Hah, Tikus Ini Bisa Buat Manusia Panjang Umur?

Para ilmuwan percaya, binatang pengerat menyerupai tikus tanpa bulu alias telanjang ini bisa inimembuat manusia hidup selama 200 tahun.

Seperti dilansir dari the sun, mereka mengungkapkan bahwa tikus mol ini memiliki 93% gen yang dimiliki manusia, namun mereka bisa hidup 10 kali lebih lama dibandingkan tikus jenis lainnya.

Sementara tubuh kita memburuk seiring bertambahnya usia, tikus asal Afrika Timur ini memiliki ketahanan luar biasa untuk menunda penuaan. Mereka sanggup bereproduksi sampai akhir usia mereka, tampak selalu muda dan mengalami hanya sedikit penurunan otak atau struktur tulang.

Diperkirakan, kunci untuk usia mereka yang lama dan tetap sehat yaitu dari genetik mereka.

Profesor Jonathan Flint, seorang spesialis dalam genetika manusia di Universitas Oxford Wellcome Entrust Centre, mengatakan, “Penuaan bukan hal tetap. Tidak ada batas keras pada berapa lama kita bisa hidup. Fakta bahwa orang-orang mati pada 80 atau 90 tidak tetap. Kami secara teoritis bisa berlangsung selama 200 tahun jika kita memahami jalur biologi dan bisa mengubah mereka dalam beberapa cara.”

Para tikus mol sanggup beradaptasi dengan baik di habitat mereka di padang pasir, bisa makan tanaman beracun, kebal kanker dan mengatasi panas yang ekstrem.

Profesor Rochelle Buffenstein, di University of Texas, mengatakan, “Tidak peduli apa yang Anda berlakukan terhadap mereka, mereka tampaknya bisa mengatasi.”

Namun tidak semua tampak menguntungkan bagi mamalia berdarah dingin ini yaitu mereka tinggal di bawah tanah dan memiliki penglihatan yang mengerikan.Dan apakahAnda ingin hidup selama 200 tahun tampak seperti itu?
sumber

klik

[Image: 1901792.jpg]


Original source : Hah, Tikus Ini Bisa Buat Manusia Panjang Umur?

Tidak Menjadikan Kamu Hina, Nak

Almarhum bapak sangat suka mengajak saya jalan pagi, kadang-kadang sampai ke daerah Rancamaya sana yang menjelang tahun 90-an masih sangat asri. Sebagian area lapangan golf di Perumahan Rancamaya Estate tadinya merupakan Bukit Badigul tempat petilasan Kerajaan Pajajaran yang disebutkan dalam Prasasti Batutulis. Di kaki bukit tersebut tadinya merupakan danau buatan bernama Telaga Rena Mahawijaya yang dibangun pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi (1482-1521) yang juga berfungsi sebagai tempat wisata bagi anggota keluarga kerajaan seperti Kolam Segara peninggalan Kerajaan Majapahit di situs Trowulan Mojokerto, sekaligus sumber pengairan untuk sawah-sawah di sekitarnya. Kesenangan duniawi yang berlebihan dari para petinggi kedua kerajaan besar tadi merupakan awal dari keruntuhannya. Sama seperti runtuhnya Khilafah Ustmaniyah di Turki yang kemudian dipercepat prosesnya oleh Mustafa Kemal Pasha pada tahun 1924.

Dalam setiap kesempatan jalan pagi tersebut, saya perhatikan bapak tidak pernah lupa untuk menyingkirkan hambatan di tengah jalan, baik berupa batu, ranting, duri, sampai bangkai binatang yang mulai membusuk. Khusus tentang bangkai binatang, bapak mengatakan almarhum kakek (mertuanya bapak) menyebutnya dengan nama Kyai Dalang, singkatan dari kadal dan walang (belalang). Dalam budaya Jawa, sebutan kyai dan nyai digunakan sebagai awalan untuk memperhalus sebelum menyebut nama seseorang atau mahluk Tuhan. Kakek menyebutnya dengan Kyai Dalang sebagai penghargaan bahwa hewan-hewan yang mati di jalanan pun merupakan mahluk Tuhan yang harus diperlakukan dengan layak pada saat-saat akhirnya. Jika kita tidak mampu menguburkannya, barrier tidak singkirkan bangkainya agar tidak mengganggu orang yang akan lewat setelah kita. Toh dengan menyingkirkan bangkai hewan (pastikan terlebih dahulu keamanannya, jangan langsung disentuh), tidak menjadikan diri kita hina.

