Feminisme Akademis Membebaskan “KARTINI”

Apa yang kita ketahui tentang R.A.Kartini selain tanggal lahir beliau yang selalu kita peringati setiap tahun sekali? Seorang tokoh besar mewasiatkan bahwasannya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya (Soekarno). Tentu penghargaan yang dimaksud bukanlah sekedar mengenang, namun berusaha untuk menjiwai dan melanjutkan perjuangan. R.A.Kartini adalah sosok Pahlawan Perempuan yang berjasa sebagai pembuka cakrawala berpikir terhadap kaumnya. Berangkat dari kegelisahan beliau akibat kehilangan kesempatan untuk meneruskan pendidikan. Sebagai seorang putri pertama dari keluarga bangsawan beliau masih mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan, namun perempuan pada masanya setelah berusia 12 tahun harus tinggal di dalam rumah karena sudah dapat dipingit, begitu pula yang dialami oleh Kartini.

Walaupun secara fisik terbelenggu tetapi semangat belajarnya menyala, tetap berpikir maju meski terkungkung budaya. Ketika kita berharap memiliki kemajuan sebagai manusia jangan menjadi katak dalam tempurung. Itulah yang ada di dalam pikiran Kartini pada saat itu, dia ingin memajukan perempuan pribumi yang Tersubordinasi oleh budaya Patriarkhi dengan memperjuangkan kebebasan, otonomi, dan persamaan hukum perempuan melalui pendidikan. Berkat dukungan dari suaminya, Kartini berhasil mendirikan sekolah wanita yang pertama. Tulisan-tulisannya yang dibukukan berjudul habis gelap terbitlah terang merupakan sumber ilmu yang seyogyanya mampu menginspirasi perempuan-perempuan pada masa kini hingga nanti.

Di berbagai belahan dunia ramai dengan istilah feminisme yang penganutnya dinamakan kaum feminis, di Indonesia lebih dikenal sebagai Emansipasi Wanita. Sebenarnya feminisme adalah sebuah pandangan dan gerakan untuk pembelaan hak-hak perempuan sebagai bagian dari gerakan kemanusiaan (Nila, 2009:6). Dilatarbelakangi oleh ketidakadilan gender, kaum feminis memperjuangkan Equality dalam memperoleh kedudukan dan menjalankan peranannya. Tetapi feminisme yang berkembang adalah feminisme radikal, feminisme liberal, feminisme sosial, dan lain sebagainya yang dinilai miring dan sulit diterima oleh masyarakat, bahkan oleh perempuan sendiri.

Orientalisme Feminis senantiasa mencibir dalil-dalil berikut ini:

1)   Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (Q.S. An Nisa’ ayat 34)

2)   Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan (Q.S. An Nisa’ ayat 7)

3)   Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu( Q.S. An Nisa’ ayat 12)

4)   Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnyake seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu (Q.S. Al Ahzab ayat 59).

5)   maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat (Q.S. An Nisa’ ayat 3)

Karena ayat-ayat di atas mengandung dan mengundang ketidakadilan dan kekerasan yang terjadi pada perempuan sampai detik ini. Menjadi tameng bagi laki-laki untuk berkuasa atas kaum perempuan yang diamini oleh sebagian muslimah. Dalil tersebut juga sering digunakan sebagai senjata untuk menjustifikasi dan memberikan categorize negatif terhadap Islam. Namun kalangan feminis akademis menyangsikan dan memiliki makna yang berbeda sehubunganmisi hal tersebut. Feminis akademis mengupayakan kesetaraan gender dan menafsirkan Islam secara moderat melalui pusat studi wanita.

Tokoh feminisme akademis ini yang juga seorang muslimah antara lain Rifaat Hasan, Fatimah Mernissi, dan Amina Wadud Muhsin (Rahardjo, 2002:214). Mereka menilai bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan berpasangan oleh karenanya tidak dapat dipisahkan dan sebagai manusia keduanya berkedudukan setara. Kodrat laki-laki dan perempuan memang berbeda dan perbedaan itulah yang menyatukan mereka supaya saling melengkapi, melindungi serta menjaga antara satu dengan lainnya.

Nilai-nilai essential yang menjadi Equality Opinion sekaligus Potential bagi Feminis Akademis, diantaranya adalah:

1)  Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar (Q.S. Al Ahzab ayat 35)

2)  Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baikdan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (Q.S. An Nahl ayat 97)

3)   Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang barrier mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang barrier taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal Q.S. Al Hujuraat ayat 13).

Hendaknya kita tidak Konservatif dan tebang pilih dalam menilai segala sesuatu. Sebagai seorang “Kartini” mari kita teruskan perjuangan dan bebaskan Kartini dalam diri kita maupun “Kartini” lainnya di dunia dengan feminisme akademis yang lebih arif dalam menyikapi duniawi. Kita ada, kita berharga, kita cinta perempuan di seluruh jagad raya. Semangat menjadi manusia yang beradab, melawan kebiadaban untuk peradaban yang lebih mapan. Leluasa berkarya dan mengaktualisasikan diri tanpa manipulasi dan eksploitasi dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara di bidang ekonomi, hukum, politik, maupun sosial budaya.


Original source : Feminisme Akademis Membebaskan “KARTINI”