Cinta segitiga di KASKUS

Selamat pagi agan agan dan sista

perkenalkan ane adalah seekor klonengan ane ngga pakai id asli karena ngga enak kalau di liat sama bbrp orang yang bersangkutan
ane disini akan cerita sedikit tentang kisah cinta ane yang ane alamin dari pertama berhubungan sama seorang sista dan agan di kaskus dan sampai akhirnya kami berkumpul bertiga menjadi sebuah cinta segitiga

Kisah ini 100% genuine dan ane tulis sesuai dengan kejadian aslinya tanpa mengubah atau mengarang , namun nama atau bbrp hal akan ane samarkan untuk menjaga privasi

dan untuk teman2 dibawah 17th ane saranin jangan baca kisah ini yah karena nanti akan ada kalimat kalimat yang agak gmn gituh agak BB++

NB : jika ada nama atau kesamaan tokoh dalam cerita ini , ane minta maaf yang sebesar besar nya yah ane hanya mengambil nama palsu aja kok sbg pengganti nama orang orang yang ada di cerita ane ini
namun ane janji jika cerita ini nanti selesai spt aslinya maka ane akan memakai id kaskus asli ane untuk reorganization di thread ini itupun jika memungkinkan

Refer to:
INDEX CERITA

- Part 1  (www.kaskus.co.id)
- Part 2  (www.kaskus.co.id)
- Part 3  (www.kaskus.co.id)
-
-
-

sebelum membaca kita dengerin lagu ini yah


Original source : Cinta segitiga di KASKUS

ceritaku 1

Edelweiss

Edelweiss, Edelweiss
Each morning you greet me
Tiny and white, sterile and bright
You preview fortunate to come across me
Blossom of snow could you contusion and grow
Contusion and grow unendingly
Edelweiss, Edelweiss
Bless my ground of your birth unendingly
—————————–
tak bosan aku memutar lagu jadul itu dan seolah menerawang dimasa lalu ada seorang tua menyanyikan lagu itu dng suaranya yang khas sambil duduk di kursi goyangnya sesekali membaca koleksi bukunya, sesekali orang tua itu melihat anaknya yg perempuan kecil duduk dilantai terdiam menikmati alunan suara sang ayah. terkadang sang ayah menyadarkan tubuhnya yg mulai membengkak ke sandaran kursi goyangnya serta melepas kacamatanya. guratan keriput wajahnya seakan menceritakan asam garam kehidupan yang telah dilalui orangtua itu. entah apa yang ada dibenaknya hingga ia sering menyanyikannya dengan mata terpejam.

tiba tiba setelah habis lagu itu secara acak terdengar lagu ini ditelingaku.
——————————–
Als de orchideen bloeien
Kom dan toch terug bij mij
Nogmaals wil ik met je wezen,
Zoveel leed is dan voorbij

Als de orchideen bloein
Ween ik haast van liefdes smart
Aspire ik kan niet bij je wezen
G’lijk weleer, mijn lieve schat

Maar nu been je van een ander
Vo orbij is de romantiek
Kom toch terug bij mij weder
Jou wergeten kan ik niet

Als de orchidden bloeien
Dan denk ik terug aan jou
Denk toen aan go to come across your maker zoete tijden
Toen je zei: Ik hou van jou.
————————————–
lagu ini…… hmmm……, tanpa terasa lamunanku berlanjut ketika orang tua itu memejamkan matanya dan mengayun kursi goyangnya dng pelan sambil mulutnya secara samar samar menyenandungkan lagu yg aku dengar saat ini, seolah aku melihat ada air mata yang menggenangi sudut sudut mata orang tua itu


Original source : ceritaku 1

????

[fivefilters.org: powerless to retrieve full-copy get on to fortunate]

dulu yang namanya “cinta sejati” tidak ada dalam hidupku

bahkan saya tidak percaya dengan yang nama.a cinta dari seorang pria.

tapi setelah mengenal “kamu” semuanya berubah total,

entah kenapa sya merasa nyaman dengan kamu.

entah dari


Original source : ????

dirimu berbeda

dirimu begitu berbeda
meski berucap sama
tapi nada nya bukanlah lalu

lalu aku menulis mimpi
dgn jalan yg berbeda
meski yg dituju tetaplah sama

yg lewat tak kuhapus
dicoret sedikit,

berwarna biru

masih tetap terbaca bukan?
rindu ku..