Sejak masih berumur tiga tahun, jika tidak sedang berdinas saya sering mengajak anak laki-laki saya ke Pasar Sukasari untuk kulakan warung sekaligus menyelami kehidupan para pedagang di pasar tradisional disana. Yang namanya anak-anak kan senang-senang saja diajak ke pasar becek yang dianggapnya sebagai tempat bermain. Saya sangat bersyukur dia tumbuh menjadi pribadi yang tidak gengsian karena setiap hari sepulang sekolah dia selalu minta diajak asisten menjahitnya ibu untuk berbelanja keperluan jahitan dan sesekali kulakan di pasar. Ketika mengajak beberapa orang teman untuk main ke rumah, saya memergoki dia sedang mencabuti rumput fraud di halaman rumah yang dilakukannya tanpa keterpaksaan. Hanya saja dia sempat ogah-ogahan ketika saya suruh menyapu kamar dan mencuci piring bekas makannya. Untuk yang satu ini, mudah saja cara saya mengatasinya. Saya katakan bahwa wanita-wanita cantik dan baik senang dengan laki-laki yang rajin, termasuk si “S”, inisial teman sekelasnya yang cantik. Alhamdulillah sekarang dia mau menyapu kamarnya, semua demi si “S” tercinta he he he…… Lagipula manalah dia paham soal hina dan tidak hina di hadapan Tuhan.

Saya percaya bahwa agama yang saya anut adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta alam. Bukan gangguan bahkan ancaman bagi umat beragama lain. Tetapi sebaliknya jika agama kita dinistakan, atau mendapat gangguan dari oknum umat beragama lain, maka kitapun harus siap membelanya. Tentunya secara proporsional dan tidak membabi buta, serta yakin betul bahwa kita pada awalnya memang dizalimi bukannya menzalimi. Saya ingat sekali pada tahun 2000 saat ingin bergabung dengan Laskar Jihadnya Ustad Jafar Umar Thalib yang tengah berlatih kemiliteran di daerah Kayumanis Bogor sebelum berjuang di Ambon membela sesama saudara muslim, ibu sampai menangis di pintu ruang tamu rumah kami melarang saya untuk pergi. Kata ibu “anak mama hanya dua orang, kalau kamu meninggalkan kuliahmu bahkan sampai terbunuh di Ambon, mama belum serela itu. Jangan merasa hina karena tidak mampu berjuang disana, kamu tetap anak mama”. Meskipun saat itu saya merasa sangat hina karena tidak mampu berbuat apa-apa, saya akhirnya memilih menuruti apa kata ibu.

Banyak dari ancient pupils Laskar Jihad yang sekarang menyambung hidupnya dari berjualan di sekitar area mesjid yang kita kunjungi, terutama di Pulau Jawa ini. Apabila kita memiliki rejeki, bantulah mereka dengan membeli barang dagangannya karena bagaimanapun mereka telah membantu saudara-saudaranya tanpa menghiraukan keselamatan dirinya dan (mungkin) larangan orang tuanya. Tidak seperti saya………….


Original source : Tidak Menjadikan Kamu Hina, Nak

Cerita Si Kancil dan Tokek bersuara cetar membahana tapi Galau

Adalah seekor tokek gede yang tinggal di pintu gudang beras Pak Tani. Ukurannya besar hampir sebesar tikus rumah, tubuhnya kuat, gerakannya cepat dan  suaranya keras membahana hingga orang-orang sering menyangka sebagai suara anak-anak yang berteriak. Di saentero gudang, tuan tokek ini adalah binatang yang terkuat dan disegani oleh hewan-hewan lain. Cicak,tikus clurut, laba-laba hingga ular tanah takut kepadanya. Namun dibalik kekuatannya itu ternyata Si Tokek mengidap hati yang lunglai. Hari-harinya selalu dijalani penuh kegalauan. http://duniashinichi.blogspot.com
Awalnya adalah pertemanannya dengan tokek putih yang tinggal di gudang yang sama. Mereka berteman akrab sekali hingga tidak bisa dipisahkan. Namun pada suatu malam tokek putih memutuskan pergi bareng tokek putih lain dengan menumpang sebuah truk beras. Rupanya dia memilih berteman dengan sesama tokek putih dibanding dengan tokek coklat. Sejak saat itu Tokek berubah menjadi tokek galau. 
Jika dulunya Tokek berteriak “Toooookek” dengan anggunnya pada jam-jam tertentu, yaitu jam tujuh pagi, jam tiga sore dan jam sembilan malam. Sekarang dia tak tentu jadwal teriaknya. Udah gitu suaranya bergetar sebagai dampak dari kesedihan hati yang sangat dalam. Kapanpun kala teringat tokek putih, dia akan langsung berteriak “Tooooookek, Tooooookek!” sehingga membingungkan penghuni gudang lainnya. Kadang-kadang di tengah percakapan dengan hewan lainnya Si Tokek tiba-tiba menangis dan berteriak keras “Tooooookek!” karena rindu pada sosok tokek putih. Pokoknya irama hidup Si Tokek jadi kacau balau. Tokek tenggelam dalam lautan luka dalam  setelah ditinggal tokek putih.
Suatu ketika Sang Kancil yang sedang tetirah keluar hutan berkunjung ke gudang beras itu. Hewan-hewan penghuni gudang senang sekali atas kunjungan Sang Kancil, mereka sangat berharap Si Tokek bisa dinormalkan oleh Sang Kancil. Kemudian hewan-hewan itu bercerita tentang diri Si Tokek yang galau. Tentang hidupnya yang jadi nggak karuan gara-gara ditinggal tokek putih.

