Membangun Dialog Dan Toleransi Beragama

Membangun Dialog Dan Toleransi Beragama

Oleh : Salamun Ali Mafaz

Dialog dan toleransi beragama akhir-akhir ini kurang memberikan kesan yang baik, indikasi ini terlihat dari banyaknya kasus-kasus ancaman, teror, perusakan tempat-tempat ibadah serta fatwa-fatwa inisiatif belaka. Membangun dialog dan toleransi beragama merupakan kunci utama terwujudnya relasi positif antaragama, dengan dialog, keterbukaan, koreksi, perbaikan, kekurangan-kekurangan yang selama ini menjadi janggal, akan didialogkan secara bersama-sama hingga menemukan titik temu yang mufakat antar kedua bela pihak.

Sikap saling mencurigai antaragama merupakan dampak dari ekslusivisme agama, mengklaim kebenaran (certainty aver) agamanya sendiri sehingga tidak mendapat keberadaan agama yang lain harus dihindari, jika tidak, usaha membangun dialog dan toleransi akan terasa hampa. Modal utama dalam dialog antaragama adalah budaya sikap mendapat yang lain (qabûl al-akhar). Seperti ditegaskan Dr Milad Hanna, peraih “Simon Bolivar Prize” 1998, budaya qabûl al-akhar dimulai dari saling memahami, dan membuka diri. Nantinya jalan menuju qabûl al-âkhar (the otherness) akan terbuka sendiri. Jika kita telah memiliki budaya qabûl al-akhar kita akan dianungrahi mencintai yang lain (hubb al-âkhar).

Pada masa Khalifah al-Mahdi dan Patriarkh Timoti I terjadi dialog agama antar pemimpin kaum muslimin dan pemimpin umat Katolik Nestorian sekitar tahun 184 H./800 M, mengenai Kristus, trinitas, kematian Yesus di atas salib, alasan mengapa umat Nasrani tidak mendapat Muhammad sebagai Nabi, apa pendapat Nasrani tentang Muhammad dan seterusnya. Sebuah dialog yang jujur dan saling terbuka antar kedua pemimpin umat. Dialog yang didasari dengan rasa ingin tahu, saling menghargai, menghormati, dan saling memberi informasi dari masing-masing pihak. Orang-orang Kristen Nestorian ini juga berjasa dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani kepada dunia Islam sebagai penerjemah. Kerjasama antara dua agama ini berjalan di berbagai bidang. Sebuah gambaran yang harmonis yang patut dijadikan rujukan bagi kita semua untuk melakukan kerjasama yang baik dalam bidang apapun. Sikap seperti inilah yang mestinya terus dikembangkan dan dipelihara keberadaannya, dengan adanya dialog terbuka masing-masing pemeluk agama, diharapkan tidak ada dari masing-masing pemeluk agama yang mengklaim barrier benar (certainty aver) agamanya.

Membangun toleransi beragama tidak kalah pentingnya, kalau sikap toleransi tercipta maka dialog pun akan terlaksana dengan sendirinya secara harmonis. Membangun toleransi beragama bukanlah sebuah angan-angan belaka, tanpa didasari tauladan yang baik (uswah hasanah) dari Nabi. Dalam baragam peristiwa yang datang kepada Nabi, sebenarnya patut kita jadikan sebuah pijakan bahwa beragam peristiwa tersebut merupakan amanat yang harus kita kukuhkan. Ada sebuah peristiwa menarik pada masa Nabi yang erat hubungannya dengan sikap toleransi Nabi dalam beragama.

