SEPENGGAL KISAH KASIH TAK SAMPAI

SEPENGGAL KISAH KASIH TAK SAMPAI

Kamis siang ini bolong sekali. Langit tak berawan, sejauh mata memandang adalah langit yang biru cemerlang. Bu intellectual, adalah profesiku di sini. Di sebuah sekolah menengah atas negeri, di salah satu pegunungan Serang Banten. Jauh dari tempatku dilahirkan (Ciamis), dibesarkan (Cilacap & Purwokerto) dan dikuliahkan (Surabaya). Namun itulah hidup, kuterima dengan semesta cinta, segenap asa, dan sepenuh jiwa.

Siang ini, aku masuk ke kelas unggulan, kelas X-1. Panas terik, jam terakhir, Matematika pula. Kubiarkan murid-muridku rada berisik. Biarlah, namanya juga tatap muka terakhir pelajaran Matematika semester ini. Apalagi materi juga sudah selesai. Jadi tatkala Yoga, salah satu ‘murid bandel’ku menyalin bahasan soal di papan tulis sambil bersenandung, kupandangi saja sambil tersenyum. Selirih apapun pasti terdengar, karena dia duduk tepat di depanku. Yang dinyanyikan adalah lagu lama,

Kemesraan iniii..
Janganlah cepat berlalu
Hatiku damai, jiwaku tentram di sampingmu

Lagu melankolis ini mengingatkanku pada jaman kepopulerannya. Yaitu saat aku masih duduk di bangku sekolah, kelas 1 SMA. Masa-masa pencarian jati diri. Sedang aktif-aktifnya ikut Pramuka Saka Bhayangkara, yang suka kemping kemana-mana. Dulu, anak-anak suka sekali menyanyikan lagu ini rame-rame di berbagai acara, tak kenal waktu. Bahkan, di segala cuaca dan suasana!!

“Kamu kok bisa lagu itu, A’?” tanyaku sedikit kagum.

“Hehehe…. Bu, saya suka lagu lama. Lagunya Franky,” ujarnya percaya diri. Heem, Franky Sahilatua, aku malah baru tahu kalau dia yang menciptakan lagu ini. Spesialis pencipta lagu melankolis rupanya. Karena dia juga yang menciptakan lagu kesukaanku (dulu), yang bersyair

Di keheningan malam
tanpa bintang, tanpa bulan
Kesunyian mencekam
hingga lubuk yang terdalam
Ku tengadahkan wajah
pada langit yang hitam
**waaa, pokoknya ini lagu galau habis dah!**

“Oooh, gitu ya. Dia sudah meninggal kan?”

“Betul Bu, sudah lama… .”

“Lagu itu, sudah ada sejak Ibu masih SMA…,” lanjutku. Murid-murid yang lain mulai memperhatikan percakapan kami.

“Sekarang Ibu juga masih SMA!” celoteh seorang anak yang duduk di belakang.

“Hehe.. Iya juga ya, cuma posisinya lain. Dulu, Ibu yang duduk di bangku kalian. Dan, intellectual Ibu yang nyesek mendengar Ibu menyanyi. Sekarang, gantian Ibu yang nyesek…,” samberanku disambut tawa terpingkal-pingkal anak sekelas, sambil menunjuk-nunjuk Yoga yang shock. Hahahaaa…

“Tahu gak, Ibu tuh jago menyumbangkan lagu lho… !” tambahku.

Anak-anak bengong. Masa sich, pembina keputrian (di bawah Rohis) sekaligus pembina paskibra, bisa menyanyi? Bahkan jago menyumbangkan lagu? Yang bener ajjja?! Begitu barangkali isi pikiran mereka. Tapi sungguh, kupasang muka meyakinkan di depan kelas. Akhirnya, sepersekian detik kemudian,

“Nyanyi dong Bu! Ayo nyanyii…. Duet sama Wulan!” daulat riuh anak-anak diikuti tawa Wulan, sang bintang panggung yang keGRan.

Aku senyum-senyum, ”iya dong. Kalau ada acara, Ibu suka menyumbangkan lagu. Lagu yang tadinya merdu, jadi sumbang,” lanjutku.

Anak- anak semakin kencang tertawa. Sudah tidak sampai lagi permohonan maafku barangkali, ke telinga mereka, ”jadi maaf ya, question for kalian tidak bisa Ibu penuhi…!” dan kusambung lagi, namun hanya (sanggup) dalam hati, “…karena Ibu, sayaaaang kaliaaan… .”

Aku tahu…, ada bagian krusial yang begitu berat kusampaikan kali ini. Bukan karena pelit, bukan pula karena tak mau berbagi. Menurutku, saat itu belum waktunya untuk diutarakan. Bukan di forum atau pertemuan itu bisa disampaikan. Walaupun biasanya, setiap aku bercerita atau berkisah, selagi masih satu frekuensi, selalu diakhiri dengan benang merah hikmah yang bisa mereka ambil. Biasanya pula, sinar mata mereka melembut saat mendengarkanku. Itulah bukti kecil baktiku sebagai pendidik, yang (berusaha) asih, asah dan asuh menuntun mereka menuju cahaya.

Namun siang ini, jadi saksi kisah kasihku yang tersengal, tak sampai kepada mereka. Biarlah kutitipkan saja pada angin malam ini, yang lembut berhembus. Atau pada ustadz ahli yang kalau malam Jumat seperti ini, mengisi halaqah ilmu di masjid atau di mimbar TV. Atau… barangkali, ini saat yang tepat bagiku untuk berdoa. Memohon padaNya, diberi kelapangan umur dan situasi. Agar bisa  menyampaikan kebenaran ini ke telinga dan hati mereka, bahkan kalau perlu, ke seluruh nurani anak negeri:: suara wanita yang sedang menyanyi, apalagi yang mendayu-dayu dan mendesah-desah, bisa menimbulkan fitnah. Bagi yang bukan mahram, forboden menikmatinya….

Kisah kasihku, siang ini sungguh tak sampai. Tak tepat waktu dan situasi. Anak-anak sudah pecah konsentrasi, tak lagi satu frekuensi. Terpenggal suara bel pulang, yang keras berdentang-dentang.

***

Serang, 6 Desember 2012.

Incoming search terms:

  • cerita alsha
  • cerita cinta alsha
  • cerita dialog CJR dan winks MY FIRST LOVE # 2
  • cerita first night CJR n nk
  • Kisah cinta segitiga alsha terbaru
  • kisah kasih cinta alsha
  • kumpulan cerpen cinta alsha

Original source : SEPENGGAL KISAH KASIH TAK SAMPAI