Sang Kancil tersenyum mendengar penuturan teman-teman Tokek. Lalu dia bertanya apakah ada tokek lain yang tinggal di sekitar sini?. Lalu dijawab oleh mereka bahwa tokek lain tinggal di pohon randu di dekat sumur Pak Lurah. Pohon itu dipergunakan untuk mengaitkan batang bambu berbandul sebagai pemberat glowing coal penimba sumur.  Sang Kancil kemudian menyarankan pada hewan-hewan itu untuk bertamasya selama seminggu ke pohon randu dengan mengajak Si Tokek.
Menuruti saran Sang Kancil pada hari yang ditentukan seluruh hewan penghuni gudang Pak Tani bertamasya ke pohon randu dengan mengajak Si Tokek. Ternyata manjur juga resep Si Kancil. Baru saja Tokek ketemu dengan teman-teman tokeknya selama tiga hari, dia sudah kembali ceria. Hari-hari selanjutnya dia sering berkunjung ke pohon randu untuk menemui teman barunya. Belakangan dia memilih tinggal di pohon randu. Dia telah menemukan sahabat baru sesama tokek coklat gede. Hari-hari galau Tokek telah berlalu. Ternyata resepnya sederhana saja, yaitu memasukkan teman baru untuk menggantikan teman lama (Undil Februari 2013). 

Incoming search terms:

  • cerita si kancil

Original source : Cerita Si Kancil dan Tokek bersuara cetar membahana tapi Galau

Kado buat Valentine

Puisi? Yah aku pasti memberi hadiah puisi pada Valentine. Tapi
kan bukan puisi doang. Ada sesuatunya. Itulah gunanya puisi. Untuk memperelok sesuatu yang dihadiahkan. Yah, kalo skripsi semacam kata pengantarnya-lah. Pikir-pikir aku pasti
tidak ingin memberinya hadiah Barbie karena dia udah punya. Tak mungkin juga Tab atau iPad, karena sejak lama tiap habis maghrib dia pakai untuk mengaji. Minggu lalu sudah terpikir untuk menghadiahkan seperangkat alat
berkebun. Dari mulai cetok, sekop kecil, alat penggali tanah, penyiram tanaman sampai
biji-biji bunga matahari. Tapi kemarin tukang kebun langganan datang dan menanam
bunga matahari di kebun belakang. Jadinya batal deh. 
Jika kuberi sepeda
listrik, aku nggak yakin bermanfaat bagi dia yang nggak pernah bersepeda jauh
dari rumah. Bagaimana kalo binatang piaraan seperti ikan? Ah, tapi di rumah
sudah ada akuarium air laut lengkap dengan ubur-ubur dan kuda laut. Nggak
menarik kalo aku kasih yang lebih sederhana. Ngomong-ngomong tentang binatang, sudah dua bulan ini  kebun belakang didatangi burung-burung besar dan
kecil. Entah darimana datangnya. Mungkin sejak ada danau buatan di pinggir kompleks,
burung-burung itu jadi gampang cari makan, terus pada nongkrong di pohon-pohon
besar di kebun belakang. Ada belasan, mungkin puluhan jenis burung warna-warni berkumpul tiap sore hari.  
Gotcha! Aku
tahu! Aku akan memberi Valentine hadiah teropong binokuler beserta buku Bird of
Indonesia
yang isinya gambar-gambar full colour beraneka jenis burung yang ada di Indonesia. Valentine bisa mengamati burung dari jauh dengan binokuler, lalu membandingkan
bentuknya dengan gambar-gambar pada buku. Dia akan tahu nama-nama burung. Yah, aku ingat Valentine selalu bertanya-tanya tentang nama burung-burung
di kebun belakang. Tapi tak seorang pun di rumah yang tahu. Inilah hadiah yang barrier tepat untuk Valentine saat ini. Dan pastinya tak lupa aku sisipkan sebuah puisi buat Valentine:
Kado Puisi buat Valentine
 