Original source : dirimu berbeda

Saint

Aku berlari menuju bangunan yang tampak kosong yang berada di sebelah pandangan kiriku. Makhluk-makhluk aneh tersebut terus saja mengejar-ngejar diriku. Sempat aku menoleh ke arah belakang dan terlihat seorang dari mereka, bergegas mengeluarkan sebuah benda yang sekilas seperti kulit kelapa. Oh bukan! Benda tersebut mengeluarkan letusan seperti sebuah handgun dan membuat suasana menjadi lebih mencekam dari sebelumnya.

“Bajingan!”

Aku bergegas bersembunyi di antara beberapa kardus-kardus coklat. Ternyata benar, seperti dugaanku sebelumnya. Pabrik Rokok yang sudah sangat tidak terawat. Aku menggeser pandanganku sedikit ke arah sela-sela kecil di antara kardus. Kali ini, hanya mata kananku yang bekerja. Sialan! Perlahan satu for every satu dari mereka mulai mengeluarkan senjata yang sama persis ku lihat sebelumnya. Oh tidak! Mereka tidak mengenakan pakaian sama sekali. Telanjang dengan sebuah tangkai tegak di atas kepala bulat mereka. Jadi… mereka sama sekali tidak mengeluarkan senjata tersebut. Mereka membentuknya! Mirip seperti adonan pandan yang ku buat dulu. Mereka tidak mempunyai badan, hanya kepala yang semua indranya bulat!

Kaki-kaki kurus yang tidak jauh berbeda dengan ukuran penggaris 30 CM mulai bergerak. Tembakan ke atas dikeluarkan perlahan-lahan. Mulai terdengar runtuhan bangunan yang cukup keras. Ntah mengapa, keringat mulai bercucuran di sekitar rambutku, khususnya di bagian hidung. Aku mencoba untuk tidak menimbulkan suara dari tetesan-tetesan air ini. Jantungku mulai berdetak cukup kencang.
Berhasil! Mereka mulai bergerak maju ke dalam ruangan, sedangkan aku bersembunyi tidak jauh dari pintu keluar. Seperti perkiraanku sebelumnya, mereka pasti akan mengira aku akan masuk jauh lebih dalam. Benar-benar makhluk yang pintar tapi tidak terlalu pintar melawanku.

Aku geser kakiku perlahan-lahan. Prek!!! Bajingan, padahal aku sudah berusaha tidak akan menimbulkan suara sama sekali.

“Apa kau lihat orang berambut coklat yang telah dilaporkan tadi?” Terdengar suara dari arah depan, dengan segera aku menggeser kembali mataku di sela-sela tadi. Beruntung! Suara yang tadi ku dengar bukan berasal dari gesekkan kakiku. Mereka sedang mengkokang senjata merah mereka. Hah? Merah!? Tapi… Kenapa sekarang berwarna merah??? Benar-benar kartu comic untukku. Satu.. Dua… Lima… Ada lima makhluk merah, sialan berapa banyak makhluk yang akan menyerbuku jika mereka bergabung dengan makhluk hijau yang lain. Aku bahkan tidak sempat menghitung makhluk berwarna hijau.

“Lebih baik menyerah daripada aku tembak sekarang!” Matanya bulat, memandangiku dengan penuh ancaman.

“…..”


