kisah dari negeri sakura

]solely allotment , sepenggal luahan hati orang yang kini bermukim di negeri sakuraPertama tama kisah ini ialah luahan dari sepupu saya yang sekarang berada di negeri sakura sana .tentu saja dengan bermodal uang dia sendiri bekerja disana . inilah yang selalu jadi hal utama dalam benak saya yang terkadang ikut numpang bangga kepadanya , maafkan kalau dia terlihat sombong, dia tak pernah lupa asal usul nya dan sebaik mungkin suatu hari nanti pasti akan berkontribusi pada negara kita yang tercinta ini

Kedua, ini bukanlah semata-mata mau mengaggungkan negara orang lain , atau dengan kata lain jdi penjilat asing . Ya Jepang ini bukanlah sesempurna yang disangka sangka , banyak hal hal buruk/negatif juga di sini dan untuk pengetahuan semua orang jepang ini banyak yang berperangai hipokrit. Mereka selalu tampak baik didepan tapi dibelakang suka menghujat juga .. Tapi, setidaknya mereka ini selalu sentiasa menjaga adab tatasusila apabila berhadapan dengan orang lain, ikhlas atau tidaknya itu bukan persoalan

ketiga, tulisan ini bisa dibilang sekedar pengalaman yang masih mentah saja , masih belum matang baik si penulis cuma sekedar menceritakan ulang maupun nara sumber belum sampai puluhan tahun juga tinggal disana , mungkin ada yang salah, mungkin ada juga yang benar ,maksud belum masak disini ialah masih banyak hal hal

sebenarnya yang masih belum dipelajari dan juga diketahui dari masyarakat sana, tapi sejauh ini lebih banyak hal yang positif yang didapat . Wallahualam.

lanjut bawah


Original source : kisah dari negeri sakura

Liburan selama seminggu di ketapang, Kalbar bersama pacar hahahaha

Tadi malem baru nyampe di pontianak, bingung mau ngapain eh coly deh gue, maklum selama seminggu nggak ada coly
Oke, Nama gue Dhanu Anggoro, ini cerita gue waktu kemaren liburan ke ketapang bersama keluarga pacar gue
Di setiap part mungkin ada beberapa pict yang akan gue cantumin dan tentunya… di daerah mana yang gue diemin dan gue kunjungin selama di ketapang nggak bakal gue impart di sini, privasi soal nya

Dan perlu di ingat lagi, kalau kalian nggak suka ama cerita gue, kalian boleh lemparin gue , tapi jangan SPAM di sini!
Karena gue nggak pernah yang nama nya SPAM di postingan orang yang nggak gue suka!


Original source : Liburan selama seminggu di ketapang, Kalbar bersama pacar hahahaha

Memberanikan Diri

Selalu ada kesempatan yang siap disesali
selalu ada rasa malu yang tersembunyi
bahkan kegarangan macan pun seakan tak berarti
ketika menyangkut teka teki perasaan sang pujaan hati
namun jika telah rela mendapat sebenar-benar diri sendiri
penolakan dan pengabaian tak lagi menciutkan nyali 
(Undil)


Original source : Memberanikan Diri

Dongeng Kancil, Bayi Altap, dan Kabel Semrawut

Sore itu Sang Kancil kembali menyambangi bayi Altap yang sedang duduk di atas baby carriage birunya menghadap akuarium air laut di teras belakang rumah Kakek — sementara bundanya sibuk memasak di dapur. Si Kancil mendekati bayi umur 7 bulan itu, lalu berkata sesuatu yang lain dari biasanya.
“Altap, lihatlah di atas itu” kata Kancil sambil menunjuk bentangan kabel yang melintas di atas mereka. 
Altap melihat bentangan kabel itu dengan seksama. Semrawut — begitu komentar Altap dalam hati. Beberapa helai kabel ditarik dari tempat dipasangnya kincir air diperbatasan kebun belakang rumah Kakek, menuju rumah Kakek dan Langgar di samping rumah Kakek. Kabel-kabel itu ditopang oleh tiang-tiang dari bambu, dan nampak percabangan tidak teratur ada di sekitar rumah Kakek. Semrawut. Tidak rapi. Kesan itulah yang muncul dari kabel-kabel itu.
“Kabelnya gak teratur yah? Semrawut banget yah?. Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan. Lihatlah dahan pohon mangga yang patah itu. Jika ada angin sedikit besar, dahan itu akan jatuh menimpa kabel-kabel listrik dan akan membuat aliran listrik ke rumah menjadi padam” urai Sang Kancil.
“Awww awwww…. wa-wa-wa-wa-wa. Kamu benar Kancil, dahan itu akan membahayakan. Bagaimana caranya supaya kita terhindar dari bahaya?” tanya Altap, tentu saja dengan bahasa yang bagi Bunda Majda hanyalah teriakan-teriakan bayi yang tidak ada maknanya, lain halnya dengan Sang Kancil, dia dengan mudah bisa memahami bahasa Altap.

