(VID)Kecelakaan Fatal Gadis Kecil 9 Tahun Menembak Tewas Intrsuktornya

Sudah 14 tahun Sam Scarmardo telah mengoperasikan latihan menembak jarak jauh luar lapangan di White Hills, Arizona. dan tidak pernah ada ya

instruktor tembak Charles Vacca, 39, meninggal pada hari Minggu setelah ia tidak sengaja ditembak oleh seorang gadis 9 tahun dengan senapan mesin Uzi, kata pihak berwenang. Vacca telah menjadi penembak selama 1 tahun, Scarmardo mengatakan, setelah bertahun-tahun ia di militer. Dia punya rasa hilarity, dan dia adalah seorang yang cerdas, instruktur terlatih, kata Scarmardo.

“(Saya) tidak tahu apa yang terjadi,” katanya.

Vacca, warga Lake Havasu Capital, tak sengaja ditembak di kepala sekitar 10:00 Minggu, menurut Kantor Mohave Constituency Sheriff. cara menembaksebuah Uzi otomatis ketika kecelakaan itu terjadi, kata para saksi. Gadis itu menarik pelatuk dan senjata itu tidak sengaja mengarah keatas kepalanya. Vacca berdiri di sampingnya ketika dia tertembak.

Dia diterbangkan ke rumah sakit di Las Vegas, di mana ia meninggal sekitar 9:00, kata para pihak berwenang.

Orang tua gadis itu bersamanya pada saat penembakan terjadi, kata pihak yang berwenang. Menurut Bullets and Burgers website, yang mengadakan tour dari Las Vegas ke latihan tembak itu, 8 tahun adalah usia nominal untuk bisa ikut. Lokasi itu mengiklankan senapan mesin, gaya militer ditch, dan senjata khusus.

Senjata otomatis adalah yang barrier populer pada rentang senjata lokal, Scarmardo menambahkan, sampai kecelakaan terjadi, semua anak-anak yang diperbolehkan untuk menembak boleh menembak asal di bawah pengawasan, katanya.

Sesuai dengan pedoman nasional, anak-anak harus berusia 8 tahun dan dengan orang tua mereka, katanya. Seorang instruktur juga harus berada di possisi dekat dengan penembak pada saat mereka mau menembak.

“Semuanya sudah terkendali,” katanya.

Kantor Mohave Constituency Sheriff telah merilis record kecelakaan tersebut dari Vacca. dalam record tersebut terjadi ketika gadis 9 tahun mau menembak sebelum kecelakaan serious terjadi.


Original source : (VID)Kecelakaan Fatal Gadis Kecil 9 Tahun Menembak Tewas Intrsuktornya

Fakta Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia !

[Image: fakta-perayaan-hari-kemerdekaan-indonesi...220901.jpg]

Hari [URL=”http://glop.gl/cfR2zy”]Kemerdekaan Indonesia[/URL] adalah hari yang menandai saat Indonesia dinyatakan merdeka dari Belanda. Hari ini diisi dengan pesta dan perayaan dimana-mana. Terlepas dari itu, kenyataan bahwa Indonesia menyatakan kemerdekaannya dari Pemerintah Belanda pada tanggal 17 Agustus 1945, pada tanggal 15 Agustus 2005 bahwa Belanda mendapat tanggal ini sebagai tanggal resmi untuk kemerdekaan Indonesia.

Persiapan untuk Hari Kemerdekaan mulai jalan terlebih dahulu sebelum perayaan dimulai. Adanya dekorasi tergantung di seluruh kota dengan bangunan istana Presiden dihiasi dengan warna merah dan putih. Kelompok orang mengatur kegiatan pelayanan masyarakat di mana daerah pemukiman dibersihkan. Asosiasi lingkungan mengkoordinasikan kegiatan khusus untuk anak-anak dan bahkan meminta sponsor untuk hadiah untuk anak-anak. Orang-orang diminta untuk mengibarkan bendera di tempat tinggal mereka selama periode waktu tertentu. Ada banyak peringatan pada saluran TV lokal menunjukkan perjuangan kemerdekaan.

Pada Hari Kemerdekaan 17 Agustus, perayaan dimulai dengan upacara bendera di istana presiden. Perayaan ini diikuti oleh siswa SMA yang dipilih dari seluruh negeri dengan menampilkan pertunjukan pengibaran bendera Sangsaka Merah Putih di istana presiden. Upacara yang dipimpin oleh presiden dan dihadiri oleh kelompok-kelompok yang berbeda, pejabat, tentara, beberapa tamu negara, experienced person, dan tak ketinggalan juga masyarakat Indonesia meyaksikan acara tersebut lewat televisi. Suatu hal yang unik tentang perayaan hari ini di Indonesia adalah bahwa semua upacara yang dilakukan secara serentak di semua wilayah, dari sekolah ke kantor-kantor resmi pemerintah.