Original source : Saint

Kado buat Valentine

Puisi? Yah aku pasti memberi hadiah puisi pada Valentine. Tapi
kan bukan puisi doang. Ada sesuatunya. Itulah gunanya puisi. Untuk memperelok sesuatu yang dihadiahkan. Yah, kalo skripsi semacam kata pengantarnya-lah. Pikir-pikir aku pasti
tidak ingin memberinya hadiah Barbie karena dia udah punya. Tak mungkin juga Tab atau iPad, karena sejak lama tiap habis maghrib dia pakai untuk mengaji. Minggu lalu sudah terpikir untuk menghadiahkan seperangkat alat
berkebun. Dari mulai cetok, sekop kecil, alat penggali tanah, penyiram tanaman sampai
biji-biji bunga matahari. Tapi kemarin tukang kebun langganan datang dan menanam
bunga matahari di kebun belakang. Jadinya batal deh. 
Jika kuberi sepeda
listrik, aku nggak yakin bermanfaat bagi dia yang nggak pernah bersepeda jauh
dari rumah. Bagaimana kalo binatang piaraan seperti ikan? Ah, tapi di rumah
sudah ada akuarium air laut lengkap dengan ubur-ubur dan kuda laut. Nggak
menarik kalo aku kasih yang lebih sederhana. Ngomong-ngomong tentang binatang, sudah dua bulan ini  kebun belakang didatangi burung-burung besar dan
kecil. Entah darimana datangnya. Mungkin sejak ada danau buatan di pinggir kompleks,
burung-burung itu jadi gampang cari makan, terus pada nongkrong di pohon-pohon
besar di kebun belakang. Ada belasan, mungkin puluhan jenis burung warna-warni berkumpul tiap sore hari.  
Gotcha! Aku
tahu! Aku akan memberi Valentine hadiah teropong binokuler beserta buku Bird of
Indonesia
yang isinya gambar-gambar full colour beraneka jenis burung yang ada di Indonesia. Valentine bisa mengamati burung dari jauh dengan binokuler, lalu membandingkan
bentuknya dengan gambar-gambar pada buku. Dia akan tahu nama-nama burung. Yah, aku ingat Valentine selalu bertanya-tanya tentang nama burung-burung
di kebun belakang. Tapi tak seorang pun di rumah yang tahu. Inilah hadiah yang barrier tepat untuk Valentine saat ini. Dan pastinya tak lupa aku sisipkan sebuah puisi buat Valentine:
Kado Puisi buat Valentine
 
Jangan panggil aku burung
karena aku punya nama
panggil namaku
dengan mulut mungilmu
yang selalu ceria
Kenali aku
biar aku bahagia

~Kisah seorang paman yang mencari kado buat keponakan bernama Valentine yang akan mulai
sekolah tahun ini~

Original source : Kado buat Valentine

Karakter Bangsa Runtuh, Pendidikan Pancasila Sangat Penting Diterapkan

Karakter bangsa Indonesia yang mulai runtuh pada belakangan ini seperti terlihat pada memudarnya sikap toleran dan menghormati nilai-nilai pluralisme sehingga kekerasan begitu mudah terjadi serta sikap tidak setia pada negara dalam bentuk munculnya gerakan untuk mendirikan negara berlandaskan agama seperti NII ditengarai ada sesuatu yang tidak beres (here is something incorrectakan) dalam praktik penyelenggaraan pendidikan kita, mulai jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Berbagai bentuk anomali sosial dan anarkisme seperti tawuran, perusakan sarana publik, penipuan, pelecehan seksual hingga pembunuhan dan berbagai bentuk penyimpangan moral lainnya menjadi bukti konkret memudarnya nilai-nilai luhur yang selama ini melekat pada bangsa ini. Anehnya, terhadap berbagai bentuk penyimpangan seperti itu sebagian masyarakat menyikapinya biasa-biasa saja. Sanksi sosial tak berlaku lagi dan sebagian masyarakat membiarkan, bahkan apatis ketika penyimpangan yang sistematis di berbagai lini kehidupan hukum, pemerintahan, maupun pendidikan itu sendiri. Lebih tragis lagi, beberapa waktu terakhir ini ada gejala sangat aneh bahwa petugas keamanan seperti polisi justru menjadi sasaran kekerasan, bahkan pembunuhan, para petugas hukum malah yang barrier banyak melanggar hukum, hakim yang tugasnya menjadi benteng penegak keadilan justru mempertontonkan praktik ketidakadilan, kampus sebagai tempat para intelektual yang seharusnya menjunjung nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi dan menjauhi anarkisme juga tak luput dari aksi anarkis seperti perusakan laboratorium, ruang kuliah, perkantoran, intelektual yang mestinya mengedepankan argumentasi dengan nalar logis dalam menyelesaikan persoalan seolah melupakan etika akademik yang menjadi bagian kehidupannya. Semua menjadi tontonan free yang memilukan.