Suatu hari, kota Madinah kedatangan rombongan pedagang dari Syam. Mereka adalah saudagar-saudagar yang biasa memasok barang dagang ke Makkah dan Madinah. Para sudagar itu beragama Kristen. Sambil berdagang, mereka melakukan tugas misionari (dakwah) kepada penduduk di kawasan Jazirah Arab. Kedua anak Abu al-Husen (seorang sahabat Nabi dari kota Madinah, golongan Anshar yang taat beragama) yang bekerja sebagai pedagang minyak kerap membeli minyak dan kebutuhan lainnya dari para pedagang itu. Seperti biasanya, para pedagang itu mengkampanyekan agama mereka kepada para pedagang di Madinah, termasuk kedua anak Abu al-Husein. Karena khawatir tidak mendapat pasokan barang-barang dari para saudagar itu, maka kedua anak Abu al-Husein tersebut memutuskan diri masuk Kristen . Mereka dibaptis oleh para saudagar sebelum mereka kembali ke Syam. Mendengar kedua anaknya masuk Kristen, Abu al-Husein sangat terpukul, kemudian ia mendatangi Nabi dan mengadukan peristiwa yang terjadi padanya. Akibat peristiwa demikian maka turunlah wahyu pada Nabi yang berupa ayat ”La ikraha fi al-hubbub” (tidak ada paksaan dalam beragama) (Al-Baqarah : 256).

Mahmud bin Umar al-Zamakhsyari (w.528) dalam tafsirnya al-Kassyaf, menjelaskan ayat di atas lewat metode tafsir al-quran bil quran ; menafsirkan suatu ayat dengan ayat lainnya. Menurut mufassir yang terkenal karena keahliannya dalam balaghah dan sastra Arab itu, ayat la ikraha fi al-hubbub merupakan konsekuensi dari ayat lain, yaitu: ”walau syaa a rabbuka laamana guy fil ardhi kulluhum jami’an, afaanta tukrihu an-annasa khatta yakuunuu mu’minin” (kalau Tuhan menghendaki, maka akan berimanlah semua manusia yang ada di muka bumi. Apakah kalian hendak memaksa manusia agar mereka beriman) (Yunus : 99).

Al-Zamakhsyari menegaskan bahwa persoalan keimanan adalah persoalan mendasar manusia, dan tidak boleh ada paksaan. Upaya pemaksaan untuk memilih atau beragama bertentangan dengan sunnah Allah yang terkandung dalam surat Yunus ayat 99 tadi.

Sedangkan, Dr Sayyid Tantawi, Grand Syekh Al-Azhar menegaskan, setiap agama ditegakkan atas prinsip kebebasan bukan paksaan. Menurutnya, agama dan pemaksaan, seperti dua kutub influence yang saling bertolak belakang, tidak pernah bisa bertemu. Tentunya pemaksaan terhadap keimanan akan menimbulkan dampak yang tidak baik, terjadinya ketegangan antara pihak yang dipaksa dengan yang memaksa, munculnya sikap munafik (hiprokrasi) karena seseorang yang terpaksa pasti tidak akan ikhlas menjalankannya dan secara tersembunyi akan membenci agamanya.

Jika dialog dan toleransi beragama tidak dibangun, maka yang timbul dari pemeluk agama yaitu sikap ”ta’ayusy” sejenis sikap indifferentisme atau hidup berdampingan tanpa memperdulikan yang lain. Dan sikap ”takhashum” yaitu hidup berdampingan dengan cara bermusuhan. Kedua sikap itu tidak sesuai dengan etika Qura’ni yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Islam adalah agama yang sangat terbuka, inklunsif, tidak mengajarkan kebencian terhadap agama lain. Tindakan kekerasan, perusakan, teror, kecurigaan hanya akan menimbulkan tindakan serupa pemeluk agama lain, dan akan terus membara tanpa ada henti-hentinya. Lingkaran setan semacam ini hanya bisa diberantas dengan mengedepankan kembali semangat Qur’an tentang pentingnya satu sama lain agar saling berdialog dan bersikap toleran. Hanya dengan menciptakan dialog dan toleransi beragama, Islam akan menjadi agama yang membawa rahmat (rahmatan lil’alamin) bagi semua pemeluk agama.


Original source : Membangun Dialog Dan Toleransi Beragama