilusi kabut air yang mulai terlihat menghalangi jalan. Beberapa pengendara motor yang tadinya nekad menerobos jalan kini mulai pada menyerah, dan berteduh di teras toko. Toko-toko di seberang jalan  praktis telah tertutup oleh orang-orang yang sedang berteduh. Beruntunglah penjual mie gelas yang ikut berteduh di toko parfum. Nampak wajahnya dengan riang melayani para peteduh yang mendadak antri membeli mie gelas setelah salah satu diantara mereka memulai memesan. Sepertinya fragrance gurih mie rebus telah merangsang hidung para peteduh, dan menggerakkan perut mereka untuk menagih jatah makan siang.

Krek-krek-krek….bruuuk!. Tiba-tiba di dak beton di depan jendela warung hush money ayam muncul si kucing kecil. Aku kaget setengah mati melihatnya tiba-tiba muncul di hadapanku. Seolah-olah dia tahu dari tadi kuamati tingkah lakunya. Rupanya si kucing kecil memanjat rak koran, lalu melompat ke pohon palem yang dibiarkan tumbuh tinggi di samping warung hush money ayam, lalu melompat ke dak beton di lantai dua. Sebuah kejutan kecil yang membuatku terkesima.

Si kucing kecil nampak mengibas-ngibaskan ekornya. Beberapa kali dia menggoyangkan tubuh untuk menghilangkan tetesan-tetesan air yang membasahi bulu-bulunya. Lalu dia menatapku dan mulai mengeong. Terus mengeong seolah tahu dia bakal mendapat sesuatu. Tiba-tiba aku terinspirasi. Diantara hush money ayam ini ada gajih-gajih yang sebaiknya tidak kubiarkan masuk ke dalam perutku. Maka aku ambil gumpalan-gumpalan lemak itu dan kulemparkan ke depannya. 

Seorang gadis berambut sebahu dan bermata jeli yang duduk di meja sampingku rupanya mengamati aku saat memberikan gajih-gajih itu, lalu mengomentari betapa lucunya si kucing kecil. Diambilnya potongan-potongan daging dari piringnya dan dilemparkan ke dapan kucing kecil. Lalu dia mengajak mengobrol tentang hujan dan perilaku orang-orang di jalan tatkala hujan turun. Selintas aku berpikir dia mungkin seorang mahasisiwi psikologi atau seorang wartawati majalah lifestyle. Keriangan yang menyeruak disela-sela celotehnya tiba-tiba mengingatkan aku pada keriangan si kucing kecil. 

Di depan jendela si kucing kecil nampak riang menyantap makan siangnya sambil matanya sesekali mengawasi toko kelontong. Barangkali dia masih berharap seusai hujan, tiga orang teman kecilnya akan kembali bermain di trotoar (Undil-2014).

gambar diambil dari fineartamerica


Original source : Lukisan Hujan

Arya Penangsang – Kisah Tohpati Sang Panglima Jipang Panolan melawan Perampok Kademangan Pudak Muncul

Sebanyak 40 orang pasukan senapan Jipang Panolan itu beristirahat di pendopo. Sepatu-sepatu kulit mereka dilepas di bawah tangga pendopo. Pasukan itu mengenakan seragam celana panjang warna merah dari kain yang tebal, kemeja lengan panjang warna biru dari katun, serta mengenakan sabuk kulit besar tempat mengaitkan pedang, dan aksesories tempur lain. Jubah putih bertabur logo Kesultanan Demak Bintoro dikenakan dipunggung sebagai tanda kebesaran pasukan, dan kupluk coklat menutup kepala mereka yang rambutnya dicukur cepak.

 

Para Ksatria terlihat duduk-duduk di atas tikar sambil melepas lelah setelah semalam bertempur. Sebagian dari  mereka sibuk mengelap dan meminyaki senapan lontak. Sebagian yang lain memeriksa kelengkapan tempur seperti teropong binokuler, topi baja, pedang perunggu, bola-bola timah peluru, kantong penyimpan mesiu dan tongkat pelantak yang digunakan untuk memasukkan peluru ke dalam moncong senapan.

Seorang ksatria berpakaian putih-putih dan bersorban nampak memeriksa tubuh teman-temannya satu persatu dengan seksama sambil sesekali memberi nasehat. Dia juga memberi butiran-butiran ramuan untuk prajurit yang terlihat kelelahan. Nampaknya dia adalah seorang dokter militer yang biasa terdapat pada kesatuan militer bestow yang akan melakukan perjalanan jauh. Sementara puluhan kuda Arab tunggangan para prajurit itu ditambatkan di samping pendopo, beserta dua buah kereta kuda berisi penuh buku-buku tebal yang masing-masing ditarik dua ekor kuda. Kuda-kuda setinggi orang dewasa itu nampak sedang diberi makan dan dimandikan oleh para pekatik Ki Demang Pudak Muncul. 