[B]Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia[/B] adalah sangat penting bagi bangsa dan sejarah Indonesia. Ini adalah peristiwa besar bagi rakyat Indonesia dengan lahirnya negara dan bangsa Indonesia sebagai negara yang merdeka dari kekuasaan asing. Hari ini adalah hari dimana bendera Indonesia diresmikan. Bendera merah putih berarti sangat penting bagi negara dan warga negara Indonesia, warna merah yang berarti keberanian dan putih sebagai kemurnian. Bendera ini dikibarkan dengan kehormatan terbesar dan hormat sebagai tanda patriotisme dan nasionalisme sejati. Hari Kemerdekaan tidak hanya dilakukan di darat tetapi juga di laut dan di udara untuk menunjukkan bahwa darat, laut dan udara Bangsa tidak lagi milik pemerintahan kolonial melainkan milik bangsa dan rakyat Indonesia.

sumber : merahputih.com


Cara Unik Komunitas Onthel Merayakan Kemerdekaan

Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia Di Malaysia

Incoming search terms:

  • cerita parade 2014

Original source : Fakta Perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia !

Dua Wajah Ibu

Cerpen Guntur Alam
 

Perempuan tua itu mendongakkan wajah begitu mendengar desingan tajam di atas ubun-ubunnya. Di langit petang yang temaram, ia melihat lampu kuning, hijau, dan merah mengerjap-ngerjap pada ujung-ujung sayap pesawat terbang.
Deru burung besi itu kian nyaring begitu melewati tempatnya berjongkok. Ia menghentikan gerakan tangannya. Menggiring burung itu lenyap dari mata lamurnya. Lalu, tangannya kembali menggumuli cucian pakaian yang tak kunjung habis itu. Beberapa detik sekali, tangan keriputnya berhenti, lalu ia menampari pipi dan kaki. Nyamuk di belantara beton ternyata lebih ganas ketimbang nyamuk-nyamuk rimba yang saban pagi menyetubuhi kulitnya saat menyadap karet nun jauh di pedalaman Sumatera-Selatan sana: Tanah Abang.

