Sang Kyai 49

Masuk dua perempuan setengah baya lagi,

“Mari silahkan duduk.” kataku mempersilahkan duduk di karpet.

Laila Latoifa dan ibunya terdiam.

“Ketaatan seorang istri itu pada suaminya, dan ketaatan seorang anak lelaki itu pada Ibunya, kenapa seperti itu? Agar keterikatan seseorang itu menyambung seperti rantai yang saling melengkapi, kedurhakaan selain pada Alloh itu ada tiga, durhakanya anak lelaki pada ibunya, durhakanya seorang pejuang lari dari barisan perangnya, dan kedurhakaan istri pada suaminya, ketika dewi Fatimah putrinya Nabi, menangis karena kesusahan hidupnya, maka Nabi datang, dan melihat keadaan Fatimah, lalu menasehati, kata Nabi SAW, ‘jika aku perintahkan penggilingan gandum berputar niscaya gilingan gandum akan berputar terus untuk meringankan bebanmu menggiling gandum, tapi aku tak melakukan untukmu, agar kau menggiling gandum dengan tanganmu dan memasakkan untuk suamimu, sebab dalam kelelahan ada nilai pengabdian, dalam nilai pengabdian menunjukkan nilai keta’atan, dalam keta’atan ada pahala kesabaran, dan kenaikan pangkat kedudukan di sisi Alloh,’”

“Makanan yang dibuat oleh seorang ibu, dengan ketulusan cinta, dan ada do’a malaikat di dalamnya, akan mempengaruhi jiwa, dan kepribadian seorang anak, jika makanan dibeli dengan jadi, jajan sana sini, bisa dipastikan telah mendidik anak untuk menjadi materialis, menilai apapun dengan nilai uang, dan menghargai apapun dengan uang, jika tidak ada unsur uangnya maka tidak dianggap berharga atau pantas dinilai. Jadi anak itu bagaimana orang tua menulisi, itu contoh kecil yang mungkin lepas dari perhatian kita.” kataku.

“Ada apa ibu berdua?” tanyaku kepada dua orang yang baru datang, yang satu masih muda yang satunya lagi sudah setengah tua.

“Masalah apa?” tanyaku.

“Masalah keluarga kyai.” kata perempuan muda yang mengenalkan diri bernama Maslihah.

“Diceritakan saja, mungkin saya bisa membantu.” kataku.

“Itu kyai, suamiku menyeleweng.” jawab Muslihah.

“Biasanya lelaki itu menyeleweng karena kurangnya saling mengerti dan tak ada komunikasi di rumah, seringnya antara istri dan suami tidak saling terbuka, dan istri tak ada kemauan untuk membahagiakan suami, istri tak menjaga penampilan untuk suami, tapi kebanyakan malah bersolek waktu keluar rumah, sering kali tak ada komunikasi maka yang terjadi istri pengen suami mengelus kepalanya, tapi karena tak ada komunikasi, suami malah yang dielus dengkulnya istri terus, sehingga istri kecewa, karena harapannya ingin kepala dielus tak pernah kesampaian, karena tak ada komunikasi, harusnya suami istri saling terbuka, jangan saling rikuh, membicarakan entah soal hubungan suami istri di atas ranjang, atau hubungan keseharian, sebab dua orang yang menyatu, tentu tak tau apa-apa yang diinginkan suami dan apa-apa yang diinginkan istri, juga biasanya istri kurang mau menjaga merawat diri, misal memakai gurah, agar suami terpuaskan.”

“Saya sudah tua masak memakai seperti itu kyai.” tanya Muslihah.

“Malah kalau sudah tua itu malah lebih rajin merawat diri, biasanya cenderung istri menyeleweng itu karena suami tak perkasa lagi di ranjang, belum apa-apa sudah KO, ya kan istri yang tidak terpuaskan akan mencari kepuasan, ingat syaitan itu menggoda manusia, hal yang haram itu selalu indah dibayangan, seorang suami yang punya istri cantik bisa nyeleweng dengan pembantunya yang jelek karena bisikan syaitan, dan syaitan memberikan bayangan-bayangan hayal yang indah.”

“Bagaimana solusi permasalahan saya kyai?” tanya Muslihah.

“Mbak Muslihah ini rawatlah diri, kalau perlu memakai gurah, dan rawat kecantikan, layani suami dengan penuh cinta, cintai suaminya bukan karena siapa suaminya siapa, tapi sayangi suaminya karena menyayangi Alloh, rindu akan surganya, lakukan semua pelayanan dengan membayangkan kalau pelayanan itu akan mendapat ganti yang setimpal yaitu surga yang kekal, jadi jangan dipandang lahirnya suami.” jelasku.