Pendidikan dianggap sebagai pihak yang barrier bertanggungjawab terhadap gejala tersebut memang tidak salah dan wajar. Sebab, dibanding dengan institusi-institusi sosial yang lain, pendidikan merupakan yang barrier sarat makna. Pendidikan merupakan pintu masuk untuk mengantarkan peserta didik menjadi manusia berbudi pekerti luhur, berbudaya, berilmu pengetahuan, berketrampilan, berperadaban, dan berkarakter. Karena itu, secara logis mudah dipahami jika di antara tujuan tersebut ada yang tidak tercapai tentu ada yang sesuatu yang tidak beres dalam penyelengaraan pendidikan secara keseluruhan, bisa landasan filosofis, praktik, pendidik, lingkungan, dan orientasi masa depan peserta didiknya serta perubahan kondisi eksternal yang gagal ditangkap oleh penyelenggara dan pemilik otoritas proper kebijakan pendidikan. Persoalan pendidikan hakikatnya adalah persoalan masa depan, generasi penerus, dan peradaban sebuah bangsa. Tidak ada satu pun bangsa yang tidak ingin punah karena memiliki generasi penerus yang tidak baik. Karena itu, untuk kelangsungan eksistensi sebuah bangsa tumpuannya pada pendidikan. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa yang berperadaban maju hanyalah mereka yang serius mengelola pendidikan. Bagi mereka, pendidikan di atas segalanya dan dihayati sebagai hajat semua anggota masyarakat. Karena merupakan hajat bersama, maka semua bersinergi membangun pendidikan yang baik sehingga melahirkan lulusan yang bekualitas.

Begitu penting misi yang diembannya, pendidikan tidak bisa dijalankan seenaknya, apalagi hanya untuk mengejar kepentingan sesaat, seperti sekadar lulus Ujian Nasional dengan nilai tinggi, masuk perguruan tinggi, menang olimpiade ini dan itu, meraih gelar, bertaraf internasional dan sebagainya. Di atas semua itu, pendidikan adalah proses pemanusiaan secara utuh, meliputi aspek jiwa, intelektual, emosi, hingga spiritualnya. Lebih dari itu, pendidikan juga merupakan praktik untuk menjadikan peserta didik bagian dari masyarakat, bangsa dan negara, sehingga lahir sikap cinta tanah air. Ringkasnya, pendidikan adalah proyek kemanusiaan terus menerus dan tidak pernah berakhir sepanjang bangsa itu ada. Peserta didik kita saat ini terjebak dalam nilai-nilai pragmatisme. Beberapa kebijakan pendidikan yang selama ini dilakukan memang patut dicermati kembali. Pertama, menyangkut merosotnya karakter bangsa sehingga menimbulkan anomali dan anarkisme dikaitkan dengan dihapuskannya pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan menjadi hanya Pendidikan Kewarganegaraan di semua jenjang pendidikan membawa konsekwensi ditinggalkannya nilai-nilai luhur yang selama ini melekat pada bangsa ini, seperti toleransi beragama, gotong royong, dan musyawarah. Padahal, nilai-nilai itu sangat dibutuhkan sebagai fondasi bangsa. Akibat kebijakan tersebut, kini para pendidik mengeluh karena sulitnya menanamkan nilai-nilai tersebut dan dianggap sesuatu yang basi. Perubahan kebijakan pengajaran Pancasila menjadi Pendidikan Kewarganegaraan berdampak. Buktinya, penanaman nilai-nilai ternyata tidak bisa diperoleh dari pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, Sebab, ternyata pelajaran tersebut hanya hafalan dan sekadar menambah pengetahuan. Perubahan pendidikan Pancasila menjadi pendidikan Kerwarganegaraan sangat mereduksi muatan-muatan utama Pancasila yang sarat nilai. Sementara itu, pendidikan Kewarganegaraan lebih mengenai hakikat negara dan bentuk-bentuk kenegaraan, sistem hukum dan peradilan nasional, hak asasi manusia, pemberantasan korupsi, kedudukan warga negara. Mengenai Pancasila hanya disinggung sedikit, Itu pun sudah di semester akhir. Karena itu menjadi wajar jika nilai-nilai moral di kalangan peserta didik kita luntur. Dengan demikian, sangat tidak rational jika pihak sekolah atau intellectual disalahkan dalam hal ini.