Ia menarik napas, melegakan dada ringkihnya yang terasa kian menyempit. Kicauan televisi tetangga menenggelamkan helaan napasnya. Suara musik, iklan, dan segala hal. Perempuan itu kembali menghela napas. Lalu, bangkit dari jongkoknya, menekan tuas sumur pompa. Irama air mengalir dalam ritme yang kacau. Kadang besar, kadang kecil, seiring tenaganya yang timbul-tenggelam. Air keruh memenuhi bak plastik, menindih-nindih pakaian yang bergelut busa deterjen. Bau karet tercium menyengat begitu air itu jatuh seperti terjun.
Ia adalah Mak Inang. Belum genap satu purnama perempuan tua itu terdampar di rimba Jakarta, di antara semak-belukar rumah kontrakan yang berdesak-desakan macam jamur kuping yang mengembang bila musim hujan di kebun karetnya. Hidungnya pun belum akrab dengan bau bacin selokan berair hitam kental yang mengalir di belakang kontrakan berdinding triplek anak lanangnya. Bahkan, Mak Inang masih sering terkaget-kaget bila tikus-tikus got Jakarta yang bertubuh hitam-besar lagi gemuk melebihi kucing betinanya di kampung, tiba-tiba berlarian di depan matanya.
Sesungguhnya, ia pun masih tak percaya bila terjaga dari lelapnya yang tak pernah pulas, kalau akhirnya ia menjejakkan kaki di ibu kota Jakarta yang kerap diceritakan orang-orang di kampungnya. Suatu tempat yang sangat asing, aneh, dan begitu menakjubkan dalam cerita Mak Rifah, Mak Sangkut, dan beberapa perempuan kampung karibnya, lepas perempuan-perempuan itu mengunjungi anak bujang atau pun gadis mereka. Sesuatu yang terdengar seperti surganya dunia. Serba mewah, serba manis, serba tak bisa ia bayangkan.
”Kesinilah, Mak. Tengoklah anak lanangku, cucu bujang Emak. Parasnya rupawan mirip almarhum Ebak,” itulah suara Jamal kepadanya beberapa pekan silam. Suara anak lanangnya yang kemerosok seperti telephone logic tua, ia pun melipat kening saat mengetahui suara itu berasal dari benda aneh di genggamannya.
”Dengan siapa Mak ke situ?” lontarnya. Ada keinginan yang menyeruak seketika di dada Mak Inang. Keinginan yang sejatinya sudah lama terpendam. Telah lama ia ingin melihat Jakarta. Ibu kota yang telah dikunjungi karib-karibnya. Tapi, ia selalu tak punya alasan ke sana, walau anak lanangnya, yang cuma satu-satunya ia miliki selain dua gadisnya yang telah diboyong suami mereka di kampung sebelah, merantau ke kota itu. Belum pernah Jamal menawarinya ke sana. Tak heran, ketika petang itu Jamal memintanya datang, ia lekas-lekas menanggapinya.
”Tanyai Kurti, Mak. Kapan ia balik? Masalah ongkos, Mak pakai duit Emak dululah. Nanti, bila aku sudah gajian, Emak kuongkosi pulang dan kukembalikan ongkos Emak ke sini,” itulah janji anak lanangnya sebelum mengakhiri pembicaraan. Suara kemerosok seperti telephone logic tua itu terputus.
Mak Inang kembali menghela napas saat ingat percakapan lewat hape dengan anak lanangnya itu. Beberapa pekan sebelum ia merasa telah tersesat di rimba Jakarta, di semak-belukar kontrakan yang bergot bau menyengat. Ia melepas tuas pompa, air berhenti mengalir. Tangannya menjangkau cucian, membilasnya.
Kota yang panas. Itulah kesan pertama Mak Inang saat mata lamurnya menggerayangi mortal automobile Kampung Rambutan. Sedetik kemudian, ia menambahkan kesan pertamanya itu: Kota bacin dan berbau pesing. Hidung tuanya demikian menderita ketika membaui bau tak sedap itu. Hatinya bertanya-tanya heran melihat Kurti demikian menikmati bau itu. Hidung pesek gadis berkulit sawo matang itu tetap saja mengembang-embang, seolah-olah bau yang membuat perut Mak Inang mual itu tercium melati.
Belum jua hilang rasa penat dan pusing di kepala Mak Inang, apalagi rasa pedas di bokongnya, karena duduk sehari-semalam di automobile reot yang berjalan macam keong, beberapa orang telah berebut mengerubungi dirinya dan Kurti, macam lalat, berdengung-dengung. Mak Inang memijit keningnya. Cupingnya pun ikut pening dengan orang-orang yang berbicara tak jelas pada Kurti, gadis itu diam tak menggubris, hanya menyeret Mak Inang pergi.
Mak Inang kembali memeras beberapa popok yang ia cuci, sekaligus. Telapak kaki kanannya yang kapalan cepat-cepat menampari betis kirinya begitu beberapa nyamuk membabi-buta di kulit keringnya. Ia menghempaskan popok yang sudah diperasnya itu ke dalam glowing coal plastik. Jemari tangannya menggaruk-garuk betis kirinya. Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret di kulit keringnya. Ia menggeram. Hatinya menyumpah-serapah kepada binatang laknat tak tahu diri itu.
Dua-tiga hari pertama, Mak Inang cukup senang berada di rumah berdinding batu setengah triplek Jamal. Rasa senangnya itu bersumber dari cucu bujangnya yang masih merah itu. Walau, sesungguhnya Mak Inang terkaget-kaget saat Kurti mengantarnya ke rumah Jamal. Semua di luar otak tuanya. Dalam benaknya yang mulai ringkih, Jamal berada di rumah-rumah beton yang diceritakan Mak Sangkut, bukan di rumah kecil sepengap ini. Keterkejutannya kian bertambah saat perutnya melilit di subuh buta. Hanya ada satu kakus untuk berderet-deret kontrakan itu. Itu pun baunya sangat memualkan. Hampir saja Mak Inang tak mampu menahannya.