“Lalu bagaimana, sekarang saja dia menyeleweng.”

“Mbak Muslihah masih ingin kan kumpul sama suami?” tanyaku.

“Ya masih kyai, karena anak-anak kami sudah agak besar.”

“Ya kalau begitu kembali ke suami.”

“Tapi saya sakit hati kyai.”

“La sakit hati itu kan ndak ada yang mbayar, hanya menjadikan tekanan mental, menyiksa diri, tapi sama sekali tak ada manfaatnya, tenangkan diri, jangan ada tekanan batin.”

“Bagaimana mungkin kyai, kenyataannya aku disakiti, bagaimana hatiku tak sakit.”

“Sakit hati itu sama sekali tak menyelesaikan masalah, hanya menimbulkan dendam, dan kebencian, jika dalam rumah tangga kemudian ada bara yang dipendam, yang suatu saat bisa meledak, maka ku jamin rumah tangga itu tak akan bahagia…, ingat mbak Muslihah suamimu itu cuma batu loncatanmu ke surga, jangan kemudian malah menjerumuskanmu ke neraka, neraka dunia karena memendam sakit hati, dan neraka akherat karena tidak taat pada suami, ya saya sendiri jika istri saya menyeleweng juga belum tentu saya kuat menanggungnya, tapi bagi saya pribadi, rumah tangga itu jangan dikotak-kotakkan, itu yang sering terjadinya percekcokan, ini milikku, ini milikmu, jangan memakai milikku, padahal dalam rumah tangga, kan satu kesatuan, kedua suami istri itu seperti mengelola bahtera, la kalau yang satu merasa miliknya, yang lain kemudian membatasi hak lainnya, ya sudah pasti akan timbul curiga, seperti anjing dan kucing dalam satu perahu, aku sendiri sebagai suami, malah kadang masak, nyuci piring, itu tak akan menjadikanku rendah, sekalipun aku dipanggil kyai, aku juga menyapu dan mengepel, kita itu kok bisa kita lakukan, kenapa menyuruh orang lain? sebab orang lain juga punya tangan dua, kita juga, jika bisa melakukan sendiri, maka akan ku lakukan sendiri, jika suatu rumah tangga kok di antara istri atau suami merasa derajatnya lebih tinggi, maka akan timbul perbudakan, bisa saja seorang istri memperbudak suami, menyuruh ini itu, atau sebaliknya, dan pasti ujung-ujungnya akan timbul percekcokan, suami marah karena merasa tidak ditaati istri, la lalu tujuannya rumah tangga itu maunya apa?”

“Jika rumah tangga itu dibangun suatu kasih sayang yang disandarkan kepada kasih sayangnya sang Maha Pemilik Kasih Sayang, maka rumah itu akan menjadi surga, suami menjadi pelindung dan pemimpin rumah tangga yang bijak dan adil, istri menjadi pewangi rumah dan selalu membuat udara cerah, anak-anak seperti kerlip bintang, menjadi tauladan di luar, dan menjadi pelita hati keluarga, maka baru bisa dikatakan keluarga itu sakinah penuh ketenangan, dan hal itu harus dibangun dari hal-hal kecil, seperti diadakannya sholat berjama’ah, lalu setelah selesai suami istri saling berkecupan, anak-anak mencium tangan ibu, sholatnya semua rukunnya disempurnakan, sehingga rumah tangga penuh cahaya keimanan.”

“Rasanya ingin saya cepat menikah pak kyai, agar saya bisa menjemput pahala.” kata Laila.

“Menikah itu menyempurnakan agama, sunnah Nabi, kata Nabi, menikah itu sunahku, siapa yang tidak suka menikah maka tidak suka pada sunahku, dan siapa yang tidak suka pada sunnahku, maka bukan golonganku lalu kalau tidak ikut golongan Nabi, lalu mau ikut golongan siapa? Siapa yang sekalipun punya amal setinggi gunung amal baik, dan berhak masuk surga, tapi tak mau mengikuti Nabi, maka jikalau dia masuk surga, maka tak pernah tau kemana jalannya surga.”

Tiba-tiba Muslihah menangis. Mengguguk… aku berhenti bicara.

“Ampunkan aku ya Alloh… do’akan saya bisa taat pada suamiku kyai, dan do’akan saya, suami saya kembali padaku, aku maafkan semua kesalahannya, asal Alloh ridho padaku.”

“Amiin… insaAlloh suaminya besok kembali, dan jangan lupa layani sebaik-baiknya, jangan melihat tingkah lakunya, jangan melihat bentuk fisiknya, atau kekurangan-kekurangan dalam pribadinya, kalau diteliti, maka semua orang itu pasti ada kekurangannya, tapi jadikan dia, suamimu, adalah batu loncatanmu meraih ridho dan surga Alloh.”