Maka diharapkan pendidikan tentang Pancasila harus lebih diajarkan secara intensif di setiap lembaga pendidikan. Penerapan pendidikan Pancasila di sekolah akan sangat berguna untuk menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Sehingga aktualisasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi lebih terasa kehadirannya menuju negara yang benar-benar BHINEKA TUNGGAL IKA dan menjadi bangsa yang pluralis.

sumber


Original source : Karakter Bangsa Runtuh, Pendidikan Pancasila Sangat Penting Diterapkan

Kumpulan Kata Kata Indah Romantis

Karena merekalah yang bodoh menghabiskan waktu nya memikirkan tentangmu.

Saat 2 sahabat menjadi kekasih, itu ketulusan
saat 2 mantan kekasih menjadi sahabat, itulah kedewasaan!!

Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, kerana kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

Jika terpaksa harus kalah, maka jadilah pecundang terhormat daripada kalah sebelum berjuang. padahal sebenarnya, sahabat berhak menjadi pemenang mulia.

Jangan meremehkan kesempatan kecil yang muncul di hadapan kita. Ingat, seringkali kesempatan kecil merupakan awal dari kesuksesan yang besar.

Makin banyak kita membuang waktu untuk merasa iri pada bakat ataupun kesuksesan orang lain, maka semakin sulit pula kita berkembang maju. Buang sikap negatif itu!

Alangkah lebih baik jika kamu mensyukuri segala nikmat yang tuhan beri,
Dari pada terus menghitung kekuranganmu.

Jangan takut mencoba hal baru dalam hidupmu
Jiak kamu berhasil, kamu akan bahagia
Jika tidak, kamu akan lebih bijaksana.  


Original source : Kumpulan Kata Kata Indah Romantis

Peran Pemuda Sebagai Aktor Utama Dalam Menjaga Eksistensi Demokrasi Pancasila

Perubahan mendasar sejumlah negara di dunia banyak diantaranya digerakan oleh kaum muda. Sama halnya fase dan periodisasi sejarah perkembangan bangsa Indonesia, yang diawali dari issu nasionalisme yang dimotori kaum muda yang tergabung dalam kelompok studi “Boedi Oetomo” pada tahun 1908. Kemudian pada fase selanjutnya, semangat nasionalisme ditindaklanjuti dengan komitmen penyatuan identitas kebangsaan, kebahasaan dan tanah air yang satu, sebagaimana disumpah-ikrarkan pemuda pada tahun 1928 melalui Sumpah Pemuda. Dan sampai pada puncaknya, pada tanggal 17 Agustus 1945, identitas ke-Indonesia-an diproklamirkan menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Rentetan fase pergerakan kaum muda di masa perjuangan, disatukan oleh komitmen untuk mencapai kemerdekaan, serta terbebas dari penjajahan yang dilakukan oleh kaum kolonial.

Kontribusi pemuda dalam momentum perubahan bangsa tersebut memiliki sisi lain yang paradoks. Fenomena yang terjadi adalah bahwa pemuda hanya sebagai alat mobilisasi politik semata, setelah awal perubahan dimulai maka pemuda pelopor perubahan tersebut seakan menghilang dan tidak memiliki peran dalam mengawal perubahan yang dipeloporinya. Bentuk-bentuk rintangan dan perjuangan pemuda dalam ranah kebangkitan bangsa, tidak dapat dipungkiri tidak lebih merupakan sebuah perjuangan yang hampa dalam perspektif upaya mengisi kemerdekaan. Ada pun pemuda yang turut serta dalam pemerintahan, lebih kepada perwujudan simbol kepemudaan dan cenderung jarang mampu mempertahankan visi dan misi yang sebelumnya diusung, dan yang terjadi tidak lebih dari sebuah regenerasi kepemimpinan bukan proses yang berada pada titik essential, yaitu mewujudkan nilai-nilai demokrasi yang sebenar-benarnya.