”Mak hendak pulang, Mal. Sudah seminggu, nanti pisang Emak ditebang orang, karet pun sayang tak disadap,” lontar Mak Inang di pagi yang tak bisa ia tahan lagi. Ia benar-benar tak ingin berlama-lama di ibu kota yang sungguh aneh baginya. Sesungguhnya, Mak Inang pun aneh dengan orang-orang yang saban hari, saban minggu, saban bulan, dan saban tahun datang mengadu nasib ke kota ini. Apa yang mereka cari di rimba bernyamuk ganas, berbau bacin, bertikus besar melebihi kucing ini? Mak Inang tak bisa menghabiskan pikiran itu pada sebuah jawaban.
”Akhir bulanlah, Mak. Aku gajian saban akhir bulan, sekarang tengah bulan. Tak bisa. Pabrik juga tengah banyak order, belum bisa aku kawani Mak jalan-jalan mutar Jakarta,” ujar Jamal sembari menyeruput kopi hitam dan mengunyah rebusan singkong. Singkong yang Mak Inang bawa seminggu silam. Mak Inang tak bersuara. Hatinya terasa terperas dengan rasa yang kian membuatnya tak nyaman.
”Kurti libur hari ini, Mak. Katanya tengah tak ada lembur di pabriknya. Nanti kuminta ia mengawani Mak jalan-jalan. Ke mal, ke rumah anak Wak Sangkut dan Wak Rifah,” terdengar suara Mai, menantunya, dari arah dapur yang pengap.
Mak Inang mengukir senyum semringah mendengar itu. Rasa tak nyaman yang menggiring keinginannya untuk pulang mendadak menguap. Kembali cerita Mak Rifah dan Mak Sangkut tentang Jakarta mengelindap. Gegas sekali perempuan tua itu menyalin baju dan menggedor-gedor pintu kontrakan Kurti. Gadis itu membuka pintu dengan mata merah-sembab, muka awut-awutan dengan rambut yang kusut-masai. Mak Inang tak peduli mata mengantuk Kurti, ia menggiring gadis itu untuk lekas mandi dan menemaninya keliling Jakarta, melihat rupa wajah ibu kota yang selama ini hanya ada dalam cerita karib sebaya dan pikirannya saja.
Serupa kali pertama Kurti mengantarnya ke muka kontrakan anak lanangnya, seperti itulah keterkejutan Mak Inang saat menjejakkan kaki di kontrakan anak Mak Sangkut dan Mak Rifah. Tak jauh berupa, tak ada berbeda. Kontrakan anak karib-karibnya itu pun sama-sama pengap dan panas. Hal yang membuat Mak Inang meremangkan kuduknya, gundukan sampah berlalat hijau dengan dengungan keras, bau menyengat, tertumpuk hanya beberapa puluh meter saja. Kepala Mak Inang berdenyut-denyut melihat itu. Lebih-lebih saat menghempaskan pantatnya di lantai semen anaknya Mak Sangkut. Allahurobbi, alangkah banyak cucu Mak Sangkut, menyempal macam rayap. Berteriak, menangis, merengek minta jajan, dan tingkah pola yang membuat Mak Inang hendak mati rasa. Hanya setengah jam Mak Inang dan Kurti di rumah itu, berselang-seling cucunya Mak Sangkut itu menangis.
Kebingungan Mak Inang pada orang-orang yang saban waktu datang ke Jakarta untuk mengadu nasib kian besar saja. Apa hal yang membuat mereka tergoda ke kota bacin lagi pesing ini? Segala apa yang ia lihat satu-dua pekan ini, tak ada yang membuat hatinya mengembang penuh bunga. Lebih elok tinggal di kampung, menggarap huma, membajak sawah, mengalirkan getah-getah karet dari pokoknya, batin Mak Inang.
Tangan Mak Inang kembali menekan-nekan tuas pompa, air keruh dengan bau karet yang menyengat kembali berjatuhan ke dalam bak plastik. Kadang besar, kadang kecil, seiring dengan tenaganya yang timbul tenggelam. Lagi, Mak Inang membilas cucian pakaian cucu, menantu, anak lanang, dan dirinya sendiri. Mendadak Mak Inang telah merasa dirinya serupa babu. Di petang temaram bernyamuk ganas, ia masih berkubang dengan cucian. Di kampung, waktu-waktu serupa ini, ia telah bertelekung dan gegas membawa kakinya ke mushola, mendahului muadzin yang sebentar lagi mengumandangkan adzan.
Lampu benderang. Serentak. Seperti telah berkongsi sebelumnya. Berkelip-kelip macam kunang-kunang di malam kelam. Lagi, terdengar suara desingan tajam di atas ubun-ubun Mak Inang. Ia pun kembali mendongakkan wajah, mata lamurnya melihat lampu merah, kuning, hijau berkelip-kelip di langit temaram. Nyamuk-nyamuk pun kian ganas dan membabi-buta menyerang kulit keringnya.
Wajah Mak Inang kian mengelap, hatinya menghitung-hitung angka di almanak dalam benak. Berapa hari lagi menuju akhir bulan? Rasa-rasanya, telah seabad Mak Inang melihat muka Jakarta yang di luar dugaannya. Benak Mak Inang pun hendak bertanya: Mengapa kau tak pulang saja, Mal? Ajak anak-binimu di kampung saja. Bersama Emak, menyadap karet, dan merawat limas. Tapi, mulut Mak Inang terkunci rapat.
Malam di langit ibu kota merangkak bersama muka Mak Inang yang terkesiap karena seekor tikus got hitam besar mendadak berlari di depannya. Keterkejutan Mak Inang disudahi suara adzan dari televisi. Perempuan itu kembali menekan tuas sumur pompa, air mengalir, jatuh ke dalam glowing coal plastik. Ia membasuh muka tuanya dengan wudhu. Bersamaan dengan itu, mendadak gerimis turun, seolah ibu kota pun hendak mencuci muka kotornya dengan wudhu bersama Mak Inang. Muka tua yang telah keriput, mengkerut, dan carut-marut.
 