“Baik kyai, hati saya legaaa sekali.” kata Muslihah.

Ke empat perempuan itupun minta diri, aku hanya berharap apa yang ku sampaikan bisa bermanfaat bagi mereka.

Kalau tamu lagi musim masalah rumah tangga dan ada hubungan dengan perkawinan, anehnya yang datang selalu soal hubungan rumah tangga dan yang berurusan dengan itu.

Sehabis isyak ini juga ada tamu seorang gadis disertai ibunya.

“Ada apa bu? Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku.

“Ini soal anak saya kyai.”

“Ada apa dengan anaknya?” tanyaku.

“Anak gadis saya ini apa mungkin diikat orang kyai?” tanya ibu si gadis.

“Diikat? Kok ku lihat tangan dan kakinya tak ada ikatannya?”

“Maksudku diikat agar tak bisa nikah sama orang.” jelas wanita setengah baya.

“Wah aku tak tau bu, la saya ini sebenarnya tak bisa apa-apa dan tak mengerti apa-apa, jika orang kesini juga cuma minta dido’ain, jadi bukan berarti saya tau apa-apa, malah saya tak tau sama sekali apa do’a saya diijabah apa tidak, bagi saya berdo’a dengan cara yang benar, soal ijabah itu hak Alloh, la orang kesini minta dido’ain, ya tentu saya do’ain, sebenarnya Ibu juga bisa, atau mbaknya ini juga bisa, siapa namanya mbak?”

“Saya, Ainun Farihah.” kata gadis manis yang sudah matang.

“Soalnya anak saya ini sudah berkali-kali mau nikah tapi tak pernah jadi, pernah kartu undangan sudah tersebar, tapi malah nikahnya dibatalkan oleh calon mempelai putra, juga pernah malah sudah mau akad nikah, penganten prianya malah tak pernah datang, dan kejadian kayak itu terjadi berulang kali sampai 20 kali, bukankah itu sudah di luar kewajaran to kyai?” jelasnya.

“Iya memang di luar kewajaran, tapi aku sendiri tak dikasih isyarat apapun oleh Alloh, maka aku tak bisa main tebak-tebakan, yang Alloh isyaratkan adalah, mbak Ainun ini bermasalah dengan adik lelakinya.” kataku.

“Iya itu betul kyai, karena Ainun ini tak nikah-nikah jadi adik lelakinya yang ingin menikah jadi harus nunggu kakaknya.” jelasnya.

“Kalau saya belum punya istri, akan ku nikahi sendiri, sayangnya aku sudah beristri, hehehe.” candaku.

“Wah kalau kyai berkenan dengan Ainun, saya sama bapaknya sangat bahagia sekali, dan sangat menyetujuinya, biar Ainun jadi istri kedua atau ketiga, kurasa tak masalah, biar keluarga kami ada bibit unggul, orang-orang berilmu.”

“Ah aku hanya bercanda kok bu.” elakku.

“Ya kenapa ndak sungguhan, Ainun pasti juga mau, benar kan Ain..?” kata ibunya Ainun sambil mencolek anaknya.

Anehnya Ainun malah mengangguk sambil wajahnya ditutupi jilbabnya.

“Udahlah bu jangan diperpanjang, ini nanti ku do’akan. Semoga mendapat jodoh yang sholeh dan dipilihkan Alloh.” kataku.

“Maaf kyai ini tehnya kyai tiup agar berkah.” kata ibunya Ainun, sambil memajukan teh yang disediakan untuknya, maju ke arahku.

Tanpa banyak basa-basi teh ku tiup, dan langsung diminum oleh ibu itu, dan Ainun juga menyodorkan teh nya ke depanku.

“Saya juga kyai.” kata Ainun.

Aku juga segera meniupnya, dan Ainun meminum habis teh yang ku tiup.

Ainun pun pamit pergi, aku mau beranjak ke dalam ada yang mengucap salam lagi, seorang perempuan muda dengan ditemani juga oleh ibu dan kedua anaknya.

Aku pun kembali lagi ke tempat menemui tamu lagi.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku, setelah aku mempersilahkan duduk pada tamuku.

“Ini mas, saya mengantar anak saya.” jawab ibunya

“Kenapa anaknya?” tanyaku.

“Ini soal anak lelaki kecil saya.” jawab perempuan mudanya yang bernama Dewi Aminah.

“Kenapa dengan anak kecilnya mbak?” tanyaku.

