Desaku yang (tak lagi) permai

“Desaku yang kucinta

pujaan hatiku

tempat ayah dan bunda

dan handai tolanku

tak mudah kulupakan

tak mudah bercerai

selalu kurindukan

desaku yang permai”

entah harus bagaimana aku menyanyikan lagu kesukaanku ini

apakah aku haru sedih karena desaku tak lagi permai seperti dahulu

ataukah aku harus bangga karena aku tetap mencintainya

apakah aku harus mengeluhkan akan kerusakan desaku

ataukah aku harus benci dan marah dengan keadaaan desaku

beribu rasa menggayut dalam jiwaku

saat menyanyikan lagu yang sangat sederhana ini

manis asin asam pahit dan masih banyak lagi rasa yang lainnya

senang sedih rindu kecewa marah dan lainnya

nun jauh diujung sana

di antara ngarai dan lembah pegunungan yang menghijau

ada kerinduan yang dalam yang selalu menarik dan menjeratku

nyanyian burung yang sering terdengar melintas

desir angin pegunungan yang kadang dingin menggigilkan

hujan yang selalu turun membersihkan sampai tuntas

udara yang lembut seumpama sentuhan sutera

masih adakah kata yang mampu ku untai

sejuta kalimat tiada mungkin mampu bercerita

tentang keindahan alam itu

hanya ketika duduk merenung menyapu

mata memandang sejauh-jauhnya

lalu perlahan terasa jiwa terbang menukik

menciumi setiap jengkal tanah

menyapa daun dan ranting yang merimbum

terbang menyusuri bebukitan yang nampak di kejauhan

melintas persawahan yang menghijau

mengalun ombak pucuk padi tertiup angin

berkejaran bersama burung pipit yang terbang lincah

memeluk setiap jengkal tanah yang mampu dipandang

lalu menyerap memasuki dalam kenangan

memotret alam dan menyimpannya di dalam jiwa

dan landscape itu masih nyata terpampang di dalam jiwaku

masih nyata dan utuh seperti saat dahulu aku menatapnya

namun dimanakah kenyataannya kini

saat desaku tak lagi permai

sementara yang tersisa hanyalah kenangan

desaku yang permai

desaku yang permai

desaku yang kucinta

desaku yang selalu kurindukan

maafkan aku.

Incoming search terms:

  • contoh karangan cerita tentang alam
  • karangan bahasa inggris tema ke indahan

Original source : Desaku yang (tak lagi) permai