Jokowi – Ahok Sukses Menundukkan Preman Tanah Abang


OPINI | 11 Distinguished 2013 | 17:50


Dibaca: 15 <!–   Komentar: 0 –>   0

Akhirnya, tanpa banyak bacot Tanah Abang kembali sebagaimana harusnya sebuah kawasan kebanggaan masyarakat DKI Jakarta, jalanan dan fasilitas publik lainnya dikembalikan kepada publik.  Sejak Rabu malam 7 Agustus 2013 Jl. Kebon Jati, Jl. H. Mas Mansyur, Jl. H. Fachruddin, Jl. KH Wahid Hasyim dibersihkan dan dikembalikan kepada fungsinya. Semua lapak PKL atau pedagang K lima menurut omongan warga di situ, dibongkar sehingga wajah jalanan yang sejatinya 6 jalur kini muncul dengan indahnya.

Ke mana suara-suara menentang yang sebelumnya amat keras terdengar? Sampai ada kata “langkahi dulu mayat gue?” dari jawara Tanah Abang Muhamad Yusuf Muhi atau Ucu Kambing, sosok yang dikenal sebagai pengusir preman Tanah Abang Hercules dari Tanah Abang, dan “golok bicara” dari ketua jagal kambing yang saya lupa siapa namanya, yang telah sejak era Gubernur Wiyatgo Atmodarminto telah berdagang di lantai bawah Blok G Pasat Tanah Abang bersama puluhan pedagang asli Tanah Abang lainnya?

Suara-suara nyeleneh dan tidak pada tempatnya itu sirna sudah, bahkan tanpa malu-malu H Abraham Lunggana atau H. Lulung yang dikenal di kawasan Tanah Abang dengan komunitas HALUS (Haji Lulung untuk Semua)-nya dan Muhammad Yusuf Muhi alias Bang Ucu Kambing berbalik mendukung Jokowi Ahok sepenuhnya.

Kenapa itu terjadi? Saya tak melihat adanya pendekatan ‘aneh-aneh’ yang dilakukan kedua pemimpin ini. Satu-satunya pegangan mereka hanyalah Peraturan Daerah, yang selama bertahun-tahun justru dikencingi oleh aparat pemerintah itu sendiri sehingga Tanah Abang terus-menerus semrawut seperti gombal yang hanyut di Kali Krukut.

Jokowi Ahok hanya mengembalikan fungsi jalan dan trotoar, serta memfungsikan bangunan pasar milik pemerintah yang sudah bertahun-tahun salah urus atau diurus oleh oknum yang salah. Kedua pemimpin ini mengembalikan hak-hak publik kepada publik!

Itu sebabnya maka tak ada yang berani macam-macam lagi, bahkan Ucu Kambing pasang badan, kalau masih ada yang memalak-malak PKL setelah mereka berdagang di Blok G, maka preman itu akan berhadapan dengan dia dan komunitas Betawi setempat!

Selama puluhan tahun PKL Tanah Abang telah menjadi ATM bagi belasan kelompok preman yang anggotanya secara terpisah-pisah disinyalir berjuml;ah 300 orang. Mereka bukan orang Betawi saja, ada Jawa, Ambon, NTT, Sunda, Batak Padang, Palembang. Setiap bulan mereka meraup milyaran rupiah dari sekitar 1.000 lebih lapak PKL, yakni rata-rata Rp 3 juta for every bulan.

Belum yang insidental seperti setoran ratusan pedagang asal Tasikmalaya yang setiap Senin dan Kamis berdagang di Tanah Abang di sepanjang Jl Jati Baru, Jl. Kebon Jati, Jl. Jati Bunder dengan moko (mobil toko)-nya masing-masing. Mereka dikutip Rp 100 ribu for every hari.

Jangan lupa menyebut penghasilan dari supir angkjot (bis kota sampai mikrolet), pengemudi bajay, tukang ojek, porter, pedagang makanan dan minuman yang membuka lapak atau mobil memikul dagangan, pengemis, toilet, parkir, ekspedisi bongkar muat, perkantoran dan ruko sepanjang jalan Wahid Hasyim, Mas Mansyur, Jati Baru, Kebon Jati, Fahcruddin dan cabang-cabang jalannya.

Jumlahnya sangat menggiurkan!

Tentu saja itu bukan untuk preman saja. Tanpa oknum aparat dan pemerintah di belakangnya segala bentuk premanisme itu tak mungkin terjadi. Ada yang duduk ongkang-ongkang di atas dan terima setoran bersih tiap hari tanpa harus mengotori tangan dan namanya. Mereka adalah oknum polisi, dishub, PD Pasar Jaya, TNI, oknum pemerintah Jakarta Pusat dan lain-lain, semua otoritas sehubunganmisi di Tanah Abang, Tanpa izin atau tutup matanya mereka takkan mungkin jalan-jalan di Tanah Abang bisa disulap menjadi lapak PKL atau area parkir!

Lepas dari fakta itu–fakta yang juga harus segera dibersihkan Jokowi Ahok dari struktur pemerintahan mereka–kedua pemimpin DKI ini saya anggap berhasil karena assumed role mereka sebagai pemimpin bersih yang terus berusaha membangun pemerintahan yang bersih pula. Mereka tidak neko-neko, hanya menegakkan peraturan dan menjalankan amanah rakyat. Cobalah periksa berapa mereka terima dari Yan Faridz atau Tommy Winata, misalnya (dua tokoh pengusung Pasar Tanah Abang bestow) untuk membersihkan Tanah Abang seperti yang dituduhkan sementara preman? Tidak akan ada, saya yakin itu!

Karena missinya yang sesuai dengan hak-hak publik tersebutlah maka Jokowi dan Ahok berhasil mengembalikan Tanah Abang ke posisi yang seharusnya. Bukan hanya warga DKI yang mendukungnya, rakyat dari luar DKI juga. Dan preman pun tunduk tanpa banyak bicara.

Dari apa yang terjadi di Tanah Abang ini saya yakin jika pemimpinnya bersih dan menjalankan pemerintahan yang bersih pula  maka rakyat, yang preman sekalipun, akan tunduk dan mengikuti apapun yang dijalankannya, padahal bila dilihat besarnya ‘kerugian’ para preman dan para oknum aparat dan pemerintahan di belakangnya, tak mungkin rasanya mereka akan menyerah begitu saja, tapi itulah yang terjadi, karena selain memang tidak pada tempatnya negara takut atau tunduk kepada gertakan atau ancaman para preman, rakyat juga akan mendukung pemimpinnya dengan sepenuh hati, selama pemimpin itu berada di jalur yang benar dan melakukan hal yang benar untuk rakyatnya.

Rajo alim rajo disambah, rajo lalim rajo disanggah, itu pepatah Minangkabau yang artinya raja yang menjalankan pemerintaha  secara benar akan dipatuhi rakyatnya, sebaliknya raja yang lalim akan dijatuhkan, baik lewat cara-cara reformasi ataupun premanisme!

Selamat Jokowi Ahok! Semoga Anda berdua tetap kosisten dan komit membenahi Jakarta dan Indonesia!


Incoming search terms:

  • ucu kambing vs lulung

Original source : Jokowi – Ahok Sukses Menundukkan Preman Tanah Abang