Sejauh Mimpiku

“Kalau udah besar kakak mau jadi apa?”
“Fuji mao jadi Intellectual ma,, Intellectual Matematika kayak ibu Yenni. Orangnya cantik, Baik, Pinter,mmm..Sempurna.”
“Haha.. Fuji ada-ada aja deh… Tapi Boleh juga, mama juga dulu pengen jadi Intellectual loh, tapi… Tuhan maunya lain. Jadi ibu rumah tangga deh sekarang, ngurusin papa, kakak sama adek. Trus anak mama yang satu ini gimana?? Dari tadi diam aja……”
“Kalo Yela Pengen jadi dokter ma. Kalo mama, papa ato ka’Fuji sakit kan gak Perlu ke rumah sakit lagi. Gak perlu keluarin uang banyak-banyak, biar Yela aja yang ngobatin”
“Anak mama Pinter-pinter deh. Kak Fuji mau jadi Intellectual, dede’Yela mao Jadi Dokter. Mama bangga deh sama kalian. Makanya mulai sekarang belajarnya yg bener, jangan males ke sekolah. Yaa??”
***
Terbesit Jelas d’Benakku Perbincangan seorang ibu dengan kedua anak nya yg masih kecil itu, lebih tepatnya, ibuku, aku dan kakakku. hmmp.. oh ya.. Namaku Arela Belinda. Orang-orang selalu memanggilku Yela. Baru beberapa bulan yang lalu usiaku genap 18 tahun..
“Menjadi seorang Dokter Spesialis Bedah” itu cita-citaku sejak kecil. Setiap kali keluarga ataupun kerabat orang tuaku bertanya tentang cita-citaku, tanpa ragu-ragu aku akan menjawab seperti itu. Aku berfikir bahwa saat besar nanti cita-cita itu akan berubah, tapi kenyataannya tidak. Aku semakin semangat untuk mewujudkannya, terbukti dengan nilai raportku yang terus meningkat, berbagai prestasi yang aku raih, hingga saat kelas 2 SMA aku berhasil masuk jurusan IPA yang aku idam-idamkan. Aku tidak sempat memikirkan bagaimana sulitnya perkuliahan itu, aku bahkan tidak peduli dengan kata orang dan semua kekhawatiran teman sebayaku tentang dunia perkuliahan, yang kulakukan hanyalah menjalani dengan senang hati masa SMAku dengan prestasi yang tak henti-hentinya.
Tidak terasa aku berada di tingkat akhir masa SMA, mendekati Ujian Akhir Nasional. Saat itu juga aku melihat teman-temanku telah bersibuk-sibuk ria mencari tempat kuliah. Aku justru santai dan tidak memikirkan sejauh itu, aku hanya fokus pada UAN dan kebersamaanku dengan sekolahku yang tercinta ini yang tidak lama lagi akan berakhir. Waktu demi waktu berlalu, dengan sendirinya berbagai formulir penerimaan mahasiswa baru di beberapa Universitas telah ada di hadapanku tanpa aku mencarinya, sembari aku menunggu hasil pengumuman UAN. Aku terfokus pada formulir Salah satu Universitas terkenal di Indonesia yang berada d’Jakarta. Dengan semangat dan senang hati ku isi formulir bebas tes itu dan mengirim ke alamat yang bersangkutan beserta syarat-syarat yang diperlukan. Bulan itu aku dalam kecemasan besar, menanti hasil UAN ku dan juga hasil penerimaan Maba di universitas idamanku tersebut. Hingga akhirnya.. 16 April 2011, itulah saat-saat yang takkan terlupakan, saat warna-warni pilox terukir di baju, rambut dan hampir seluruh wajahku. Ku rayakan kemenanganku bersama teman-teman. Puji Tuhan, akhirnya aku lulus, mengakhiri masa putih abu-abuku. Di tambah lagi aku di terima di Universitas pilihanku. Bahagia, haru, sedih, semua bercampur dalam hatiku, aku tak bisa membayangkan ekspresi wajahku yang aneh saat itu.
Oke.. inilah saatnya untuk pergi, aku meninggalkan Sekolahku yang tercinta, meninggalkan kota kecil dimana aku dibesarkan, dan melangkah ke Ibu Kota dengan harapan mimpiku menjadi seorang Dokter akan terwujud di universitas Pilihanku itu. Papa mengantarku dengan penuh rasa bangga, sungguh itu terlihat dari wajahnya. Kadang aku merasa kasihan kepada orangtuaku, dibanding dengan saudara-saudaraku yang lain, biaya hidup dan pendidikanku lah yang menguras banyak biaya, dimulai dengan kebiasaanku keluar-masuk rumah sakit sejak kecil hingga mimpi-mimpi besar yang ingin aku wujudkan . Tapi mereka lagi-lagi memberi semangat dan tidak menunjukkan sedikitpun keluhan dihadapanku.