“Anak lelaki saya ini mengalami kebocoran jantung menurut diagnosa rumah sakit, jadi saya minta do’anya agar anak saya ini diberi kesembuhan dari derita penyakitnya.” jelas Dewi.

“InsaAlloh akan saya do’akan, semoga Alloh memberi kesembuhan.”

“Amin, trimakasih mas kyai sebelumya, dan kedua ini tentang suami saya, sudah sejak lama suami saya ini saya dengar selingkuh.” kata Dewi.

“Lhoh kok saya dengar?” tanyaku.

“Iya mas kyai, karena suaminya kerjanya di Jakarta, sedang dia sendiri tinggal di sini, dan di Jakarta Dewi sendiri tak tau tempat kerja suaminya. Jadi tak tau bagaimana suaminya di Jakarta, ya pernah ada perempuan yang mengaku selingkuhan suaminya.”

“Wah-wah kok bisa rumit gitu ya?”

“La anak saya Dewi ini, juga punya teman yang juga menjadi teman suaminya, maksudnya lelaki yang menjadi teman suaminya, yang selama ini dijadikan penghubung, dan sudah sangat baik sekali dengan Dewi, yang kasihan dan iba akan nasib Dewi, nah kami ingin menanyakan apa benar, suami anak saya Dewi ini di Jakarta memang selingkuh, lalu bagaimana solusi terbaik menurut panjenengan.”

“Wah rumit sekali itu.” jawabku.

“Rumit bagaimana mas kyai?” tanya Dewi.

“Ya kalau suaminya ada di depanku kan lebih gampang, akan ku tanya apa kamu selingkuh?”

“Ya dia tak akan mau mengaku mas kyai…, saya sendiri berulang kali bertanya saja dia tak mau mengaku,” jawab Dewi.

“Dia tak mau mengaku itu kan urusan dia sama Alloh, karena saya akan menyumpahnya dengan Qur’an, kalau dia tak mengaku.” jelasku.

“Maunya anak saya Dewi ini kyai, bagaimana kalau misal si Dewi ini cerai sama suaminya, dan menikah dengan teman suaminya yang juga teman Dewi.”

“Suatu perbuatan halal yang barrier di benci Alloh, adalah perceraian, kalau bisa perceraian itu di jadikan keputusan barrier final, menikah dengan lelaki yang dekat dengan Dewi sekarang itu? Seorang lelaki yang memasuki kehidupan wanita sementara wanita itu dalam masalah, juga bersuami yang masih sah maka lelaki itu syaitan dari golongan manusia, percayalah kalau dia jadi sampean nikah, setahun kemudian sampean akan dicampakkan, seperti mencampakkan ingus yang menjijikkan, bisa jadi sekarang ini dia mengincar harta atau kesepian hatimu, agar dia bisa mengambil manfaat untuk nafsunya.” jelasku.

“Tapi dia baik pak kyai.” jelas Dewi.

“Ya namanya juga mau mencari perhatian, tentu saja baik, akan sering-sering memberi.”

“Iya memang dia sering memberi pak.”

“Tapi dia sering mengucapkan cinta, dengan kata cinta yang indah.” jelas Dewi.

“Malah makin jelas, orang yang muluk-muluk mengungkapkan kata cinta itu bisa dipastikan kalau cintanya palsu,”

“Lhoh kok bisa gitu mas kyai?” tanya Dewi,

“Ya orang yang muluk-muluk mengutarakan kata cinta, itu tak mencintai kecuali dirinya sendiri, kata cinta diungkapkan muluk-muluk karena ingin adanya balasan cinta dari lawan jenisnya, dan lawan jenisnya akan memenuhi nafsunya, jika nafsunya dan keinginannya sudah terlaksana, maka segera saja orang yang sebelumnya dia katakan dia cintai, akan segera dibenci, karena apa yang dia inginkan sudah didapat, jadi orang yang muluk-muluk mengutarakan cinta itu tak mencintai kecuali keinginan nafsunya ingin mendapat apa yang jadi keinginannya, jika seseorang itu mencintai orang lain dengan benar, maka seorang yang mencintai dengan benar itu akan berusaha orang yang dicintai selalu bahagia tak rela yang dicintai bersedih dan tak rela yang dicintai masuk neraka, bukannya orang punya suami lantas diganggu,” kataku.

“Dia tak mengganggu saya kok kyai.” sangkal Dewi.

“Ya… saya hanya menunjukkan kebenaran, sebab namanya dikatakan mengganggu kan juga bukan hanya memukul, tapi ada orang punya suami, lantas diajak selingkuh juga kan namanya ganggu,.!”

Incoming search terms:

  • birai seorang kyai

Original source : Sang Kyai 49