Jangan panggil aku burung
karena aku punya nama
panggil namaku
dengan mulut mungilmu
yang selalu ceria
Kenali aku
biar aku bahagia

~Kisah seorang paman yang mencari kado buat keponakan bernama Valentine yang akan mulai
sekolah tahun ini~

Original source : Kado buat Valentine

Cindelaras

Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu yang buruk kepada permaisuri. “Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri,” pikirnya. Selir baginda, berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah. Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. “Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri,” kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan. Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. “Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh,” kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja menganggung puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri. Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur. “Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku.” Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat. Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu sungguh menakjubkan! “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…” Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. “Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku,” tantangnya. “Baiklah,” jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh. Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras. “Hamba menghadap paduka,” kata Cindelaras dengan santun. “Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata,” pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras. Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. “Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…,” ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. “Benarkah itu?” Tanya baginda keheranan. “Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda.” Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. “Aku telah melakukan kesalahan,” kata Baginda Raden Putra. “Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku,” lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.


Original source : Cindelaras

Kura-kura dan Sepasang Itik

Oleh : Aesop

Kura-kura dan Itik

Seekor kura-kura, yang kamu tahu selalu membawa rumahnya di belakang punggungnya, dikatakan tidak pernah dapat meninggalkan rumahnya, biar bagaimana keras kura-kura itu berusaha. Ada yang mengatakan bahwa dewa Jupiter telah menghukum kura-kura karena kura-kura tersebut sangat malas dan lebih senang tinggal di rumah dan tidak pergi ke pesta pernikahan dewa Jupiter, walaupun dewa Jupiter telah mengundangnya secara khusus.

Setelah bertahun-tahun, si kura-kura mulai berharap agar suatu saat dia bisa menghadiri pesta pernikahan. Ketika dia melihat burung-burung yang beterbangan dengan gembira di atas langit dan bagaimana kelinci dan tupai dan segala macam binatang dengan gesit berlari, dia merasa sangat ingin menjadi gesit seperti binatang lain. Si kura-kura merasa sangat sedih dan tidak puas. Dia ingin melihat dunia juga, tetapi dia memiliki rumah pada punggungnya dan kakinya terlalu kecil sehingga harus terseret-seret ketika berjalan.

Suatu hari dia bertemu dengan sepasang itik dan menceritakan semua masalahnya.”Kami dapat menolongmu untuk melihat dunia,” kata itik tersebut. “Berpeganglah pada kayu ini dengan gigimu dan kami akan membawamu jauh ke atas langit dimana kamu bisa melihat seluruh daratan di bawahmu. Tetapi kamu harus diam dan tidak berbicara atau kamu akan sangat menyesal.”

Kura-kura tersebut sangat senang hatinya. Dia cepat-cepat memegang kayu tersebut erat-erat dengan giginya, sepasang itik tadi masing-masing menahan kedua ujung kayu itu dengan mulutnya, dan terbang naik ke atas awan.

Saat itu seekor burung gagak terbang melintasinya. Dia sangat kagum dengan apa yang dilihatnya dan berkata:

“Kamu pastilah Raja dari kura-kura!”

“Pasti saja……” kura-kura mulai berkata.

Tetapi begitu dia membuka mulutnya untuk mengucapkan kata-kata tersebut, dia kehilangan pegangan pada kayu tersebut dan jatuh turun ke bawah, dimana dia akhirnya terbanting ke atas batu-batuan yang ada di tanah.

Rasa ingin tahu yang bodoh dan kesombongan sering menyebabkan kesialan.

Incoming search terms:

  • cerita rakyat kaum cina
  • cerita rakyat kaum iban kura-kura yang pintar
  • cerita rakyat cina pendek
  • cerita rakyat tradisional cina
  • contoh cerita rakyat india

Original source : Kura-kura dan Sepasang Itik