Penyair Mencari Tuhan

Dalam kamar asa ku panjatkan doa

kepada yang Kuasa

Dari sudut penuh debu berair mata

bisakah lihat cahaya?

Tuhan,

ujarku pelan

Kubakar lilin,

Menyerebak pendar di ruangan

Bukan biar syahdu mendayu

Namun supaya dapat ku lihat jawabanMu

Tik,

Kuceritakan aku ini penyair haus,

yang dahaga kata dan jiwa

tok,

Tuhan,

bisikku mendesis hampir tak terdengar siapapun

Tak terdengar jawab,

Tapi risau masih setajam pisau biadab

Tuhan,aku tak tahan

Berderai tawa kutumpahkan lakon pahit

Tentang kemana aku selama ini minggat

Tawaku pecah,

menggema penuh

Magisku hilang,

sulur pikatku menggenang selebar kubang

Ha ha

Tik,

tok

Tuhan, berikanlah aku mata

agar dapat kucari kata dimanapun ia berada

Mata?

Aku sudah lupa dimana

Tuhan?

Bertahun ku lupa,

bertahun yang lalu pula,

Kau sudah tahu aku jadi bangkai fana,

bukan manusia

Aku sesenggukan,

bah mulai turun

Tuhan, rinaikanlah kembali semai rasa

agar ceritaku hidup di hati pembaca

Baca?

Siapa?

Kuketuk-ketuk dinding,

siapa tahu Tuhan bersembunyi di salah satu lubang

Tik,

Tuhan?

dimana?

Kuendusi tiap sudut,

bau kayu lapuk sepertiku,

yang tak berpenghuni dan

tak pernah punya tamu

Tuhan! Panggilku

memenuhi ruang hatiku sendiri

tok,

Tik,

tok

Tuhan?

Aku lihat cuma jam dinding bodoh

Bodoh?

Jam?

Aku!

Mungkin Tuhan dibalik jam dinding

Kubalikkan namun nihil

tak sepenggalpun ada partikelMu

Ah?

Mu?

Aku?

Kuperiksa nadiku

Tuhan?

-

A. Anindita

18:07

060114

Puisi pertama di Januari


Original source : Penyair Mencari Tuhan