masuk gan jangan kelewatan

ini gan liat aja sendiri

T : Skandal apa yang adanya di bawah?
J : Skandal jepit

T : Kenapa anak kelinci suka banget loncat-loncat?
J : Biasalah….. namanya juga anak-anak. Suka iseng.

T : Apa persamaannya gajah dengan tiang listrik?
J : Sama-sama nggak bisa terbang

T : Budaya apa yang brengsek?
J : Budaya darat

T : Ada nggak ayam jago yang berkokok pagi-pagi?
J : Nggak ada, yang ada ayam tu berkokok ku.. ku.. ruyuuuukk

T : kenapa ninja kepalanya di tutupi pakai kain?
J : kalau pakai daun pisang dikirain nasi bungkus!

T : Warnanya putih tapi nangis. Apa hayo?
J : pocongkk nginjak paku

T : Kenapa Cowo ga pake pembalut???
J : Kalo pake, ntar dikira hotdog dong 😛

T : Telor apa yang barrier enak?
J : Telor yang lagi gatel trus digaruk-garuk (telor cowok)

T : Kenapa cewe suka dibelai rambutnya?
J : Karena kalo di jambak kan marah…

T : Kenapa Superman bisa terbang?
J : Karena celana dalamnya di luar (gak nyambung)

T : Kenapa super hero selalu ganteng?
J : Karena kalo jelek, itu kamu !

T : Binatang apa yang kelaminnya lebih dari satu?
J : Barongsay

T : Putih Hitam Merah, apa hayo?
J : Kuda Zebra habis di kerokin

T : Binatang apa yang kelaminnya dua?
J : Kuda jantan di tunggangi cewek cakep.

T : Monyet apa yang rambutnya panjang?
J : Monyet gondrong

T : Binatang yang barrier dibenci anjing laut?
J : Kucing laut T : Bola apa yang mirip kucing? J : Bola emon

T : Ikan apa yang matanya banyak sekali?
J : Ikan teri 1 glowing coal

T : Ikan apa yang nggak bisa berenang?
J : Ikan goblok

T : Orang apa yang di ajak bercanda malah marah?
J : Orang lagi sakit gigi T : Kenapa saat puasa kita musti menahan haus dan lapar J : Karena air laut rasanya asin.

T : Kenapa air laut rasanya asin
J : Karena kalo manis pasti udah habis dibotolin, terus di jual.

maaf panjang kaya choki choki


Original source : masuk gan jangan kelewatan

Kali Gajah Wong

TweetTweet
Cerita Kali gajah Wong

*** Joko Kendil ***

Dahulu, Pada waktu itu Sultan Agung sebagai pemimpin Kerajaan Mataram yang mempunyai banyak sekali prajurit, di dalam prajuritnya tersebut ada seorang srati, bernama Ki Sapa Wira.

Sultan Agung mempunyai binatang kesayangan yaitu gajah, Gajah tersebut Setiap paginya selalu di¬mandi¬kan di sungai di dekat Kraton Mataram oleh Ki Sapa Wira. Oleh karena itu, menjadi menurut dengan Ki Sapa Wira. Hingga Suatu hari Ki Sapa Wira sakit, dia menyuruh adiknya Ki Kerti Pejok untuk memandikan Kyai Dwipangga.
.

“Kerti , Tolong gantikan aku memandikan Kyai Dwipangga, ,” kata Ki Sapa Wira.

“Baik, Kang,” jawab Ki Kerti. “Tapi ba¬gai¬mana jika nanti Kyai Dwipangga tidak mau berendam, Kang?” sambungnya.

“Biasanya aku tepuk kaki belakangnya, lalu aku tarik buntutnya,” jawab Ki Sapa Wira.

Menjelang Pagi, Ki Kerti bersiap – siap dan berangkat bersama Ki Dwipangga ke sungai. Perlahan – lahan gajah itu berjalan menuju sungai, gadingnya ber¬warna putih mengkilat dan belalainya panjang, badannya yang besar mencerminkan keperkasaannya. Ki Kerti Pejok mem¬bawakan beberapa buah kepala untuk makanan Ki Dwipangga. Dan juga dengan tujuan supaya dia patuh padanya

Satu persatu buah kelapa tersebut di berikan kepadanya. Kelapa itu diambilnya dengan menggunakan belalainya yang panjang. Ki Dwipangga memakan satu persatu dengan cepat. Setelah menghabiskan beberapa kelapa tersebut, Ki Kerti sudah mengambil cemeti, menyuruh Ki Dwipangga untuk berjalan lagi.

