Puasa

Dihadapkan pada kenyataan didepan mata. Aneka jenis kuliner berlipat ganda melimpah ruah dipasar-pasar. Industri tekstil akan membanjiri pasar dengan berbagai jenis pakaian, akan kita saksikan juga iklan cocoklogi televisi tiada henti memprovokasi kita untuk menjadi kolektor barang dibanding anjuran pemenuhan kebutuhan. Itulah tradisi puasa yang kita kenal.

Puasa, yang sejatinya memiliki makna berbagi, menjadi ajang rutin umat untuk mengkoleksi “pangan dan pakaian”.

Tanpa disadari, anjuran pasar itu kita patuhi. bentuk kepatuhan itu seringkali diberi categorize tradisi, sunah, budaya, pahala dan lain-lain. Sehingga, menjadi lazim, ketika setumpuk baju mampir dilemari dan seabrek kuliner menghampar dimeja makan. Meski yakin seluruh makanan itu takkan tertampung dilambung, namun atas nama pariwisata lidah, jika sesuai imajinasi, makanan itu tetap kita borong, kemudian jika tak pas di lidah dengan mudah kita membuang makanan itu secara sia-sia.

Mungkin sebagian dari kita berfikir, apalah arti terbuangnya satu mangkok opor ayam dari satu panci yang dibeli atau secangkir kolak dari satu wajan, kenyataan menunjukan bahwa saudara-saudara kita ditempat lain alami kelaparan, timbul akibat monopoli dan peminggiran akses terhadap pangan. Yang terjadi, kelaparan timbul bukan semata-mata kurannya suplai, seringkali timbul kelaparan, akibat segelintir kelompok jumawa berduit, telah memborong makanan demi koleksi lidah mereka.

Yang lebih memprihatinkan, sepertiga dari total produksi makanan dunia dibuang percuma ketempat sampah, akibat para jumawa berduit itu merasa” kekenyangan” untuk menghabiskan.

Perilaku demikian tidak disadari , bahwa seabrek makanan yang hanya satu jam mampir dimeja makan, menimbulkan efek luar biasa bagi kehidupan saudara-saudara kita. Derita yang mereka alami tidak satu atau dua jam seperti kita melahap sosis. Melainkan kuliner yang kita koleksi secara membabi buta telah menimbulkan punahnya identitas saudara kita ditempat lain.

Adanya relasi pola konsumsi dengan hilangnya identitas masyarakat lain itu saya dengar, ketika Rosa, perempuan suku Malind-Papua dalam sebuah diskusi menyebut, bahwa tubuh orang Malind kini terlihat kecil. Orang Malind yang dulu ia kenal secara fisik bertubuh tinggi, tegap dan kekar ini sudah jarang ditemui. Kalaupun ada, Rosa memaparkan, yang terlihat dari fisik orang Malind saat ini, hanya tulang-tulang mereka terlihat panjang, namun tidak seimbang dengan struktur tubuh mereka yang kecil. Menurutnya, perubahan pola konsumsi dan ketersediaan pangan orang Malind mempengaruhi Malind secara genetis.

Apabila membaca tulisan Siri Damman yang mengupas hak atas pangan masyarakat hukum adat (2011), pernyataan Rosa diatas dapat kita fahami keterhubunganya. Siri Daman, dalam tulisannya antara lain menyebut, tinggi badan yang kurang atau kecil dalam msayarakat, mencerminkan adaptasi biologis kondisi hidup mereka terhadap ketidaktahanan pangan. Ironisnya, kondisi tersebut secara umum dialami oleh masyarakat adat yang seharusnya ketersediaan pangan mereka terjamin. Ada kecenderungan pula, postur tubuh masyarakat adat lebih pendek dibanding penduduk umumnya. Hal itu telah menimbulkan studi lain bahwa genetis masyarakat adat pun cenderung kecil.

Kejadian itu dapat kita benturkan dengan kenyataan yang kita alami, terutama diwilayah masyarakat adat yang sudah diintervensi oleh kepentingan pasar dan modal. Studi dibelahan bumi lain juga menyebut, seperti Mc Cullough yang meneliti suku Maya tahun 1982, mempertautkan hubungan tinggi badan dengan sosio ekonomi. Menurutnya, suku Maya yang teridentifikasi sebagai kelompok masyarakat adat di Amerika Tengah, tinggi badan mereka dalam duapuluh tahun terakhir cenderung menurun sebanyak 12 cm. Itu terjadi akibat adanya perubahan pola dan ketersediaan bahan konsumsi.

Bercermin dari hal tersebut, sudah sepatutnya puasa kembali difungsikan  sebagai momentum untuk koreksi, sekaligus Puasa menjadi penyemangat bebagi, tanpa harus menghitung kalkulasi pahala, surga atau neraka.

bisa jadi, dalam konteks Puasa kali ini, berbagi tidak melulu diartikan saling antar kuliner dengan tetangga, atau sekedar melempar segepok uang kepada yatim, piatu dan fakir maskin. Suatu pandangan yang perlu kita koreksi mengenai Konotasi  “berbagi” yang hanya mungkin dilakukan oleh orang soleh dan berduit.

Berbagi dalam kondisi kekinian, bisa saja dilakukan oleh manusia manapun, soleh atau bajingan, baik ustad maupun murtad,  yakni dengan  merubah hasrat dari seorang kolektor dan killer, perlahan menjadi orang yang memprioritaskan konsumsi berbasis kebutuhan, adalah praktek  nyata atas konotasi imajinasi kata “berbagi”.

kemudian, jika kesadaran itu telah timbul dan mewabah karena proses belajar selama puasa , maka Puasa tak lagi dipandang sebagai bulan berbiaya tinggi .  Melainkan Puasa benar-benar memberi waktu untuk belajar, memberi ruang untuk rehat, agar umat mampu mepraktekan perilaku “menahan diri “ dalam aktiitas sehari-hari.

selamat berpuasa !

BJ-JKT-2013


Original source : Puasa