Mengunjungi Sunan Kudus

Setelah mengunjungi Mesjid Menara Kudus, agaknya tidak sempurna jika tidak menziarahi makam Sunan Kudus atau Sayyid Ja’far away Shadiq Azmatkhan. Makam beliau yang terletak pada sisi barat Mesjid Menara Kudus, selalu ramai dikunjungi oleh para Peziarah.                                                                                                                Siang itu, saya mengunjungi makam sunan Kudus, antara ba’da dzuhur dan Ashar. Beberapa orang asyik terlihat membacakan do’a atau tepatnya mengirimkan do’a pada Allah SWT, agar sunan yang telah berjasa pada pengembangan Islam itu, diberi tempat yang layak di sisiNya, serta mereka yang datang menziarahinya diberikan Allah kesempatan untuk berbuat sesuatu yang berjasa juga bagi Islam meskipun tidak sebesar yang telah dilakukan Sunan Kudus.

1373193871216119271

para peziarah sedang memanjat do’a untuk sunan Kudus (dok. Pribadi)

Siapakah Sunan Kudus?

Sunan Kudus atau Sayyid Ja’far away Shadiq Azmatkhan adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung (Sayyid Utsman Haji) dengan Syarifah Dewi Rahil binti Sunan Bonang. Lahir pada tanggal 9 september 1400 Masehi. Bapaknya, Sunan Ngudung adalah putra Sultan di Palestina yang bernama Sayyid Fadhal Ali Murtazha (Raja Pandita/Raden Santri) yang berhijrah fi sabilillah hingga ke Jawa dan sampailah di Kekhilafahan Islam Demak dan diangkat menjadi Panglima Perang. Sedangkan Ibunya adalah putri dari Sunan Bonang.

Sunan kudus juga, dikenal sebagai wali yang toleran, ahli ilmu Tauhid, Ilmu Fikih, Ilmu Mantiq, gagah berani, kharismatik dan seorang seminan. Sikap toleran Sunan Kudus dapat dilihat dari karya beliau yang membangun Mesjid Menara dengan arsitektur nan kental dengan fragrance Hindu dan Budha, pada menara yang biasanya berbentuk bangunan menjulan tinggi, tetapi, ditangan sunan kalijaga, berubah menjadi bangunan yang mirip candi Jago atau bangunan Pura di Bali, juga dapat dilihat dari padasan yang difungsikan sebagai tempat wudhu, pada setiap padasannya dihiasi arca, jumlah padasan yang delapan diyakini sebagai mengadopsi ajaran Budha yakni Asta Sanghika Marga atau delapan jalan utama Bhuda. Demikian juga halnya pada Gapura memasuki halaman Mesjid, lebih menyerupai gerbang Candi di Trowulan pada keraton Zaman Majapahit.

1373193988361077253

Pintu Gerbang menuju Makam Sunan Kudus (dok. Pribadi)

Bentuk toleransi lain peninggalan Sunan Kudus adalah, permintaan beliau pada masyarakat untuk tidak memotong sapi pada hari raya Idul Adha, karena Sapi bagi masyarakat Hindu merupakan hewan sacral, sebagai gantinya, beliau menggantinya dengan Kerbau. Masih tentang Sapi dan Dakwah beliau yang toleran, pada suatu hari Sunan Kudus membeli sapi, sapi itu lalu ditambatkan dihalaman rumah beliau, rakyat Kudus yang ketika itu mayoritas Bergama Hindu, lalu berkumpul di halaman rumah beliau ingin melihat, apa yang akan dilakukan oleh Sunan, apakah sapi itu akan disembelih atau bagaimana, jika disembelih tentu akan melukai perasaan masyarakat kudus. Dalam waktu singkat halaman beliau telah penuh oleh masyarakat baik Hindu maupun Islam.

Sunan Kudus keluar dari dalam rumahnya.lalu mulai menyampaikan pesannya; Sedulur-sedulur yang saya hormati, segenap sanak kadang yang saya cintai, Saya melarang saudara-saudara menyakiti apalagi menyembelih sapi. Sebab diwaktu saya masih kecil, saya pernah mengalami saat yang berbahaya, hampir mati kehausan lalu seekor sapi datang menyusui saya.

Mendengar cerita tersebut para pemeluk agama Hindu terkagum-kagum. Mereka menyangka Ja’far away Sodiq itu adalah titisan dewa Wisnu, maka mereka bersedia mendengarkan ceramahnya. Demi rasa hormat saya kepada jenis hewan yang pernah menolong saya, maka dengan ini saya melarang penduduk Kudus menyakiti atau menyembelih sapi.

Kontan para penduduk terpesona atas kisah itu. Sunan kudus melanjutkan, salah satu diantara surat-surat Al-Qur’an yaitu surat yang kedua dinamakan Surat Sapi atau dalam bahasa Arabnya Al-Baqarah, kata Sunan Kudus. Masyarakat semakin tertarik. Kok ada sapi di dalam Al-Qur’an mereka menjadi ingin tahu lebih banyak dan untuk itulah mereka harus sering-sering datang mendengarkan keterangan Sunan Kudus.Demikianlah, sesudah simpati itu berhasil diraih akan lapanglah jalan untuk mengajak masyarakat  berduyun-duyun masuk agama Islam.

13731942531520864710

Hingga Bangunan Tempat Parkir para Peziarahpun kental dengan Fragrance Candi (dok. Pribadi)

Sebagai seorang seniman, Sunan Kudus mengarang cerita-cerita pendek yang berisi filsafat serta berjiwa agama. diantara buah ciptaannya yang terkenal, ialah Gending Maskumambang dan Mijil.

Sumber Bacaan; Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas



Original source : Mengunjungi Sunan Kudus