“Mudah sekali Altap. Jika Kakek nanti datang ke sini tunjuklah dahan itu sambil berteriak apa saja. Pasti Kakek akan menyadari bahaya yang timbul dari dahan itu” jawab Kancil.
Lalu Sang Kancil bercerita bahwa sebenarnya Kakek telah menyiapkan pipa-pipa untuk saluran kabel yang akan ditanam di bawah tanah. Namun karena pada waktu itu sedang musim hujan, maka pemasangan kabel di bawah tanah ditunda hingga musim kemarau. Saat ini sebenarnya telah musim kemarau dan jarang turun hujan. Namun agaknya Kakek lupa dengan rencananya, sehingga sampai saat ini kabel masih dipasang diatas tanah dengan tiang-tiang bambu, dan nampak semrawut karena adanya percabangan di mana-mana.
Beberapa saat kemudian saat Kakek menghampiri baby carriage Altap, seperti nasehat Sang Kancil, Altap menunjuk-nunjuk ke arah dahan yang patah sambil berteriak-teriak keras sekali. Teriakan Altap mau tak mau Kakek mengikuti arah telunjuk Altap. Segera saja mata Kakek tertumbuk pada dahan yang patah. 
“Astaghfirullah, aku lupa seharusnya aku memindahkan jalur kabel ke bawah tanah. Dahan-dahan di kebun bisa membahayakan kabel listrik” gumam Kakek
Kakek tersenyum pada Altap sembari mengacungkan kedua ibu jarinya, pertanda dia sangat bangga pada cucunya ini. Entah siapa yang memberi tahu Altap sehingga cucunya ini bisa tahu kalau dahan patah itu membahayakan jika sampai jatuh menimpa kabel listrik.
Malam itu Kakek berhasil mendapatkan seorang tukang yang akan mengatur penggalian dan pamasangan saluran kabel di bawah tanah. Untuk membantu pekerjaan tukang tersebut — murid-murid mengaji di Langgar dengan antusias ingin ikut serta mengerjakan pemasangan kabel bawah tanah. Mereka sangat ingin tahu cara memasang kabel pada pipa bawah tanah untuk diterapkan di rumah masing-masing. 
Sebagian besar penduduk kampung meniru Kakek Altap yang membangkitkan listrik menggunakan aliran sungai-sungai kecil yang melintasi kampung. Biasanya antara 5-10 rumah berpatungan membangun kincir air. Dari situlah mereka mendapatkan listrik yang menerangi kampung mereka.
Ternyata butuh waktu seminggu untuk menggali, dan kemudian memasang saluran listrik bawah tanah. Dia atas galian kabel listrik itu kemudian diberi batu-batu yang ditata menjadi jalan setapak menuju kincir air. Tujuannya agar orang tidak lupa melakukan penggalian pada lokasi ditanamnya pipa saluran listrik, dismapi ng untuk alasan keindahan. Kini kabel semrawut sudah tidak ada lagi. Kebun Kakek yang dulunya “dikotori” pemandangan kabel listrik yang semrawut sudah kembali rapi kembali. Altap dan Sang Kancil senang, mereka tak perlu lagi khawatir ada dahan patah yang akan merusak kabel listrik (Undil-2015).     

Original source : Dongeng Kancil, Bayi Altap, dan Kabel Semrawut

Dongeng Sang Kancil, Bayi Altap, dan Kucing Persia yang tersesat

Suatu sore tatkala bayi Altap sedang berada di depan akuarium di teras belakang rumah Kakeknya, sembari berbaring di atas baby carriage menikmati pemandangan akuarium air laut sambil mendengarkan cerita Sang Kancil yang sengaja bertandang untuk mendongeng — tiba-tiba terdengar suara meong-meong yang melengking tinggi. 

Tak berapa lama kemudian muncul seekor anak kucing, bermuka bulat, bermoncong mungil, berbulu lebat warna putih dengan sedikit kelabu di kepalanya, dan bulunya panjang-panjang yang membuat ukuran tubuhnya terlihat lebih besar — khas kucing persia. 

  

Anak kucing itu melompat ke baby carriage Altap lalu mengeong-ngeong di antara kaki Altap. Si bayi umur 7 bulan berteriak-teriak kegirangan melihat anak kucing itu berada di strollernya. Tangannya dimajukan seolah-oleh ingin meraih kepala si kucing mungil.