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono

Incoming search terms:

  • unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen dua wajah ibu
  • Unsur intrinsik cerpen dua wajah ibu
  • analisis unsur intrinsik cerpen dua wajah ibu

Original source : Dua Wajah Ibu

Biji-biji Burung Gereja

Di suatu lembah yang subur, sekelompok binatang hidup dengan aman dan nyaman. Mereka tidak pernah berkekurangan.
Lembah itu menyediakan semua yang dibutuhkan para hewan. Sumber mata air yang segar, pohon-pohon yang selalu berbuah tanpa mengenal musim. Semua hewan hidup dengan bahagia.
Suatu hari bertemulah seekor monyet dengan burung gereja yang sedang mematuk-matuk di tanah.
“ Apa yang sedang kau lakukan burung Gereja ?” Tanya Monyet.
Burung Gereja memandang Monyet dan berkata “ Aku sedang mengumpulkan biji-bijian “
Mendengar jawaban Burung Gereja, Monyet tertawa terbahak-bahak “Ha…ha..ha…., untuk apa kau mengumpulkan biji-biji itu, lihatlah di selilingmu, begitu banyak buah-buahan yang bisa kau makan, kenapa kau malah mengumpulkan sesuatu yang dibuang ?”
Tapi Burung Gereja tidak menghiraukan perkataan Monyet dan tetap mengumpulkan biji buah-buahan kemudian membawanya ke atas bukit.
Esok harinya, Monyet bertemu lagi dengan Burung Gereja, kali ini Monyet membawa buah apel di tangannya
“ Hai Burung Gereja, kau sedang mencari biji-bijian lagi ya ? pantas saja kau tidak bertambah besar, yang kau makan bijinya, bukan buahnya…ha.. ha…ha… “ Ejek Monyet
Burung Gereja hanya diam dan terus mengumpulkan biji- biji apel yang dibuang oleh Monyet.

 

 

Suatu hari turun hujan deras berhari-hari, lembah itu tertutup oleh air, semua binatang mengungsi ke tempat yang lebih tinggi di atas bukit.
Mereka kedinginan dan kelaparan. Ketika hujan berhenti, mereka turun ke lembah untuk mencari makanan, tetapi semua pohon tumbang tersapu air hujan, tidak ada lagi buah-buahan untuk dimakan.
“ Aku lapar, mengapa tidak ada sama sekali buah yang bisa dimakan ?” rintih Monyet sambil melihat ke kanan dan ke kiri berharap menemukan buah yang bisa dimakan.
Setelah berjalan menyusuri lembah, Monyet bertemu lagi dengan Burung Gereja
“ Hai Burung Gereja, kau kan bisa terbang tinggi, bisakah kau tunjukkan padaku dimana ada buah yang bisa ku makan ? aku lapar sekali “ Tanya Monyet.
“ Mari, pergilah ke rumahku di atas bukit, kau akan menemukan buah yang bisa kau makan “ Ajak Burung Gereja.
Karena tidak menemukan jalan lain lagi, Monyet mengikuti Burung Gereja menuju ke atas bukit.
Betapa terkejutnya Monyet melihat halaman rumah Burung Gereja penuh dengan pohon yang berbuah lebat, Pisang, Apel, Strawberry, Mangga, dan banyak lagi yang lainnya.
“ Bagaimana bisa begitu banyak pohon buah tumbuh di halaman rumahmu “ Tanya Monyet heran.
“ Sudah sejak lama aku mengumpulkan biji buah-buahan dan menanamnya di halaman rumahku , aku menyiramnya dan membersihkan rumput-rumput fraud yang tumbuh, aku merawatnya setiap hari “ jawab Burung Gereja.
“ Oooo…. Itulah sebabnya kenapa kau selalu mengumpulkan biji buah-buhan yang dibuang. Kenapa aku tidak berpikir untuk menanamnya sepertimu ya ?”
Burung Gereja juga memberi tahu hewan-hewan lain untuk mengambil buah-buahan di halaman rumahnya. Sejak saat itu, setiap kali mereka memakan buah, mereka menyisihkan biji-bijinya untuk ditanam kembali, agar mereka tidak kelaparan lagi.