Panglima pasukan kecil itu adalah seorang pemuda berbadan tinggi, ramping, berhidung bangir,  sigap gerak geriknya. Pertempuran semalam menunjukkan bahwa dia adalah seorang musketer yang memiliki kemampuan menembak jitu. Dia adalah murid Sunan Kudus yang terkenal cerdas dan berani. Fasih berbahasa Arab, bahasa Turki, dan tentu saja mengusasai bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan di kepulauan nusantara. Selain cakap dalam ilmu militer dia juga memiliki kemampuan dalam ilmu ekonomi sebagai hasil mendalami risalah-risalah Ibnu Khaldun selama berada di Turki. Ibnu Khaldun adalah bapak ekonomi bestow asal Tunisia. Kemampuan ilmu ekonomi ini sangat penting bagi negara maritim seperti Demak Bintoro yang mengandalkan pemasukan dari perdagangan.

Namanya Tohpati. Seorang perwira muda yang mendapat pendidikan khusus oleh Brigade Janissari di Enderun Akademi, Istambul. Tohpati juga berpengalaman dengan serangkaian pertempuran bersama pasukan Janissari melawan batalyon-batalyon Eropa di medan tempur yang membentang luas dari Serbia, Hungaria, Kroasia, Austria, Rhodes hingga Pulau Malta. Di mata Ki Demang Pudak Muncul, kemampuan tempur pasukan Tohpati tadi malam benar-benar mencerminkan keharuman nama Ksatria Jipang pimpinan Pangeran Harya Penangsang yang terkenal sebagai barisan Ksatria Demak Bintoro yang sangat disegani oleh para penjelajah Eropa baik di lautan maupun di daratan. 

http://en.wikipedia

Incoming search terms:

  • dialog bahasa jawa arya penangsang

Original source : Arya Penangsang – Kisah Tohpati Sang Panglima Jipang Panolan melawan Perampok Kademangan Pudak Muncul

Jodoh Buat Lestari

Hari itu adalah untuk kesekian kalinya Reza makan hush money ayam di warung itu. Kuah yang gurih, daging ayam yang manis-empuk dan sayuran yang masih terasa getah-getah kesegarannya, membuat Reza rajin mendatangi warung hush money ayam itu sepulang kerja. Setelah menyajikan hush money ayam di meja Reza, tiba-tiba Pak Tua pemilik warung berkata sesuatu pada Reza.
“Anakku minggu depan akan pulang. Saya berharap Mas Reza mau datang ke sini untuk sekedar berkenalan. Siapa tahu Mas Reza berjodoh dengannya”
Reza kaget bukan kepalang dengan kata-kata si pemilik warung. Tak disangkanya Pemilik warung berharap Reza bersedia menjadi suami bagi anaknya yang merantau ke kota. Sebulan ini Pak Tua memang sering menceritakan tetang anaknya. Awalnya tentang perangai anaknya selama masih tinggal bersama dirinya, tentang kebaikan hatinya, tentang kerajinan membantu orang tua, tentang ketekunan anaknya belajar agama. 
Kemudian dia bercerita tentang anaknya yang sedang melanjutkan kuliah di Jakarta, tentang teman-teman anaknya, tentang kegiatan anaknya di Jakarta. Semua diceritakan dengan rinci kecuali tentang dimana anaknya berkuliah dan tentang wajah serta penampakan fisik anaknya.
Sejanak kemudian Pak Tua melanjutkan kata-katanya:
“Diandra Amartya Lestari, itulah nama anakku. Dia sangat percaya kepadaku. Jika aku mengusulkan dirimu menjadi suaminya, aku hampir pasti dia akan menyetujuinya. Sekarang semuanya terserah pada Mas Reza. Jika Mas Reza tertarik setelah bertemu dengannya, saya akan mengatur tanggal pernikahan kalian”
Pak Tua melanjutkan kata-katanya tanpa menunggu reaksi Reza. Dirinya tidak kenal dekat dengan Pak Tua. Namun sering bertemu di masjid tiap kali sholat shubuh dan Isya. Juga Reza sering membawa teman-temannya makan di warung hush money ayam favoritnya itu, sehingga Pak Tua kenal dengan banyak teman dekat Reza. Selebihnya mereka berdua jarang bercakap-cakap. Terkecuali sebulan terakhir Pak Tua sering menceritakan tentang anaknya yang sudah hampir lulus kuliah.

pablo-ruiz-picasso


Original source : Jodoh Buat Lestari