Sesampainya di sungai, Ki Kerti menggiring Ki Dwipangga untuk masuk ke sungai yang lebih dalam. Lalu, Ki Kerti mulai memandikan ga¬jah Ki Dwipangga, sesuai dengan ajaran Ki Sapa Wira. Perlahan – lahan dy membersihkan tubuh gajah tersebut, supaya lumpur-lumpur yang melekat cepat hilang. Selesainya memandikan Ki Dwipangga, segeralah ia pulang dan membawa pulang gajah itu pulang ke kandangnya.

“Kang, gajahnya sudah selesai saya mandikan,”kata Ki Kerti kepada Ki Sapa Wira.

“Ya, terima kasih. Aku harap besok pa¬gi kamu pergi memandikan Ki Dwi¬outburst¬ga lagi. Setiap hari gajah itu harus dimandikan, apalagi pada saat musim kawin begini,” jawab Ki Sapa Wira sambil menghisap ce¬rutunya.

Seperti hari sebelumnya, pagi-pagi Ki Kerti mendatangi rumah Ki Sapa Wira, mempersiapkan bekal, dan men¬¬jemput Ki Dwipangga. Pagi itu langit kelihatan agak gelap, Karena itu segeralah Ki Kerti Pe¬jok pergi su¬ngai untuk memandikan Ki Dwipangga. Ketika sampai di sungai tersebut Ki Kerti Pejok agak kecewa ka¬re¬na sungai tempat memandikan gajah tersebut ke¬li¬sun-hat¬an dangkal.

Karena tiap harinya Ki Dwipangga masih harus dimandikan maka, mau tidak mau Ki Kerti Pe¬jok memandikan Ki Dwipangga, walaupun sungainya dangkal. Dia menggosok gajah tersebut. Belum habis Ki Kerti Pejok meng¬¬gerutu, tiba-tiba banjir bandang da¬trace dari arah hulu.

“Hap … Hap … Tulung … Tuluuung …,” teriak Ki Kerti Pejok sambil melambai-lambaikan tangannya. Ia hanyut dan teng¬gelam bersama Ki Dwipangga hingga ke Laut Selatan. Keduanya pun mati kare¬na tidak ada seorang pun yang dapat me¬nolongnya.

Untuk mengingat peristiwa tersebut, Sultan Agung menamakan sungai itu Kali Gajah Wong, karena kali itu telah meng¬hanyutkan gajah dan wong. Sungai itu terletak di sebelah timur kota Yogyakarta. Konon, tempat Ki Kerti memandikan gajah itu saat ini bersebelahan dengan kebun binatang Gembiraloka.

Tags: Cerita Rakyat Yogyakarta, Yogyakarta


Original source : Kali Gajah Wong

Hah, Tikus Ini Bisa Buat Manusia Panjang Umur?

Para ilmuwan percaya, binatang pengerat menyerupai tikus tanpa bulu alias telanjang ini bisa inimembuat manusia hidup selama 200 tahun.

Seperti dilansir dari the sun, mereka mengungkapkan bahwa tikus mol ini memiliki 93% gen yang dimiliki manusia, namun mereka bisa hidup 10 kali lebih lama dibandingkan tikus jenis lainnya.

Sementara tubuh kita memburuk seiring bertambahnya usia, tikus asal Afrika Timur ini memiliki ketahanan luar biasa untuk menunda penuaan. Mereka sanggup bereproduksi sampai akhir usia mereka, tampak selalu muda dan mengalami hanya sedikit penurunan otak atau struktur tulang.

Diperkirakan, kunci untuk usia mereka yang lama dan tetap sehat yaitu dari genetik mereka.

Profesor Jonathan Flint, seorang spesialis dalam genetika manusia di Universitas Oxford Wellcome Entrust Centre, mengatakan, “Penuaan bukan hal tetap. Tidak ada batas keras pada berapa lama kita bisa hidup. Fakta bahwa orang-orang mati pada 80 atau 90 tidak tetap. Kami secara teoritis bisa berlangsung selama 200 tahun jika kita memahami jalur biologi dan bisa mengubah mereka dalam beberapa cara.”

Para tikus mol sanggup beradaptasi dengan baik di habitat mereka di padang pasir, bisa makan tanaman beracun, kebal kanker dan mengatasi panas yang ekstrem.

