Senja Murung

Oleh DIAN KURNIA

Kawanan awan hitam besenandung di pelupuk senja. Menyiratkan satu petaka dosa di tumpukan puing-puing kehidupan. Rindu pada rintihan hujan yang berjatuhan di atap kota, menyebar memenuhi relung alam raga, tak bersuara.

Hening senantiasa sirna saat aku berdiri menerjang gelombang senja.

Kabut rindu menyusup di antara ranting-ranting penyesalan. Si pembangkang bersendu, merayu alam. Kota telah mati oleh sayatan keangkuhan.

Apalah arti sesal tatkala kata-kata tak lagi mampu meraba derita. Yakinilah, bahwa, semua perang pada akhirnya akan berakhir. Begitu pun dengan keharusan aku mengabdi pada kemalasan.

Aku membatu dalam kesendirian. Lalu menyeka gumpalan peluh di belantara senja. Maaf hanyalah sebatas cerita, tak terbaca dalam lentera jiwa.

Aku melebur dalam ketakutan. Lewati lorong gelap tempat jumpa. Meniti sebuah petak petualangan rimba. Kuberlari mengejar potongan angsa muram.

Aku meronta dalam keramaian. Bertaruh derita sebesar mahkota sang Raja. Di pusaran sendu aku berkata, “Aku si pencuri doa mengiba pada sang Raja dari segala Raja. Tuhan sang Pencipta alam semesta!”

Hanya saja, pengorbanan sebagai kekerasan yang dibelokkan oleh kawanan guntur tak pernah menyentuh sedikit pun pada keberadaanku.

“…Senja murung saat aku pergi ke bawah hujan yang riak.”

Sumedang, September 2012

Incoming search terms:

  • kisah cinta alsha
  • Cjr rebutin salsha
  • Penggorbanan cinta bidi dan super 7
  • perjalanan mencari cinta sejati (PMCS) love super 7 part 5

Original source : Senja Murung