Sesuatu yang sangat-sangat tak terduga terjadi saat aku telah berada di Ibu kota bersama papaku. Surat kabar dan media elektronik memberitakan kehancuran yang sedang di alami Universitas yang aku tuju, perebutan yayasan, status yang tidak jelas, korupsi dan sebagainya. Aku tak tau seberapa hebat berita itu merubah pikiran papaku 180 derajat. Dukungan dan semangat yang terus ia berikan selama ini berubah menjadi pemaksaan untuk aku membatalkan niatku berkuliah di sana, padahal 3 hari lagi adalah hari terakhir pembayaran uang pangkal. Kerasnya bantahan ayahku terhadap keinginanku itu membuatku sedih, menangis sepanjang hari hingga akhirnya berujung sakit. Dalam kelemahanku aku terus menangis, terlebih saat deadline pembayaran itu semakin dekat, bila tidak dilunasi aku dinyatakan gugur menjadi Mahasiswi Kedokteran di Universitas tersebut. Seakan cita-citaku berhenti sampai di sini.
Papa menawarkan sejumlah Universitas lain, bahkan papa rela mengurus formulir masuk dengan berbagai jalur tes, tapi tak satupun yang berhasil mengembalikan semangatku. Aku mengikuti tes di berbagai Universitas yang disarankan oleh papaku dengan asal-asalan. Aku tak tau apa yang terjadi, semangatku rasanya telah patah. Aku hanya mau di universitas pilihanku yang telah kuperjuangkan sedemikian rupa bahkan saat aku masih berseragam putih abu-abu. Sebulan lamanya aku berada dalam kesedihan, air mata berlinang saat lewat di Universitas yang menjadi ‘masa lalu’ itu. Aku tak menyadari, kesedihanku selama ini ternyata menjadi beban pikiran papa. Hingga suatu hari papa tiba-tiba sesak nafas dan terkena serangan jantung saat melihatku menangis tak karuan. Ini salahku, papa jadi seperti ini. Dalam kesakitannya papa tetap berusaha menghubungi teman dan kerabat, mencari saran yang terbaik untuk rencana kuliahku
Ini yang lebih menyakitkan, saat papa berdasarkan saran teman-temannya memintaku untuk beralih dari Kedokteran ke Psikologi. Sebelumnya, menjadi seorang Psikolog pun adalah cita-citaku, namun jauh melebihi itu Dokter tetap nomer satu, papa pun tau itu. Namun dalam keadaan seperti ini apalah dayaku untuk membantah, aku tak ingin kehilangan papa hanya karena cita-citaku yang terlalu kupaksakan, terlebih lagi sudah sangat terlambat untuk aku memilih-milih tempat kuliah. Banyak waktu yang kusia-siakan untuk larut dalam kesedihan, semua Universitas hampir menutup pendaftaran bagi mahasiswa baru terutama Fakultas Kedokteran.
Baiklah, aku mencoba untuk menenangkan diri, mengikuti saran papa sembari terus berdoa kepada Tuhan, meminta yang terbaik untuk masa depanku. Akhirnya aku mendapat peluang bebas tes di Fakultas Psikologi di Universitas Pilihan papaku. Awalnya sangat sedih saat bertemu dengan anak-anak fakultas kedokteran di Universitas itu saat aku mengikuti masa Orientasi dan mengurus administrasi bersama mereka. Bayang-bayang kedokteran itu masih jelas di benakku, tak jarang menimbulkan kesedihan. Waktu demi waktu berlalu sekarang aku menjalani kuliahku sebagai seorang mahasiswi Psikologi.
Siapa yang menyangka akan seperti ini, jauh lebih indah dari yang kubayangkan. Di sini aku belajar memahami diriku terlebih dahulu dan kemudian memahami orang lain, bahkan tak jarang aku mengangap duniah kuliah ini sebagai proses berobat jalan untukku, tentunya ini tak akan kudapatkan bila aku kuliah di jurusan lain (aku tak ingin menyebutnya lagi.. hahha^^). Seorang teman berkata padaku : “Kuliah di kedokteran bisa bikin stres, tapi di psikologi justru ngilangin stres” aku cukup terhibur mendengarnya. Bahkan seorang dosenku sempat berkata : “Bagian dari manusia yang tidak dapat tersentuh oleh obat dan peralatan medis kedokteran, itulah bagian kita” kata-kata itu membuatku semangat dan bangga menjadi calon PSIKOLOG PROFESIONAL *amin* :’)
Ditulis : 10 Juni 2012


Original source : Sejauh Mimpiku