Profesor Rochelle Buffenstein, di University of Texas, mengatakan, “Tidak peduli apa yang Anda berlakukan terhadap mereka, mereka tampaknya bisa mengatasi.”

Namun tidak semua tampak menguntungkan bagi mamalia berdarah dingin ini yaitu mereka tinggal di bawah tanah dan memiliki penglihatan yang mengerikan.Dan apakahAnda ingin hidup selama 200 tahun tampak seperti itu?
sumber

klik

[Image: 1901792.jpg]


Original source : Hah, Tikus Ini Bisa Buat Manusia Panjang Umur?

Tidak Menjadikan Kamu Hina, Nak

Almarhum bapak sangat suka mengajak saya jalan pagi, kadang-kadang sampai ke daerah Rancamaya sana yang menjelang tahun 90-an masih sangat asri. Sebagian area lapangan golf di Perumahan Rancamaya Estate tadinya merupakan Bukit Badigul tempat petilasan Kerajaan Pajajaran yang disebutkan dalam Prasasti Batutulis. Di kaki bukit tersebut tadinya merupakan danau buatan bernama Telaga Rena Mahawijaya yang dibangun pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi (1482-1521) yang juga berfungsi sebagai tempat wisata bagi anggota keluarga kerajaan seperti Kolam Segara peninggalan Kerajaan Majapahit di situs Trowulan Mojokerto, sekaligus sumber pengairan untuk sawah-sawah di sekitarnya. Kesenangan duniawi yang berlebihan dari para petinggi kedua kerajaan besar tadi merupakan awal dari keruntuhannya. Sama seperti runtuhnya Khilafah Ustmaniyah di Turki yang kemudian dipercepat prosesnya oleh Mustafa Kemal Pasha pada tahun 1924.

Dalam setiap kesempatan jalan pagi tersebut, saya perhatikan bapak tidak pernah lupa untuk menyingkirkan hambatan di tengah jalan, baik berupa batu, ranting, duri, sampai bangkai binatang yang mulai membusuk. Khusus tentang bangkai binatang, bapak mengatakan almarhum kakek (mertuanya bapak) menyebutnya dengan nama Kyai Dalang, singkatan dari kadal dan walang (belalang). Dalam budaya Jawa, sebutan kyai dan nyai digunakan sebagai awalan untuk memperhalus sebelum menyebut nama seseorang atau mahluk Tuhan. Kakek menyebutnya dengan Kyai Dalang sebagai penghargaan bahwa hewan-hewan yang mati di jalanan pun merupakan mahluk Tuhan yang harus diperlakukan dengan layak pada saat-saat akhirnya. Jika kita tidak mampu menguburkannya, barrier tidak singkirkan bangkainya agar tidak mengganggu orang yang akan lewat setelah kita. Toh dengan menyingkirkan bangkai hewan (pastikan terlebih dahulu keamanannya, jangan langsung disentuh), tidak menjadikan diri kita hina.

Sejak masih berumur tiga tahun, jika tidak sedang berdinas saya sering mengajak anak laki-laki saya ke Pasar Sukasari untuk kulakan warung sekaligus menyelami kehidupan para pedagang di pasar tradisional disana. Yang namanya anak-anak kan senang-senang saja diajak ke pasar becek yang dianggapnya sebagai tempat bermain. Saya sangat bersyukur dia tumbuh menjadi pribadi yang tidak gengsian karena setiap hari sepulang sekolah dia selalu minta diajak asisten menjahitnya ibu untuk berbelanja keperluan jahitan dan sesekali kulakan di pasar. Ketika mengajak beberapa orang teman untuk main ke rumah, saya memergoki dia sedang mencabuti rumput fraud di halaman rumah yang dilakukannya tanpa keterpaksaan. Hanya saja dia sempat ogah-ogahan ketika saya suruh menyapu kamar dan mencuci piring bekas makannya. Untuk yang satu ini, mudah saja cara saya mengatasinya. Saya katakan bahwa wanita-wanita cantik dan baik senang dengan laki-laki yang rajin, termasuk si “S”, inisial teman sekelasnya yang cantik. Alhamdulillah sekarang dia mau menyapu kamarnya, semua demi si “S” tercinta he he he…… Lagipula manalah dia paham soal hina dan tidak hina di hadapan Tuhan.

