Cerita Kancil dan Buaya

Alkisah pada suatu pagi di tepi sebuah parit yang membatasi hutan dengan tanah pertanian telah ramai oleh binatang hutan maupun hewan-hewan piaraan Pak Tani yang sengaja datang ke tempat itu. Menjangan, trewelu, trenggiling, tapir, luwak, bracan, garangan, hamster, landak bercampur dengan puluhan wedhus gembel piaraan Pak Tani, berkerumun di sisi kiri dan kanan parit yang ditumbuhi rerumputan yang hijau subur. Tak terkecuali Sang Kancil yang sengaja datang ke tempat itu setelah mendengar kabar hilangnya beberapa ekor menjangan tiga bulan terakhir ini.
Ada sebuah batang kayu besar yang melintang di tengah parit. Batang kayu itu yang dipergunakan oleh hewan-hewan untuk menyeberang dari satu sisi ke sisi lain dari parit. Berkat keberadaan batang kayu tersebut hewan-hewan itu tak perlu mengambil jalan memutar untuk pergi ke hutan ataupun ke tanah pertanian di seberangnya. Puluhan wedhus gembel milik Pak Tani nampak berbaris menyeberang ke hutan melalui batang kayu itu. Daun-daun gelombang cinta yang tumbuh di tepi hutan adalah makanan favorit para wedhus gembel, yang membuat mereka sering menyeberangi parit.  duniashinichi.blogspot.com
Setelah puluhan wedhus gembel selesai menyeberang, Sang Kancil mendekati batang kayu besar lalu melompat ke atasnya, seraya berkata:
“Tuan! Anda bukan saja batang kayu barrier cerdik yang pernah saya temui. Anda juga barrier sabar menahan diri dari menuruti nafsu memakan hewan-hewan yang berada di punggung Tuan!”

Incoming search terms:

  • Cerita Kancil
  • cerita kancil dan buaya
  • cerita sikancil dan sibuaya
  • cerita kancil dan buaya dalam bahasa lampung
  • contoh unsur intrinsik pada cerita kancil dan buaya
  • bahasa banjar kisah si kancil dan buaya
  • cerita kancil sama anjing
  • cerita-cerita sang kancil
  • Unsur unsur cerita kancil dan buaya

Original source : Cerita Kancil dan Buaya