Betty Veve [mami_veve10 @yahoo.com]

Incoming search terms:

  • cerita binatang

Original source : Biji-biji Burung Gereja

Parade Puisi Juni: Cinta Biarkan Burung Pipitmu Terbang

Dan makan malam itu
tanpa diduga
telah membangkitkan kenangan lama
ditambah lagi pernak-pernik baru
yang sebelumnya kau tak pernah tahu
menggigit jiwamu bak sayatan sembilu
Oh Sudahlah
biarkan burung pipitmu terbang
dari sangkar kenangan
toh yang pernah mengisinya
bukan hanya dia seorang



Original source : Parade Puisi Juni: Cinta Biarkan Burung Pipitmu Terbang

Fakta tentang Warna Biru

warna biru, bunga biruBerita unik – Anda suka warna biru? Saya suka dengan warna biru. Bagi yang suka warna biru silahkan baca Fakta tentang warna biru berikut. Berikut 22 rahasia warna biru.
1. Sebuah pembelajaran membuktikan bahwa seorang pengangkat beban dapat mengangkat beban yang berat lebih baik dalam gymnasium yang berwarna biru.
2. Dalam kebudayaan Roma dahulu, warna biru digunakan oleh pihak yang dipekerjakan sebagai pelayan masyarakat atau pihak berwajib. Itulah mengapa kebanyakan polisi diberbagai belahan dunia khususnya di Amerika Serikat identik dengan warna biru. Ini merupakan ciri dari filosofi kebudayaan Roma.
3. Dalam sebuah pabrik, rata – ratra biru melambangkan peralatan yang sedang diperbaiki.
4. Biru juga melambangkan sistem surat menyurat yang menggunakan udara (air e-mail) dan Angkatan Laut (Fleet).
5. Sebuah assessment membuktikan bahwa biru adalah produk warna sweeter wanita yang barrier laris diperjual belikan. Karena, kebanyakan wanita berfikir para lelaki menyukainya.
6. Warna yang barrier banyak disukai oleh laki – laki.
7. Dalam kepercayaan tertentu biru melambangkan kemurahan surga. (akan dibahas lebih lanjut).
8. Di India biru dipercayai membawa nasib yang buruk.
9. Di dalam kebudayaan tradisional Plates Biru melambangkan rasa sakit.
10. Biru adalah warna utama, dari 3 warna utama (merah – hijau – biru).
11. 8 % dari penduduk di seluruh dunia memiliki warna mata biru.
12. Di UK biru menjadi lambang warna dari waspada penyakit kanker testis.
13. Di US kotak surat kantor pos umumnya berwarna biru
14. Biru adalah warna umum dari sikat gigi di berbagai dunia.
15. Nyamuk lebih tertarik untuk mendatangi warna biru dibandingkan dengan warna yang lainnya.
16. Forbidding Bird ( burung biru ) tidak bisa melihat warna biru.
17. Burung Hantu adalah satu -satunya burung yang bisa melihat warna biru.
18. Warna biru cerah pertama kali ditetapkan di Inggris pada tahun 1915.
19. Warna biru banyak digunakan di dalam kantor, karena penelitian membuktikan orang – orang lebih produktif dalam ruangan berwarna biru.
20. Setelah 15 tahun permen warna – warni Skittles di Amerika baru memutuskan untuk membuat permen warna biru.
21. Maksud kata – kata ‘Suspicion forbidding’ adalah saat seseorang merasa sedih.
22. Maksud dari Frase ‘Approximately calculate ago in forbidding moon’ adalah peristiwa dari yang jarang terjadi.
Demikian artikel tentang

Incoming search terms:

  • cerita hantu
  • cerita lucu tentang penyakit kanker

Original source : Fakta tentang Warna Biru