Internalisasi Demokrasi Pancasila
Sejatinya demokrasi yang secara resmi mengkristal di dalam UUD 1945 dan yang saat ini berlaku di Indonesia dapat disebut sebagai “Demokrasi Pancasila”. Meskipun sebenarnya dasar-dasar konstitusional bagi demokrasi di Indonesia sebagaimana yang berlaku sekarang ini sudah dan berlaku jauh sebelum tahun 1965, tetapi istilah demokrasi pancasila itu baru dipopulerkan sesudah lahirnya Orde Baru. Dalam perjalanannya demokrasi pancasila pada orde baru memiliki kencenderungan watak otoriter, sehingga nilai-nilai demokrasi pancasila tidak dapat terlembaga secara konsolidatif. Secara historis lahirnya demokrasi pancasila ialah bentuk ketidakpercayaan terhadap “Demokrasi Terpimpin” pada era orde lama. Soekarno mencetuskan demokrasi terpimpin sebagai usaha pemusatan kekuasaan berada di tangannya. Gagasan demokrasi terpimpin pada prinsipnya mengenal mekanisme “musyawarah untuk mufakat” yang apabila jika kata mufakat tidak dicapai maka persoalannya akan diserahkan sepenuhnya kepada pemimpin untuk mengambil kebijaksanaan. Sedangkan konsep demokrasi pancasila juga mengutamakan musyawarah untuk mufakat, tetapi pemimpin tidak diberi hak untuk mengambil keputusan sendiri, maka jalan voting (pemungutan suara) menjadi pilihan.

Demokrasi pancasila tidaklah hanya dipahami dalam hal teknis prosedural seperti itu saja, secara subtansial demokrasi pancasila mengandung arti kedaulatan rakyat yang mana dijiwai dan diintegrasikan dengan sila-sila lainnya. Hal ini berarti bahwa dalam menggunakan hak-hak demokrasi haruslah selalu disertai dengan rasa tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut keyakinan agama masing-masing, haruslah menjujung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan martabat dan harkat manusia, haruslah menjamin dan mempersatukan bangsa, serta harus dimanfaatkan untuk mewujudkan keadilan sosial. Demokrasi pancasila memiliki etika diskursus yang bertolak dari keyakinan jati diri bangsa, yaitu asas gotong-royong yang berdiri tegak dalam dimensi kemajemukan. Dengan demikian demokrasi pancasila merupakan konsensus moral bangsa yang tak dapat ditawar lagi, akan tetapi merupakan keharusan dalam mengamalkannya. Jika elite partai politik dan elite pemerintahan loss of memories atau rabun terhadap nilai demokrasi pancasila, justru disinilah peran pemuda agar lebih responsif dapat mendorong prinsip-prinsip demokrasi pancasila agar terinternalisasi dalam kehidupan bernegara dan berbangsa.

Mengawal demokrasi pancasila tentu bukan hal yang mudah, akan tetapi memahami demokrasi pancasila yang berpusat pada ideologi bangsa ini (pancasila) sudah barang tentu bukan hal sulit. Oleh karena, demokrasi pancasila memiliki landasan prinsip-prinsip ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan, serta keadilan sosial menjadi tujuan akhir dari perjalanan demokrasi bangsa. Diperlukan kepeloporan dari generasi muda untuk selalu merawat demokrasi melalui ideologi bangsa yaitu Pancasila. Sehingga demokrasi bangsa ini tidak terkesan hanya menjadi teks-teks normatif tanpa makna, dan harapan kita bersama mewujudkan demokrasi subtantif yang berkeadilan sosial serta mensejahterakan rakyat.

sumber


Original source : Peran Pemuda Sebagai Aktor Utama Dalam Menjaga Eksistensi Demokrasi Pancasila