Saya percaya bahwa agama yang saya anut adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta alam. Bukan gangguan bahkan ancaman bagi umat beragama lain. Tetapi sebaliknya jika agama kita dinistakan, atau mendapat gangguan dari oknum umat beragama lain, maka kitapun harus siap membelanya. Tentunya secara proporsional dan tidak membabi buta, serta yakin betul bahwa kita pada awalnya memang dizalimi bukannya menzalimi. Saya ingat sekali pada tahun 2000 saat ingin bergabung dengan Laskar Jihadnya Ustad Jafar Umar Thalib yang tengah berlatih kemiliteran di daerah Kayumanis Bogor sebelum berjuang di Ambon membela sesama saudara muslim, ibu sampai menangis di pintu ruang tamu rumah kami melarang saya untuk pergi. Kata ibu “anak mama hanya dua orang, kalau kamu meninggalkan kuliahmu bahkan sampai terbunuh di Ambon, mama belum serela itu. Jangan merasa hina karena tidak mampu berjuang disana, kamu tetap anak mama”. Meskipun saat itu saya merasa sangat hina karena tidak mampu berbuat apa-apa, saya akhirnya memilih menuruti apa kata ibu.

Banyak dari ancient pupils Laskar Jihad yang sekarang menyambung hidupnya dari berjualan di sekitar area mesjid yang kita kunjungi, terutama di Pulau Jawa ini. Apabila kita memiliki rejeki, bantulah mereka dengan membeli barang dagangannya karena bagaimanapun mereka telah membantu saudara-saudaranya tanpa menghiraukan keselamatan dirinya dan (mungkin) larangan orang tuanya. Tidak seperti saya………….


Original source : Tidak Menjadikan Kamu Hina, Nak

Cerita Si Kancil dan Tokek bersuara cetar membahana tapi Galau

Adalah seekor tokek gede yang tinggal di pintu gudang beras Pak Tani. Ukurannya besar hampir sebesar tikus rumah, tubuhnya kuat, gerakannya cepat dan  suaranya keras membahana hingga orang-orang sering menyangka sebagai suara anak-anak yang berteriak. Di saentero gudang, tuan tokek ini adalah binatang yang terkuat dan disegani oleh hewan-hewan lain. Cicak,tikus clurut, laba-laba hingga ular tanah takut kepadanya. Namun dibalik kekuatannya itu ternyata Si Tokek mengidap hati yang lunglai. Hari-harinya selalu dijalani penuh kegalauan. http://duniashinichi.blogspot.com
Awalnya adalah pertemanannya dengan tokek putih yang tinggal di gudang yang sama. Mereka berteman akrab sekali hingga tidak bisa dipisahkan. Namun pada suatu malam tokek putih memutuskan pergi bareng tokek putih lain dengan menumpang sebuah truk beras. Rupanya dia memilih berteman dengan sesama tokek putih dibanding dengan tokek coklat. Sejak saat itu Tokek berubah menjadi tokek galau. 
Jika dulunya Tokek berteriak “Toooookek” dengan anggunnya pada jam-jam tertentu, yaitu jam tujuh pagi, jam tiga sore dan jam sembilan malam. Sekarang dia tak tentu jadwal teriaknya. Udah gitu suaranya bergetar sebagai dampak dari kesedihan hati yang sangat dalam. Kapanpun kala teringat tokek putih, dia akan langsung berteriak “Tooooookek, Tooooookek!” sehingga membingungkan penghuni gudang lainnya. Kadang-kadang di tengah percakapan dengan hewan lainnya Si Tokek tiba-tiba menangis dan berteriak keras “Tooooookek!” karena rindu pada sosok tokek putih. Pokoknya irama hidup Si Tokek jadi kacau balau. Tokek tenggelam dalam lautan luka dalam  setelah ditinggal tokek putih.
Suatu ketika Sang Kancil yang sedang tetirah keluar hutan berkunjung ke gudang beras itu. Hewan-hewan penghuni gudang senang sekali atas kunjungan Sang Kancil, mereka sangat berharap Si Tokek bisa dinormalkan oleh Sang Kancil. Kemudian hewan-hewan itu bercerita tentang diri Si Tokek yang galau. Tentang hidupnya yang jadi nggak karuan gara-gara ditinggal tokek putih.

Incoming search terms:

  • cerita si kancil

Original source : Cerita Si Kancil dan Tokek bersuara cetar membahana tapi Galau