Sang Kancil segera mengenali bahwa kucing persia kecil ini bukanlah berasal dari wilayah sekitar rumah kakek Altap. Pastilah dia kucing yang tersesat — entah karena jatuh dari mobil atau kucing yang dibawa tamu dari luar kota yang tidak tahu jalan kembali. Pada mulanya Kancil tidak mengerti kata-kata kucing kecil. Namun perlahan-lahan Sang Kancil mulai dapat mengenali bahasa anak kucing yang masih terbalik-balik urutan katanya  ini. Kayaknya dia belum lama belajar bicara — sehingga urutan kata dalam kalimat masih terbalik-balik posisinya.
“Tersesat tolonglah aku. Pergi dari tadi pagi rumah lupa pulang ke jalan”. kata anak kucing terbata-bata dengan kalimat yang simpang siur tak karuan.
“Namamu siapa?. tanya Kancil yang bingung dengan susunan kata kucing kecil.
Kucing kecil itu nampak menggelengkan kepala tanda tidak mengerti kata-kata Kancil.
“Na-ma ka-mu si-a-pa?” ulang Sang Kancil dengan kata-kata yang dieja dengan perlahan.
Si Kucing kecil mendongakkan kepalanya yang imut sambil bergumam tidak jelas.
Akhirnya Sang Kancil menunjuk dirinya lalu berkata
“Namaku Kancil”.
“Nama dia Altap” lanjutnya sambil menunjuk Altap, lalu tangannya menunjuk ke arah kucing kecil.
“Na-ma-ku Fe-lix” jawab kucing kecil itu. Rupanya dia mengerti maksud Sang Kancil.
Altap berteriak kegirangan tatkala mendengar kucing kecil bisa menjawab pertanyaan Kancil — sampai-sampai si Felix meringkuk ketakutan saking kagetnya oleh teriakan Altap. Sang Kancil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Altap yang bikin kaget itu.
“Aku tinggal di sebuah gua tepi sungai” kata Kancil setelah kekagetan Felix reda, sambil mengambil ranting dan mencorat-coret tanah untuk menggambar sebuah sungai, dan sebuah gua berserta gambar dirinya berada di dalam gua.
“Altap tinggal di rumah ini” lanjut Kancil sambil menunjuk Altap kemudian menunjuk rumah Kakek.
“A-ku ting-gal di-ko-ta yang a-da Ta-guy Jom-blo” kata si kucing kecil yang dapat menangkap maksud Kancil.
Agaknya si kucing kecil suka di ajak pemiliknya ke sebuah taman yang bernama Taman Jomblo. Segera saja Sang Kancil tahu bahwa kucing tersebut berasal dari Bandung. Satu-satunya kota di muka bumi yang punya Taman Jomblo rasanya hanya Kota Bandung. 
“Hai Altap. Apakah kamu tahu baru-baru ini ada tamu dari Bandung yang main ke sini” tanya Sang Kancil kepada Altap.
Langgar di samping rumah Kakek adalah tempat orang-orang kampung berkumpul setiap waktu sholat. Tamu-tamu dari luar kampung-pun biasanya ikut sholat di situ. Sehingga keberadaan tamu-tamu dapat mudah dideteksi dari Langgar. Sang Kancil berharap tamu tersebut sehabis sholat di Langgar pernah mampir di rumah Kakek, sehingga Altap dapat mengenalinya.
Altap sejenak mencoba mengingat-ingat. Siapa saja tamu dari luar kota yang pernah mampir ke rumah Kakek. Tiba-tiba dia menjerit — berteriak keras sekali. Altap ingat kemarin ada seorang yang bertandang ke rumah Kakek. Seorang laki-laki bersama istri, dan anak sebaya dirinya yang berasal dari Bandung. Dia adalah murid mengaji Kakek yang kini tinggal di Bandung. Namanya Jarir, anaknya Pak Tobari.
“Jarir anak Pak Tobari” teriak Altap melengking tinggi sampai si Felix kembali kaget dan tak sengaja terlompat dari baby carriage Altap. Untunglah dia mendarat dengan selamat di punggung Kancil. Meskipun masih bayi, suara Altap memang sangat lantang dan suka bikin kaget orang. Padahal bahasa Altap adalah bahasa yang bagi orang tuanya hanya seperti teriakan-teriakan bayi yang tidak ada maknanya. Untunglah Sang Kancil yang cerdik dapat mengerti maknanya.
Kancil tahu nama Pak Tobari. Pemilik kebun buah Kiwi barrier luas di kampung yang tinggal tak jauh dari rumah Kakek Altap. Dia juga sering mendengar nama Jarir disebut-sebut oleh anak-anak yang mengaji di Langgar. Rupanya Jarir sewaktu kecil adalah murid Kakek yang barrier rajin, sehingga dia bisa menghapal Quran pada umur sepuluh tahun. Jarir kemudian kuliah di Delft dan kini menjadi arsitek di Bandung.

Maka Kancil akan membawa kucing kecil kembali pada Jarir yang sedang menginap di rumah bapaknya. Nanti anak kucing itu diam-diam akan diantar melalui kebun belakang rumah Pak Tobari — langsung masuk ke dapur rumahnya. Altap nampak mengelus-elus kepala anak kucing itu sesaat sebelum Sang Kancil mengajaknya pergi. Kemudian dia melambai-lambaikan tangannya tatkala anak kucing yang berpegangan erat pada punggung Sang Kancil itu dibawa menghilang diantara rimbunnya rumpun bambu di belakang rumah Kakek (Undil-2015) 

gambar diambil dari pinterest


Original source : Dongeng Sang Kancil, Bayi Altap, dan Kucing Persia yang tersesat