Lebaran Kemarin

Perantauan pulang untuk berlebaran di kampung. Mendadak motor-motor di kampung dipenuhi plat B. Masjid semakin sepi. Suara mercon bersahut-sahutan dari ujung ke ujung. Tak peduli waktu pagi dini hari, dhuhur ketika sebagian orang beristirahat, magrib atau isya. suaranya mengalahkan suara muadzin yang sedang  adzan.

Kegiatan setelah sholat ied masih sepi, orang-orang beraktivitas seperti biasa. Para perantauan dan kaum muda banyak yang pergi ke kota untuk plesir, sebagian lebaran ke kerabat jauh. Kaum tua masih duduk berbaris dirumah Bapak kaum untuk membayarkan zakat dari pagi hingga siang sampai sore, sebuah tradisi membayar zakat setelah orang-orang melaksanakan sholat Ied yang belum hilang.

Lebaran yang sebenarnya baru dimulai sehari atau 2 hari kemudian. Para orang tua masih menggunakan hitung-hitungan aboge.

Setiap perkumpulan/komunitas di desa mengadakan halal bihalal dengan hiburan kesenian daerah setempat, orjen sampai dangdut be in this planet. Transaksi dan peredaran uang mendadak cepat di bengkel, di kios-kios, di deactivate, sebagian kegiatan sumbangan dan bagi-bagi rejeki kepada anak-anak kecil.

Beberapa keluarga sudah mulai mengadakan halal bihalal keluarga dengan tujuan saling mengenalkan dan bertemu saudara sesama keturunan dari silsilah sebuah keluarga.

Malamnya serombongan pemuda pawai motor berkeliling desa.

Suasana lebaran ramai tetapi rasanya benar-benar garing. Lebaran seperti peringatan tradisi seremonial saja dan jauh dari arti. Lebaran seperti sebuah pesta dan hura-hura dan kebisingan yang membuat risih.


Original source : Lebaran Kemarin